Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Penerangan


__ADS_3

Beberapa warga dusun Pon laki-laki berumur separuh baya, beberapa lebih tua dan lebih banyak lagi anak-anak yang lebih muda berkumpul di sebuah rumah joglo sederhana milik salah satu tokoh Dusun Pon. Percakapan cepat, keras dan meletup-letup panik terdengardi sela-sela udara.


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Ada sosok kuntilanak melayang terbang di atas atap rumahku. Istri dan anak perempuanku yang jadi saksi. Keduanya sekarang meringkuk di ruang tamu. Masih untung ada anak laki-laki dan menantuku yang kini berusaha untuk menenangkan mereka. Menurutku, tak perlu ada pembahasan lagi. Bila kita tidak percaya dengan kejadian-kejadian tersebut, tak mungkin kita semua berkumpul di tempat ini, bukan? Setiap dari kita menyaksikan beragam kejadian mistis dan apakah masih mencoba menyangkalnya, mencari penjelasan masuk akalnya? Sudah berapa tahun kita seperti ini? Sudah berapa lama kita mengecewakan mendiang orangtua dan nenek moyang Dusun Pon yang percaya pada hal-hal gaib di dusun kita ini? Tak bisakah kita kembali memikirkan betapa jahat dan tak acuhnya kita pada Mbah Darmo yang masih berusaha hidup untuk menjaga tempat-tempat keramat itu?" ujar salah satu lelaki tua baya dari yang delapan itu panjang.


"Aku juga tak bisa memikirkan penjelasan lain ketika melihat mendiang pamanku muncul petang tadi di rumahku. Ia memandang kosong ke arahku untuk beberapa detik, kemudian menghilang menembus dinding," ujar tua baya lainnyamenimpali.


Penjelasan kedua orang yang dituakan ini langsung disambut dengan riuh rendah suara yang lain. Para pemuda juga dengan gamblang menjelaskan pengalaman mereka malam ini yang sedikit banyak menceritakan hal-hal gaib diluar nalar yang serupa. Arwah beragam bentuk dengan latar belakang sejarah yang berbeda pula terus-menerus menunjukkan diri. Tidak sedikit dari sosok-sosok hantu tersebut menakuti dan menunjukkan tujuan yang mengancam.


"Bapak-bapak, saya setuju. Kita telah berdosa terhadap para leluhur dengan menyepelekan pemikiran dan cara hidup mereka. Kita hanya menginginkan kemajuan dan kesejahteraan fisik belaka tanpa memerhatikan hal-hal spiritual serta supranatural," ujar Pak Guru Johan, pria empat puluh tahun beranak dua yang berpenampilan klimis, bersih dan memancarkan kesan 'berpendidikan’.


"Pendidikan tidak melulu mengenai modernisasi dan perkembangan jaman. Harusnya pendidikan juga mengetengahkan falsafah hidup, tingkah laku dan tata krama pula. Budaya dan kebiasaan yang telah kita laksanakan selama ini adalah perspektif bagaimana kita melihat dunia dan mencari solusi dalam menghadapi masalah dan tantangan dalam kehidupan," lanjutnya.


Para pemuda dan bapak-bapak, terutama yang memiliki pendidikan kurang, memandang Pak Guru Johan melongo dan dengan tatapan kosong. Mereka tak paham dengan apa yang diucapkan laki-laki ituberkenaan dengan falsafah, perspektif, solusi dan sebagainya.

__ADS_1


Namun, yang jelas, sosok Pak Guru Johan cukup dihormati di Dusun Pon karena memiliki pekerjaan yang dianggap terhormat, yaitu seorang guru sekolah menengah Negeri di pusat Kabupaten. Intinya ia dianggap sebagai seorang yang bergaya hidup dan berpikiran modern serta pintar. Maka, ucapan apapun yang baru saja disampaikan, pastilah memiliki kebenaran dan pertimbangan yang bijak serta terpelajar.


Semua mengangguk.


