Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Delapanpuluh Satu


__ADS_3

Kedua tim khusus Kepolisian tercerai berai. Mereka tak bisa membayangkan bahwa secara tiba-tiba, beberapa orang rekan dalam tim mereka menyerang rekan-rekannya sendiri.


Rentetan tembakan dalam jarak dekat langsung membunuh beberapa anggota yang tak awas dan kebingungan. Yang masih sempat sadar, meski cukup syok dan bingung pula, merespon dengan menembak terlebih dahulu. Tembak-menembak terjadi. Beberapa anggota kembali tumbang, terluka berat, sekarat ataupun tewas ditempat.


Formasi pasukan terpecah. Apalagi, tak lama pemuda-pemuda berparang menyerbu bagai orang kesetanan. Mereka muncul dari balik pepohonan dan sobekan malam.


Darah terciprat secara dramatis diiringi teriakan kematian yang memilukan.


Anggota yang selamat langsung mundur, melarikan diri di balik pepohonan sawit. Dengan geram dan perasaan campur aduk, mereka harus meninggalkan teman-teman mereka yang tak mampu pergi untuk kemudian dicincang dengan bacokan pemuda-pemuda gila itu. Bahkan mereka sempat melihat dengan kepala mata sendiri, rekan anggota tim kesatuan khusus yang kesurupan tadi akhirnya menembak kepala mereka sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Para pemuda kini merlengkapi diri mereka sendiri dengan senjata api tambahan milik tim khusus yang separuhnya telah mereka bantai di hutan kelapa sawit di dekat Kampung Pendekar tadi.


Bandi rupa-rupanya mendapatkan tugas dan mandat untuk memimpin para pemuda menghadapi serangan dari luar kampung sekaligus memberikan serangan di lapisan pertahanan terluar wilayah Kampung Pendekar. Ini dianggap merupakan sebuah jebakan bagi gerombolan orang-orang berilmu yang merusuhi rencana mereka, dimana Affandi dan pemuda-pemuda lain menghadapi dari dalam.


Untuk sementara, Bandi harus mengakui bahwa impiannya menjadi penguasa harus ditangguhkan dan rencana disusun ulang karena kedatangan Affandi dengan bekingan Nyi Blorong. Adalah sebuah hal yang tak mungkin ia duga. Tapi, ia yakin kelak ia akan mencapai mimpinya. Sekarang ia harus fokus bekerja sama dengan laki-laki berilmu lebih tinggi itu untuk menghadapi para pengganggu tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana memegang keningnya. Rasa pening itu menggelayut kuat di rongga kepala sampai telinganya berdengung serta kedua bola matanya berdenyut sakit.


Ia tersentak. Chandranaya mengambang di depannya. Kuntilanak merah itu meringis mengerikan. Darah keluar dari sela-sela giginya yang memerah. Sepasang matanya melotot dengan air mata merah berdarah pula.

__ADS_1


"Bangsat!" rutuk Soemantri Soekrasana karena terkejut. Ia geram sekali dengan perilaku hantu perempuan yang sesuka hatinya tersebut memunculkan dirinya. Wajahnya yang mengerikan itu tak pernah membuat Soemantri Soekrasana terbiasa walau entah sudah berapa lama arwah itu menempel di jiwa dan raganya.


Kepalanya yang berdenyut sakit itu mulanya sedang dalam sebuah proses interpretasi gaib. Ada banyak kejutan hari ini, kemunculan Wardhani adalah salah satunya. Kini, otaknya dipenuhi kelebatan penampakan yang membuat Soemantri Soekrasana mencoba setengah mati untuk menerjemahkannya menjadi sebuah gambaran utuh yang bermakna.


Namun, selagi kepalanya mumet, Chandranaya muncul tiba-tiba dengan seringainya yang menakutkan itu.


"Apa maumu, sundal! Bisa tidak kau menampakkan diri tanpa mengejutkanku selalu?" bentak Soemantri Soekrasana.


Chandranaya terkikik kemudian jari telunjuk kurusnya ke depan terentang merujuk ke satu arah.


Di sana terlihat Anggalarang berdiri membelakangi Soemantri Soekrasana. "Anggalarang, apa yang kau lakukan? Aku harap Maung sedang dalam keadaan siap?" serunya.


Kabut mendadak menebal. Sosok Anggalarang dengan segera tertutupi selimut kabut yang dengan cepat menelannya. Sosok Anggalarang kemudian hilang, hanya dalam sepersekian detik.


