
Wajah cantik sang perempuan berada kurang dari sejengkal dari wajah Affandi. Sepasang bibir merahnya merekah.
Ia mencium bibir Affandi.
Mata Affandi terbuka lebar, melotot, ketika arus informasi masuk ke dalam otaknya. Ia dibawa ke masa ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu dan menyerap semuanya dalam beberapa detik saja.
Sepasang bibir tipis nan merah itu memaksa membuka mulut Affandi. Lidahnya, bercabang dua, menjilati lidah Affandi.
Affandi tersentak.
Ia jatuh bersimpuh. Kedua telapak tangannya mengatup dan diletakkan di atas kepala, menyembah.
"Ampun tuan putri, Nyimas Dewi Anggatri, Nyi Blorong. Maafkan kelancangan dan kedunguan hamba ini," ujar Affandi.
"Kenjeng Ratu bahkan memerlukan Kandita untuk membantunya memainkan permainan ini. Kandita memilih Ratna Manggali sebagai bidaknya. Kanjeng Ratu pun setuju. Ah, seorang gadis malang yang ibunya berada di dunia tengah. Tapi aku tak suka bermain dengan gacoan yang sama. Aku pernah menggunakan La Pateddungi dan Amangkurat Pertama. Aku juga sempat bermain dengan menggunakan Mur Jangkung. Lalu, bila mereka bisa menggunakan Ratna Manggali berulang-ulang, ada baiknya aku menggunakanmu dengan cara yang sama pula," sang perempuan yang ternyata adalah Nyi Blorong itu tertawa renyah.
Sosok itu berbalik arah meninggalkan Affandi yang masih bersimpuh menjura. Jarit hijaunya yang berkelim-kelim tersibak. Menyeruak bagian bawah tubuhnya, ekor ular raksasa yang menjalar ke berbagai sisi. Pinggangnya yang ramping ditopang oleh bagian tubuh binatang melata tersebut sehingga ia berjalan dengan begitu tenang, meliuk-liuk melewati bebatuan gunung yang cadas tanpa kesulitan.
Nyi Blorong hilang di pekatnya malam.
Affandi menarik nafas panjang, mengangkat kepalanya dan mendapati sang panglima perang kerajaan Samudra Laut Selatan itu telah pergi. Sinar bulan yang lemah memperlihatkan sosok-sosok gelap bagaikan bayangan namun memiliki nyawa, perlahan ikut menghilang, meninggalkan bau busuk lebih busuk dari bangkai.
Mereka adalah para prajurit bawahan Nyi Blorong, lampor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit serasa linglung. Ia menyetir mobil sewaannya bersama Wong Ayu dan ketiga rekan-rekan barunya yang resmi menyebut diri mereka sebagai Catur Angkara. Satria Piningit urung pergi ke desa Obong setelah mendengar cerita dan penjelasan Wong Ayu.
__ADS_1
Setelah ia terkena ilmu gendam Soemantri Soekrasana dan disadarkan, ia serasa terbangun dari mimpi, tak benar-benar paham apa-apa yang terjadi sebelumnya. Tapi tak lama ia setuju untuk tidak melanjutkan perjalanan ke desa Obong. Ia membawa serta keempat orang sakti tersebut ke arah sebaliknya.
Lima orang dalam satu mobil, Wong Ayu disamping Satria Piningit. Ketiga temannya yang lain saling lempar senyum dalam diam.
Ketiganya sepakat tanpa saling bertukar kata bahwa Satria Piningit adalah laki-laki dewasa yang sentimental. Sarti bahkan terang-terangan mengatakan bahwa ia hampir tak tahan mendengar cerita Satria Piningit mengenai kehidupan masa kecilnya di desa Obong. Wong Ayu sendiri hanya geleng-geleng kepala mendengar Sarti walau ia tak bisa protes. Mungkin alam bawah sadarnya menyetujui pendapat temannya yang berusia ratusan tahun itu.
Soemantri Soekrasana tersenyum dengan maksud lain. Ia lega bahwa Satria Piningit ternyata telah memiliki keluarga, dan benar memang dugaannya bahwa laki-laki itu memiliki rasa – atau paling tidak, pernah memiliki rasa - terhadap Wong Ayu. Syukurnya tidak ada hubungan khusus diantara mereka berdua.
Mobil kelas MPV berwarna putih gading itu melaju dengan kecepatan tetap. Mereka akan menuju kota, sementara tujuan mereka adalah apartemen dimana Anggalarang tinggal.
"Jadi, bagaimana kau menjelaskan kepada bos dan rekan-rekan di tempatmu bekerja tentang kepergianmu selama berhari-hari tanpa kabar ini?" tanya Soemantri Soekrasana.
