
"Tolong mas Lutfi. Tolong bisa mengerti keadaan kami. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk saudara-saudara warga Kaliabang. Menginaplah barang sehari di desa ini. Kami punya beberapa losmen kecil, rumah-rumah penduduk yang bisa menampung warga sekalian. Besok pagi akan kami utus warga untuk melapor ke pihak yang berwenang atau mengecek keadaan di desa Kaliabang. Paling tidak jangan biarkan sanak saudara warga Kaliabang kehujanan dan kelaparan," ujar kepala desa berusaha untuk bijak.
Terlihat sekali beban yang ada di pundaknya dalam mencari jalan keluar adalah masalah yang mereka hadapi.
Lutfi mengatupkan rahangnya. Luka di bagian tiga jarinya yang terputus berkedut kuat.
"Tidak perlu, pak kepala desa. Semuanya akan terlambat. Kami harus pergi ke desa selanjutnya, meminta bantuan dan memberikan peringatan kepada warga Prajuritan akan bencana yang datang menyapu. Kami hanya bisa berdoa kepada yang Maha Kuasa semoga desa Pancasona dijauhkan dari malapetaka dan angkara murka," ujarnya tegas.
Lutfi tahu bahwa tidak mudah mengambil keputusan, tetapi ia sendiri juga dalam keadaan yang kritis. Tidak ada tawar-menawar dalam hal segenting ini.
Suasana balai desa menjadi kembali riuh. Beragam pertanyaan, pernyataan, keraguan bahkan ketakutan para warga Pancasona saling bertukar. Lutfi dan seluruh warga Kaliabang memutuskan untuk segera pergi dari desa itu untuk menghindari malapetaka yang sedang menggelinding turun. Mereka semua setuju bahwa mereka terlalu lama menghabiskan waktu untuk meyakinkan penduduk Pancasona untuk melindungi diri atau paling tidak bermusyawarah mencari jalan keluar menghadapi pagebluk yang nyata ini.
Rombongan tersebut kembali menaiki truk dan mobil serta kendaraan yang ada. Perempuan dan anak-anak ditempatkan dalam kendaraan yang beratap karena hujan yang lumayan deras sudah cukup membuat mereka basah dan menggigil.
Warga setempat sendiri menyaksikan bahwa adegan dan pemandangan ini sangat memilukan. Diluar pendapat kepala desa serta beberapa orang yang dianggap cukup menyepelekan kepercayaan orang Kaliabang mengenai musibah yang mereka hadapi, sebagian warga Pancasona berpikir bahwasanya tidaklah mungkin warga desa berbondong-bondong, ratusan jumlahnya, meninggalkan kampung halaman mereka bila hanya dikarenakan isu yang tidak jelas juntrungannya atau halusinasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
Mereka pastilah merasakan dan menjadi saksi nyata serangan dari sosok gaib yang mereka percayai berbahaya itu.
"Mas Lutfi," seorang laki-laki paruh baya menghampirinya ketika semua warga sedang bersiap-siap meninggalkan Pancasona.
__ADS_1
"Maaf mas, nama saya Wardiman," ia menatap Lutfi dengan perasaan kikuk.
"Ya, pak Wardiman. Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Lutfi.
"Mmm ... Bagaimana mengatakannya ya, mas. Begini. Saya beserta keluarga, dan sebenarnya masih banyak lagi yang lain, merasa bahwa cerita mas Lutfi dan warga Kaliabang tidak bisa disepelekan. Kami ... Ah ... Kami, berencana untuk ikut rombongan ke desa Prajuritan, untuk mencari perlindungan di sana," lanjut sang warga pelan.
"Pak Wardiman yakin? Saya khawatir tindakan bapak tidak disetujui oleh pejabat desa dan dianggap hanya membuat panik. Lagipula, kami tidak punya banyak kendaraan untuk membawa bapak dan keluarga bapak sekalian," balas Lutfi sedikit tidak enak.
"Wah, untuk itu tidak masalah, mas Lutfi. Kami akan membawa mobil dan kendaraan sendiri. Bahkan sepertinya masih cukup memuat beberapa orang dari warga Kaliabang. Kami juga punya lumayan banyak kerabat di Prajuritan, mungkin bisa sedikit membantu untuk jalannya komunikasi. Selain itu, masalah keselamatan adalah hak kami sendiri. Kalau pejabat desa tidak bisa menjamin atau paling tidak memberikan kami rasa aman, apa yang bisa kami lakukan selain menciptakan rasa aman itu sendiri?" ujar sang bapak berubah sumringah. Nampaknya sang bapak menjadi sedikit lega.
