
Kekhawatiran Soemantri Soekrasana dan rekan-rekannya, terutama anggota Catur Angkara, menjadi kenyataan. Sisi seberang sudah tak bisa menahan diri dengan misteri yang menyelubungi area Kampung Prajurit. Kepanikan sudah menggerogoti publik. Tidak ada seorang pun yang tahan dengan rahasia dan hal-hal yang tak diketahui. Dalam kegelapan selalu ada hal yang mengerikan, pasti ada yang berbahaya yang disembunyikan oleh hitam. Itulah yang sepertinya masyarakat pikirkan. Rasa penasaran, ketidaksabaran sekaligus kekhawatiran mulai membayang disana.
Dua tim khusus dengan persenjataan lengkap sudah kembali diterjunkan langsung. Bila dalam beberapa menit tidak ada kemajuan yang terjadi di dalam misi, mereka akan melaporkan ke pusat sehingga pasukan bersenjata benar-benar akan dikirimkan ke daerah yang diselimuti kabut di seberang jembatan tol yang putus karena ledakan itu bagai sebuah perang besar.
Helikopter terjatuh, tim satuan khusus menghilang tanpa kabar dan tanda-tanda, serta jembatan tol meledak serta terputus, bukanlah alasan yang bisa membuat orang-orang diam saja.
Kedua tim itu telah merayap masuk ke pusat kekuatan dan masalah, Kampung Pendekar.
Affandi yang berada di dalam benteng Kampung Pendekar mencium darah segar rombongan pasukan Kepolisian tersebut. Ia memerintahkan kepada para pemuda serta mahluk-mahluk gaib untuk membiarkan regu khusus tersebut mendekat ke Kampung Pendekar untuk menjadi saksi keagungan yang ia ciptakan. Ia ingin menjadikan pembantaian mereka sebagai tontonan dan acara utama bagi para perusuh: dukun muda dan penyihir perempuan beserta anggota-anggota kelompok mereka yang lain.
Regu kesatuan khusus yang diterjunkan tersebut adalah lambang dari kekuasaan manusia. Senjata selalu digunakan untuk merepresi rakyat kecil, orang-orang yang lebih lemah. Polisi, militer, adalah gambaran nyata dari kekuatan kekuasaan tersebut.
Apakah Affandi kini merasa peduli dengan rakyat dan orang-orang kecil? Tentu tidak. Ia sudah lama memosisikan dirinya sebagai kutub yang berlawanan: penjahat. Selain itu, ia sendiri adalah lambang kekuasaan itu pula. Ia memiliki kekuatan dan kekuasaan, senjata dalam rupa ilmu kanurahan dan pasukan dalam rupa pemuda-pemuda budak iblis.
Maka kedatangan satuan regu khusus ini adalah sebuah perang, yaitu tantangan nyata atas kekuasaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bangkai helikopter, asap mengepul dari sekitar dari sisa-sisa kayu dan tanah yang terbakar menarik perhatian dari kedua tim seakan menjadi ucapan selamat datang. Kendaraan udara itu seakan menggambarkan apa yang bakal mereka hadapi.
Komandan regu memerintahkan untuk melakukan langkah-langkah yang perlu. Tembak di tempat pada kemungkinan serangan atau apapun yang tidak hanya mencurigakan, namun juga membahayakan. Mereka begitu dipenuhi ketidaktahuan dengan apa yang sedang dan akan mereka hadapi ini.
Hubungan komunikasi dengan markas terputus!
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi, begitu sepertinya pikiran yang berputar-putar dalam otak mereka.
Mereka terus berjalan merengsek maju, tanpa memahami bahwa banyak sosok gaib yang ada bersama mereka. Mahluk-mahluk jahanam dan laknat itu seakan menunggu perintah. Mereka mengintip dari balik tirai kabut, menggantung di batang pepohonan atau mengambang di atasnya. Para pasukan ini sama sekali tak sadar jiwa mereka sedang terancam, bukan oleh lawan pasti seperti ******* atau gerombolan bersenjata, namun mahluk-mahluk gaib yang tak mungkin mereka duga.
Ketika telah melewati perkebunan sawit, Kampung Pendekar terlihat tersibak dari balik pepohonan.
Suara kekacauan di depan sana mendadak terdengar jelas. Teriakan rasa sakit dan kemarahan bercampur menjadi satu. Peperangan sedang berlangsung. Semua anggota tim langsung merasakan atmosfir berubah menjadi panas.