"Tak perlu, aku juga pasti sudah dipecat. Padahal aku sudah bertahan selama setahun di pekerjaan ini. Sebelumnya, paling lama enam atau tujuh bulan. Tapi, mau bagaimana lagi kalau si Maung yang punya keinginan, aku tak dapat mencegahnya," Anggalarang mengangkat kedua bahunya.
Melihat respon Soemantri Soekrasana yang sepertinya masih penasaran dengan kehidupannya, Anggalarang pun menarik nafas dan menegakkan punggungnya.
"Meski aku hidup berpindah-pindah, tidak hanya bekerja, namun juga tempat tinggal, tapi terus terang aku tak terlalu mendapatkan kesulitan. Entah bagaimana Maung memberikan banyak bantuan. Mungkin ia memberikan aura karisma, atau keberanian, sehingga aku mudah dipercaya oleh orang lain. Sialnya, orang juga bisa mendepakku karena masalah sepele. Itu juga mungkin keinginan si Maung kalau dia ingin pindah."
Anggalarang hendak melanjutkan cerita, namun ia melihat wajah Soemantri Soekrasana dan berhenti, "Lalu, kau, Soemantri. Kau sungguh-sungguh seorang dukun? Memangnya kau bisa mendapatkan uang dari pekerjaan semacam ini?"
Soemantri Soekrasana tersentak. Sarti yang duduk di kursi paling belakang memandangnya, begitu juga dengan Wong Ayu yang membalikkan tubuhnya ke arah Soemantri Soekrasana, bahkan Satria Piningit ikut melihatnya melalui sudut matanya.
"Aku bukan dukun, tapi paranormal," ujar Soemantri Soekrasana nampak tersinggung.
Tapi jawaban ini malah membuat Wong Ayu tersenyum lebar, Anggalarang tertawa lepas, Sarti menyenderkan tubuhnya kembali, dan Satria Piningit tersenyum takut-takut.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak menyantet orang, meneluh, atau mencelakai orang dengan ilmuku. Kalau aku dukun, aku pasti sudah kaya raya sekarang. Lagipula, di sisi lain, tentu nyawaku sudah selesai di tangan Wong Ayu," jawab Soemantri Soekrasana ketus.
__ADS_1
Satria Piningit berpaling ke arah Wong Ayu.
"Apa maksudnya, Wong Ayu?" ujar laki-laki itu sembari mengernyit.
Soemantri Soekrasana langsung memyeletuk, "Wong Ayu dikenal orang sebagai sang Durga. Ia memburu para dukun cabul dan ilmu sesat kemudian membunuh mereka semua," ucap Soemantri Soekrasana dengan sengaja. Tujuannya membuat efek kejut pada Satria Piningit.
Benar saja, air wajah Satria Piningit langsung berubah. Ia sepertinya susah percaya dengan penjelasan ini, namun Wong Ayu hanya melihat Soemantri Soekrasana dengan pandangan sebal sekaligus geli dan jelas menolak merespon Satria Piningit.
"Dukun baik, maksudmu?" Anggalarang kembali mencandai Soemantri Soekrasana tentang pekerjaannya.
"Anggalarang, jangan coba melecehkan pekerjaanku ya. Aku sudah ditakdirkan menjadi paranormal sejak ayah dan ayah sebelum ayahku. Aku membantu menyembuhkan orang yang kerasukan, disantet dan diguna-guna ...,"
"Dengan jampi-jampi, bukan?" potong Anggalarang.
"Mantra!" Soemantri Soekrasana meledak. Ini malah membuat Anggalarang tertawa semakin keras.
"Lalu, kuntilanak merah itu? Bagaimana ceritanya dia yang sudah lama berada di desa Obong bisa ikut denganmu?"
Satria Piningit kembali tersentak. Wong Ayu melihat ke arah Satria Piningit, "Benar, Satria Piningit. Kuntilanak merah yang dulu kau lihat selalu berada di atas pohon pisang di dekat kali," jawab Wong Ayu.
Satria Piningit refleks melihat ke belakang melalui kaca spion tengah mobil.
Perempuan kuntilanak merah itu duduk di samping Sarti. Wajahnya pucat. Sepasang matanya sendu, mengalirkan air mata darah.
Bulu kuduk Satria Piningit meremang. "Kalian semua melihatnya? Dia duduk di samping Sarti," ujar Satria Piningit.
"Kadang-kadang memang. Kalau sekarang ...," Sarti memandang ke arah samping, di sebelahnya, "... tidak," ujarnya santai.
__ADS_1