Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Roh-Roh Tersiksa


__ADS_3

Tadi, Girinata memukul tengkuk Soemantri Soekrasana dengan menggunakan sebatang kayu yang sebelumnya diam-diam ia ambil terselip di belakang lemari kuno yang terbentur oleh terlemparnya kursi rotan simbah  Dasimah.


Marni yang sebelumnya terlihat jelas dirasuki hantu sang ayah kini membuka mata dan bangun. Ia memandang Soemantri Soekrasana yang tertelungkup tak sadarkan diri, kemudian memindahkan pandangan ke arah sang suami. "Kau berhasil, Pak?" ujarnya tenang.


Girinata menarik nafas dan mengangguk. Hal ini menciptakan raut wajah Marni yang tersenyum lebar.


Marni memandang ke arah Wardhani. "Buat mereka semua tunduk padamu, nduk," ujar Marni kepada putrinya pelantetapi penuh dengan beban kebahagiaan dan kepuasan.


Wardhani membalas tatapan sepasang mata ibunya, berpaling kepada sang ayah yang juga mengangguk bangga.


Wardhani tidak berkomat-kamit. Mantra itu sudah menempel kuat di dalam otaknya. Ia sudah hapal dan mampu mengetahui bagaimana cara menggunakan ilmu gaib ini dengan baik. Ia sekarang bagai seorang anak kecil yang mendapatkan maninan baru dan langsung mahir memainkannya.


Setelah itu Wardhani kemudian mengangkat satu tangannya dan berteriak keras, "Diaaam!!"


Akibat perintah ini sangat luar biasa. Angin yang menggila berhenti seketika. Hawa panas berangsur luntur. Semua mahluk halus yang menggeliat dan berjumpitan di luar rumahnya kini juga berhenti. Sosok mereka memendar, berkelap-kelip, muncul hilang, akan tetapi sungguhdiam, termasuk hantu simbah, Kinanti, bahkan Chandranaya si kuntilanak merah.

__ADS_1


"Ikuti segala perintahku, wahai segala dedemit, arwah penasaran, roh-roh tersiksa, semua mahluk tak kasat mata dan gaib. Kalian semua berada dalam kekuasaanku yang mulai saat ini dan seterusnya akan kalian kenal dengan nama Ratu Dedemit!"seru sang gadis ayu berkulit gelap tersebut. Raut wajahnya yang sedari tadi terlihat lemah, polos dan tak berdosa sama sekali hilang, digantikan dengan ketegasan dan kegalakan yang sepertinya hampir tak mungkin berasal dari sosok perempuan yang sama.


Mendengar perintah ini Chandranaya sang kuntilanak merah terkikik. Sepasang mata sedihnya berhenti  mengalirkan darah, tetapi sekarang melotot nyalang. Tubuhnya meringsut kisut, seperti terikat oleh seutas tali gaib yang membebat melingkari badannya.Chandranaya melayang mundur patah-patah. Punggung gaibnya tersandar di sudut pertempuan antar tembok dan menempel disana bagai seekor anak kucing ketakutan sehabis basah terkena hujan.



Sungguh kekuatan yang luar biasa mengerikan yang Wardhani kuasai tersebut. segenap alam dengan mahluk-mahluk kegelapannya berhenti menunjukkan taringnya, takluk di bawah kaki sang ratu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kalau kau memang mau berbakti, maka tunjukkan kepada kami, nduk. Dibanding kau menyusahkan kedua orangtuamu yang berada dalam tepian jurang kemiskinan ini, lebih baik kau berbakti dari alam sana. Sejak simbah putrimu Dasimah mati, ilmu pesugihan keluarga ini hilang. Kau malah mencari gara-gara dengan hamil. Siapa yang bisa membiayai perkawinan kalian? Lagipula, jelas laki-laki itu tak mau bertanggung jawab, bukan? Dia itu cucu Darmo, penjaga tempat-tempat keramat yang bertujuan untuk melawan ilmu hitam kita. Itu berarti sama saja dengan menutup kemungkinan keluarga kita untuk kembali berjaya," ulas Marni panjang lebar.


