Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Enambelas


__ADS_3

Saat ini, ketika Anggalarang mengajak Soemantri Soekrasana keluar entah kemana, Sarti masih menanyakan hal yang sama setelah beberapa obrolan kecil.


"Sarti, apa sih maksudmu menanyakan hal yang sama?"


"Kau benar-benar masih perawan? Kau rela tak disentuh pria demi kesaktianmu itu?" kata Sarti suka-suka namun dengan sebuah kesungguhan.


"Kau sendiri?" jawab Wong Ayu merasa risih.


"Wong Ayu, aku adalah Ratna Manggali. Aku pernah menikah dengan seorang laki-laki yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Empu Bahula. Aku hidup dan mati berkali-kali, lalu kau pikir aku tak akrab dengan berahi?" ujar Sarti sembari menatap lekat sepasang Mata Wong Ayu yang bulat.


Tiba-tiba Wong Ayu melihat Sarti yang bertubuh mungil ini dalam rupa Ratna Manggali, terbalut kecantikan purbanya. Rambutnya tergerai panjang dengan hiasan bebungaan, dengan tubuh langsing namun molek. Aura mistisnya menembus ruang dan waktu.


Bayangan itu kemudian perlahan menghilang. Sekarang duduk di depannya, Sarti, dalam rupa seorang perempuan yang mungkin sedikit lebih muda darinya dihitung dari kebangkitannya di usia keenambelas, bukannya mahluk berusia ratusan tahun yang telah mereguk sejarah, menyesap masa lalu, dan bergelimang pengalaman.


Sarti tertawa. "Kalau kau memutuskan untuk melepaskan kesucianmu itu, Soemantri bukan laki-laki yang buruk. Bahkan menurutku ia cukup tampan. Masih muda pula," ujar Sarti menggoda.


Wong Ayu merasakan wajahnya memerah. Untuk urusan kesaktian, Wong Ayu memang memiliki kekuatan yang jauh berkali lipat bahkan dibanding Sarti, atau ketiga teman lainnya disatukan. Namun masalah asmara dan hubungan laki-perempuan, Wong Ayu adalah anak bawang yang tak bisa ikut serta dalam permainan.


Wong Ayu memutuskan untuk tak merespon ejekan Sarti sampai tak lama pintu apartemen terbuka.


Anggalarang masuk.


Laki-laki ini memang selalu berpakaian rapi. Mungkin wajahnya tak terlalu tampan, tapi kesan tertatanya membuat ia terlihat keren, bersih, wangi dan fashionable. Ironis benar, mengingat ia paling sering merusakkan pakainnya ketika sang Maung keluar dan mengubahnya menjadi sosok monster.


Anggalarang tersenyum tipis nan samar ke arah Sarti dan Wong Ayu yang duduk di atas sofa putih bersihnya.

__ADS_1


Di belakangnya, sosok Soemantri Soekrasana ikut muncul menyusul.


Rambut panjang tanggung dukun muda itu telah dicukur rapi: tipis di bagian pinggir, namun masih sedikit panjang di bagian depan sehingga dapat ditata bergaya sedemikian rupa. Wajahnya pun sudah klimis, bersih dari kumis dan jenggot yang tumbuh liar sekehendak hati.


Kini, tak satupun dari ketiga temannya, termasuk Wong Ayu, yang tak setuju bahwa Soemantri Soekrasana ternyata adalah seorang laki-laki muda yang tampan, terlalu ganteng malahan.


Soemantri Soekrasana mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu gelap yang lengannya digulung sampai melebihi siku. Ia mengenakan celana kain slim fit hitam dan sepasang sepatu kanvas berwarna yang senada.


Tas selempang usang yang biasa selalu melekat padanya kini telah berganti dengan tas yang jauh lebih indah dipandang. Tas itu dikunci di bagian dada, berwarna hitam, dengan banyak kantong. Lebih praktis dan juga memberikan nilai gaya.


"Anggap aku hutang kau ya, Anggalarang. Baju yang kau belikan ini memang mahal, padahal aku bisa saja meminjam beberapa setel pakianmu yang banyak itu. Aku juga akan tetap membawa sepatu kulitku itu," ujar Soemantri Soekrasana kepada Anggalarang tak memperhatikan bahwa semua pasang mata memperhatikannya serasa tak percaya.


