
Marsudi memamerkan kekuatannya yang berlipat ganda, sedangkan bagi Wong Ayu, ini adalah kali kedua pertempurannya dengan sang iblis betina itu meski di dalam tubuh yang berbeda.
Wong Ayu terlempar mundur. Marsudi menciptakan api yang berkali lipat kobarannya. Dua mahluk halus tiba-tiba muncul di belakang Wong Ayu: perempuan Cina bergaun pengantin merah dan berwajah pucat dan hantu perempuan tanpa kepala. Kedua mahluk halus itu memegang tubuh Wong Ayu dari belakang dan berusaha merasuki tubuhnya.
Tubuh Wong Ayu jatuh berdebum dari udara. Ia bergulingan di tanah beraspal mencoba menolak membiarkan kedua roh itu mengambil alih tubuh dan jiwanya.
Kekuatan Wong Ayu sebenarnya sangat cukup untuk sekadar mengusir bahkan menghukum dua mahluk halus itu. Meski kehebatannya dalam dunia roh halus tidak setinggi dan sedetil Soemantri Soekrasana, Wong Ayu lebih dahulu akrab dengan dunia roh dan mahluk-mahluk terkutuk di dalamnya. Namun sialnya, ini yang digunakan dan dimanfaatkan oleh Marsudi untuk memberikan memori tentang terbunuhnya kedua orangtuanya.
Dua hantu itu telah menyebrang ke dunia nyata sembari membawa gambaran dan penglihatan tentang roh kedua orangtua Wong Ayu. Ini dimanipulasi kembali oleh iblis perempuan bersama Marsudi sehingga yang ada di otak Wong Ayu adalah bahwa roh kedua orangtuanya sedang terpenjara. Mereka bahkan tersiksa di tepian antara neraka, surga dan dunia. Sebuah gambaran yang klise namun manjur untuk melumpuhkan Wong Ayu.
Soemantri Soekrasana melihat ini, mata batinnya sudah lebih dahulu masuk ke dalam dunia lain itu.
"Mbak, kau ditipu. Aku sudah paham dengan masa lalumu. Jangan biarkan perempuan itu dan antek-anteknya menipumu habis-habisan. Kau harus lawan. Kesedihanmu sengaja dipermainkan olehnya," ujarnya menggunakan ilmu batin sehingga dapat bercakap dengan Wong Ayu di dunia lain tersebut.
Tapi sudah terlambat pikir Soemantri Soekrasana. Wong Ayu sudah mulai kalah dimasuki kedua hantu yang sebenarnya tidak begitu sukar untuk dilawan itu.
"Bangsat!" teriak Soemantri Soekrasana kesal.
Ia terpaksa berlari ke arah Wong Ayu yang sedang terbaring bergelut dan hampir kalah. Kuntilanak Merah keluar dari tubuhnya dan menghilang, sebuah kebiasaan.
Akibat Soemantri Soekrasana menolong Wong Ayu, hantu, jin dan beragam roh halus yang semula dilawan dan dikekang Soemantri Soekrasana terlepas dari ikatan. Semuanya beterbangan, bergulingan, melata dan merangkak bebas.
Marsudi tersenyum jahat. Puluhan mahluk halus itu diperintahkan dengan kekuatan kuasanya untuk merasuk ke dalam tubuh warga mana saja.
Tubuh-tubuh berjatuhan, kejang-kejang, bola mata berputar terbalik dan dari mulut mereka keluar busa putih. Ketika mereka sudah kembali bangun, mereka terkikik atau tertawa terbahak-bahak, tak lagi menjadi diri sendiri.
__ADS_1
Tubuh-tubuh yang telah diperintah ini langsung memburu, menyerang siapa saja yang tidak terasuki mahluk halus. Mereka menyerang teman satu desa mereka dengan tujuan untuk membunuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soemantri Soekrasana memegang kedua tangan Wong Ayu yang memberontak.
Segera ia membaca mantra, "... Sang ireng jeneng muksa pangreksan, sang ening menenng jati rasane, lakune ora katon, pangrasane manusia ...."
Hantu perempuan tanpa kepala bergetar hebat tapi masih menolak untuk keluar.
"... sungsum balung rasaning Pangeran, getih daging rasaning Pangeran, otot lamat-lamat rasaning Pangeran, kulit wulu rasaning Pangeran, ...," Soemantri Soekrasana merapal mantra pengendali mahluk halus ini dengan suara lantang setengah berteriak.
Wong Ayu melotot. Dadanya membusung dan tubuhnya terangkat ke udara. Dua mahluk halus budak iblis terlempar keluar dari tubuh Wong Ayu, sedangkan badan Wong Ayu perlahan turun ke tanah. Soemantri Soekrasana jatuh terduduk.
