Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tujuhpuluh Dua


__ADS_3

Soemantri Soekrasana menilik wajah Anggalarang baik-baik seakan mencari sesuatu dari sana. "Jangan-jangan, kau pernah tidur dengan gadis itu, Anggalarang?" gumam Soemantri Soekrasana.


Yang ditanya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bukan, Soemantri. Bukan Wardhani," jawabnya.


"Bukan dia? Lalu siapa, apa maksudmu? Kau tidur dengan dia atau tidak? Mengapa jawabannya malah bukan? Lalu siapa yang kau tiduri?" cecar Soemantri Soekrasana.


"Wardhani merasuk ke dalam tubuh pacarku yang bernama Kusuma Dewi. Lalu aku bercinta dengan Kusuma Dewi. Begitu sederhananya," balas Anggalarang.


"Merasuk? Bagaimana bisa? Akulah orang yang memenjarakan Wardhani ke dunia seberang. Harusnya ia tak mungkin merasuk bagai mahluk gaib. Bagaimanapun ia masih manusia. Jangan-jangan maksudmu, kau tidur dengan keduanya?" Soemantri Soekrasana masih mengejar jawaban dari Anggalarang.


"Kau ini kenapa, Soemantri? Ada hubungan apa kau dengannya? Kau mau tidur dengan perempuan itu? Silahkan saja. Aku tak akan bilang pada Wong Ayu," jawab Anggalarang ketus.


Tepat ketika ia melihat Soemantri Soekrasana hendak protes, Anggalarang mengangkat jari telunjuknya, "Ah, tidak. Aku tetap akan mengatakan kepada Wong Ayu bahwa kau tidur dengan perempuan iblis yang puncak dadanya berwarna merah segar membara. Biar Wong Ayu bisa membakarmu dengan api dari matanya yang sama merahnya dengan ujung dada Wardhani," balas Anggalarang puas.


"Serius? Kalian membahas hal ini sekarang? Kalian sadar sedang saling mengadu kejantanan?" potong Sarti. Ia memukul-mukul keningnya sendiri kesal, merasa konyol dan frustasi dengan percakapan dua pemuda itu.


Sarti memalingkan tubuh dan berjalan ke arah kelima personil helikopter yang terdiri dari anggota Kepolisian dan anggota tim khusus satuan tugas bencana dan penyelamatan. Sarti mengambil tombak Baru Klinthing dari punggungnya, mengambil sepotong gagang kayu lagi dari balik pakaian silatnya. Dengan potongan itu, ia menyambungkannya ke tombak pendek Baru Klinthing. Sekarang Sarti memiliki sebuah tombak dengan gagang yang lebih panjang.


Melihat ini, kelima orang personil yang terluka itu merasa sangat terancam. Dua anggota polisi, termasuk sang pilot, sudah meloloskan pistol mereka dengan susah payah. Sarti segera sadar bahwa orang-orang ini salah paham.


"Segera berlindung dan menjauh dari tempat ini. Simpan senjata kalian untuk bahaya yang sesungguhnya," ujar Sarti dingin.

__ADS_1


Perempuan itu kembali ke arah Soemantri Soekrasana dan Anggalarang selagi kelima orang personil yang selamat itu saling bopong untuk pergi dari sana, mengikuti perintah Sarti.


"Aku tak peduli kau memiliki lekuk tubuh indah dimata kedua laki-laki ini. Dengan telanjang seperti itu mungkin kau pikir bisa merasa semakin menggoda, tapi saat ini, ujung tombakku yang akan membuktikan seberapa molek badanmu ketika sudah tertusuk dan tersobek-sobek," teriak Sarti kepada Wardhani.


Sang gadis tertawa pelan. "Baiklah wahai perempuan. Aku akan melepaskan kepala dari tubuhmu, setelah itu aku akan bercinta dengan Mas Soemantri dan Anggalarang di atas genangan darahmu!" balas Wardhani dengan sama berserunya.


Soemantri Soekrasana dan Anggalarang saling tatap. Keduanya bergidik jijik. "Aku tak keberatan bila kau masih mau dengannya. Ambil saja, Anggalarang," ujar Soemantri Soekrasana.


Anggalarang menciptakan mimik wajah jejap dan meloya alias jijik. "Sudah kukatakan, kau saja, Soemantri. Aku sungguh-sungguh kali ini berjanji tak akan melaporkannya pada Wong Ayu."


