
Kusuma Dewi menghela nafas penuh kepuasan dan kebahagiaan tiada terbatas. Ia sesunguhnya tak menginginkan apa pun lagi di dunia ini. Bahkan sebenarnya ia sudah merasa sebagai pemilik dunia itu sendiri. Dulu dengan membayangkan tubuh Anggalarang melesak ke dalam tubuhnya, yang terjadi adalah semacam ledakan besar hasrat. Seakan-akan Anggalarang adalah sebuah bom nuklir yang dijatuhkan tepat di pusat tubuhnya. Membayangkan hal itu, tubuh Kusuma Dewi akan bergetar hebat, mengejang nikmat.
Nyatanya, ketika akhirnya Anggalarang berhasil masuk secara nyata ke dalam tubuhnya, laki-laki itu melesak dalam bentuk energi murni yang penuh cinta, penuh kasih, menyala panas namun tak membakar sehingga terasa hangat. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Kusuma Dewi sebagai sebuah goncangan besar bagai gempa di muka bumi, sebaliknya Anggalarang tak meledak-ledak. Namun kali masa dentuman gerakan Anggalarang membangunkan setiap sel dalam tubuh Kusuma Dewi. Bila bukan surga, Kusuma Dewi tak tahu apa ini namanya. Bila ini bukan firdaus, Kusuma Dewi tak mau pergi ke sana. Ia lebih baik terjebak di tempat ini bersama dengan kenikmatan yang tak habis-habis tersebut.
Keduanya masih berada di atas tempat tidur, tanpa busana, saling memperhatikan setiap warna, setiap lekuk, setiap bentuk tubuh masing-masing. Kusuma Dewi tak malu ketika Anggalarang memindai kulit pucat dengan bercak-bercak putih nya di berbagai tempat dengan kedua matanya yang teduh, walau kadang begitu nakal. Atau ketika Anggalarang memelototi bintik-bintik hitam di pangkal hidung dan tulang pipinya. Kusuma Dewi membiarkan jari-jari Anggalarang meniti bahu, tulang selangka, menyentuh pucuk dada menegang merah merekah darahnya, menyapu gundukan bokong dan terus bermain di perut serta terus meluncur turun, memasukkan salah satu jarinya ke belahan ke pusat semesta seorang wanita miliknya
Sebagai gantinya Kusuma Dewi tak mau kalah dan merugi. Ia menggunakan punggung jarinya mengikuti lekukan pahatan otot yang terbentuk apik serta menelusuri beragam bekas luka di tubuh dan wajah laki-laki yang begitu ia cintai itu. Keduanya tak saling mengucapkan kata, walau bukan berarti mereka diam. Gerakan dan sentuhanlah yang berbicara.
"Akang suka denganku?" tiba-tiba Kusuma Dewi berujar.
Anggalarang tersenyum tak menatap ke arah Kusuma Dewi. Nampaknya ia membiarkan jawabannya mengggantung. Lagipula Anggalarang masih sibuk menelusuri permukaan kulit halus Kusuma Dewi dengan jari-jarinya.
Hal ini membuat Kusuma Dewi sedikit gusar dan mendesah pelan. Bagi Anggalarang, pertanyaan ini tak perlu diutarakan sama sekali. Kusuma Dewi sudah paham sebenarnya. Namun, Anggalarang memutuskan untuk bermain-main sedikit. Ia memandang mata Kusuma Dewi kemudian menggeleng.
__ADS_1
Sepasang mata Kusuma Dewi melebar, kemudian redup. Ia membalikkan tubuhnya, merajuk. "Aku sadar bahwa aku tak lebih bermakna dibanding gadis-gadis yang pernah tidur dengan Akang. Begitu ‘kan, Kang'?" ujarnya pelan.
Anggalarang mendekatkan tubuhnya dan memeluk Kusuma Dewi dari belakang. Salah satu tangannya menyelip masuk diantara lengan atas Kusuma Dewi untuk menggenggam tonjolan yang menggantung jatuh milik sang gadis. Anggalarang berbisik lirih, "Aku tidak suka dengan kamu, Kusuma Dewi. Aku cinta."
Ada serangan perasaan aneh yang meledak-ledak di sanubari Kusuma Dewi. Perasaan itu mengambil alih semua jenis rasa yang lain sehingga Kusuma Dewi menjadi budaknya. Kusuma Dewi tak mampu menahan senyuman lebarnya. Tubuhnya semakin lepas pasrah dalam kepercayaan dan kedamaian ketika Anggalarang mengeratkan pelukannya.
