Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enampuluh Empat


__ADS_3

Kemunculan mahluk-mahluk astral membuat kepanikan dan rasa takut yang luar biasa bagi para anggota polisi elit tersebut. Mereka yang terluka menyeret tubuh sebisa mungkin, yang masih prima menjadi pengecut pula, berlari serupa sang mendiang komandan, sebelum hantu-hantu Mariaban bermunculan dari segala penjuru berpesta pora membantai mereka semua.


Mahluk-mahluk mengerikan itu mencakar, menyobek, menggigit, mengunyah, dan memakan setiap serat daging serta menghisap dan meneguk setiap tetes darah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob berdiri memandang sosok Maung dalam bentuk harimau putih jadi-jadian serta Satria Piningit yang dikelilingi para hantu yang sosoknya berkedip, memudar, dan hilang muncul.


Ia juga memandang ke sekeliling. Para warga menatap balik ke arahnya, Satria Piningit dan Maung secara bergantian dengan perasaan campur aduk: takut dan ngeri, lega karena diselamatkan dan takjub menyaksikan apa yang ada di depan mereka.


"Jadi, kunci dari semua hal ini adalah mengirimkan para mahluk halus ke neraka yang sebenarnya?" ujar Yakobus Yakob dengan suara rendahnya.


Satria Piningit mengangguk meski tak yakin pertanyaan itu ditujukan kepada siapa. Lagipula sosok gelap Yakobus Yakob dengan penutup kepala berbentuk kepala burung serta bulu-bulu burung yang mencuat itu benar-benar menutupi sebagian besar wajahnya, membuat sulit untuk mengetahui mimik muka dan raut wajahnya.


"Itu satu cara sampai saat ini yang bisa kita ketahui. Kita harus bergegas ke perumahan dimana aku tinggal untuk membantu Wong Ayu, Sarti dan Soemantri yang sedang menyusul untuk menolong warga lain," ujar Satria Piningit.


Namun Yakobus Yakob terlihat tak acuh. Ia berbalik tanpa menjawab dan hendak menghilang ketika Maung mengaum.

__ADS_1


Yakobus Yakob memadatkan kembali tubuhnya yang sepersekian detik tadi hendak memecah menjadi partikel-partikel mikro. Ia memandang ke arah Maung yang perlahan berubah.


Bulu-bulu putihnya masuk ke dalam pori-pori kulitnya yang ikut mengecil bersama keseluruhan tubuhnya sampai Anggalarang yang berdiri sedikit membungkuk dengan kemeja yang terkoyak-koyak namun dengan celana pendek berkaret yang masih utuh muncul menggantikan sang Maung.


Para warga terkesiap.


"Aku paham kau hendak langsung menyerang pusat kekuatan gelap ini berasal. Kami juga hendak berbuat sama tadinya. Tapi, tanpa menyepelekan kekuatanmu, aku pikir ada baiknya kita lakukan bersama-sama dengan sebuah rencana. Kau sudah hadir di perumahan ini sudah menunjukkan bukti bahwa kau peduli dengan orang-orang tak bersalah, Yakobus Yakob. Tadinya kami salah menilai, tapi jelas kau bukan bagian dari iblis dari kampung itu. Maka, mari kita yang dianugerahi kekuatan dan kesaktian unthk melawan mereka lebih baik bersama-sama saling bantu," ujar Anggalarang.


Yakobus Yakob tak berkata apa-apa. Ia melompat tinggi dan melesat hilang.


"Bangsat! Aku sudah berbicara panjang lebar malah ditinggal begitu saja," ujar Anggalarang kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana menggeber motor sport pinjaman - kalau tidak bisa dikatakan 'curian' - menebas kepingan kabut yang semakin tebal berlapis-lapis. Bagai lembaran, kabut putih saling menjalin sehingga membuat jarak pandang dukun muda itu begitu pendek.


Baru saja ia terkejut dan hampir membanting stang motornya ketika sebuah keranda mayat dengan kain penutup berwarna hijau terbang di depannya. Buntalan pocong menyembul dari satu sudut tempat gotongan orang yang sudah mati itu.

__ADS_1


Menjadi dukun atau paranormal dalam bahasa modernnya dan kerap melihat segala jenis hantu, jin dan mahluk halus lainnya, tidak membuatnya kemudian menjadi terlalu terbiasa. Keterkejutan terlalu kerap datang memborbardirnya. Bagi Soemantri Soekrasana, para mahluk astral ini selalu berusaha bercakap atau memberikan informasi dengan cara yang menyebalkan dan mengesalkan. Apalagi bila mereka menembus lapisan dimensi dan muncul tanpa alasan, hanya sekedar lewat menunjukkan diri.