Soemantri Soekrasana tak sempat berkata apa-apa, bingung memilih kata, sama bingungnya melihat kejadian di depan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terjangan mimis timah panas datang membabi buta bagai hujan horizontal, mencoba memapras habis tubuh lawan. Sarti berlompatan dengan gesit di atas atap bangunan rumah satu ke rumah lainnya menghindari tembakan demi tembakan. Tembakan menghancurkan atap dari seng dan dinding bangunan, memporakporandakannya. Tembakan juga mengajar binatang-binatang kiriman Wong Ayu yang kini sudah tinggal sisa dan berantakan kehilangan arah karena mantra pengikat Wong Ayu terlepas ketika ia tadi hampir saja tertembak.


Beberapa pemuda dengan roh halus di dalam tubuh mereka yang sebelumnya sibuk membacoki binatang-binatang melata menjijikkan namun juga berbisa itu langsung memanjati bangunan dengan menggigit parang panjang hampir serupa kadal. Mereka ikut mengejar Sarti. Tembakan nyasar ke punggung mereka disebabkan oleh rekan-rekan pemuda satu kampung mereka yang menembak dengan acak dan berantakan.


Tapi itu tak menjadi masalah. Mereka hanya terluka dan langsung kembali sembuh, kemudian merambati bangunan dan berlari cepat, melompat meloncat memburu Sarti.

__ADS_1


Tubuh Wong Ayu menghilang, kemudian muncul dengan cepat di tempat lain ketika tembakan juga menyasar ke arahnya. Ia kemudian melemparkan bola-bola api yang dibentuk dari kedua telapak tangannya ke arah musuh.


Ledakan balasan terjadi.


Pemuda yang terbakar berguling-guling di jalan beraspal sampai api di tubuh mereka padam. Beberapa bahkan sempat mati karena saking panasnya lidah bara yang diciptakan Wong Ayu tersebut. Tapi, seperti biasa, mereka kembali bangun dan utuh, mengambil senjata dan menembaki lagi.


Wong Ayu menghilang dan muncul di tempat lain, menembakkan api, memuntahkan lebah dan penyengat dari mulutnya untuk menyerang.


Peta pertempuran belum berubah.


Para pemuda semakin menggila karena mendapatkan kumpulan musuh yang kuat dan sakti ini. Mereka gemas dan merasa peperangan semakin seru. Para pemuda tersebut memang sudah gila!


Sarti mencelat menyerang para pemuda yang bergerak cepat bagai terbang melompati atap. Gerakan mereka semakin lama semakin cepat. Mereka pun seperti tak memiliki rasa lelah sama sekali. Sepasang mata batin Sarti melihat bahwa tubuh para pemuda tidak hanya dihuni satu mahluk halus, namun dapat sekaligus empat sampai lima entitas gaib berbagai jenis.


Mungkin itu juga sebabnya tombak Baru Klinthing tak bisa begitu saja membunuh mereka.


Lima pemuda maju memburu menderu ke arah Sarti. Parang panjang siap membacok tengkorak kepalanya. Dengan cekatan Sarti menyelip dalam sela-sela keroyokan dan menusukkan tombaknya.


Darah terciprat, tubuh berjatuhan, namun kembali bangkit hidup lagi.


Tak lama, dari sisi laian melalui sudut pandangan mata batinnya, Sarti mendadak melihat beragam jenis mahluk halus meluncur ke arah para penyerangnya. Ia melihat Chandrananya sang kuntilanak merah sebagai salah satu diantaranya.


Mahluk-mahluk astral yang berada di pihaknya itu melesak masuk ke tubuh para pemuda dan bertarung di dalamnya. Hantu perempuan Tionghoa memekik memekakkan telinga ketika rekahan di kepalanya melebar dan mengalirkan lebih banyak darah. Ia bersama hantu perempuan lain yang merangkak kayang dengan kepala terpuntir, menerobos ke tubuh para pemuda.

__ADS_1


Chandranaya membuka lebar mulutnya, bahkan sampai mengoyak pipinya. Sepasang matanya yang merah darah melotot mengancam para arwah yang bersekutu dengan para pemuda.


Mahluk-mahluk halus di dalam tubuh para pemuda bermunculan menembus kulit. Mereka berteriak-teriak, mengikik bahkan menggeram. Pertempuran gaib sudah dimulai, apalagi kekuatan Chandranaya memaksa para mahluk halus untuk berusaha sekuat tenaga tak lepas dari inang mereka.


__ADS_2