
Ratih, sepupu tua Kusuma Dewi membelalakkan kedua matanya ketika melihat tubuh saudaranya itu terlihat berjalan masuk ke pekarangan rumahnya.
Welaah, ayu tenan kowe, Dek. Cantik sekali kamu," ujarnya dengan nada bicara yang menukik tinggi.
Wajah berkulit putih pucat dan bintik-bintik hitam Kusuma Dewi langsung memerah bagai udang rebus. Bukan karena tersipu malu, namun menahan perasaan karena tahu sang sepupu sedang berbohong dan hanya berbasa-basimengenai penampilannya. Mana mungkin ia cantik, pikir Kusuma Dewi.
"Terakhir Mbak lihat kamu, kamu tidak secantik ini lho, Dek. Sudah berapa lama ya, tujuh tahun yang lalu mungkin? Ya, sudah lama memang, sih," ujar Ratih kenes.
Kusuma Dewi meringis. Ia semakin membenci dirinya atas pujian palsu itu. Tujuh tahun yang lalu, ia masih remaja tanggung, bau keringat pulang sekolah. Yang menyedihkan adalah sekarang pun, ia bukan seorang perempuan yang matang dan memesona, tak ada bedanya dengan tujuh tahun yang lalu. Tapi, bagaimanapun juga, cara berbicara sang sepupu yang ceria dan sepertinya tulus - meski tujuannya hanya untuk bersikap ramah - sebenarnya tak membuatnya risih.
Walau sudah tujuh tahun mereka tak bersua secara nyata, bertelepon dan yang paling baru, berkomunikasi dengan menggunakan sambungan internet, tetap dilakukan secara reguler. Jadi, karena komunikasi yang tak putus ini membuat Kusuma Dewi tak kikuk dan rikuh ketika bertemu langsung. Tawa Ratih, suara lengkingannya dan sepasang mata yang terus membulat ketika menyampaikan emosi, terlalu akrab bagi Kusuma Dewiyang rendah diri.
Dua anak laki-laki Ratih yang sekarang berumur enam dan lima tahun lebih berdiri berjejer berdampingan menyapa bulek mereka dengan ramah. Hati Kusuma Dewi mencelos. Kemenakannya itu kedua-duanya menggemaskan karena sikap mereka yang sopan. Ia sendiri baru pertama kali ini bertemu secara langsung dengan keduanya. Wajah mereka yang bersinar, cara berpakaian mereka yang necis, bersih, dan rapih untuk anak seusia mereka membuat Kusuma Dewi semakin gemas. Ia peluk keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kusuma Dewi nyaman di sini. Rumah Ratih tak terlalu besar, tapi pekarangannya luas. Lampu yang dinyalakan juga terang, tak membuatnya merasa sedang berada di sebuah dusun terpencil.
__ADS_1
Ia sudah selesai mandi petang ini dan kini berganti pakaian dengan celana tiga perempat berpinggang karet yang kendur serta kaos oblong kedodoran yang makin lama makin enak dikenakan. Saking nyamannya, ia hampir lupa mengenakan behanya sebelum teringat bahwa ia sedang tak di kamarnya sendiri.
"Mas Johan kok belum pulang, Mbak?" tanya Kusuma Dewi sembari mendeprok di lantai teras, memerhatikan kedua kemenakannya sedang belajar. Rambut basah merahnya tegerai.
Ratih tersenyum. "Masmu itu kan orang kota, Dek, sebenarnya. Sewaktu dia memutuskan untuk pindah ke dusun ini bersama anak-anak, Mbak luar biasa salut dan sangat menghargainya. Ya, syukurnya dia diterima menjadi Pegawai Negeri, guru Es Em Pe Negeri di desa sebelah. Sudah lama Masmu itu tidak bersinggungan dengan dunia modern. Jadi ketika akhirnya internet masuk, mas Johan merasa menjadi manusia lagi," Ratih kembali tertawa. Wajahnya menerawang.
"Sekarang, hampir setiap sore, sepulangnya dari sekolah, Mas Johan singgah di pendopo dusun. Dia mengajari para tetua bagaimana menggunakan internet," Ratih tergelak. Kusuma Dewi juga tak dapat menahan geli yang dirasakan sang sepupu. "Mbak biarkan saja dia kembali ke peradaban. Pengorbanannya sudah luar biasa besar selama ini."
Percakapan mengenai Johan berhenti di situ. Kedua perempuan bersepupu itu kemudian bergurau kesana kemari dengan memasukkan cerita masa lalu, masa kecil, masa kini serta tentu saja masa depan.
