Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Sembilan


__ADS_3

"Aku bukan penggemar beladiri dan ilmu kanuragan macam kalian, tapi kau ‘kan tak perlu meragukan kemampuan dan kesungguhanku, Mar," tambah Kardiman Setil. Sama seperti Affandi, Kardiman Setil juga menghormati Marsudi dan menempatkan ia sebagai keluarga tertua sekaligus sebagai pemimpin.


"Siapa bilang aku meragukan kalian? Aku tak pernah meragukan kemampuan dan kesungguhan kalian sama sekali selama hidupku. Tapi, apa kalian harus ikutan serius mengurusi hal yang tidak jelas ini?" jawab Marsudi.


Affandi berdiri, "Lalu, apa yang kita tunggu? Ayo kita cari dimana tempat yang bernama Obong itu."


Marsudi mengerutkan keningnya tak paham.


"Lah, ‘kan abang sendiri sudah memikirkan masalah ini lama. Selain aku juga penasaran dengan keris yang abang bilang itu, jelas alasannya karena kita saudara. Apa yang penting bagi abang, penting pula bagi kami. Ya ‘kan, Kar?"


Kardiman Setil mengangguk mantap.


"Lagipula, sayang ilmu rawarontek abang. Biarkan ilmu itu makin sempurna dengan keris yanh nanti abang dapatkan. Posisiku bisa makin kuat pula dengan adanya abang yang mendukungku dari belakang. Dan Kardiman biar istirahat dulu. Banyak uangnya tak habis untuk dikasih keempat istri dan gundik-gundiknya," kata Affandi berkelakar.


Semua tertawa terbahak-bahak.


Kesakten alias kesaktian bukan sekadar sesuatu untuk dibanggakan dan disombongkan bagi Marsudi, tetapi ini adalah bagian dari identitas dirinya. Selama ini ilmu kanuragan dan kesaktian memang telah membawanya mendapatkan banyak kenikmatan dunia, dari harta, wibawa dan kehormatan, sampai kekuasaan tentunya. Banyak orang gentar mendengar nama Marsudi, sang preman sakti. Mereka melakukan apapun yang ia inginkan. Mengancam para pebisnis, menjadi andalan politisi, dikhawatirkan aparat, dan disegani tokoh-tokoh masyarakat membuat hidupnya menjadi bermakna. Kesaktian adalah puncak dari semuanya, semacam pencapaian hidup. Semakin ia sakti dan memperdalam ilmunya, semakin puas juga jiwanya.

__ADS_1


Affandi dan Kardiman Setil paham itu dengan baik. Bagi saudara angkat tua mereka, kesaktian dan olah kanuragan sudah menjadi bagian dari dirinya, bahkan yang paling penting. Ini juga karena Affandi dan Kardiman Setil pernah mengalami hal yang paling tidak masuk akal di depan mata mereka. Marsudi menahan ***** dengan badannya untuk menyelamatkan keduanya dalam sebuah perang geng. Marsudi juga pernah beberapa kali dibacok lawan sampai harusnya ia sudah mati sekarang, namun nyatanya masih berdiri tegak. Keduanya hampir tidak percaya ini. Bukan sekadar karena kenyataan bahwa ilmu semacam itu memang nyata adanya, namun mereka berhutang nyawa dengan Marsudi. Mereka juga sudah mengalami terlalu banyak masalah bersama, menghadapi musuh yang sama, berjibaku melawan marabahaya dan ancaman bersama-sama. Bertiga adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan lagi.


Marsudi membawahi banyak anak buah, begitu juga dengan Affandi. Walau Kardiman Setil bekerja sendiri dalam misi-misinya, ia memiliki banyak aset yang sangat menguntungkan. Bila digabungkan kesemuanya, mereka adalah pasukan yang mematikan. Namun, untuk tujuan kali ini mereka harus melakukannya bertiga, tak ada campur tangan orang lain.


"Apa yang kau lihat?" kata Kardiman Setil kepada Marsudi ketika ia sedang mengemas UZI yang kecepatan tembaknya mampu memuntahkan 60 butir peluru per menit.


"Kau merasa perlu membawa senjata api itu?" jawab Marsudi.


