Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Jagad Lelembut


__ADS_3

Pisau dapur berkarat Farid siap ditusukkan ke tubuh Soemantri Soekrasana. Bahkan, Farid sampai benar-benar memastikan bahwa pekerjaannya tak akan gagal seperti Wandi. Maka, Farid yang yakin bahwa ia tidak sedang mabuk atau memakai obat-obatan, maju mendekat dan memegang bahu Soemantri Soekrasana erat. Bahkan kakinya menginjak bagian bawah kursi rotan agak tak bergerak-gerak.


Namun, benar memang ada kekuatan misterius yang menggagalkan serangan pemuda yang satunya itu. Entah energi gaib itu menggerakkan tubuh dan kursi rotan target, atau tenaga yang tak diketahui tersebut mendorong pisau agar tusukannya melenceng sekilan atau sejengkal dari sasarannya.


Kedua pemuda saling pandang. Sama-sama merasakan bahwa orang yang hendak mereka habisi ini membawa serta ilmu gaib pula. Toh, maklum sekali, bukankah Soemantri Soekrasana adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Girinata karena memiliki ilmu penguasa jagad lelembut dan para demit?Jadi, mungkin saja pemuda ini bukan orang biasa yang tidak bisa dibunuh seenaknya.


Memiliki pemikiran yang sama, sontak, bahkan tanpa komando, kedua pemuda itu menyerang Soemantri Soekrasana secara bersamaan. Mereka sungguh-sungguh dan sama-sama tidak main-main lagi. Ujung pisau menusuk membabi buta, sedangkan bilah tajam golok membacok hantam kromo mencari target dan sasaran yang paling pas dan tepat.


Anehnya, tubuh Soemantri Soekrasana yang diserang sedemikian rupa bergerak cepat bersama kursi rotan, meniti sela-sela serangan. Selalu lolos paling tidak sejengkal pun dari marabahaya, padahal kedua pemuda tidak hanya menyerang degan senjata tajam yang mereka genggam. Kaki dan tangan Wandi dan Farid ikut bermain mencoba menghujamkan paling tidak satu serangan yang dapat melukai target. Tapi semuanya hanya bertemu angin dan udara hampa.


Kursi rotan yang digunakan untuk mengikat Soemantri Soekrasana berderit-derit akibat gerakan hindaran gaib Lembu Sekilanyang dikuasai sang dukun muda tersebut.


Soemantri Soekrasana akhirnya lepas seluruhnya dari ikatan. Akibat gerakan-gerakan kerasnya itu, kursi rotan yang sudah tua tersebutringsek di berbagai tempat, memudahkan Soemantri Soekrasana melepaskan ikatannya.


Dua pemuda berpeluh deras hanya demi melihat target mereka lolos dengan cara yang tak mereka mengerti, luput dari segala serangan yang bahkan sangat mustahil untuk dielakkan.


Soemantri Soekrasana berdiri dengan kuda-kuda silat. Ia melirik ke arah tas selempangnya yang dibiarkan teronggok di satu sudut, kemudian memandang tajam kedua pemuda yang menjadi musuhnya.


"Aku benar-benar tersinggung kalian menganggapku sepele. Dua pemuda sebayaku yang dungu ini diberikan tugas untuk membunuhku. Bahkan tas selempangku sama sekali tak digeledah," seru Soemantri Soekrasana keras-keras. "Baik, aku sudahisaja permaninan ini," lanjutnya tanpa menunggu balasan apapun dari kedua pemuda yang juga dilahap rasa bingung itu.


Soemantri Soekrasana melesat maju, berputar sekali dengan gesit dan menghajar ulu hati Farid, pemuda yang memegang pisau terhunus. Dalam gerakan lain yang sama cepatnya, Soemantri Soekrasana kemudian menjejak patah tulang kering sang pemuda bergolok sebelum Wandi sendiri sempat membacokkan goloknya kembali.

__ADS_1


Untuk langkah penghabisan, Soemantri Soekrasana melutut dagu Wandi yang terbungkuk karena ulu hatinya dihajar tadi. Tidak sampai disitu, Soemantri Soekrasana meraih lengan Farid, mengunci sekaligus mematahkannya.


 Teriakan rasa sakit Farid menggema sampai ke langit-langit ruangan itu.


