Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Air Mata Hitam Kelam


__ADS_3

Girinata tersentak mundur ketika keris pusaka itu melesak masuk ke daging tubuh si dukun muda sehingga genggamannya juga ikut terlepas. Tidak hanya itu, kedua lengannya yang menghitam kemudian retak di permukaannya lalu pecah berderai bagai tembikar tanah liat.


Girinata terpekik tertahan atas kejadian ini walau kemudian dapat segera mengatasinya.


Kini Girinata bagai telah berganti kulit. Hitam di bola matanya perlahan ikut menghilang, meleleh bagai air mata hitam kelam ke kedua pipinya.


Girinata menarik nafas. Para mahluk gaib berhenti bergerak. Mereka melayang-layang dan berkelap-kelip kadang terlihat oleh mata telanjang, kadang tidak. Namun mereka sudah tak berusaha menyerang Soemantri Soekrasana lagi.


"Asu buntung! Tunggu nanti setelah kuambil keris itu lagi, baru kalian akan menuruti semua kemauanku!" gertak Girinata. Ia kesal karena para hantu dan arwah gentayangan itu tak meneruskan pekerjaan yang ia perintahkan karena keris Mpu Gandring tak sedang berada di tangannya walau ia lega melihat Soemantri Soekrasana terkapar mati di sana.


Habis sudah masalah malam ini yang mengganggu segala rencananya.


Girinata meraih paku logam bertuliskan rapalan mantra yang tertatah di permukaannya dari sakunya. "Kemari kau, Marni!" serunya.


Si sundel bolong muncul di samping Girinata, melayang tak menyentuh tanah. Rambutnya yang menggunung dan panjang itu menutupi sebagian menutupi jubah putih kumal dan terciprati darah tersebut. Marni dengan taat menunduk ketika Girinata menancapkan kembali paku di puncak kepalanya.


Teriakan penuh kepedihan keluar dari mulut Marni yang tubuhnya kembali berasap tebal bagai bebakaran sampah.


Setelah asap tebal itu menghilang bersama teriakan panjang, tubuh manusia perempuan muda Marni muncul. Marni lunglai tergeletak di tanah. Kemben kain kafannya tersibak, mempertontonkan kulit kuning langsat yang tersorot jelas oleh lampu-lampu terang rumah Pak Guru Johan. Kedua dadanya menggembung padat dengan pucuk merah darah yang sedang tunduk dan kempis.

__ADS_1


Girinata tersenyum lega menyaksikan tubuh molek manusia istrinya sudah kembali utuh lagi.


Kini Girinata menggunakan mata batinnya untuk melihat ke arah para mahluk halus yang masih melayang terdiam. Ia lalu mendekati tubuh Soemantri Soekrasana hendak mencabut keris dari lambung kiri pemuda itu sebelum kemudian entah untuk keberapa kali ia tersentak mundur ke belakang dan jatuh terduduk dengan keras.


Ketahuanlah sudah mengapa Girinata bertindak sedemikan rupa. Rupa-rupanya, mendadak sejenak tadi sosok kuntilanak merah Chandranaya muncul tepat di depannya, melayang dengan kedua lengan terentang. Sosok itu terkikik keras-keras. Mata merah menangis darah memandang tajam ke arah dirinya, sedangkan mulutnya membuka selebar mungkin menyemburkan suara galak dan mengerikan.


Segala roh dan arwah, siluman, iblis dan setan yang sempat melayang diam kini bergerak kesana-kemari dalam sebuah lingkaran besar dengan agresif dan ribut. Mereka berbunyi nyaring penuh kengerian memekakkan telinga merespon kedatangan sosok hantu perempuan berkebaya merah tersebut.


Girinata merayap mundur, sungguh bingung dengan apa yang sedang terjadi, apalagi Chandranaya adalah sosok kuntilanak yang membuat jiwanya berdesir gegap dan melipir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Guru Johan melihat istrinya datang tergopoh-gopoh menggendong anak yang paling kecil serta menggandeng lengan anak tertua setengah menyeret. Tak lama, ketujuh orang lainnya ikut memperhatikan kedatangan rombongan itu ke bangunan joglo tempat mereka sedang berembuk.


