
Sudah beberapa lama pula Satria Piningit tak bertemu Priyam. Ia pun sejatinya tak benar-benar mencari sahabat laki-lakinya itu. Setelah kepindahan Wong Ayu, hatinya masih cukup terluka. Sama seperti remaja yang sedang jatuh cinta dan patah hati, ia juga tak bisa tidur, tak enak makan, tak semangat bermain, dan tak konsentrasi belajar.
Surat yang orang tuanya kirim belum ia baca, apalagi membalasnya. Begitu pula wesel yang ada di tangannya belum sempat ia cairkan. Suasana hati semacam ini membuatnya malas untuk melakukan apapun.
Namun begitu, ia juga memerlukan seseorang yang bisa membuat hidupnya kembali bergairah. Ia pada akhirnya merasa perlu berbicara dengan Priyam. Sore sepulang sekolah ia memutuskan ke kali, di tempat biasa bertemu dengan Priyam. Anak laki-laki itu tak ada di sana. Satria Piningit memutuskan untuk pulang tetapi melewati jalan lain, bukan jalan yag biasanya ia lewati. Ternyata ia menghindari melewati rumah bekas Wong Ayu dan keluarganya tinggal. Alasannya sudah terlampau jelas.
Awalnya Satria Piningit tidak begitu kecewa karena tidak bertemu Priyam sore hari itu. Namun, sudah beberapa hari sejak Wong Ayu pindah, ia masih benar-benar tak bertemu dengan Priyam pula. Apa semua orang terdekatnya meninggalkannya?
Namun begitu, pada dasarnya malah Satria Piningit lah yang merasa tak enak hati. Bagaimanapun Priyam adalah teman baiknya. Seharusnya ia sudah menemui sahabatnya itu berhari-hari lalu, bukannya setelah merasa membutuhkan seseorang untuk menghadapi keluh kesah hidupnya.
Maka dari itu Satria Piningit bertanya kepada orang-orang di desa mengenai tempat tinggal Priyam. Pertama, tentu saja ia bertanya pada teman-teman sebaya di desa itu. Anehnya, tak ada yang tahu rumahnya. Bahkan lebih parah, mereka mengaku tak kenal siapa itu Priyam.
"Dia anak sesusia kita, kerap bertelanjang dada dan mengenakan celana kolor selutut," kata Satria Piningit menjelaskan. Teman-teman sebayanya masih menggeleng. Ah sialan benar, pikir Satria Piningit. Ia tahu mereka tak suka anak semacam Priyam. Sudah terbukti pula dengan Wong Ayu yang juga dijauhi bahkan sampai ia dan keluarganya terpaksa pindah. Satria Piningit berpikir mungkin kalau Priyam bukan warga asli desa Obong, ia juga sudah lama harus angkat kaki dari desa ini.
Satria Piningit menyerah. Ia mencoba bertanya kepada orang yang lebih tua, bahkan coba bertanya pada pakliknya yang tinggal di bangunan rumah bagian belakang, yang memiliki WC dirumahnya. Pakliknya juga mengaku tak kenal. Ia tak mau bertanya pada simbah putri dan kakungnya yang kemungkinan besar tidak hapal nama-nama anak-anak di desa.
Terlalu aneh rasanya bahwa banyak orang desa, bahkan orang-orang yang sudah dewasa tak mengenal atau mengaku tak kenal dengan Priyam.
__ADS_1
Tiba-tiba Satria Piningit teringat akan sesuatu. Priyam pernah mengatakan nama bapaknya dan untungnya ia ingat, Ngalimun namanya. Masuk akal sekarang bila banyak orang yang lebih tua tidak mengenal nama Priyam, tapi untuk nama orang tua lain, itu beda hal.
Barulah Satria Piningit memutuskan untuk langsung saja bertanya kepada mbah kakungnya, yang dengan pasti mengangguk dan menunjuk ke arah utara desa.
Sepanjang jalan Satria Piningit bertanya kepada orang-orang di sekitar. Kepada pakde Mardianto yang sedang mencabut batang pohon ketela di depan rumahnya, "Ke arah utara. Ikuti saja jalan kecil itu, nak. Nanti ketemu rumah paling ujung. Tidak bakal salah," jawabnya.
"Nah, akhirnya ternyata semua orang kenal dengan pak Ngalimun. Dasar anak-anak remaja desa sialan. Tega-teganya mereka pura-pura tidak mengenal Priyam. Kalau tidak suka silahkan saja. Tapi dengan berpura-pura tak mengenalnya semacam itu membuatku sedikit muak," gumam Satria Piningit di sepanjang jalan dengan kesal.
