Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketigapuluh Dua Kusuma Dewi


__ADS_3

Hati Kusuma Dewi hancur berkeping-keping, pecah berantakan dan remuk redam. Apa yang sudah ia lakukan dan korbankan selama ini adalah sebuah ironi. Bagaimana bisa jalan setapak kehidupan mengarahkannya kepada hal yang bertentangan semacam ini. Ialah yang notabene sedang berusaha membunuh orang yang ingin ia miliki dalam hidup.


Perjalanannya ke Dusun Pon dan perjanjiannya dengan para iblis adalah sebuah usaha untukdapat memiliki hati Anggalarang. Namun, kekuatan sihir yang ia miliki ini pula yang melukai sang kekasih. Bahkan ia sendiri telah diperbudak oleh kuasa kegelapan tersebut.


Kusuma Dewi menahan diri setengah mati untuk tak meraung-raung menangis dan meneriakkan nama  Anggalarang. Ia hendak melawan kepuasan yang sedang ingin dicapai oleh kekuatan jahat yang menempel membenalu dalam tubuh dan jiwanya itu.


Sang ular mendesis riang. Ia benar-benar menikmati pertarungan batin Kusuma Dewi yang berada dalam penyesalan luar biasa, sekaligus kesedihan, penderitaan dan kembali pada benci diri. Kusuma Dewi mengutuki diri sendiri, berpikir bahwa jangan-jangan ia memang adalah seorang perempuan sampah dan tak berguna.


Sang siluman ular menjilati semua rasa Kusuma Dewi itu, mereguk dan menenggaknya sampai puas, melahapnya sampai kenyang.


Kusuma Dewi menguatkan diri. Ia membiarkan dirinya kembali ditelanjangi. Semua pikiran dan perasaan yang selama ini ia bagi cuma-cuma sedang dinikmati sang iblis betina. Tak perlu ada kekhawatiran lagi. Ia akan melepaskan semua, mengumpankan kepada sang iblis penguasa jiwa dan raganya untuk sebuah pengorbanan terakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggalarang mnedapatkan dirinya bersimpuh di sebuah dataran berumput segar yang luas. Maung berdiri dengan keempat kakinya dalam bentuk sejati, seekor harimau putih besar. Anggalarang paham bahwa Maung lah yang berdiri di depannya walau hamparan lapangan berumput ini dipenuhi dengan puluhan harimau putih lain.

__ADS_1


Harimau-harimau itu anehnya tidak dalam sebuah kondisi yang mengancam, padahal membayangkan puluhan ekor harimau putih yang bisa dikatakan bukan sekadar binatang biasa harusnya bukanlah sebuah pemandangan yang  menenangkan. Namun benar itu yang terjadi. Anggalarang merasakan sebuah rasa kepercayaan yang luar biasa besar kepada sosok-sosok tersebut. Mereka tak menggeram, tak meraung, tak memamerkan taring dan cakar mereka. Bagai kucing-kucing raksasa yang menggemaskan, kebanyakan dari mereka berbaring atau menempelkan perut mereka ke tanah berumput. Bagai gumpalan kapas, Anggalarang dibuatnya geregetan.


"Aku paham maksudmu, Maung. Tak akan ada lagi keraguan dari dalam diriku. Selama ini memang kau lah yang selalu ada buatku. Kau menjaga dan melindungiku dari segala jenis marabahaya dan malapetaka. Aku serahkan segala keputusan kepadamu," ujar Anggalarang.


Maung datang bersama para mahluk purba yang sudah hidup ratusan tahun sama dengannya. Maung ingin menyampaikan bahwa memang inilah jalan kehidupan Anggalarang. Seberapa kuat ia menentang keberadaan Maung dan segala kuasanya, sekuat itu pula kenyataan memukulnya. Ia tak mau berbohong bahwa Kusuma Dewi telah memberikan semua hal yang ia impikan, cinta dan kedamaian, bukan sekadar hawa nafsu yang membabibuta. Tapi, mana ia tahu bahwa gadis indah itu menyimpan mahluk mengerikan di dalam dirinya. Tak mungkin dua entitas - terhitung tiga - dalam tubuhnya dan dalam tubuh Kusuma Dewi yang bertentangan itu dapat berjalan bersama. Ia dan Kusuma Dewi tak ditakdirkan bersatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raungan sirene motor-motor Polisi menyalak dari kejauhan. Laporan yang diterima adalah mengenai aksi perampokan di sebuah kompleks apartemen mewah. Salah satu anggota perampok itu dengan tindakan gila dikabarkan menembaki warga. Suasana menjadi sangat menegangkan, rawan dan berbahaya sehingga kendaraan dan orang-orang yang sedang bepergian memutuskan menghindari melewati jalan utama di dekat apartemen.


