
Sarti diam seribu bahasa. Ia tak menolak atau menentang, tetapi tak pula mengiyakan. Ia melipat kedua tangan di depan dadanya, menyaksikan bersama ketiga rekan-rekannya kekacauan yang sedang terjadi di depan mata mereka. Mereka berdiri di sebuah bekas dermaga perahu kecil yang bagian-bagian kayunya sudah begitu lapuk. Namun keberadaan mereka ini tak diketahui siapapun karena tersembunyi oleh pepohonan dan bangunan-bangunan tua.
Pendekar perempuan tersebut kemudian melemparkan pandangannya ke seberang sungai, di sebuah tempat yang juga terlihat asap yang mengepul dengan warna yang lebih gelap dibandingkan langit.
Tiba-tiba ia berseru, "Kita harus menyelamatkan mereka! Belum ada yang berani mendekat dan memperkirakan keadaan seperti apa," ujar Sarti sembari menunjuk pada sebuah kapal penumpang kayu yang oleng.
Seperempat bagian badan kapal itu sudah karam. Ada sebatang baja sebesar atap rumah jatuh di satu sisinya.
Beberapa orang terlihat bergerak-gerak panik di atasnya. Mereka sepertinya meminta tolong kepada siapa saja yang dapat menangkap teriakan mereka, sedangkan beberapa kabel putus bergelayutan di atas kapal tersebut menyemburkan lecutan listrik dan kapal itu juga mengeluarkan asap. Entah di bagian mana ada api yang menyala. Bila sekadar menunggu, tak butuh waktu lama bagi kapal itu untuk terbakar atau tenggelam.
"Mereka tak berani pula untuk melompat ke air. Besi-besi dan sengatan listrik ada di sana," ujar Soemantri Soekrasana yang juga awas dengan apa yang Sarti lihat.
"Yu, bisakah Yu coba membawa mereka kemari?" tanya Soemantri Soekrasana kepada Wong Ayu.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Wong Ayu untuk mengangguk dan langsung menghilang.
Soemantri Soekrasana melihat beberapa pipa besi yang semula tak terlihat oleh mereka kini meluncur jatuh.
"Sarti!" serunyanya kuat sembari menunjuk ke arah pipa-pipa patahan yang ujung-ujungnya lancip tersebut.
Layaknya seorang prajurit mendengar perintah dari patihnya, Sarti melesat begitu cepat. Ia berlari di atas permukaan air sungai yang gelap, terus meluncur menapak kaki jembatan tol yang telah patah itu kemudian menyambar potongan-potongan pipa logam tersebut sehingga berdenting keras namun tak mengenai siapapun di kapal itu.
Wong Ayu muncul di samping Soemantri Soekrasana dengan tiga orang penumpang. Wong Ayu melihat ke arah Soemantri Soekrasana, "Ada yang terjepit di kapal itu. Aku tak akan mampu mengangkuti mereka satu persatu. Bila kita terlambat, kapal akan tenggelam. Aku perlu bantuan."
__ADS_1
Tubuh Wong Ayu menghilang dari pandangan lagi, membuat ketiga penumpang yang syok dengan keadaan ini, kembali menjadi lebih syok melihat sosok perempuan yang membawa mereka itu menghilang di udara di depan mata telanjang mereka.
Anggalarang menutup mata. Kedua tungkainya memanjang dan menekuk menjadi sesuatu yang sama sekali bukan manusia. Begitu pula kedua tangannya yang berubah menjadi sepasang tangan serupa tungkai kaki seekor harimau.
Di luar itu, Anggalanang masih sangat terlihat bagian-bagian manusianya, termasuk wajahnya.
"Kau bisa separuh berubah?" ujar Soemantri Soekrasana sedikit terkejut Anggalarang tidak secara seluruhnya berubah menjadi Maung. Bahkan ia terlihat sangat sadar.
Anggalarang tak menjawab pertanyaan Soemantri Soekrasana. "Aku akan mencoba menggunakan kekuatanku untuk melepaskan mereka yang terjepit," ujarnya. Ia sendiri langsung terjun ke sungai dan berenang dengan cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggalarang memecahkan papan-papan yang menjepit para penumpang dengan cakar-cakar dan tungkai kaki depan Maungnya yang kokoh.
Wong Ayu berhenti berteleportasi karena masih banyak penumpang yang terjebak di kapal, terutama karena api mulai meraba-raba bagian-bagian penting kapal.