Apakah berarti Satria Piningit perlahan sudah mulai membuka pikirannya seperti yang dimaksud Priyam dan Wong Ayu? "Mereka berkata bila aku sudah mulai membuka pikiran, maka semuanya akan terlihat. Malah aku bisa melihat hantu, kata Priyam," lagi-lagi Satria Piningit bergumam sendiri.
Satria Piningit tersenyum mengingat Priyam, sahabatnya. Ini berarti merupakan kali pertamanya akhirnya ia main ke rumah Priyam. Ia semakin tak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya itu.
Pelataran rumah itu sangat luas dengan dihiasi beberapa jenis tanaman anggrek. Ada pagar kecil sebelum masuk ke pelatarannya. Ketika Satria Piningit hendak membuka pagar yang tak tergembok itu, tiba-tiba seorang nenek berdiri di hadapannya. Sosok sang nenek berdiri bungkuk, sedangkan wajahnya mengarah ke Satria Piningit dengan kedua bola matanya langsung menatap tajam menembus mata anak laki-laki tersebut.
Satria Piningit terkejut setengah mati. Ia tersentak ke belakang. Untung ia tak sempat menyumpah. Bisa kualat, pikirnya. Darimana nenek-nenek ini mendadak muncul?
"Nuwun sewu, mbah. Bolehkah saya masuk?" tanya Satria Piningit walau dengan gemuruh di dada yang masih belum berhenti karena terkejut tadi.
__ADS_1
Sang nenek diam tak menjawab. Rambut panjangnya yang berwarna abu-abu dan putih hampir menyeluruh dan diikat bergaya sanggul itu sedikit acak-acakan. Ia mengenakan kebaya harian berwarna hijau lusuh. Kaki telanjangnya menghitam. Alih-alih menjawab pertanyaan Satria Piningit, sang nenek berbalik memunggunginya.
Saat itulah Satria Piningit melihat punggung sang nenek berlubang sebesar sebiji buah kelapa.
Tidak hanya itu, bagian belakang kepala sang nenek pecah berantakan, menunjukkan darah mengering dan bagian dalam kepala yang sulit untuk dijelaskan saking kacaunya.
Satria Piningit menyumpah sejadi-jadinya, "Asu, bangsat, bajingan!" Kali ini, Satria Piningit tersentak mundur lebih hebat dibanding sebelumnya sampai ia jatuh terduduk di tanah.
Nafasnya memburu, tubuhnya lemas luar biasa.
"Kau cuma bisa melihat hal-hal baik, tunggu setelah kau mau membuka pikiran atau menunggu agak dewasa sehingga mampu melihat keburukan-keburukan, maka mata batinmu akan terbuka pula," ucapan Priyam pada awal keduanya bertemu terngiang-ngiang di telinga Satria Piningit.
Tak bisa dipungkiri lagi, ini kali pertama Satria Piningit melihat sosok hantu. Seorang nenek-nenek dengan punggung berlubang dan bagian belakang kepala yang hancur. Satria Piningit merinding gila-gilaan dan bersiap angkat kaki dari tempat itu.
Namun, ketika ia berhasil berdiri, mendadak ia urung minggat bagai seorang pengecut demi melihat rumah Priyam yang ada di depannya. Sosok sang nenek pun sebenarnya sudah hilang ditelan kemisteriusan bagai tak pernah ada sama sekali. Satria Piningit merasa malu. Ia malu dengan Priyam dan Wong Ayu yang sudah terbiasa melihat hal-hal seperti ini selama hidup mereka. Sedangkan ia kerap bercanda dan tidak menganggap hal-hal tersebut secara sungguhan. Sekarang dengan mata kepalanya sendiri ia akhirnya berhasil melihat hantu dan malah ingin lari terbirit-birit.
"Tidak bisa! Aku harus bertemu Priyam," suara hati Satria Piningit berteriak.
__ADS_1
Maka dari itu, dengan keberanian yang dipaksa, ia membuka pagar kecil itu dan perlahan masuk dengan celingak-celinguk mencari keberadaan sosok sang nenek itu yang jelas sudah hilang bagai ditelan bumi. Ia masih merinding dan begitu lemas, tapi tetap berjalan menuju ke pintu rumah Priyam.
Ini adalah misi keberanian, sekaligus rasa penghargaan dan penebusan rasa bersalahnya kepada kedua sahabatnya tersebut. Dengan ditinggal pindah Wong Ayu dan lama tak bertemu dengan Priyam, Satria Piningit menemukan kenyataan yang sebelumnya tak ia perhatikan dan pedulikan sama sekali. Mungkin kesadaran inilah yang membuka pikiran dan hatinya. Nenek hantu itu bukti nyatanya.