
"Aku belum pernah sekalipun melihat bapak menangis, tak sekalipun. Belum pernah ada tetesan air mata yang jatuh dan merembes di pipinya. Ia menganggap dirinya adalah lelaki sejati," ujar laki-laki muda itu.
Soemantri Soekrasana tersentak. Sial, pikirnya. Baru saja ia mual-mual mendengar cerita sentimentil Satria Piningit tempo hari, sekarang ia harus mendengarkan satu cerita lagi.
Tidak. Ia tak bisa menghentikan atau menghindari laki-laki itu untuk bercerita. Sudah menjadi kutukannya.
Sudah jelas ada alasan dibalik menempelnya mahluk-mahluk gaib tertentu pada dirinya walau tak ia panggil. Biasanya mereka memiliki keterkaitan tertentu dengan hidupnya sehingga mau tak mau ia harus melayani mereka. Lagipula hantu suka sekali bercerita.
Seperti sekarang ini. Ia sedang buang air kecil di sebuah bar setelah satu botol bir ia habiskan. Wong Ayu memutuskan untuk pulang ke apartemen Anggalarang untuk beristirahat.
Soemantri Soekrasana baru saja mencuci tanganya di wastafel ketika dari pantulan cermin, di urinoar paling ujung. Wajahnya tak terlihat, gelap, walau lampu toilet terang benderang.
Soemantri Soekrasana langsung paham bahwa mahluk itu adalah seorang hantu laki-laki muda.
Seperti menyadari bahwa Soemantri Soekrasana paham ia berada disana, tanpa basa-basi, sang hantu langsung bercerita.
“'Lelaki sejati tak pernah menangis!' kata Bapak. Kata-kata itu yang terus terngiang di telingaku hingga hari ini. Dari aku belum bisa berjalan hingga mulutku telah dapat bersumpah serapah, kata-kata itulah yang mengawalku, menungguiku, bahkan mengintai setiap perilakuku.
"Itulah bapak dengan didikannya. Aku tak heran sebenarnya. Apalagi setelah kemudian secara berangsur-angsur aku paham siapa sebenarnya bapak itu. Tubuhnya ulet dan kasar oleh bentukan kegiatannya. Ia tidak memiliki tubuh yang besar nan mengerikan, sebaliknya, tubuhnya langsing namun gesit. Bapak jago silat.
__ADS_1
"Kekuatan fisik dan perilakunya yang garang, kasar, dan menakutkan sekaligus penuh wibawa bagi banyak orang membuatnya menjadi penguasa kecil diantara para pekerja-pekerja di terminal, stasiun atau pasar.
"Bentrokan-bentrokan kecil maupun masal seringkali terjadi antar kelompok-kelompok yang mendukung dan dibawahi Bapak dengan kelompok-kelompok yang berlawanan dengannya. Kalau sudah emosi dan tenggelam oleh amarah, bapak tidak akan sekedar memukul, menendang atau menghajar habis-habisan orang yang dibencinya, tapi juga membacok, menyabet, menusuk atau bahkan membunuh sekalipun.
"Oleh karena itu, tak jarang sedari kecil aku sering melihat Bapak pulang dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Setelah itu, ibu yang sifat dan perilakunya sangat kontras dengan bapak, akan mengobati luka-luka bapak, membalutnya dengan kecupan dan kedamaian. Mereka menikah muda. Bahkan Bapak tak malu-malu mengakui bahwa ibuku dihamili Bapak sebelum menikah.
"Dan dengan luka semacam apapun Bapak pun tak pernah menangis," suara hantu laki-laki ini mengambang di udara. Dekat namun juga serasa jauh.
"Apa boleh buat, Bapak adalah seorang preman. Bapak mendidikku dengan keras, tipikal seorang preman, 'Kalau kau mau hidup dengan keadaan seperti ini, kau harus kuat dan tidak cengeng', katanya,” lanjut sang hantu.
"Setiap kali aku menangis ia akan mendiamkanku dengan pukulan, tamparan dan perlakuan kasar lainnya. Namun setelah aku selesai dengan tangisku, ia mendadak akan membaik, memperlakukanku dengan penuh cinta, memberikanku makanan apapun yang kuinginkan, baju atau apapun yang kumau - yang tentu saja dari uang hasil pekerjaan premanismenya, atau ia akan memberikanku kepada ibu yang tentu saja bersikap baik dan manis kepadaku, melebihi baik dan manisnya kepada sang suami.
"Kadangkala aku bertanya dalam hati, kenapa bapak mau bersusah payah hidup menjadi seorang preman, orang yang dibenci masyarakat, ditakuti, namun juga sering digunakan oleh pejabat-pejabat negara untuk kepentingan-kepentingan pribadi mereka? Bukankah hidup seperti itu terlalu berat, beresiko dan sama sekali tidak menyenangkan? Namun, akhirnya selama masa pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mentalku, aku akhirnya mendapatkan jawabannya. Bapak tak punya pilihan.