Maka, ia memutuskan menggunakan ilmu kanuragannya untuk mengendalikan api tersebut.
Soemantri Soekrasana mencoba mengumpulkan para penumpang yang berhasil di selamatkan oleh Wong Ayu ke tepian sungai, di dermaga kecil tua tersebut, meski alih-alih berterima kasih, kebanyakan dari mereka ketakutan dan panik bahkan syok.
Bagaimana tidak, mereka baru saja menghilang dari kapal yang hendak karam ke dermaga ini dalam sekejap mata oleh seorang perempuan penyihir, sebelum di kapal sendiri mereka menyaksikan mahluk mengerikan yang menghancurkan papan-papan kayu hanya dengan sekali cakar. Belum lagi sosok berbaju merah yang melompat kesana-sini dengan kecepatan luar biasa yang membuatnya seperti larik garis merah berpendaran.
Sialnya ketakutan para penumpang yang selamat itu mulai menjadi-jadi paniknya. Soemantri Soekrasana dapat melihat dari mata beberapa diantara mereka bahwa mereka berniat lari dari tempat ini padahal baru saja diselamatkan.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana tak dapat membiarkan hal ini dengan alasan, pertama, keadaan masih begitu berbahaya bagi mereka untuk pergi, terutama melarikan diri dengan berlari misalnya. Bagaimana bila terjadi ledakan susulan, atau pecahan meterial ledakan jembatan tol yang tersebar dimana-mana dapat melukai mereka, apalagi Wong Ayu memang membawa bereleportasi anggota Catur Angkara ini ke sebuah titik yang termasuk sangat dekat dengan radius ledakan dan runtuhnya jembatan tol.
Kedua, para aparat, petugas bahkan wartawa dan masyarakat biasa akan datang dan malah memungkinkan korban tambahan.
Suara teriakan panik dan takut melompat dari mulut mereka silih berganti.
Soemantri Soekrasana tak punya pilihan lagi. Ia merapal sebuah mantra berulang-ulang sampai tujuh kali,"Awakku kembang jaya kusuma, kang mambu padha turu, rep-sirep jabang bayi. Remeng-remeng anglungguhi gedhong peteng jer hati tlekem, ...."
Tubuh-tubuh setengah basah oleh air sungai itu perlahan melemah dan jatuh tertidur. Ada semburat kelegaan di wajah mereka walau sebelumnya luar biasa panik.
Soemantri Soekrasana baru ini menggunakan mantra sirep untuk menidurkan bayi itu kepada banyak sekali orang yang sangat riuh dan dalam keadaan tidak tenang.
Ilmu sirep menidurkan bayi itu ia gandakan kekuatannya untuk membuat orang-orang dewasa yang ribut dan panik itu merasa nyaman bagai seorang bayi dipelukan ibundanya yang menimang dan bersenandung menembang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mak Yudi merasakan sebuah perasaan aneh yang menggedor-gedor dinding dadanya dari dalam. Ia melihat sang putra kembali bangkit dari kematian. Ada semburat wajah sang mendiang ayahnya di wajah Yudi, anaknya, yang sempat mati itu. Rupa itu begitu penuh keberanian, kebanggaan dan semangat menyala-nyala.
Entah apa yang sudah dilakukan orang asing bernama Bandi yang datang tidak hanya membangkitkan kembali anak laki-lakinya dan para pemuda yang tewas bunuh diri seperti putranya, namun juga mayat sepuluh pendekar leluhur kampung mereka. Namun Mak Yudi merasakan pesta di dalam kehidupannya tuanya ini.
Mahluk-mahluk tak berwujud berkeliaran di kampung. Ada bentuk-bentuk mahluk abstrak tembus pandang atau hancur tak utuh. Ada pula hantu yang Mak Yudi kenal dengan baik selama hidupnya, baik secara langsung ia pernah lihat dan saksikan atau melalui cerita kanak-kanak atau dongeng ngeri sesama tetangga.
Pocong berkain lusuh berwajah pucat mengintip dari balik tembok rumah, sundal bolong terlihat menyembul dari kegelapan, siluman buaya dan beragam jenis binatang merangkak dan merayap serta datang dan pergi menghilang atau muncul begitu saja. Dan masih banyak jenis-jenis mahluk gaib yang Mak Yudi tak bisa terangkan lagi. Ia terlalu syok - atau terpana - dengan kemunculan mereka yang membuat Kampung Pendekar laksana pemukiman setan.
__ADS_1