Sarti menggaruk-garuk kepalanya kesal. "Sudah cukup kalian bercanda?" Soemantri Soekrasana dan Anggalarang serentak mengangkat bahu mereka dan melihat ke arah Sarti yang tampak sekali sedang geram.


Wan, si pendekar Cina berwajah hantu menunjuk ke arah Sarti. Wardhani melihat dan meresponnya. "Kau ingin membunuhnya? Silahkan. Tapi tolong biarkan kepalanya utuh untukku," ujar Wardhani.


Tahu akan maksud laki-laki Cina berambut panjang terurai, berkulit pucat dan berbibir merah itu, Sarti mengencangkan pegangannya pada gagang tombak. "Sudah saatnya kau berubah, Anggalarang. Soemantri, rapalkan mantramu."


Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu serangan dari pihak musuh, Sarti memutarkan tombaknya sekali kemudian meloncat tinggi, siap membenamkan mata tombaknya ke kepala Wan.


Anggalarang menyobek pakaian atasnya yang sedari tadi memang telah habis terbuncai, dan membuangnya. Kulitnya retak dan bulu-bulu kasar berwarna putih membuat keluar dari rekahannya. Sang Maung mengaum gahar. Wajah Anggalarang berganti separuh harimau dengan ciri-ciri hewani berkeluaran dari tubuhnya.


Namun, sebelum ia paripurna diganti oleh kehadiran Maung, tubuh setengah berubahnya ditubruk bahu sosok si Banteng Amuk sehingga terlontar ke arah bangkai helikopter yang berasap.

__ADS_1


Ledakan keras menyusul benturan itu.


Mata Soemantri Soekrasana membeliak melihat kejadian itu. Hanya saja ia tak sempat melakukan apa-apa untuk memastikan keadaan sang rekan, karena Lembu Sekilan telah menyeret tubuhnya menghindari serangan tiba-tiba dua mantan prajurit Mataram di masa lalu yang pernah ikut menundukkan Sukadana: Elang Timur dan Elang Barat.


Si Bajing Laut tak mau kalah. Ia mencelat tinggi bagai seekor kera dan menyumbangkan serangan ke arah Soemantri Soekrasana.


Maung meluncur keluar dari kobaran api ledakan helikopter dengan luka menghiasi tubuhnya. Tapi, sembari luka-luka itu menyembuh dengan cepat, cakarnya hampir mengenai Banteng Amuk yang tadi menyerangnya tiba-tiba. Meski cakaran itu lolos, punuk Anggalarang sempat menubruk Banteng Amuk dan melemparkannya beberapa meter ke belakang.


Banteng dan harimau resmi bertempur!


Begitu pula serangan dan hindaran lincah tiga pendekar masa lalu melawan Soemantri Soekrasana menjadi semacam tontonan hebat nan berkelas di atas panggung. Bedanya, pertunjukkan ini menuntut nyawa.


Sarti berguling cepat. Serangannya ia batalkan. Datuk Rajawali Tua berusaha menyarangkan jari-jari hitam beracunnya untuk menerima serangan Sarti ke arah Wan. Wan sendiri tak menunggu lama berkelebat mengejar Sarti. Ia melompat-lompat bagai kijang dan mencoba memeluk Sarti, mengunci dan menggigitinya. Itulah gaya bertarung dan rencananya yang memang aneh.


Sarti pernah berhadapan dengan mereka di masa kehidupannya yang lalu. Betapa jelas dalam kenangan Sarti, bahwa saat itu, ia sekarat dihajar habis-habisan kemudian tewas di tangan Wan.


Lehernya dicabik oleh taring-taring Wan yang setajam mata gergaji.


"Tidak kali ini, bangsat!" seru Sarti keras.


Ia sudah jauh lebih mengenal jurus-jurus Wan yang tidak berkembang, apalagi pendekar itu baru saja bangkit kembali. Sedangkan, Sarti telah mati dan hidup tak terhitung lagi jumlahnya. Pengalamannya bertempur di sepanjang sejarah telah menempanya dengan baik.

__ADS_1


Maka, Sarti berputar sekali dan menyongsong serangan Wan dengan tombak Baru Klinthing yang bergagang panjang. Tusukan yang ia lakukan begitu cepat. Mata tombak legendaris tersebut melesak masuk ke dalam rongga mulut Wan yang membuka lebar untuk menggigit. Sarti merasakan bilah tajam senjatanya menembus tekak Wan.


Sebuah gerakan pamungkas dilancarkan Sarti. Dengan sekali sentak wajah Wan sobek menjadi dua bagian.


__ADS_2