"Kamu masih ingat bagaimana wajah Mas Johan terakhir ketemu?" Ratih tiba-tiba kembali membahas mengenai suaminya itu.
"Nah, itu uwonge wis teko. Orangnya sudah datang," ujar Ratih sembari menunjuk ke arah pekarangan luas yang tersirami cahaya terang. Ada sosok laki-laki berpakaian necis dan klimis dan memiliki kesan 'berpendidikan' berjalan ke arah mereka. Ia disambut kedua anak laki-laki Ratih.
Kusuma Dewi berdiri cepat.
Pandangannya bersirobok dengan Pak Guru Johan.
__ADS_1
"Loh, ini Kusuma Dewi yang dulu masih kecil itu, ‘kan?" tanya Pak Guru Johan. "Sudah cantik kamu sekarang," ujarnya kemudian.
Lagi-lagi pujian basa-basi itu. Tapi syukurnya Kusuma Dewi tak merasa risih sama sekali. Ucapan suami sang sepupu itu mungkin memang sekadar fatsun dan sopan santun, tapi tanpa terlihat menggoda. Kusuma Dewi tersenyum ramah.
Pak Guru Johan sendiri cukup kaget dengan perubahan sepupu istrinya tersebut. Selain memang sang gadis sudah dewasa, tapi secara fisik, ia tak menyangka Kusuma Dewi tumbuh menjadi perempuan semenarik dan secantik ini.
Andai Kusuma Dewi tahu bahwa Ratih dan suaminya, Pak Guru Johan, sama sekali tidak berbohong apalagi sekadar berbasa-basi. Ia memang terlihat cantik, terlalu cantik bahkan. Seakan segala energi Dusun Pon menunggu kedatangannya dan membuka semua sisi pesona yang selama ini tersembunyi dari dirinya dan sama sekali tak ia sendiri sadari.
"Iya ‘kan, Mas? Masak Kusuma Dewi yang secantik ini bilang kalau dia tidak punya pacar atau kekasih. Minta dibawa ke tunggul kayu di samping sungai itu lho, Mas, seperti tamu-tamu yang datang cari jodoh ke dusun kita," ujar Ratih dengan suara kenesnya bercanda disusul tawanya yang khas.
Wajah Kusuma Dewi kali ini memerah malu. Alasannya adalah karena apa yang diucapkan kakak sepupunya tidaklah salah. Ia tak punya pacar, dan kegilaannya pada sosok Anggalarang yang memang membawanya ke dusun ini untuk mendapatkan keajaiban macam apapun, asal berkenaan dengan pesona dan keinginannya untuk memiliki setitik sentuhan berahi Anggalarang. Di sisi lain, Kusuma Dewi merasa pujian demi pujian tak layak terus menerus disematkan kepadanya, membuat ia berharap bahwa ia memang secantik yang diutarakan Ratih sang sepupu.
Kusuma Dewi menunduk semakin malu. Rambut kemerahannya yang basah jatuh menutupi sebagian wajahnya. Namun dari sela-sela helaian rambutnya, Pak Guru Johan dapat melihat kulit putih wajah Kusuma Dewi merona merah memesona.
Mendadak ada degupan aneh di dalam dada Pak Guru Johan. Perutnya serasa ditubruki kupu-kupu yang beterbangan dan getaran serta letupan-letupan kecil menyebar di permukaan kulitnya. Pujian spontannya pada Kusuma Dewi tadi tak dinyana memantul kembali kepada dirinya, membuatnya berpikir ulang dan menyadari memang secantik itu sepupu sang istri.
Pak Guru Johan bahkan tak dapat menahan kedua matanya menjelajahi dada Kusuma Dewi yang menggantung indah dari balik kaos oblong kedodoran yang sudah lusuh akibat terlalu lama dan sering dikenakan. Dalam sepersekian detik pikirannya berkelana berkelebat mencari penggambaran seperti apa bentuk sepasang benda itu di balik pelindungnya.
__ADS_1
Akibatnya, Pak Guru Johan yang malah tiba-tiba merasa kikuk. "Tidak usah malu, Dewi. Nanti Mas yang antarkan ke sana. Tidak percaya hal seperti ini juga tidak apa-apa, hanya untuk seru-seruan saja," ujar Pak Guru Johan menutupi rasa gugupnya.
Kusuma Dewi merasa tak perlu menjawab, menolak, apalagi menyangkal. Bukankah memang itu tujuan sebenarnya? Ia hanya mengangguk dan semakin tertunduk malu.