Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketigapuluh Satu Kusuma Dewi


__ADS_3

Bukannya menggunakan kekuatan-kekuatan gaib dengan unsur-unsur alami itu dengan bijak dan wajar, para tetua dusun Pon malah mengekang kekuatan-kekuatan tersebut di dalam Pancajiwa. Ini alasannya jelas bahwa agar sekelompok orang-orang tersebutterus menjadi kumpulan orang-orang istimewa dan pemilik beragam hak yang tersembunyi dalam topeng kewajiban.


Jadi, pada dasarnya, mereka sama jahat dan buruknya dengan kekuatan gaib yang mereka kurung itu.Bahkan mungkin lebih parah.


Soemantri Soekrasana megap-megap. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia terbangun dan terduduk kemudian memuntahkan arwah sang kuntilanak merah yang kembali mengambang di pojok ruangan. Sosok Chandranaya kembali terkikik.


Soemantri Soekrasana baru saja mengalami retrokognisi kasar, yaitu sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu yang begitu melelahkan. Cara sang kuntilanak merah membawa Soemantri Soekrasana ke alam masa lampau itu sama sekali tidak bisa dikatakan lembut apalagi nyaman.


Soemantri Soekrasana ingin muntah rasanya setelah dibawa naik turun dengan cepat seperti sedang berada di atas roller coaster. Bedanya, yang ia lewati adalah masa, bukan sekadar ruang.


Soemantri Soekrasana bangun berdiri dari tempat tidurnya. Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan serta menyeka keringatnya. Ia bertopang pada dinding agar tubuhnya tak jatuh lemas.


"Jadi, kau juga baru tahu akan hal ini?" tanyanya pada Chandranaya sang kuntilanak merah.


Yang ditanya membulatkan kedua matanya yang memerah, kemudian mengangguk. Seringai mengerikan tak bisa lepas dari wajah matinya itu.


"Sial! Pantas Wardhani dapat keluar dari dunia gaib itu. Tubuh fisiknya tak benar-benar bisa terkunci di dunia lain. Ia masih bisa mempermainkan ruang dan waktu dengan menggunakan Pancajiwa. Dusun Pon pada dasarnya sudah cacat dan penuh borok dalam catatan sejarah mereka. Sekarang setelah Pancajiwa hancur, kemajuan dengan  cepat mendatangi tempat itu. Tapi mereka sama sekali tak tahu bahwa perilaku dan sifat dasar mereka tak akan dapat menyelamatkan diri mereka sendiri," gumam Soemantri Soekrasana yang cenderung berbicara kepada dirinya sendiri.


Ia memandang ke arah Chandranaya yang mengambang di sudut ruangan. "Kita harus bergegas," ujar Soemantri Soekrasana kemudian. "Hawa iblis itu pekat sekali. Kita beruntung, mereka berada tak jauh dari sini," lanjutnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu mimis timah panas berdesing menghajar tiang lampu taman, menciptakan percikan api dan membolongi batang besi kopong itu. Kejadian ini membuat para warga yang menonton kejadian di luar nalar itu tersentak. Butuh waktu dua detik untuk mereka menyadari bahwa bahaya sedang mendekat. Mereka terancam oleh tembakan seorang preman ke arah mereka, yang mendadak datang jelas untuk berusaha melukai bahkan membunuh mereka entah apapun alasannya.


Teriakan panik meledak di angkasa. Para warga yang awalnya masih penasaran walau takut, tetapi sembunyi-sembunyi memerhatikan kejadian yang mungkin tak akan mereka alami lagi tersebut. Namun sekarang, kerumunan memecah. Warga apartemen yang menonton adegan tersebut berhamburan bagai semut.


"Bodoh! Mengapa menembak saja kau tak bisa?" ujar Wardhani dari balik tubuh sang preman yang telah dikuasai keinginan untuk menikmati tubuh wanita penggodanya itu.


"Aku tak pernah memegang pistol, apalagi menembakannya," balas sang preman.


