Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keempat Kusuma Dewi


__ADS_3

Jam dua pagi, Kusuma Dewi merasakan kantung kemihnya penuh dan tak dapat dibendung lagi. Hal ini  membuatnya terbangun. Ia membuka pintu kamar di dalam rumah sepupu perempuannya itu yang memang disediakan untuk tamu atau sebagai kamar cadangan.


Kamar mandi yang juga sekaligus berfungsi sebagai toilet ada di bagian belakang rumah. Kusuma Dewi celingak-celinguk sebentar kemudian bergegas kesana, setengah berlari. Bukan karena takut, tapi sudah terlalu kebelet. Lampu di dalam rumah dimatikan dimatikan, kecuali di dapur yang dibiarkan hidup. Hanya saja, lampu terang di pekarangan, menembus tirai jendela dan menciptakan cahaya temaram di dalam rumah sehingga Kusuma Dewi masih melihat jalan ke belakang melalui lorong rumah itu dengan baik.


Sesampainya di toilet, Kusuma Dewi langsung memelorotkan celana tiga perempatnya yang kendur dan bertali karet itu dan berjongkok. Kesunyian dini hari membuatnya dapat mendengar bunyi air seninya sendiri yang mengalir laju. Kesunyian itu pula yang membuatnya dapat mendengar suara langkah kaki di luar kamar mandi. Tak alam, terdengar bunyi air dari galon menggelegak serta mengucur.


Kusuma Dewi tersenyum. Jam-jam seperti ini wajar bila orang ingin buang air kecil atau minum karena haus. Mbak Ratih juga mungkin perlu ke toilet, jadi ia menyegerakan kegiatannya di dalam sini agar bisa segera digunakan oleh kakak sepupunya itu. Air dingin membekukan pangkal pahanya ketika disiramkan.


Kusuma Dewi bergidik.


Ketika Kusuma Dewi membuka pintu toilet sekaligus kamar mandi itu, yang ia lihat bukanlah Ratih sepupunya, tetapi sosok Pak Guru Johan. Sang abang ipar tersebut sedang berdirimenyamping di depan dispenser air. Gelas plastik di mulutnya.


"Eh, Mas Johan," hanya itu yang dikatakan Kusuma Dewi lirih dan pelan.


Pak Guru Johan hanya melirik ke arahnya tanpa mengubah posisinya. Ada sunggingan senyum tertarik di bibirnya yang sedang tertempel gelas plastik tersebut.


Kusuma Dewi melangkahkan kakinya melewati belakang Pak Guru Johan untuk kembali ke kamar tidurnya.


Kusuma Dewi tersentak ketika Ratih membuka pintu kamar tidurnya.


Ratih memandang ke arah Kusuma Dewi dan menguap lebar. "Mau kencing aku, Dek. Haus juga," ujarnya pendek.


"Oh, iya, Mbak. Ada Mas Johan di belakang sedang minum juga," jawab Kusuma Dewi sembari melanjutkan berjalannya ke kamar.

__ADS_1


Ratih menguap lagi lebar-lebar sembari mengangguk. Ia tak benar-benar memerhatikan ucapan sepupunya itu  karena abegitu mengantuk meski ia mendangar dengan cukup jelas. Setengah terpejam ia menyeret langkah kakinya ke kamar mandi. Pak Guru Johan, sang suami sedang berdiri menyamping di depan dispenser air. Ratih melewatinya. "Mas," sapanya.


Ratih berjongkok di toilet tanpa menutup pintu kamar mandi.


Tiba-tiba kedua matanya membelalak lebar tepat ketika air seninya meluncur turun. Segala kantuk yang menempel di kepalanya luntur bagai salju tersirami musim panas. Bulu kuduknya meremang. Pori-pori kulitnya membesar dan jantung berpacu bagai pacuan kuda.


Ratih baru ingat bahwa suaminya tadi ada di tempat tidur bersamanya. Sewaktu ia ingin buang air kecil, ia sempat membangunkan Pak Guru Johan untuk menemaninya, tapi sang suami menolak bangun. Terlalu mengantuk katanya.


Lalu, siapa yang berdiri di depan dispenser air tadi?


Setelah mengguyur pangkal pahanyadengan air yang dingin membeku, Ratih mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia sudah pernah menyaksikan sosok wewe gombel hampir dua tahun yang lalu di pekarangan rumahnya dengan begitu jelas. Jadi bila sosok yang tadi ia lihat memang bukan suaminya, ia harusnya sudah siap.


