
"Maaf mas-mas sekalian. Kalau boleh tahu, apa yang membawa mas-mas sekalian ke desa kami. Apakah ada sanak keluarga di sana? Barangkali kami kenal. Atau ada urusan lain? Bukan bermaksud lancang mau tahu urusan orang. Maklumlah, desa kami adalah desa kecil, paling jauh dibanding desa-desa lainnya. Tidak banyak yang bisa dilihat di sana. Kami saja heran, kok ada desa terpencil seperti desa kami di pulau Jawa yang padat penduduknya dan banyak kota besarnya," ujar salah satu warga Obong tadi. Cara berbicara warga desa itu wajar dan seperti biasa, cenderung santun. Sedikit banyak, Marsudi juga melihat ada sisi berpendidikan dari pengetahuannya berbahasa. Atau mungkin, ini karena mereka bekerja di luar desa sehingga sering bersinggungan dengan dunia luar.
Marsudi menghabiskan satu sendok nasi dan potongan ayam panggang terakhirnya, kemudian menenggak air putih baru menjawab pertanyaan warga Obong ini. "Saya mendengar bahwa di desa Obong ada yang menjual barang antik, seperti pusaka, keris, atau lukisan. Jadi, bisa dikatakan kami sebenarnya adalah pedagang dan penikmat barang-barang antik, mas," dusta Marsudi, tetapi dengan cara yang tenang dan meyakinkan.
Sang warga yang bertanya tersebut memerhatikan Marsudi dan rekan-rekannya sebagai reaksi atas jawaban Marsudi. Meski terlihat bahwa ia tidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Marsudi, apalagi melihat perawakan mereka, ia tetap saja berusaha menutupi kecurigaan tersebut. Akhirnya sang warga mengangguk-angguk, "Saya kurang tahu kalau soal barang antik, mas. Dulu sewaktu saya kecil memang sempat ada seorang warga yang bekerja sebagai penjual barang-barang antik, tapi beliau dan keluarganya sudah pindah. Kalau lukisan, memang pak Carik di desa kami sepengetahuan saya punya koleksi lukisan di rumahnya. Tapi ya, saya kurang paham. Nanti saya bisa bantu tanya-tanya sesampainya di desa, ya mas," jawab sang warga.
Affandi dan Kardiman Setil saling pandang dan memberikan sinyal bahwa alasan yang diberikan Marsudi masuk akal juga, lumayan bisa diterima. Mungkin sekali saudara angkat tertua mereka itu memang sudah merencanakan hal ini baik-baik sejak lama. Meski mereka juga tidak benar paham apa sang warga dapat percaya alasan tersebut. Itu bukan lagi merupakan inti dari masalahnya.
__ADS_1
Setelah lumayan lama bercakap-cakap diketahuilah bahwa empat orang warga Obong itu masing-masing bernama Ngadi, Sujono, Anwar dan Setiawan. Ngadi adalah warga desa yang pertama datang ke meja Marsudi dan dibentak Affandi tadi. Sujono adalah warga desa yang bertanya mengenai tujuan rombongan Marsudi ke desa Obong. Ngadi memiliki sepasang mata dengan bentuk yang membuatnya seperti selalu mengantuk. Namun tubuhnya lumayan ulet dan tak menunjukkan kemalasan sama sekali, kontras dengan kesan yang diciptakan sepasang matanya tersebut. Ia bekerja sebagai sopir bus yang dikerneti Anwar yang sepertinya berusia lebih muda. Mereka memiliki sedikit kemiripan wajah sehingga Marsudi menduga mereka memiliki hubungan kekerabatan, meski tak dijelaskan oleh keduanya. Sujono juga adalah supir bus antar daerah yang dikerneti Setiawan. Keduanya bertubuh kurus dan jangkung.