 "UZI ini kan salah satu peralatanku. Aku juga punya pisau komando, baton, kawat komando Garrote atau stun gun. Aku 'kan tidak punya rawarontek macam kau, atau jurus silat macam Affandi."


"Tapi kau yang membunuh paling banyak dibanding kami semua," potong Affandi sembari memasukkan sepasang karambit di sarungnya dan diletakkan di bagian belakang pinggangnya.


Tidak heran Kardiman Setil akrab dengan peralatan tempur ala militer semacam ini, karena ia sendiri adalah mantan anggota militer yang dipecat dengan tidak hormat karena beragam kasus yang ia hadapi, termasuk penjualan senjata api ilegal. Teknik-teknik combat memang ia dapatkan di kemiliteran, kemudian ia kembangkan lagi secara langsung di lapangan dalam pengalamannya sebagai seorang pembunuh bayaran.


Ini jelas bukan perjalanan piknik meski Affandi tak berhenti melucu sepanjang perjalanan dan Kardiman Setil yang punya koleksi cerita mesum, jorok dan cabul yang kaya, apalagi kalau tidak berdasarkan pengalaman pribadi dengan perempuan-perempuannya.


Tetap saja ada aura ketegangan yang hadir setiap mereka berhenti berbicara atau tertawa. Tidak heran Kardiman Setil membawa semua perlengkapan persenjataannya dalam perjalanan ini. Marsudi sendiri sadar bahwa bisa saja petualangan mereka kali ini adalah sebuah perjalanan ke matahari, misi bunuh diri. Ia tak bisa melupakan mimpinya yang begitu jelas itu, sedangkan kedua sahabatnya sudah pasti menganggap serius apa yang mengganggu pikirannya. Itu sudah merupakan kutukan sekaligus berkat bagi hubungan persaudaraan mereka ini.

__ADS_1


Jalan yang mereka lalui sangat gelap, tidak ada lampu jalan. Seharian perjalanan, menginap setengah hari untuk istirahat, dan sehari lagi untuk tersesat di jalan membuat mereka cukup kelelahan. untungnya mereka mendapatkan informasi mengenai sebuah desa yang bernama Obong. Dengar-dengar mereka harus melewati tiga desa mengitari kaki gunung sebelum sampai di desa yang berada di sisi sebuah sungai itu.


Jalan kecil ini ditutupi pepohonan di kiri kanan jalan dari sinar rembulan. Namun memang di kejauhan terlihat lampu kelap-kelip berpendaran di kaki gunung, menunjukkan ada perkampungan di sana.


"Perjalan kita ini macam kegiatan ke desa terpencil saja, bang," ujar Affandi yang mendapatkan giliran menyetir sembari terkekeh.


"Siapa suruh kau ikut," ujar Kardiman Setil yang sedang menggosoki UZI nya.


"Hey, aku juga berasal dari desa sebelum ke kota besar. Aku sudah biasa ke tempat-tempat yang tak berlistrik dan berlampu jalannya. Harusnya kau yang tak ikut, Kar," balas Affandi.


Marsudi sendiri memang tak banyak omong orangnya. Sekarang ia sedang menutup mata, sedikit bermeditasi untuk mencari petunjuk. Benar saja, ia melihat bahwa keris tak bersarung dan tak bergadang namun luar biasa indah yang ada dalam mimpinya itu terus memendarkan sinar yang semakin terang. Mungkin ini pertanda mereka sudah mendekati lokasi.


Affandi membuka mata, saat itu pula ketiga orang di dalam van itu melihat sosok putih sebesar manusia melesat dengan cepat menyebrangi jalan dengan begitu cepat. Sosok itu melompat masuk ke dalam rimbunnya pepohonan di tepi jalan.


Affandi hampir membanting kemudi karena terkejut. Bahkan ban van sempat berdecit keras, namun tidak sempat berhenti. Mobil tetap berjalan dengan kecepatan yang lebih lambat.


"Kalian lihat itu?" ujar Affandi dengan mata melotot dan nafas yang memburu.

__ADS_1


"Persiapkan diri kalian. Nampaknya kita akan menghadapi sesuatu yang sangat besar. Ada yang menunggu kita di depan sana," ujar Marsudi.


Kardiman Setil menggenggam gagang UZI dengan erat. Mobil van berjalan dalam diam. Semua orang berkutat dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.


__ADS_2