Lutfi tersenyum dan mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Irawan turun cepat dari motornya, melongok kesana-kemari dan menemukan Lutfi.
Keduanya berpelukan erat, senang masih diberikan hidup dan kesempatan untuk bertemu. Setelah melepas kelegaan, Lutfi menghitung jumlah orang yang datang bersama Irawan. Mengetahui ini, Irawan menggelengkan kepalanya, menunjukkan memang bahwa mereka kehilangan beberapa orang ketika melawan mayat hidup dan iblis perempuan tersebut.
Irawan juga menjelaskan bahwa mereka dibantu Pakde Narto yang ternyata masih selamat, serta dua sosok aneh yang memiliki kesaktian tinggi, meski sekarang ia tak tahu bagaimana kondisi Pakde Narto.
__ADS_1
Lutfi mengangguk paham, meski ia juga bertanya-tanya siapa gerangan sosok misterius yang digambarkan Irawan tersebut. Ia juga telah menjelaskan kepada Irawan tentang perilaku dan respon para pejabat desa Pancasona. Ia tak benar-benar bisa menyalahkan mereka karena ragu dan bingung dengan keadaan ini. Namun di sisi lain, ia tak bisa menunda untuk segera mencari perlindungan bagi warga. Syukurnya ada beberapa warga, lebih banyak dari yang ia perkirakan, menyadari untuk tidak ambil resiko dengan keselamatan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Irawan memutuskan tetap mengendarai motor bersama rekan-rekannya. Ia sengaja membiarkan para warga untuk pergi dahulu dan menjadi penjaga di bagian belakang rombongan.
Setelah sekitar sepuluh sampai lima belas menit setelah warga meninggalkan desa Pancasona, Irawan merasakan sesuatu seperti yang sebelumnya ia rasakan di desa Kaliabang. Bulu duduknya meremang, keringat dinginnya mengalir dan otot-ototnya menegang. Sepasang matanya seperti dituntun ke suatu arah.
Benar saja, dari kejauhan, dengan penerangan lampu-lampu bangunan yang sudah menyala serta kilat yang berpendaran, Irawan melihat sosok-sosok, puluhan mungkin jumlahnya, menuruni bukit di belakang desa. Ia kenal cara mereka berjalan. Mungkin satu atau dua tak akan terlihat oleh matanya, namun dengan jumlah sebanyak itu
Ia tak mungkin salah!
Irawan menerawang ke arah para warga yang banyak masih berdiri di depan toko, losmen, gudang dan bangunan-bangunan lain. Mereka saling bicara mengenai kehebohan ini dan seperti menghantarkan kepergian warga Kaliabang dan beberapa warga mereka juga.
Irawan mendesah pilu, merasa tak bisa berbuat banyak. "Maaf," gumamnya. "Pancasona juga telah jatuh," ujarnya lirih lebih kepada diri sendiri. Kemudian ia sela motornya dan pacu sekencangnya menyusul rombongan warga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang bapak dan anak laki-lakinya baru saja pulang dari ladang mereka melalui jalan pintas. Itu berarti mereka harus melewati sebuah kuburan di kaki bukit kecil di belakang desa mereka. Biasanya mereka melewati jalan memutar melewati kebun-kebun warga lain untuk bertukar sapa atau melihat-lihat lingkungan perkebunan saja. Namun sore ini hujan turun membasahi bumi sehingga sang bapak memutuskan untuk menyudahi pekerjaan mereka di kebun dan melewati jalan yang lebih cepat untuk sampai di rumah. Segelas teh, kopi atau jahe panas akan dapat menghangatkan tubuh mereka, itu pikirnya.
__ADS_1
Sepasang bapak anak tersebut sedang tertawa-tawa sembari berlari kecil berpacu dengan hujan ketika mereka berpapasan dengan tiga orang laki-laki muda warga desa yang cukup mereka kenal. Sang bapak baru saja hendak menyapa ketiganya, namun senyumnya hilang dikala ia melihat mereka semua bertelanjang dada di tengah hujan. Ada goresan-goresan luka di dada mereka yang membentuk semacam tulisan beraksara Jawa. Ketiga pemuda memandang sepasang bapak dan anak yang malang itu dengan dingin. Nahas bagi keduanya karena mereka belum sempat benar-benar memahami apa yang sedang terjadi ketika serombongan mayat hidup mencabik-cabik tubuh mereka dengan cepat sedangkan teriakan pilu mereka teredam suara hujan.