Setiawan memelihara kumis dan jenggot yang bukannya membuat tampangnya terlihat lebih matang dan sangar, malah sebaliknya, seakan kumis dan jenggot itu dipasang pada wajah yang salah. Berbeda dengan Setiawan, sang sopir, Sujono, terlihat klimis. Bahkan rambutnya dipotong bergaya ala seorang anggota militer. Sayangnya, gaya rambut itu sama saja tidak sesuai dengan perawakannya. Kardiman Setil membatin bahwa Sujono lebih terlihat seperti sebatang korek api dibanding anggota militer. Pemikiran ini membuatnya tertawa dalam hati sendiri.
Tiga sekawan Marsudi sebenarnya harus mengakui bahwa mereka tidak terlalu nyaman dengan keadaan ini. Selama hidup mereka selalu bersikap kasar, mengancam dan penuh curiga. Mereka sudah terbiasa dikelilingi penghianat, musuh atau orang-orang yang akan menjadi korban tindakan jahat mereka. Namun saat ini, mereka harus menyesuaikan dan menerima keramahtamahan keempat orang yang nampaknya orang-orang jujur dan tidak suka mencari masalah kecuali hanya mencari nafkah tersebut. Padahal di awal tadi mereka telah sempat menjadi korban kekasaran Affandi.
Tak lama, setelah dirasa obrolan ini telah cukup, Marsudi melambaikan tangannya memanggil sang gadis pelayan untuk meminta bon dan membayarnya. Sejenak terlihat olehnya, keempat orang warga desa Obong mememandang ke arah dompet tebalnya yang berisi lembaran uang tunai dengan seksama. Untuk hal ini pula, Marsudi tak heran, bukankah orang-orang desa ini bekerja keras sebagai supir dan kernet bis untuk mendapatkan uang? Semua orang, termasuk dirinya tak bisa mengesampingkan uang sebagai tujuan dan capaian hidup. Mungkin sekali mereka begitu kagum atas penghasilan Marsudi. Menurutnya pandangan haus orang-orang desa ini terkesan polos.
__ADS_1
Sang gadis datang, berjalan dengan cekatan sekaligus memesona serta anggun di saat yang sama. Kali ini Kardiman Setil benar-benar memperhatikan sang gadis pelayan itu sedetil mungkin. Dari wajahnya yang ayu, rambutnya yang disanggul tidak rapih tetapi sedap dipandang, tonjolan sepasang dada mungil yang dibalut kebaya, lekukan pinggul dan bokong yang terpahat indah, sampai lutut dan betisnya yang memiliki kulit bersinar itu.
Hanya saja bagi Kardiman Setil, bila dikatakan perempuan itu sebagai seorang gadis, mungkin ada sedikit permasalahan. Pertama, Kardiman Setil tak tahu pasti umur sang gadis. Kedua, memang walau wajahnya ayu dan menunjukkan usia mudanya, nampaknya dari gerak-gerik dan kecakapannya dalam melayani pengunjung, bisa saja ia sudah berusia akhir duapuluhan tahun, atau malah sudah kepala tiga.
Namun, ini bukan berarti kemudian Kardiman Setil lantas tidak tertarik lagi, malah sebaliknya. Tubuh ramping sang pelayan, dengan pinggul yang berkelok sempurna, ditambah kerlingan mata nakal dan senyum jahil usil membuat Kardiman Setil kelojotan bagai seekor ikan di dalam perahu seorang nelayan. Rasa penasaran akan bagaimana isi di balik kebaya modern itu membuat Kardiman Setil blingsatan tak kuasa menahan nafsunya.
"Siapa namamu, nduk?" tanya Kardiman Setil tak mampu menahan rasa penasarannya tepat ketika sang gadis sampai di mejanya. Semua laki-laki yang duduk di sekeliling meja itu mengulum senyum, mahfum atas keterpesonaan Kardiman Setil.
__ADS_1
Sang gadis tersenyum genit. "Nama saya Sarti, mas. Sering-sering mampir kemari ya, biar jadi langganan baru warung ini," ujar sang perempuan mungil nan molek itu dengan nada menggoda.