
Satria Piningit menyaksikan dengan mata batinnya, hantu-hantu di bawah komandonya melecut-lecut dalam garis warna-warni magis gaib tak kasat mata. Mereka saling menyengat, mengikat, merekat dan gigit mengerat. Hantu-hantu musuh mencoba melepaskan diri dari serangan entitas gaib dari pihak Satria Piningit dan Catur Angkara agar mereka tetap bisa melekat pada tubuh para pemuda Kampung Pendekar, karena itulah misi mereka dengan penawaran imbalan dari sang iblis betina yang sulit sekali mereka tolak. Sedangkan Chandranaya dan rekan-rekan hantunya berusaha mencabut pijakan mahluk-mahluk gaib lawan dari dunia fana ini agar tak memiliki kekuatan memperbaiki sel-sel tubuh para pemuda yang dirasuki hawa nafsu akan darah tersebut.
Pada dasarnya, Chandranaya dan teman-temannya berada di atas awan sehingga membuat musuh kewalahan. Pocong dan sundel bolong meraung-raung pedih ketika Soelastri menggulung mereka dengan energi kesedihannya. Kepalanya yang terpuntir patah berderak, semakin memucatkan wajah mengerikannya yang tak teraliri darah. Jessica Wu menyemburkan hawa magis yang berderai dari tubuh astralnya, menyapu hantu-hantu tanpa kepala, tanpa lengan, tanpa kaki atau tanpa separuh badan. Tarini dan Priyam membuka kedua mulut mereka lebar, membentuk lubang hitam mengerikan tanpa dasar, menyobek pipi dan meledakkan kepala mereka yang memang sudah tak berbentuk sempurna itu lagi.
Namun, hantu-hantu mariaban lah yang sekarang menjadi ancaman. Ketika beberapa lembar tubuh astral hantu terpecah dan terlempar dari dimensi ini karena kalah oleh Chandranaya dan hantu-hantu di bawah komando Satria Piningit serta membuat Yakobus Yakob leluasa memecahkan kepala, menyobek tubuh, menghancurleburkan tubuh para pemuda serta membiarkan api Wong Ayu menyempurnakan kehancuran tanpa bagian-bagian tubuh-tubuh itu merambat bergabung menjadi utuh lagi, hantu mariaban yang tak terluka api namun dapat membunuh fisik tubuh manusia itu melangkah maju dengan percaya diri. Cakar-cakar mereka memanjang, begitu pula dengan taring yang mencuat dari bibir mereka.
Tubuh-tubuh jangkung berbulu itu menyeringai, membelah api dan pepohonan yang terbakar. Tujuan mereka adalah Satria Piningit yang mereka anggap berbahaya karena memerintahkan para hantu untuk mengganggu dan membatalkan misi yang diembankan kepada mereka.
Pandangan buas dan liar hantu-hantu mariaban terfokus pada Satria Piningit, menguncinya. Bagai bajing raksasa, sosok-sosok kejam hantu mariaban mencelat ke udara, melewati api, asap dan kabut ke arah Satria Piningit, siap mencabik-cabik tubuh dan memakannya hidup-hidup.
Sepasang mata Satria Piningit terbelalak. Mahluk-mahluk mengerikan itu hanya beberapa langkah saja di depannya. "Sudah saatnya kau keluar. Cepatlah keluar. Keluar sekarang!" seru Satria Piningit dengan suara bergetar dan terlihat waswas serta takut.
Dua entitas hantu mariaban yang melompat paling depan bertubrukan saling rebut menjamah Satria Piningit. Ujung cakar mereka hanya tinggal selengan jaraknya dari wajah dan kepala Satria Piningit ketika kedua sosok tersebut terlempar jauh ke belakang bagai dua buah pin bowling.
Satu sosok raksasa, serupa dengan mereka, tubuh ditutupi bulu-bulu gelap kasar, bola mata merah darah, kuku panjang lancip hitam melegam dan taring mencuat dari balik sepasang bibir tebal, muncul entah dari mana. Badannya jangkung dan besar berkali lipat dari para rombongan hantu mariaban. Hantu mariaban bukan genderuwo, begitu juga dipastikan mahluk yang menyelamatkan Satria Piningit ini. Kesemuanya memiliki ciri-ciri yang mirip karena sifat-sifat hewaniah yang disematkan pada sosok astral mereka.
Satria Piningit menarik nafas lega dan langsung mundur. "Jin Obong, kuserahkan mereka padamu."
__ADS_1
Sosok yang ternyata merupakan Jin Obong itu menggeram keras, menggelegar. Ia merentangkan tangannya yang begitu panjang, melebar di atas pokok-pokok dan dedaunan tumbuhan kelapa sawit yang sebagian terbakar.