"Bangsat! Tempat ini adalah negeri dan kerajaan kecil bagi mereka," ujar Soemantri Soekrasana pada diri sendiri demi melihat para mahluk halus bertaburan di segala penjuru. Tubuh mereka hilang muncul, datang pergi, melayang, mengambang, terbang kemudian menghilang lagi.


Mahluk-mahluk berwajah seram, mengerikan, menjijikkan walau kadang juga menyedihkan bermunculan di sela-sela coretan kabut putih dan batang-batang kelam pohon kelapa sawit. Soemantri Soekrasana paham sekarang bahwa hantu dan mahluk-mahluk gaib yang sedang ia lihat ini sedang kebingungan sendiri. Siapapun yang ada di kampung di tepi sungai itu, yang memiliki kekuatan sihir luar biasa, berhasil meretakkan dimensi antar beberapa dunia sekaligus. Para mahluk bebas berseliweran ke satu jagad ke jagad lain yang seakan hanya dibatasi oleh selembar kain tipis, tembus pandang pula.


Siapapun dia telah memiliki kekuatan dan kekuasaan luar biasa untuk memberi penawaran indah bagi para arwah yang pada dasarnya melayang-layang penasaran setelah tubuh manusia mereka mati. Roh-roh tersebut adalah entitas energi atau residu manusia yang pernah hidup. Mereka adalah rekaman memori yang terus berjalan, namun diputar bagai kaset berpita yang rusak: menunjukkan alur, tetapi terdistorsi, seakan mereka memiliki kuasa dan kekuatan sendiri yang mandiri sehingga dapat memiliki keinginan dan tindakan terlepas dari tubuh badaniah dan jiwa manusia yang mereka wakili atau tempati sebelumnya.


Para jin, gendruwo, wewe gombel, dan segala jenis siluman meminta untuk digunakan dan dikaryakan oleh manusia. Iblis juga berperan bermain-main disana, menawarkan jasanya membentuk mahluk-mahluk supernatural sekaligus ilmu-ilmu sihir nan memukau dan menyala-nyala di mata manusia bagai permata, intan dan berlian.


Soemantri Soekrasana tak pernah merasa dirinya suci. Ia tak menganggap pekerjaannya mengusir iblis dan arwah dari dalam tubuh orang yang kerasukan, membuang wabah oleh teluh dan santet, atau mengembalikan setan ke neraka adalah sifat-sifat kepahlawanan dan keadiwiraannya. Ia hanya merasa ini perlu. Menggunakan ilmu kanuragan dan sihir yang ditawarkan iblis untuk melawan iblis adalah tindakan pintar. Bukan begitu?


Jiwa? Persetan dengan jiwanya kelak akan bersemayam dimana. Manusia sendiri sudah begitu jahatnya sehingga mampu menyakiti, membunuh, membantai, memrudapaksa, memperbudak sesamanya dengan keji dan tanpa nurani. Setan hanya menjadi media nafsu manusia. Bahkan tanpa segala hal gaib yang ada di dunia inipun, kejahatan selalu akan tumbuh subur.


Soemantri Soekrasana melecut kuda besinya semakin cepat ketika sosok merah tahu-tahu sudah duduk menyamping di jok belakang motor sport tersebut. Kedua lengan kurusnya yang pucat dengan jari-jemari panjang tak manusiawi perlahan melingkar di pinggang dan perut Soemantri Soekrasana. Wajah sosok berkebaya merah yang tak kalah pucat itu menempel di pipi sang dukun muda, meringis namun meneteskan air mata darah.


Soemantri Soekrasana menahan nafas kemudian menghembuskannya pelan. "Sundal! Apa tak bisa kau muncul dengan biasa? Jauhkan tubuhmu dariku, jangan coba-coba menggoda dengan bermain-main seperti ini. Laki-laki manusia normal macam apa yang tertarik dengan hantu kuntilanak macam kau?" bentak Soemantri Soekrasana.

__ADS_1


Chandranaya sang kuntilanak merah terkikik mengerikan sekaligus menyedihkan, seakan mengatakan, "Apa kau rindu denganku, Soemantri?"


__ADS_2