Padahal ia sebenarnya tak memiliki kesadaran penuh atas dirinya sendiri. Jadi sesungguhnya, tembakan yang ia lakukan tetap merupakan tindakan entitas gaib yang ada di dalam tubuhnya. Dalam hal ini adalag Wardhani


sendiri.


Maung mengaum keras. Konsentrasinya terpecah setelah mendengar dua kali bunyi tembakan dan sekali bunyi erangan rasa sakit. Ada setitik rasa kemanusiaan dalam tubuh siluman binatang ini yang dibagi adil dengan Anggalarang.


Wardhani paham itu.


Maka, oleh sebab itu, sang ratu dedemit melalui sang preman kembali menekan pelatuk pistolnya mengarah ke masa yang berlarian. Ini memang sudah merupakan bagian dari rencananya sedari awal.

__ADS_1


Maung menggeram, mengaum, mengaung dan meraung lebih keras. Maung memindai tempat itu untuk kemudian mendapatkan posisi sang preman. Siluman harimau sebesar sapi itu siap melocat. Tubuhnya yang hendak menyerang sang preman sebagai bentuk penyelamatan terhadap para warga yang tidak bersalah itu ternyata menjadi titik kelemahannya, seperti yang Wardhani kira.


Ketika sang Maung malah tidak menghadap ke arah Kusuma Dewi, sang iblis betina siluman ular langsung menyemprotkan racun melalui ludahnya ke mata Maung.


Mengenainya tepat di kedua mata harimaunya.


Siluman harimau putih itu menggerung, kali ini karena kesakitan dan geram. Ia mendadak tak dapat melihat apapun. Dunia malam itu menjadi sama sekali gelap. Jangan-jangan ia mungkin buta.


Melihat hasil serangannya berhasil, siluman ular bersisik kehijauan itu tak mau membuang-buang kesempatan. Ia meregangkan otot-ototnya untuk mencelat bagai pegas dan membelit Maung. Dalam kesempatan itu pula, sang siluman ular hijau betina menusukkan kuku-kuku dan taringnya sedalammungkin ke leher dan kepala musuh, kemudian menyentakkan tubuh ularnya bagai tali gasingan, melemparkan Maung jauh.


Tubuh Maung menubruk pepohonan hias taman apartemen, mematahkan semuanya dan terus meluncur dan jatuh di tanah lapang hampir mendekati jalan raya.


Tubuh besar sang siluman harimaudiam tak bergerak. Kulitnya sobek menganga di leher dan kepala. Darah mengalir keluar bagai sebuah sungai kecil.


Harusnya tidak perlu lagi dijelaskan bahwa bekerjasama dengan iblis hanya akan membawa malapetaka. Kenikmatan semu dan temporer tak sepadan dengan akibat dan konsekwensinya.


Sosok Maung luntur dan meleleh perlahan memunculkan tubuh seorang Anggalarang yang terluka. Tubuh ramping laki-laki itu terlentang tergenang dalam darah dan terbenam dalam daging berbulu putih yang ternoda kemerahan.


Sang siluman ular betina mendesis tersinari jarum-jarum cahaya lampu menyibak rerumputan taman dan potongan batang kayu pepohonan yang patah ditubruki tubuh siluman harimau putih itu.

__ADS_1


Telinga gaib sang iblis betina dapat mendengar di kejauhan suara sirene motor tim gerak cepat Polisi meraung-raung. Tak lama lagi manusia-manusia rendah bergaya pahlawan itu akan sampai ke tempat ini, pikir sang ular. Maka, ia harus segera menuntaskan pekerjaan ini. Namun, bagaimanapun, kenikmatan selalu berada di puncak segalanya. Ia memutuskan untuk memberikan sedikit kepuasan jahat pada dirinya sendiri.


Kusuma Dewi menyembul, membelah tubuh bersisik hijau itu. Kepala indahnya melongok dari rekahan menganga dada sang iblis. Hanya saja Kusuma Dewi terkunci mati. Ia hanya diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan mengerikan dan menyedihkan di depannya. Sang kekasih sedang terluka parah dalam keadaan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


__ADS_2