Namun, Soemantri Soekrasana belum mau berhenti. Ia merebut pisau Farid kemudian menancapkannya


di paha lawan. Teriakan keras nan pilu Farid menjadi-jadi, menubruk langit-langit gudangdan menembusnya.


Wandi, si pemuda bergolok mundur terpincang-pincang berusaha seimbang sembari menahan rasa sakit akibat tulang keringnya yang patah. Ia ulurkan goloknya mengancam, seperti menggusah seekor anjing agar tak mendekat.


Namun, Soemantri Soekrasana tak mau mengikuti. Ia maju cepat dan dengan mudah berkelit dari bacokan Wandi. Kembali, Soemantri Soekrasana mengunci lengan lawan, juga mematahkannya dan membuang golok lepas. Dengan sekali hentak, tangan yang telah dikunci dan dipatahkan itu digunakan Soemantri Soekrasana untuk melontarkan Wandi sampai menubruk dinding dengan keras. Ada percikan darah menempel disana. Sang lawan semaput dengan luka serius di kepala.


Farid yang tadi meraung-raung perlahan-lahan menggelosor jatuh terduduk dan terdiam. Ia menyusul rekannya tak sadarkan diri.


Ia bergegas meninggalkan gudang dengan Wandi dan Farid yang sudah sama-sama lepas dari kesadaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepasang pohon beringin di sudut lapangan dusun yang berusia ratusan tahun itu terbakar. Api membumbung liar ke langit menerangi lapangan dusun membawa serta sejarah yang menguap. Kedua benda keramat dusun itu telah dihancurkan. Jagad lelembut, dunia bagi arwah dan roh penasaran dan terkutuk resmi terbuka lebar. Siluman-siluman berbentuk hewani mendobrak keluar.Iblis berterbangan meletus di angkasa.


__ADS_1


Wajah Juned dan Waluyo memantulkan cahaya jingga merah tanpa ekspresi dan emosi. Keduanya melakukan pekerjaan dengan baik sesuai perintah sang ratu iblis, sang ratu dedemit. Tak ada yang mereka inginkan selain imbalan yang setimpal atas kesetiaan dan ketertundukan mereka.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wardhani tersenyum melihat jasad mbah Darmo tergeletak di tepi sungai, di samping tunggul kayu dengan belitan kain putih dan kuning.


Dua pemuda yang membawa batang linggis di tangan mereka, Juned dan Waluyo, menyeret tubuh mati tetua dusun yang berumur lebih dari seratus tahun itu dan membuangnya ke sungai. Arus menyeret mayat mbah Darmo hilang ke dalam kegelapandan kekelaman.


Wardhani memandang ke arah Juned dan Waluyo yang telah melaksanakan setiap permintaannya. Ia kemudian berjalan ke arah tunggul kayu yang terbebat kain kuning putih tersebut. Air sungai menyapa sepasang kaki jenjangnya.


Tanpa aba-aba, Wardhani melorotkan cawat dari kain kafannya, berjongkok tepat di depan tunggul kayu keramat, kemudian mengencinginya. Ia membiarkan kedua pemuda melihat rekahan kegadisannya dalam keremangan alam.


Juned dan waluyo terbeliak. Bersama Wandi dan Farid, keduanya memang beberapa kali mengintip Wardhani mandi. Mereka telah melihat gadis itu bugil secara utuh. Namun melihat pemandangan ini sungguh menggetarkan jiwa-jiwa pemuda mereka. Bagaimana tidak, meski kulit Wardhani yang gelap tersamar malam, garis tipis yang membuka di antara pangkal pahanya itu terlihat jelas, memerah bagai pagi merekah, mengucurkan air yang meluncur bagai lengkungan pelangi di cekung langit.


Wardhani terkikik lebih mengerikan dari kuntilanak merah yang menyertainyademi melihat mimik wajah Waluyo dan Juned. Mulut keduanya setengah terbuka, menahan berahi yang siap jatuh berderai di atas tubuh molek Wardhani yang tak berbusana lagi, bila sang gadis memberikannya. Itu sudah pasti yang dipikirkan Juned dan Waluyo.


Wardhani menghirup udara malam ini dengan nyaman sembari masih menuntaskan kencingnya. Ada bau-bau kekuasaan di udara, bukan bau pesing air seninya.


"Tinggal gapura," gumamnya pada diri sendiri. Tiap

__ADS_1


hebusan nafas adalah kebejatan dan kejahatan yang mengkristal, memadat dan menguat.


__ADS_2