Sama seperti yang lain, Pak Guru Johan malam ini berkumpul dengan para warga karena melihat tiga pocong di belakang rumahnya di temaram magrib tadi. Bungkusan tubuh tiga mayat itu kotor oleh tanah kuburan. Wajah mereka pucat mayat, pasi mati, bangsat jasad. Sebentar kemudian, ketiga sosok pocong tersebut kemudian menghilang. Masih mencoba menyangkal penglihatannya, Pak Johan kemudian mendapati dirinya memeluk salah satu pocong itu di tempat tidur, bak sebongkah guling belaka. Teriakan Pak Guru Johan mengagetkan istri dan dua orang anaknya, apalagi ketika ia lihat baik-baik hanya ada istri yang sedari tadi ia peluk.


Semua orang masih terus memberikan cerita dan pemikiran tentang apa yang sedang terjadi kepada mereka ketika dua orang warga lain tergopoh-gopoh datang dan melaporkan kebakaran di dua pohon beringin tua keramat di pojok lapangan dusun dan ditemukannya jasad Mbah Darmo mengapung tak jauh darisungai tempat biasa ia melakukan ritual penjagaan dan perawatan tunggul kayu keramat.


Kegegeran langsung melanda rumah joglo tersebut. Kabar kematian Mbah Darmo terlalu mengejutkan, apalagi berhubungan dengan berita kebakaran pohon beringin keramat dusun ini. Tidak mungkin setiap kejadian yang terjadi dalam waktu singkat tersebut tidak saling berhubungan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rumah keluarga Pak Guru Johan adalah yang memiliki penerangan paling baik di Dusun Pon yang miskin dan terasing itu. Walaupun sederhana, tapi terlihat sekali keteraturan dan keindahannya. Selain bersih, penataan tanaman di pekarangan serta teras rumah sangat menunjukkan selera yang baik.

__ADS_1


Istri Pak Guru Johan yang asli Dusun Pon kerap mendapatkan pujian dari warga. Ia dianggap beruntung bersuamikan seorang Pegawai Negeri, guru pula, yang membuat ia sekarang lebih pandai merawat diri, rumah serta mengurus keluarga. Belum lagi kedua anak laki-lakinya yang sehat dan bersih-bersih, bila harus dibandingkan


dengan anak-anak warga dusun Pon yang rata-rata dekil dan lusuh karena orangtua mereka bekerja sebagai kuli, petani, tukang bangunan sampai buruh.


Kalau sudah begini, sang istri hanya tersenyum bangga.


Dua anak laki-laki Pak Guru Johan yang berumur lima tahun delapan bulan dan empat tahun pas itu berlarian di teras rumah, menepis kabut tipis. Keceriaan kanak-kanak keduanya membuat istri Pak Guru Johan ikut tertawa gembira. Entah sedang pergi kemana sang suami setelah tadi ia berteriak panik setelah memeluknya di kamar tidur, mengagetkan dirinya dan kedua anak laki-lakinya.


Padahal seperti biasa, setelah magrib, ia biasa baringan di atas tempat tidur, dan sang suami juga biasa akan masuk ke kamar berbaring di sebelahnya bahkan sambil memeluknya. Namun tadi, Pak Guru Johan, sang suami,berteriak-teriak menggegerkan seisi rumah.


Mungkin karena malu atau bingung, suaminya itu mendadak pergi entah kemana. Sang istri menggelengkan kepalanya karena pusing memikirkan hal tersebutdan bertanya-tanya apa sebenarnya yang dialami sang suami tadi.


Istri Pak Guru Johan memandang kedua anak laki-lakinya yang masih berlarian di depan teras, tak mengetahui bahwa sepasang mata di balik kabut ikut memerhatikan mereka. Penerangan rumah Pak Guru Johan tersebut tidak mampu menembus kekelaman yang terseret sang pemilik sepasang mata itu.

__ADS_1


Di balik gelap dan kabut, Girinata mengambil sebilah keris yang ia selipkan di ikat pinggang bagian belakang celananya. Ia melihat tiga sosok pocong muncul di atap. Ia tersenyum, kemudian melangkah pasti ke arah kedua anak laki-laki Pak Guru Johan yang sedang berlari-lari bermain ceria.


__ADS_2