Anggalarang dan Kusuma Dewi masih terus melanjutkan melakukan ritual pemujaan tubuh pasca bercinta ini sampai dering bel kamar terdengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sosok Belibis yang berdaster selutut lusuh berjongkok di depan Pak Guru Johan di luar pintu lift. Rambutnya terurai kasar dengan percikan tanah dan kerikil kecil menghiasi dan menempel di helai-helai rambutnya. Mulutnya setengah terbuka, mengunyah pasir dan tanah. Sepasang mata dinginnya menghitam tak jelas, bahkan termasuk seluruh bagian wajahnya, bagai sebuah objek foto yang tak fokus: blurry, membayang dan kabur.
Sebenarnya Pak Guru Johan sudah bersama Ratih, sang Belibis, istrinya, selama meninggalkan Dusun Pon. Arwah sang istri berjongkok dan merangkak di sekitarnya setiap hari, setiap saat, melekat padanya, pada kehidupannya.
__ADS_1
Wajah Ratih muncul di cermin kamar mandi kamar apartemennya. Sosok ratih berjongkok di ujung tempat tidurnya. Kadang menempel terbalik di langit-langit di atas tempat tidurnya, membuat Pak Guru Johan tersentak jantungan hampir mampus terkejut setiap membuka mata.
Sosok Ratih Belibis sang istri itu tak lagi nampak bagai manusia. Hampir tak ada satupun hal yang ia kenali dari istrinya itu semasa hidup kecuali wajah, terutama hidung bangirnya - yang baru ia benar-benar perhatikan sekarang.
Sisanya, yaitu seperti keceriwisan serta kebawelannya, hilang tak berbekas. Arwah Ratih sang Belibis selalu berbicara patah-patah, lirih, perlahan dan panjang-panjang. "Bunuuh ...," atau "Bunuhh dirii ...," berulang-ulang. Kadang semacam ada kikikan dan kekehan samar terdengar, meski wajah Ratih selalu terlihat dingin, pucat dan tanpa emosi, dan walau suara yang ia ciptakan penuh dengan dendam dan amarah.
Melihat penampilan hantu mendiang istrinya itu, Pak Guru Johan yakin bahwa Ratih masuk dalam jenis hantu kuntilanak. Jelas bukan sundel bolong atau wewe gombel. Pak Guru Johanterkikik sendiri tanpa alasan bagai orang gila ketika memikirkan hal ini.
Ratih masih berjongkok di lorong. Kepalanya mengikuti arah kepergian Pak Guru Johan.
Pak Guru Johan sudah yakin bahwa malam ini adalah saatnya, saat yang telah dinanti-nantinya untuk sekian lama. Dengan berjalan kaki, Pak Guru Johan menyibak malam. Suara kendaraan hilir mudik dan lalu-lalang di dekatnya tak memberikan makna kehidupan apapun. Dunia ini kini sudah menyempit menyisakan dirinya dan dendam kesumatnya belaka.
Darah menggelegak di balik lapisan kulit Pak Guru Johan ketika tubuhnya akhirnya semakin mendekat ke arah kamar apartemen yang ditinggali Anggalarang.
__ADS_1
Mungkin Kusuma Dewi sedang digencet Anggalarang seperti dirinya dahulu menindih Kusuma Dewi di atas tanah merah di tepi sungai dusun Pon. Atau, mungkin mereka sudah selesai dan saling meredakan ledakan berahi yang berkobar-kobar. Pak Guru Johan masih ingat rasanya tubuh Kusuma Dewi, ia masih terbayang noktah hitam penghancur hidupnya itu.
Sebelum memencet tombol bel kamar tersebut, Pak Guru Johan memasukkan tangan ke saku celana kainnya. Ia meraih sebuah telepon pintar, menekan layar sentuh untuk menelepon seseorang. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Tak boleh ada hal yang terlupakan, apalagi sampai semua rencana ini gagal. Ia sudah habiskan tabungan masa depannya bersama Ratih - yang kini sudah menjelma menjadi sosok kuntilanak lusuh yang terus mengikutinya sembari mengunyah tanah dan pasir itu - untuk meyakinkan semuanya akan berjalan sempurna.