Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tigapuluh Delapan


__ADS_3

Satria Piningit tak percaya dengan apa yang ia lihat. Di atas tempat tidur itu, Anggraeni istrinya, sedang berbaring di sana. Ia terlentang di samping Priyam dan Ngalimun. Namun kedua matanya terbuka lebar, melotot.


Bukankah ia dengan jelas melihat istrinya tak ada di tempat tidur tadi? Lalu siapa yang ada di kamar mandi?


Dengan cepat Satria Piningit menyentuh bahu istrinya, "Sayang, sayang ...," ujarnya setengah berbisik agar tak membangunkan kedua anaknya, tetapi sembari menggoyang-goyangkan bahunya.


Tak ada yang terjadi. Sang istri masih melotot memandang kekosongngan.


Satria Piningit menggoyang-goyangkan bahu Anggraeni semakin keras. Masih tak ada reaksi.


Satria Piningit berdiri menjambak rambutnya sendiri. "Sial ... Sial ...!" katanya frustasi.


Namun kemudian ia melihat ke arah kamar mandi yang lampunya masih menyala. Tak menunggu waktu lagi ia menuju ke sana dan membuka pintunya.


Sang kuntilanak merah mengambang di atas lantai kamar mandi.


"Bangsat! Apa yang kau mau dariku? Apa yang sudah kau lakukan dengan istriku? Jangan kau libatkan dia!" ujar Satria Piningit dengan teriakan tertahan.


Kuntilanak merah itu kembali menangiskan darah dari kedua matanya, kemudian terkikik memilukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Rupanya tidak hanya aku yang mengejar para budak setan itu. Namun sekarang aku harus memburu Herman lagi karena empat mahluk dengan kekuatan gaib muncul untuk ikut mereguk kenikmatan darah!" desis Yakobus Yakob setelah melihat sisa penjahat yang belum mati berlarian keluar terbirit-birit demi nyawa mereka.


"Bangsat! Kau yang melindungi mereka, bukan?" balas Sarti kepada Yakobus Yakob.

__ADS_1


Wong Ayu memegang lehernya yang masih terasa dicengkram kuat oleh mahluk dengan rajah yang menjadi bajunya itu. Ia memandang Yakobus Yakob yang berdiri angkuh. Tangannya mulai memercikkan api kembali.


"Tunggu, Yu! Kau juga, Sarti!" seru Soemantri Soekrasana. Ia juga melihat Maung yang kini telah berubah kembali menjadi Anggalarang yang masih mendeprok di lantai lemas.


"Ada apa dengan kalian? Aku pikir kedatangan kita kemari untuk mengikuti sinyal suar yang kau katakan terus menyala memberitahukanmu bahwa sang iblis perempuan itu kembaki berusaha menggunakan kekuatannya untuk keluar, Yu?" tukas Soemantri Soekrasana kepada Wong Ayu.


"Itu benar. Kau lihat orang itu, Soemantri? Dia lah Yakobus Yakob yang digunakan oleh perempuan iblis itu untuk melaksanakan niatannya. Ia membantu menabur bibit-bibit kejahatan," balas Wong Ayu.


Walau tak terlihat jelas, Soemantri Soekrasana dapat merasakan sosok hitam itu mengernyitkan keningnya. Sepertinya ia berada dalam sebuah keadaan yang juga tak ia mengerti.


"Katakanlah seperti itu, lalu apa maksud kalian ikut-ikutan membunuhi orang-orang ini tanpa ragu seperti menepuk nyamuk saja?" sambung Soemantri Soekrasana.


Sarti kini yang menyahut, "Mereka pantas dihabisi, Soemantri. Ini adalah gudang para penjahat, orang-orang yang selama hidupnya hanya membuat orang lain sengsara dan dunia terus-terusan terluka."


"Baik ... Baik. Toh sebelum aku bertemu kalian, membunuh orang lain sesepele ini adalah pekerjaan dan kegemaran kalian. Aku bisa apa? Lalu mengapa mengajakku ke tempat ini? Kenapa tak urusi nafsu membunuh kalian sendiri tanpa pembenaran akan kemunculan iblis perempuan itu lagi?" ujar Soemantri Soekrasana.


"Bukankah kau lihat sendiri, Soemantri. Bahwa orang itu, Yakobus Yakob, yang muncul di dalam penglihatanku itu sedang menyerang kami tadi?" Wong Ayu menaikkan nada suaranya.