Ia benar-benar berubah menjadi sosok yang sama sekali lain. Anggalarang tak dapat menahan senyuman lebarnya, seakan baru saja memamerkan hasil karya seni maestronya.


Bahkan Anggalarang dan Sarti saling berpandangan bertukar semacam sinyal khusus.


Wong Ayu menunduk ketika tatapannya berbenturan dengan Soemantri Soekrasana.


"Sudah kubilang, ia ternyata tampan. Berikan saja padanya," bisik Sarti.


Wong Ayu memandang Sarti mengancam seakan hendak memakannya hidup-hidup. Namun yang terlihat adalah roman wajahnya yang penuh rasa malu, membakar pipi dan keningnya, merah bagai udang rebus.


Wong Ayu membuang muka, lalu berdiri tergesa. "Aku mau keluar dulu, membuat laporan," ujannya dengan wajah tertunduk. Ia ngeloyor pergi ke pintu, melewati Soemantri Soekrasana yang baru masuk. Bau harum tubuh laki-laki muda itu menusuk hidungnya, memberikan siksaan tambahan.


Kembali Sarti memberikan sinyal bermakna lagi kepada Anggalarang. Sayang, Soemantri Soekrasana tak dapat membaca gelagat rasa Wong Ayu dan 'persekongkolan' kedua temannya. Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa, di samping Sarti.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggalarang tidur di sofa putihnya. Ada Soemantri Soekrasana berbaring di lantai. Sarti tidur di sebuah kasur dekat lemari pakaian, sedangkan Wong Ayu menggunakan kamar tidur Anggalarang.


Saat itu jam tiga subuh.


Anggalarang dan Soemantri Soekrasana baru tidur satu jam setelah keduanya menonton pertandingan sepakbola di televisi berlayar datar di depan mereka, ketika Wong Ayu membuka pintu kamar dan menyalakan lampu.


Sarti bangun dengan cepat dan langsung waspada, sudah menjadi kebiasaannya selama ratusan tahun agar tetap awas pada setiap kejadian.


Anggalarang menggosok-gosok kedua matanya karena silau.


Soemantri Soekrasana setengah menganga, melihat pemandangan di depannya: Wong Ayu dengan celana super pendek, serta tanktop putih ketat, memamerkan kulit mulus dan lekukan tubuh indahnya.


Namun itu hanya sejenak, karena Soemantri Soekrasana merasa harus berkali-kali mencerna kata-kata Wong Ayu, "Kita harus ke Kalimantan! Perempuan iblis itu muncul di sana. Ia sudah menemukan budak baru, seseorang bernama Yakobus Yakob!"


Semuanya saling pandang berusaha menyerap informasi yang tiba-tiba ini.


Kuntilanak merah melayang di luar apartemen. Wajah mengerikannya menempel di kaca jendela. Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana sama-sama melirik ke arah hantu perempuan itu, kemudian keduanya saling berpandangan tanpa tahu makna apa yang mengambang disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kekuatan dan kesaktian yang dimiliki Yakobus Yakob hanyalah setitik dari fragmen entitas yang kerap disebut dan dikenal sebagai Panglima Burung atau Pangkalima. Fragmen ini menitis dan menetes pada Patih Gumantar, raja kerajaan kuno Sidiniang yang berdiri tahun seribu tiga ratus delapan pukul masehi, yang membantu Patih Gajahmada dari Majapahit menghadang laju tentara Mongolia di negeri Siam, Muang Thai.


Fragmen entitas ini juga menciprat dan menjelma dalam diri Pang Suma ketika menghabisi para pasukan sekaligus tiga pimpinan pasukan Jepang di tiga lokasi berbeda serta membawa kepala mereka sebagai bukti ketangguhannya, pada rentang waktu Februari sampai tewasnya di bulan Juni seribu sembilan ratus empat puluh lima.

__ADS_1


Pangkalima juga muncul memenuhi amarah dan respon perlawanan orang-orang Dayak di berbagai tempat di masa kerusuhan besar antar etnis di pulau ini beberapa tahun yang lalu sebagai godam pemukul tanda kekuatan dan penentu kuasa.


Kini, fragmen entitas itu kembali menawarkan diri pada seorang pemuda Iban dengan latar belakang kehidupan sekelam malam dan masa lalu segelap arang.


__ADS_2