Para warga yang sedari awal merasa bahwa kejadian aneh di tempat mereka ini akan menimbulkan bahaya, sudah segera meninggalkan apartemen mereka. Yang penasaran, kini malah menjadi panik serta ketakutan setengah mati. Sebuah keputusan yang langsung disesali. Kebanyakan bersembunyi di dalam kamar apartemen mereka dan mereka lah yang menghubungi kepolisian. Sebuah langkah yang harusnya paling normal dan masuk akal.


Bagaimana tidak, Wardhani sedang bermain-main dengan tubuh sang preman yang kaku sekali untuk dikendarai. Bujukannya kepada sang preman berhasil seratus persen, tapi bukan itu masalahnya. Si preman itu ternyata begitu pandir dan ceroboh, dungu pula. Pantas pekerjaannya menjadi seorang preman. Menembak saja ia tak becus. Sudah beberapa peluru menggasak sasaran kosong, meskipunsatu mengenai korban, itupun tak bisa dikatakan telak.


Walau begitu, rencana awalnya telah berhasil. Sang siluman ular prajurit Nyi Blorong itu pastilah sudah menikmati hasilnya, membunuh sosok laki-laki bernama Anggalarang yang membawa harimau putih purba di dalam tubuhnya, pikir Wardhani. Bila si ular hijau betina itu bisa menikmati karyanya, mengapa ia tak bisa bersenang-senang sedikit? Pikirnya lagi.

__ADS_1


Ia menenyentak tubuh sang preman sehingga tubuhnya mencelat tinggi. Wardhani hendak menghabisi satu dua korban dari jarak sedekat mungkin. Ia mendekati sepasang suami istri yang terjebak di dalam mobil. Tadi keduanya hendak melarikan diri, menjauh dari tempat kejadian perkara. Namun, kepanikan membuat darah mereka beku dan otak tak berjalan lancar. Mobil mereka pun tak bisa maju ataupun mundur akibat mobil-mobil lain yang menghalang rintang karena ditinggalkan pengemudinya yang memutuskan lari dengan kaki atau berlindung di kompleks bangunan apartemen sembari menunggu bantuan yang diharapkan segera datang.


Nasib sial nampaknya sedang menghampiri keduanya. Teriakan sang istri teredam kaca mobil. Sang suami memasang badan secara otomatis untuk melindungi pasangannya.


Tak perlu, pikir Wardhani. Kalian berdua toh akan bergabung dalam kematian.


Pistol sudah diarahkan moncongnya ke kaca mobil dimana sepasang suami istri itu terjebak rasa takut mereka sendiri. Sebodoh-bodohnya sang preman, dalam jarak sedekat ini, bukanlah perkara sulit untuk melepaskan tembakan untuk tepat mengenai kepala atau bagian-bagian vital lainnya. Kegilaan memang sudah membungkus jiwa gelap Wardhani.


Sang preman tersentak. Letusan terdengar, dua kali. Tapi bukannya mengarahkan ke dalam mobil, sang preman menembakkan pistolnya ke atas kap mobil.


Ada sosok perempuan di atas kap mobil yang mendadak muncul entah darimana, merangkak bagai seekor kadal. Perempuan itu melotot, mendelik ke arah sang preman dengan sepasang matanya yang merah dan meneteskan darah, semerah kebaya yang ia kenakan. Sosok kuntilanak merah itu menyeringai mengerikan penuh ancaman.


Wardhani yang mengenal baik sang kuntilanak merah sebagai Chandranaya yang biasanya hadir bersama sang dukun muda, Soemantri Soekrasana, itu segera menarik dirinya. Tubuh sang preman terseret mundur.


Ada ketakutan ganda di sana.

__ADS_1


__ADS_2