Ratih membuka pintu perlahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Guru Johan sudah bangun pagi-pagi. Itu sudah menjadi kebiasaannya, bahkan pada hari Minggu seperti ini. Dikenal sebagai seorang suami yang baik dan bisa diandalkan, ia selalu membiarkan Ratih, istrinya, untuk bangun sedikit lebih siang pada hari libur.


Pak Guru Johan membuat secangkir kopi sendiri, dan duduk di teras depan, membaca berita online dari perangkat handphone-nya.


Paling tidak itulah yang biasa dilakukan dan menjadi kebiasaannya.


Namun, tidak seperti biasanya, khusus hari Minggu pagi ini, Pak Guru Johan memiliki sebab dan tujuan lain. Kusuma Dewi sudah bangun pagi pula. Pun masih mengenakan celana tiga perempat longgar dan kaos lusuh kedodorannya. Gadis itu sedang mengamati beragam tanaman di pekarangan rumah sepupunya itu. Tanpa sang gadis sadari, ia pun sedang diamati sepasang mata terpesona seorang laki-laki yang memindai setiap lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Jadi, benar kata Mbak Ratih kalau kamu belum punya pacar, Dek Dewi?" tanya Pak Guru Johan tiba-tiba.


Yang ditanya tersentak. Ia memang sudah tahu bahwa sedari tadi sang suami sepupunya itu sedang minum kopi dan membaca-baca sesuatu melalui handphone-nya. Mereka juga sudah saling sapa tadi.


Kusuma Dewi merasa wajahnya memerah malu. Ia menyelipkan helaian rambut kemerahannya di belakang telinga, tidak menjawab.


"Mas kok tidak percaya,ya. Secantik kamu tidak ada yang mau?" lanjut Pak Guru Johan.


"Saya tidak cantik kok, Mas. Tidak ada yang mau sama saya. Makanya saya iseng mau ke sini buat coba-coba, ehm ... Coba-coba ke salah satu tempat keramat yang diceritakan Mbak Ratih," jawab Kusuma Dewi agak tergagap.


Ia terkaget-kaget sendiri karena mengapa ia begitu jujur dan polos mengakui tujuan utamanya mengunjungi Dusun Pon. Mungkin ia berpikir percuma menutup-nutupi keinginannya serta jengah selalu dipuji mengenai kecantikannya yang menurutnya palsu dan sekadar basa-basi.


Pak Guru Johan terkekeh, tapi tidak bermaksud mengejek. Kusuma Dewi memandang ke arah laki-laki itu. Ia juga tak merasa dicemooh. Mungkin karena wajah Pak Guru Johan yang terlihat kalem, dewasa dan berkesan berpendidikan itu membuatnya tidak malu dan sungkan. "Mas masih tidak percaya kalau tidak ada yang suka dengan kamu, Dek Dewi. Tapi mengenai kunjunganmu nanti ke tempat keramat itu, mas sendiri yang akan antar ke sana. Jangan khawatir dan merasa malu. Anggap saja wisata," ujarnya.


Nada suaranya yang tenang dan tanpa gejolak emosi berlebihan itu mempermudah Kusuma Dewi merasa lebih tenang dan memercayainya. Kusuma Dewi sendiri tidak dapat menjelaskan mengapa ia bisa merasakan hal tersebut. Padahal baru hari kedua ia menginap, tapi ia tak lagi terlalu merasa kikuk, bahkan pada suami sepupunya.


Kusuma Dewi langsung terlihat ceria tanpa disembunyikan dan ditahan-tahan. Ia mendekat ke arah Pak Guru Johan yang duduk di kursi rotan di teras. "Mas sungguh-sungguh, bukan? Mau antar saya ke sana?" ujar Kusuma Dewi setengah berbisik. Kedua matanya membulat, membuat titik-titik hitam yang tersebar di pangkal hidungnya di atas kulit putih pucat itu tertarik, menciptakan efek tertentu yang membuat Pak Guru Johan berhenti bernafas saking terpesonanya. Wajah ayu Kusuma Dewi hanya berjarak kurang dari dua jengkal dari wajahnya.


"Iya ... Mas janji," ujar Pak Guru Johan berusaha setengah mampus menyembunyikan kegugupannya.


Kusuma Dewi tersenyum lebar.


Ia tak sadar bahwa pesonanya yang sudah ada sedari awal itu hanya tertutup oleh rasa benci dirinya sendiri. Kekuatan tak kasat mata yang melayang-layang di permukaan tanah dan menyelip diantara pepohonan di Dusun Pon ini hanya membuka gembok dan merespon keinginan terdalam dan tergelap sang gadis yang terlalu lama tertidur, bukan mengubahnya menjadi cantik nan menarik, toh Kusuma Dewi memang sudah memesona.

__ADS_1


__ADS_2