Belum sempat ia menarik nafas, ada dua hantu lain yang tiba-tiba merayap mendekati Wong Ayu: hantu laki-laki dengan kepala hancur yang berjalan merayap bagai laba-laba, dan pocong dengan wajah merah darah.
"Cepat kalian bangun! Soemantri, lihatlah, kita dalam keadaan yang berbahaya," seru Sarti tertahan.
Maung melompat di samping Sarti. Praktis wajahnya tertutup darah oleh lawan-lawannya. Ia menyeringai ke arah ketiga rekannya, terutama Soemantri Soekrasana dan Wong Ayu.
Anggalarang di dalam tubuh Maung berbicara dengan suara setengah geraman, "Sarti benar, kalian lihat itu!"
Wong Ayu berdiri perlahan, begitu juga Soemantri Soekrasana. Para Catur Angkara kini melihat kekacauan di depan mereka.
Warga laki-laki yang kesurupan menyerang warga lain. Tiga orang tewas di tempat karena ditusuk dan dibacok. Yang lainnya kebingungan untuk melawan orang-orang yang kesurupan ini karena mereka tahu bahwa teman-teman mereka ini dikuasai mahluk-mahluk kegelapan.
__ADS_1
Hanya dalan hitungan menit, semua orang yang tewas, termasuk tiga warga yang dibunuh warga yang kerasukan tadi, selama kepala mereka masih menempel di tubuh, bangkit kembali menjadi mayat hidup. Sama seperti warga yang kerasukan, mayat-mayat hidup ini meski lebih lambat, tetap bergerak menyerang warga yang 'normal' untuk dibunuh dan dijadikan bagian dari mereka.
Soemantri Soekrasana membelalakkan kedua matanya dengan horor, "Sial, sial! Aku kehilangan fokus," ujarnya.
Wong Ayu menarik nafas panjang, "Semua salahku. Aku membiarkan diriku lengah sehingga gampang sekali diserang mahluk iblis itu."
Soemantri Soekrasana mengangkat tangannya, "Cukup, mbak. Kita tidak perlu mempersoalkan masalah itu."
Soemantri Soekrasana kemudian memandang ketiga rekannya, "Aku akan mengeluarkan para roh halus laknat itu dari tubuh mereka, kau harus menghabisi mereka dengan Baru Klinthingmu," ujarnya kepada Sarti yang mengangguk mantap.
"Maung, lindungi warga baik yang dirasuki maupun tidak agar tak saling membunuh. Dan mbak, kau harus menghadapi laki-laki budak iblis betina itu lagi." Wong Ayu mengangguk dan melayang di udara. Kedua telapak tangannya menciptakan kobaran api lagi, begitu pula dengan kedua bola matanya.
"Dan kau," ujar Soemantri Soekrasana pada kuntilanak merah yang menatap kosong di balik tubuh Sarti - yang terkejut dan mengumpat, "Urus para pemuda dengan ilmu kebal itu!"
Kuntilanak merah terkikik keras. Tubuhnya melayang dan menghilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maung mencekram kaki Murdani dan Aris, kemudian melemparkan keduanya ketika mereka hendak membabatkan parang mereka ke arah Hamdan dan Dul Matin yang kebingungan dan enggan melawan, melukai apalagi membunuh kedua teman dekat mereka ini. Tubuh keduanya menggelosor di tanah beraspal yang basah itu.
Tak terlihat ekspresi kesakitan dari wajah mereka. Sebaliknya mereka terlihat bugar dan kembali bangun untuk menyerang lagi.
Soemantri Soekrasana sudah selesai merapal mantra. Dua jenis mahluk halus mencelat keluar dari tubuh Murdani dan Aris yang langsung pingsan tak sadarkan diri. Sarti melompat dan menusuki dua mahluk astral tersebut. Keduanya meledak, pecah dan menghilang perlahan, meninggalkan bunyi rintihan kesakitan yang memilukan.
Alif yang juga kemasukan roh halus menyerang dari belakang tubuh Soemantri Soekrasana. Irawan dan Dul Matin berteriak sekeras mungkin. Mereka kecolongan tak memperhatikan keberadaan Alif yang muncul tiba-tiba itu.
__ADS_1
Sekali lagi Maung mencelat di atas kepala Soemantri Soekrasana. Kedua lengan siluman harimau putih yang berfungsi seperti sepasang kaki depan itu berhasil mencengkram tubuh Alif dan membantingnya ke tanah dalam posisi telungkup. Maung juga menginjak tubuh Alif dan menguncinya di sana.
Soemantri Soekrasana membalikkan tubuhnya. Ia melihat tubuh seorang warga, Alif, yang memberontak di bawah tindihan Maung. Ia merapal mantra lagi sampai satu roh halus keluar dari tubuh Alif sehingga Sarti kembali menghancurkan sosok astral itu.