"Dan sekarang, kita jelas kalah. Ibuku, Dasimah terkutuk itu tak sempat memberitahu ilmu untuk melawan Darmo dan orang-orang dusun keparat dengan lima benda keramat mereka. Kalau kau mati, kita pasti bisa mengalahkan orang-orang itu dan kembali berjaya. Jangan khawatir, kematianmu itu nanti tidak berarti apa-apa. Kau akan kembali berkumpul bersama kami, Kinanti. Dunia kemarian dan kehidupan tidak berbeda bagi kita bila kelak kita berhasil mencapai kejayaan itu," tambah Girinata dengan sorot mata tajam dan garis-garis wajah yang bersungguh-sungguh.


Kinanti tak henti-hentinya terisak dan tersedu sedan. Air matanya membasahi sebagian besar wajahnya. Ia sudah menyangka bahwa keburukan bagai koreng di dalam keluarga ini sungguh tak bisa hilang. Sang ayah yang dikenal tidak memercayai ilmu hitam di dusun ini sama sekali tidak seperti yang orang-orang banyak ketahui. Hanya ia dan keluarganya lah yang paham sekali bahwa kejahatan, kenistaan dan kebejatan berjalan bersama ilmu hitam di dalam rumah ini.

__ADS_1


Hanya saja ia tak menyangka bahwa ayah dan ibunya benar-benar merupakan budak iblis yang rela melakukan apapun demi mencapai keinginan mereka meski sang ayah mengatakan bahwa tidak ada batas antara dunia kematian dan dunia nyata bagi keluarga yang telah tenggelam terlalu dalam di kubangan ilmu hitam tersebut.


"Baik, bila itu mau Bapak dan Ibu. Tolong jaga dan rawat adikku, Wardhani yang masih bayi itu. Biarkan ia besar dan menikmati hasilnya kelak,"ujar Kinanti pasrah dan berserah.


Setelah itu, Kinanti pergi ke belakang, duduk di tepi sumur, menyisir rambutnya yang kasar dan kaku bak ijuk dengan serit. Tanah merah masih melekat di sana. Ia kemudian menumbangkan dirinya ke dalam sumur.


Marni dan Girinata merasakan hawa kematian meruap dari dalam celah sumur. Di bawah sana Kinanti sedang sekarat. Tulang-tulang di tubuhnya yang patah menembus daging dan lapisan kulit akibat kejatuhan dan hempasan badannya yang keras. Kinanti mati perlahan. Darahnya mengalir keluar dari luka sobekan di berbagai tempat tersebut.


Dalam kematiaannya, ia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Kedungungan dan kepolosan Kinanti tetaplah sebuah dosa. Jabang bayi di dalam perutnya yang belum sempat tumbuh dengan normal sudah harus kehilangan kesempatan untuk mengetahui bagaimana dunia sesungguhnya. Mungkin Kinanti sendiri tak menganjurkannya kepada sang bibit manusia tersebut bila melihat bagaimana kelak ia akan hidup.


Kinanti tak menampik betapa buruk dan busuk hidup dan jiwanya kala masih hidup. Namun, ia merasa punya cinta. Itulah yang mungkin bisa diharapkan agar tak selalu sejalan dengan kebejatan keluarga. Sialnya, Kinanti tak mampu mendefinisikan kama, mana yang cinta mana yang berahi. Maka sebenarnya ia pun terjebak dalam setiap langkah-langkahnya. Ia tak ubahnya seluruh anggota keluarga.


Kinanti pun tewas setelah merasakan sakit mencacah setiap ruas jari tubuhnya. Dalam gerbang dunia lain yang bernama Angkara Murka, dimana jiwa-jiwa tersesat, tertunda perjalanannya untuk waktu yang tak terhingga, Kinanti merayap dalam kelam. Yang bisa ia saksikan hanyalah kesakitan, kesedihan, gemeretak gigi dan ratapan. Ia hanya ingin segera terbebas dari tempat ini, tak peduli lagi harus dimana dan bagaimana.


Girinata, sang ayah akhirnya menariknya kembali dari alam Angkara Murka, menempatkannya di punggungnya. Kinanti berpikir bahwa ini adalah bentuk dari rasa bersalah dan penebusan dosa Girinata, padahal, Kinanti hanya diberikan tugas baru bagi pencapaian tertinggi ilmu hitam sang keluarga, dimana, Kinanti sendiri diberikan bagian di dalamnya.

__ADS_1


Lagi-lagi, ini berarti Kinanti tak bisa lepas dari penjara, entah di dunia maya, dunia fana, atau Angkara Murka.


__ADS_2