"Yu, yang aku lihat, kalian semua bagai sekumpulan serigala yang berebutan bangkai kijang. Kalian membunuhi orang-orang itu, termasuk kau, bila memang kau adalah Yakobus Yakob. Aku melihat mayat-mayat dengan gaya pembunuhan yang berbeda dengan rekan-rekan pahlawanku ini di lantai bawah sana," ungkap Soemantri Soekrasana. Nada suaranya begitu sinis sembari menekankan kata pahlawanku.


Ia menoleh kepada Anggalarang yang kini sudah berdiri. Terlihat lelah. "Kau tak mau protes, Anggalarang?"


Jeda.


"Sudah kuduga. Pantas saja sekarang kau dapat akur dengan Maung. Siluman itu sudah dari awal mencium dendam kesumatmu. Ia sudah tahu bahwa bagaimanapun kelak kalian akan saling setuju. Kau juga haus darah, tak ubahnya Maung." Anggalarang terdiam, bak anak kecil yang habis dimarahi oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Tidakkah kalian curiga bahwa kita diumpankan di gedung ini? Kalian terlalu silau oleh perasaan kalian sendiri yang sudah berkesan megalomania dan sindrom heroik, tanpa benar-benar mencoba mencari tahu kebenarannya," lanjut Soemantri Soekrasana.


"Aku juga mendapatkan firasat dan penampakkan yang kurang lebih sama dengan Wong Ayu," bela Sarti.


" ... dan kau yang sudah ratusan tahun ini dengan ceroboh sama sekali tidak mengacuhkan pengelihatan itu, malah sibuk berpesta-pora, berkubang dalam darah, bukan? Kalau kau melihat orang itu dalam mimpi atau apapun itu, mengapa tidak dari awal kau kejar dan cari dimana dia berada ...," Soemantri Soekrasana menuding-nuding ke arah Yakobus Yakob yang masih terdiam seperti mencoba memamah segala informasi yang mungkin ia bisa dapatkan, " ... sedangkan, pertemuan kalian dengan yang mbakyu Wong Ayu sebut dengan Yakobus Yakob itu adalah kebetulan belaka, bukan?"


Yakobus Yakob mengitarkan pandangan kepada keempat orang asing yang mengenal namanya. Masih terlalu banyak perihal juga yang masih menjadi misteri, termasuk penyebutan 'perempuan iblis', atau mengapa mereka juga begitu sakti dan mengetahui tentang namanya.


"Kau menguasai mantra Dayak dan berkomunikasi dengan dunia astral?" ujar Yakobus Yakob datar kepada Soemantri Soekrasana.


Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bunyi ledakan yang luar biasa besar mengguncang. Gelombang udara menerpa bangunan dimana Catur Angkara dan Yakobus Yakob berada.


Anggalarang dan Soemantri Soekrasana menunduk dan melindungi kepala mereka. Wong Ayu dan Sarti saling pandang, tubuh mereka membusung.


Getaran itu terus menyapu dinding dan jendela kaca, menggoyangkan grendel pintu dan kaki kursi serta meja.


Soemantri Soekrasana memandang tajam Wong Ayu seakan ingin berkata, "Apa kataku? Kau lihat sekarang apa yang terjadi?"


Saat itu pula, wajah Yakobus Yakob berpaling ke arah kemungkinan terjadinya ledakan besar itu. Tak lama, sosok Yakobus Yakob yang hitam jelaga memecah dan menghilang dari pandangan bagai selembar kertas yang terbakar.


Keempat anggota Catur Angkara saling pandang. Mereka sadar bahwa Yakobus Yakob mungkin memang terlibat dalam kejadian ini, akan tetapi ia hanyalah unsur pembentuk cerita yang sedang dijalankan kekuatan gelap yang mengintai, sebagai dalang pementasan ini. Sedangkan mereka sendiri adalah unsur lain dalam alur kisah yang belum mereka tahu pasti perannya.

__ADS_1


Kini kesemuanya sedang berada di dalam kelambu pertanyaan demi pertanyaan yang menggelembung. Mereka tidak bisa berpaling dari fakta bahwa sesungguhnya mereka menikmati adegan pembunuhan dan penguasaan darah seperti yang Soemantri Soekrasana katakan. Ucapan sang dukun muda itu menyetrum kesadaran mereka sehingga mau tak mau, meski sementara di dalam hati, Wong Ayu, Sarti dan Anggalarang harus mengakuinya.


__ADS_2