Ketika kedua tangan itu dihempaskan, hantu-hantu mariaban kembali terlempar kesana kemari. Tubuh mereka yang serupa kera: antara gorila, orang utan dan beruk, terluka di banyak bagian. Cakar tajam Jin Obong berubah menjadi sebesar celurit, kemudian membesar lagi seperti jangkar sebuah kapal kecil.
Pertarungan ini yang berada di antara garis tipis dunia astral dan dunia fisik manusia tetap menimbulkan akibat yang luar biasa. Mata manusia normal akan melihat api yang menyala hebat - seperti yang dilihat orang-orang di seberang jembatan yang terputus di sela kabut - dan percikan sinar serupa kilat di mana-mana, kayu dan batang pohon yang berderak patah, atau bila beruntung, hantu-hantu mariaban yang terlempar oleh sosok hewaniah raksasa yang menjulang kepalanya di atas pepohonan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kehidupan memang hanya singkat dan sesaat, tak peduli seberapa lama seseorang bisa hidup bernafas di atas bumi dan dunia yang fana ini.
Datuk Mayang Merah meludah ke tanah, kemudian memutuskan mencelat lebih dahulu menyerang Sarti. Mereka sempat bertukar jurus ratusan tahun yang lalu. Datuk Mayang Merah hendak menjajalnya kembali hari ini. Ia tak ingin menyusul ketujuh rekan-rekannya secepat itu.
Gerakannya disambut ujung tombak Baru Klinthing Sarti.
Mudah bagi Datuk Mayang Merah untuk berkelit dari tusukan tombak Sarti karena ia memiliki ajian serupa dengan Lembu Sekilan, membuat tubuhnya lentur dan responsif terhadap serangan. Meski tusukan ke tubuhnya lolos, agak heran juga Datuk Mayang Merah dengan kecepatan sang lawan yang tahu-tahu sudah bisa mendekatinya.
Batang panjang tembak Baru Klinthing melewati tubuh Datuk Mayang Merah dan menancap di pepohonan di belakangnya.
__ADS_1
Menancap?
Sarti ternyata tidak mendekati sang Datuk. Ia melemparkan tombak itu. Datuk Mayang Merah lengah, mengira Sarti menyerang dalam jarak dekat menggunakan jurus saifi anginnya. Akibatnya, Sarti yang maju dengan serangan susulan berhasil melompat di belakang tubuh sang Datuk dan menghajar meremukkan tengkuk serta mematahkan lehernya. Mayat pendekar itu jatuh berdebum ke bumi tak bernyawa lagi. Hantu jin iblis berkepala anjing meloncat keluar dari tubuh tak bernyawa itu dan berkaing hilang ditelan selaput dimensi.
Soemantri Soekrasana masih mengangkat keris Mpu Gandring tinggi-tinggi. Satu tangannya yang lain membuka telapak dan meletakkannya di depan dadanya. Gelombang hawa sakti keris purba itu sudah mencelatkan mahluk-mahluk halus di tubuh Si Bajing Laut, Elang Barat dan Elang Timur yang sontak juga terkapar mati akibat terluka parah oleh ledakan energi tersebut.
Derasnya arus tenaga keris pusaka yang digenggam Soemantri Soekrasana juga masih memberikan pengaruh besar pada hantu-hantu yang menempel pada para pendekar. Sehingga, ketika mereka akhirnya tewas, mereka tak kembali hidup akibat ditinggal pergi para hantu yang merasuki jiwa dan raga mereka.
Ini juga terjadi pada Pak Sulung Hitam, Pak Tengah Kuning dan Pak Kecik Putih yang secara bersama-sama beramai-ramai menyerang sang Maung. Tiga pendekar pemilik ilmu dan jurus cakar harimau melawan harimau yang nyata.
Maung mengunyah kepala Pak Sulung Hitam, membobol perut Pak Tengah Kuning dan menyobek tubuh Pak Kecik Putih menjadi dua bagian. Darah menyembur ke segala arah, menutupi wajah dan tubuh Maung yang berbulu putih.
Soemantri Soekrasana membuka mata batin, melihat Wardhani bersembunyi di balik pintu kabut di dalam ruangan kekelaman.
"Dimana anak buah Nyi Blorong itu, Wardhani?" tanya Soemantri Soekrasana pada dirinya sendiri. "Kau tak terlihat sedang bersamanya," tambahnya.
Soemantri Soekrasana membaca mantra sembari masih menebarkan kesaktian sang Mpu Gandring. Kemudian dengan mengerahkan tambahan tenaga, dukun muda itu berteriak tertahan dan menancapkan keris pusaka Mpu Gandring ke tanah.
__ADS_1