
Sewaktu kecil, gadis itu dipanggil dengan Belibis. Panggilan akrab teman-teman di dusunnya karena wajahnya memang mirip seekor belibis, imut, lucu, namun ada pula aura kecantikan yang tersembunyi di sana, serta bengal dan bandel.
Belibis tak pernah disadarkan bahwa julukan ini merupakan sebuah paraban yang mengandung pujian di dalamnya. Sedari dulu ia selalu mengira bahwa panggilan Belibis adalah sebuah wadanan atau poyokan yang lebih bersifat mengejek dibanding sebagai penggambaran watak atau fisik seseorang. Karena tak menyadari kecantikan yang ia miliki itulah, Belibis perlahan benar-benar menyembunyikan pesonanya tersebut secara tak sadar, tanpa sengaja,
sampai seorang laki-laki dari kota yang tanpa terlalu banyak basa-basi datang meminangnya.
Para pria di dusun tentu patah hati dan sedih. Tak berlebihan memang, akan tetapitetap saja cukup disayangkan pernikahan tersebut tak terjadi pada diri mereka dan Belibis. Kesedihan para pria terjadi bertahun-tahun kemudian, kali ini mereka tak sendiri. Sebagian besar warga dusun ikut berduka cita.
Belibis wafat, tewas dengan tragis.
Sang suami, pria dari kota itu, berkeringat dingin. Lidahnya kelu, ototnya kaku. Belibis hadir di kamar mereka berdua, tiga hari setelah wafatnya.
Daster yang ia kenakan berlumpur. Mungkin dari tanah kuburannya. "Lalu, mengapa ia mengenakan daster, bukannya kain pocongan?" ujar sang suami di bawah nafasnya, begitu perlahan, kepada dirinya sendiri. "Apa karena istriku ini hantu sekarang, jadi ia sesukanya saja membentuk diri?" masih berucap pada diri sendiri bagai adegan dalam sebuah sinetron.
Belibis tidak datang dengan muncul tiba-tiba. Sang suami sudah melihatnya dari jauh di balik kaca jendela yang tak ia tutup tirainya di pagi buta jam tiga tepatnya. Sosok Belibis merangkak pelan bagai binatang. Rambutnya terseret menyentuh tanah. Sang suami memandang tegang tak bergerak di atas tempat tidurnya, namun otaknya terus berputar mencari jawaban. Hampir semua pertanyaan terucapkan melalui mulutnya sendiri.
Ia masih ingat ketika ia berteriak histeris bagai orang gila ketika mendapati sang istri sudah tak bernyawa di rumahnya, tertelungkup di depan kamar tidur dengan darah menggenang di lantai dari kepalanya yang terluka parah.
Kedua anaknya dititipkan di rumah saudaranya yang paham bahwa rumah tersebut menjadi rumah duka yang penuh kesedihan, membiarkan sang suami merasakan dan menyerap segala memori, kenangan dan rasa duka itu sendiri.
Jadi, sosok yang kini membuka jendela kaca dengan jari-jari kotornya itu tak bisa disangsikan tak lain dan tak bukan adalah mendiang istrinya. Wajah ayu Belibis yang tersembunyi dan tak disadari sang empunya sampai matinya, kini terlihat pucat mayat. Kelopak matanya merah dan kedua bolanya dingin tak berperasaan.
__ADS_1
Belibis terus merangkak masuk ke dalam kamar yang dahulu adalah milik mereka berdua, tempat berbagi kehangatan, cinta dan kebersamaan. Pagi buta ini Belibis membawa serta kesengsaraan dan kepedihan tiada tara bagai godam menghempas dada sang suami.
Hantu perempuan berdaster lusuh kotor itu berhenti beberapa jengkal saja dari tempat tidur dimana sang suami terbaring kaku berlidah kelu.
Belibis yang telah mati itu membuka mulutnya yang terlihat kering. Ada kerikil dan gumpalan tanah berjatuhan dari rongga mulutnya tersebut. Nampaknya ia sedang berusaha berbicara.
"Apakah hantu dapat berbicara seperti layaknya manusia?" ujar sang suami, masih keukeuh dengan mengucapkannya perlahan bukannya di dalam hati saja.
Hantu Belibis mengeluarkan suara, cenderung lenguhan, sedikit parau, seperti baru saja belajar untuk kembali berbicara dalam bahasa manusia "Mas, aku sudah mati ... Mas," suaranya menggetarkan sanubari sang suami. Kalimat itu jelas terdengar di telinganya, sebuah pernyataan yang menjadi semakin mengerikan karena merupakan
sebuah penjelasan belaka.