"Sedari kecil hidup bapak sudah sedemikian susah, miskin, dan keras. Ia harus mengubah taraf hidupnya, namun ia tak memiliki kemampuan dan keterampilan lain, selain ilmu silat, kekuatan fisik dan keganasan karakter yang telah terbentuk dari situasi yang dihadapinya. Jadilah ia seorang preman.
"Tak mudah mendapatkan kekuasaan dan wibawa seperti saat itu. Bapak tidak lagi turun langsung ke jalan untuk menagihi uang keamanan atau mengompasi para pengusaha dengan bisnis hiburan mereka. Ia telah memiliki ratusan anak buah yang siap melakukan hal itu untuknya.
"Setiap hari ada saja pemasukan dari pekerja legal maupun ilegal. Jutaan Rupiah akan datang dengan sendirinya ke kantong bapak setiap bulannya. Banyak daerah yang dikuasai Bapak. Uang itulah yang dipakai Bapak untuk membesarkan dan menghidupiku. Banyak sekali rintangan yang dihadapi bapak, namun dengan modal tidak menangis itulah ia berhasil menjadi raja diraja seperti yang ia inginkan.
__ADS_1
"Seperti banyak preman lain, tak ada satupun dari mereka yang menginginkan anak-anak mereka mengikuti jejak mereka. Mereka ingin anak-anaknya belajar dengan giat, agar mereka menjadi orang-orang yang lurus dan tak terlibat masalah. Namun apa boleh buat, sebagai seorang anak laki-laki tunggal yang dididik dengan uang haram dan dimanja dengan kekuasaan, hidupku berputar kembali seperti Bapak: akupun tak bisa memilih jalan hidupku sendiri kecuali mengikuti jejak bapak.
"Bedanya, aku tumbuh menjadi seorang yang cengeng dan lemah, berkebalikan dengan bapak. Aku sering menangis dan mengeluh ke Bapak bila terjadi masalah-masalah di kehidupanku. Setelah itu bapak pasti membelaku, membantuku dengan segenap kekuatannya. Aku terbentuk menjadi anak laki-laki yang rewel.
"Ibu tahu hal ini kan terjadi. Namun ia begitu mencintai Bapak, hingga tak tega untuk mengusik metode kasih sayang dan cara bapak memperlakukan dan mendidikku. Tiap hari yang kutahu cuma perempuan dan ****, narkoba, dan perkelahian-perkelahian kecil disaat mabuk. Aku tak perduli sekolah dan pendidikanku, tapi aku tahu pasti bagaimana menghamburkan uang dan mengunakan kekuasaan bapak untuk hal-hal yang kuinginkan.
"Hingga akhirnya aku melihat bapak menangis untuk pertama kalinya. Bapak menangis sekeras-kerasnya, membabi buta, dicampur amarah, benci, serta kesedihan yang sangat. Aku melihat dengan kedua mata kepalaku, air mata membanjiri wajah Bapak yang gelap dan kasar. Air mata itu seperti air bah yang siap menenggelamkan Bapak ke penderitaan yang paling dalam.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa, begitu pula ibu yang sedari tadi diam disamping tubuhku yang terbujur kaku.
"Nafasku tersendat, pandanganku menjadi samar dan menggelap. Darah terus mengalir dari dadaku yang berlobang oleh timah panas. Aku mulai tak bisa melihat semua hal yang terjadi. Namun aku masih bisa mendengar suara tangis Bapak yang seperti lolongan serigala terluka dan potongan kata-kata,
'Lelaki sejati tak pernah menangis!' berulang-ulang hingga kemudian menghilang perlahan," Soemantri Soekrasana melihat cairan darah, merah gelap, menggenangi lantai.
Hantu laki-laki itu sudah berdiri di samping Soemantri Soekrasana, namun wajahnya masih tak terlihat.
"Aku rasa si perwira polisi itu sengaja menembak punggungku, bukan kakiku, hingga tembus ke dada ketika melihat aku berlari. Aku kedapatan sedang mengadakan pesta narkoba di salah satu di salah satu rumah kontrakan temanku yang saat ini masih dapat meneruskan pendidikannya sampai jenjang perguruan tinggi.
"Polisi yang menembakku tahu bahwa aku anak Bapak, orang yang sangat dibenci sekaligus ditakutinya dan segenap rekan-rekannya," ujar sang hantu laki-laki muda itu.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana menarik nafas dan memandang hantu itu lekat-lekat. "Bapakmu bernama Affandi?" ujarnya.