Di depan mereka Bandi berdiri dengan menggenggam parang panjang di tangan kanannya. Para pemuda berjejer di belakangnya dengan penuh semangat dan nafsu membunuh yang kental.
Dua komandan pasukan dari dua tim yang berbeda langsung memerintahkan anggotanya mempersiapkan senjata demi melihat marabahaya menantang dan mengancam di hadapan.
Selagi kedua tim mengarahkan senjata kepada Bandi dan para pasukan pemuda, Bandi berkata, "Tunggu aba-aba dariku. Kita biarkan monyet-monyet itu saling bunuh dahulu," perintah Bandi kepada para pemuda yang sudah tidak sabaran itu.
Tubuh tanpa kepala, perempuan tanpa kaki, kuntilanak merah, pocong hitam, mahluk-mahluk siluman separuh binatang melayang timbul tenggelam dengan cepat masuk merasuk ke tubuh beberapa anggota tim khusus Kepolisian tersebut.
Yang dirasuki kejang-kejang. Mata dibalik helm pengaman mereka membalik menyisakan bagian yang berwarna putih. Beberapa terkikik mendadak, beberapa menggeram, beberapa mengeluarkan buih dari mulutnya. Senjata api di tangan mereka terangkat membidik acak namun dengan kaku. Seakan mahluk-mahluk halus yang merasuki tubuh para anggota tim khusus malang tersebut masih mencoba menyesuaikan gerakan tubuh inang mereka.
Suasana mendadak kacau.
Seruan perintah bermunculan di tengah tim dari balik rasa bingung dan panik.
Rentetan tembakan akhirnya dilepaskan.
__ADS_1
Bandi menarik nafas panjang. Tonjolan sebesar kepala bayi di balik kulit perutnya bergerak sesuai irama nafas. Sosok tengkorak hitam membayang di sampingnya, menguapkan asap gaib selegam warna tulang-belulangnya.
Bandi mengangkat tangan kanannya yang memegang parang kemudian memberikan tanda agar para pemuda masuk ke dalam arena pembantaian tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mimis timah panas berdesingan membabat udara.
Sarti melompat menubruk Wong Ayu yang mengambang di udara. Tubuh keduanya jatuh di atas atap perumahan warga. Tubuh mereka terluka di beberapa bagian karena tersobek atap seng dan terserempet mimis timah panas. Tapi itu sama sekali tak menjadi masalah dibanding mereka tewas diterjang tembakan dari para pemuda yang mendadak datang dari luar gapura Kampung Pendekar.
Luka-luka di tubuh Sarti perlahan membaik. Ia memandang Wong Ayu yang juga bangun berdiri, marapal mantra untuk mengobati lukanya.
"Kita terlambat," ujar Wong Ayu. Ia membuka mata setelah khusuk merapal mantra dan mengembalikan keadaan kulitnya seperti semula. Wajahnya tegang. Kerut-kerutnya menunjukkan kompleksitas perasaan yang taut-menaut.
"Korban akan semakin banyak bila kita tidak segera melakukan tindakan drastis. Kita tak bisa membiarkan orang-orang di seberang sana mengirimkan lebih banyak pasukan. Budak-budak iblis Kampung Pendekar ini memang menginginkan peperangan agar dapat lebih banyak memanen jiwa," lanjut Wong Ayu.
"Kita kekurangan orang, Wong Ayu," balas Sarti yang sejatinya merupakan nenek moyang Wong Ayu sendiri itu.
"Kita tak bisa menggantungkan keberuntungan kita dengan orang lain lagi, Sarti. Takdir sudah membawakan tambahan Satria Piningit dan Yakobus Yakob. Maka, kita akan melawan mereka sampai tetes darah penghabisan. Aku harap kau sudah siap selesai dengan kehidupan ini, Sarti," ujar Wong Ayu.
Tak lama tubuhnya mencelat ke atas atap perumahan. Wong Ayu kembali menciptakan lidah api dari kedua telapak tangannya, siap melemparkannya ke musuh yang sedang membidikkan senjata api rampasan para anggota tim khusus yang tentu susah tewas.
Sarti bersiap ikut terjun ke medan perang. Ia menggumam pelan, "Aku belum siap mati di kehidupan yang ini, nduk. Aku harus menjagamu."
__ADS_1