"Mas ... Kau ... Kau ...," lanjut hantu Belibis dengan suara lenguhan parau itu.
Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Tubuhnya masih kaku dan berkeringat dingin walau lidahnya tak lagi kelu, seakan diijinkan untuk berbicara. Tampangnya yang dahulu klimis, hanya dalam tiga hari telah tirus, berkumis dan berjenggot acak-acakan. Postur tubuhnya yang sebelumnya necis, kini lemah, rapuh, rentan dan penuh beban.
Sang belibis yang ternyata adalah perempuan yang bernama asli Ratih, istri Pak Guru Johan itu, berjongkok kemudian berbalik memunggungi Pak Guru Johan. Tubuhnya bergerak, berjalan jongkok bagai seekor unggas: belibis, meninggalkan Pak Guru Johan kembali merangkak, keluar melalui jendela.
Pak Guru Johan memandang kepergian hantu mendiang istrinya itu perlahan menghilang. Tapi mendadak tubuhnya tak lagi terkekang dan kaku. Sontak ia bangun dari tempat tidur. Ada ceceran remah-remah tanah yang ditinggalkan sang hantu istri.
Pak Guru Johan berpikir keras, mencoba melawan dan menolak keras dugaan utama bahwasanya sang sosok hantu tersebut meminta untuk dibuntuti. Namun ia gagal. Ia berjalan keluar melalui jendela kaca yang terbuka, mengikuti remah-remah tanah yang ditinggalkan si Ratih sang belibis.
__ADS_1
Lampu terang pelataran Pak Guru Johan ada beberapa yang padam sejak kemarin. Ia tak terlalu peduli. Jambangan dengan tanaman tiga hari tak disirami disusun dengan baik di berbagai tempat oleh mendiang istrinya, Ratih sang Belibis, sewaktu ia masih hidup.
Tapi lihatlah kini. Sang hantu terlihat jelas tersinari lampu pekarangan yang walau tak seterang beberapa hari yang lalu sewaktu bohlamnya masih lengkap, tetap saja tertangkap cahaya yang cukup kaya. Ratih istri Pak Guru Johan jelas hantu. Suaminya itu tak berhasil melihat bayangannya, walau sinar lampu menyoroti sosok yang terproyeksi jelas itu.
Hantu Belibis berhenti, masih berjongkok. Ia berbalik menghadap Pak Guru Johan yang terengah-engah, setengah karena berlari mengejar sosok hantu istrinya, setengah lagi karena terlalu lama kaku di atas tempat tidur.
Jari telunjuk kanan hantu perempuan yang kotor tersebut menunjuk ke satu arah. Pak Guru Johan mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk: pot tanah liat yang bertumpuk, berjejer dengan beragam tanaman yang kurang terawat. Beberapa malah hidup segan mati tak mau.
Pak Guru Johan mengerutkan keningnya. "Aku tak paham apa maksud dan maumu, Dek," ujarnya.
Hantu Ratih sang Belibis mendelik mengerikan. Kelopak matanya semakin memerah. Ia menunjuk-nunjuk ke arah yang sama.
Tak mau ambil resiko telah membuat sosok hantu marah, Pak Guru Johan bergegas ke arah yang ditunjuk. Ia menggeser pot, mengangkat, memisahkan dan memindahkan. Sejenak ia merasa perlu bertanya sekali lagi kepada hantu istrinya itu tentang apa maksudnya, sampai ia melihat tonjolan di atas permukaan tanah yang ditutupi rerumputan kering dan akar-akar tanaman.
Pak Guru Johan meraba benda itu.
Kayu.
Pak Guru Johan menggenggam benda dari kayu itu untuk merasakan tekstur dan bentuknya. Ia merasa familier dengan benda tersebut. Maka ia mencabutnya.
Sebuah keris!Tertancap di tanah selama waktu tertentu, namun tak cukup lama untuk bisa dikatakan sebagai kuno.
__ADS_1
Pak Guru Johan menatap hantu Ratih Belibis dengan heran. "Sebuah keris, Dek. Apa yang kau mau dengan benda ini? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
Pak Guru Johan tak tahu menahu tentang keris milik Girinata yang tertancap di tanah itu pada saat lelaki tua yang berubah menjadi muda tersebut bertarung dengan pemuda Soemantri Soekrasana. Keris yang hendak digunakan untuk membunuh anak bungsu Pak Guru Johan dan Ratih itu tertanam bilahnya di sana bahkan Ratih sendiri tak menyadarinya sewaktu ia masih hidup.