Lainnya ikut berdatangan dan sama-sama menyaksikan respon perempuan beranak dua warga asli dusun ini tersebut. Istri Pak Guru Johan terdiam kaku, bibirnya hilang merahnya, berubah menjadi seputih daging ayam potong yang telah dibersihkan. Ia memandang wajah suaminya, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling seakan butuh waktu untuk menyerap informasi dan realita.


Tak lama wajahnya yang kaku berkerut dan isakan tangis pecah. Ia memeluk erat suaminya, begitu pula kedua anaknya yang terhimpit diantara kedua orangtua mereka.


Sembari terisak, dengan sangat terbata-bata istri Pak Guru Johan berkata, "Pakdhe Giri ... Muda lagi. Wewe ... Wewe gombel. Anak kita ... Mau dibunuh, Pakdhe Giri jadi muda ...," ujarnya.

__ADS_1


Para warga dusun yang berkumpul di tempat itu kebingungan dengan ucapan patah-patah istri Pak Guru Johan tersebut. Namun berdasarkan pengalaman yang beberapa orang dapati malam ini, mereka menafsirkan ada kemungkinan istri dan anak-anak Pak Guru Johan baru saja mengalami hal gaib atau penampakan seperti yang mereka juga alami.


Pak Guru Johan tak bisa berkata apa-apa. Ia juga sebenarnya bingung harus melakukan apa pun, tak menyangka kejadian yang sedang dibicarakan para tokoh dusun di rumah joglo malam ini terjadi pada keluarganya sendiri.


"Kita akan kerumah Pak Guru Johan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi," ujar salah seorang tokoh dusun yang tak membutuhkan waktu lama diamini sisanya.


Tapi mendengar hal ini, istri Pak Guru Johan mendadak tersentak sadar secara penuh. "Jangan ... Jangan ke rumah kami. Ada banyak sihir disana. Pakdhe Giri, Pakdhe Giri yang ... Yang membawa masalah ke dusun ini. Ia tadi hendak membunuh anak bungsuku sebelum wewe gombel muncul," tukas si istri Pak Guru Johan. Ucapannya kali ini sedikit lebih dipahami yang meski tetap menyisakan misteri.


Selagi semuanya terdiam dalam waktu sepersekian detik untuk memutuskan apa yang harus mereka putuskan kemudian lakukan, sekoyong-koyong muncul sekelebatan bayangan sosok berbalut kain putih melompat, meloncat dan berlari cepat seakan menunggangi angin, melintas ruang satu jalur di depan mata mereka kemudian menghilang dalam sempilan malam.


Beberapa warga yang paling tua jatuh terduduk karena lemas dan syok dengan apa yang mereka barusan lihat. "Wardhani ...," ucap satu orang sepuh yang jatuh terduduk itu pelan.


Sungguh sosok yang terlihat bergerak dengan tak masuk akal bagai hantu itu adalah Wardhani, sang Ratu Dedemit itu sendiri. Gerakannya memang dipicu oleh getaran informasi yang menyeruak secara gaib ke dalam panca inderanya.


Saking cepatnya gerakan ditambah dengan perasaan cemasnya, Wardhani salah satu kakinya terantuk akar tanaman. Ia jatuh bergulingan di tanah. Kulit bahu gelap nan halusnya terluka terbeset oleh kerikil dan pasir. Ini juga karena ada hembusan ombak tenaga misterius yangbaru saja menerjangnya, membuatnya terlempar.


"Ibu ... ! Ibu!" teriak sang gadis keras dengan khawatir. Ibunya sedang dalam bahaya.


Sebagai seorang sang sudah ditahbiskan menjadi penguasa jagad dedemit, mudah bagi Wardhani untuk mengetahui semua hal tentang hantu, arwah dan roh penasaran, serta mahluk-mahluk dari kegelapan, termasuk pergerakan dan keadaan mereka.

__ADS_1


Wardhani bangun, menutup mata sejenak untuk berusaha mengatur tenaga dan perasaannya. Ia tidak boleh panik dan bertindak gegabah seperti ini. Semua sudah berjalan sesuai rencana, maka ia tidak boleh menjadi orang yang bertanggung jawab untuk merusakannya.


Maka, kemudian ketika ia membuka mata dan memulai lari kembali, gerakannya menjadi tiga kali lipat lebih cepat dan gesit. Wardhani melompati tegalan sawah, menyelip diantara pepohonan bambu dan menjejak batu tanpa terpeleset lagi. Tak lama tubuhnya kembali menghilang dalam butiran kabut malam.


__ADS_2