Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Empat


__ADS_3

"Aku tahu mbak ini siapa," ujar Soemantri Soekrasana. Seketika ada titik-titik yang dapat ia sambungkan. "Mbak lah sosok misterius yang membunuh banyak dukun di pulau Jawa selama beberapa tahun terakhir. Mbak menjadi momok para dukun santet dan ilmu hitam. Aku bahkan mendengar banyak dukun berusaha bekerjasama memburu mbak. Mereka bahkan memberi mbak julukan, mereka menyebut mbak dengan Durga," sepasang mata Soemantri Soekrasana menyipit menyadari siapa yang sedang duduk bersamanya ini. Seseorang dekat kesaktian yang luar biasa dan ditakuti banyak orang, terutama memang para dukun cabul dan pengguna ilmu hitam. Ia sendiri sudah mengalami pertunjukan kekuatan sang perempuan.


Mendengar apa yang diucapkan Soemantri Soekrasana, Wong Ayu terkekeh, "Popularitasku sudah mendahuluiku ternyata."


"Dan mbak bangga atas semua tindak-tanduk itu, mbak?" respon Soemantri Soekrasana.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau pikir hidupmu suci dengan mengajukan pertanyaan dalam nada menuduh dan menghakimi itu? Kau juga seorang dukun, bukan? Umur mudamu mungkin bisa membuat dukun-dukun tua terkagum-kagum atas kesaktianmu, apalagi keris Mpu Gandring ada di dalam kuasamu. Tapi jiwamu juga penuh dengan kegelapan, mempelajari kekuatan-kekuatan sesat dan terkutuk. Masih untung kita dipertemukan dengan cara berbeda, tapi bila sampai aku lihat kau sedang meneluh seseorang, kau akan kubunuh, kuhidupkan kembali dan kubunuh lagi berulang-ulang," ular Wong Ayu penuh amarah.


Soemantri Soekrasana menarik nafas panjang, "Hari yang luar biasa aneh," ujarnya lebih kepada diri sendiri.


Ini membuat Wong Ayu berkedip cepat-cepat. Ia sadar ternyata sejenak tadi ia terbawa emosi.


"Aku punya jalan hidup yang berbeda denganmu, mbak. Aku pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk mengobati orang dari penyakit atau wabah akibat teluh dan pekerjaan iblis. Aku mengusir roh yang masuk ke tubuh perempuan dan anak-anak. Aku menyembuhkan, bukan membunuh," jawab Soemantri Soekrasana sembari memandang tajam kedua mata bulat Wong Ayu yang kobarannya mulai meredup.


"Tidak disangka-sangka, pagebluk yang menyerang desa-desa di sekitar daerah ini membawaku bertemu mahluk iblis terkuat dan terkejam yang pernah aku temui. Sosok mbak tiba-tiba datang, dengan kesaktian yang mengerikan, membawaku menghilang dan menyelamatkan diri dari mahluk itu. Mbak ternyata adalah seorang perempuan yang begitu cantik, bukan buruk rupa dan menakutkan seperti kabar burung. Tapi dalam sekejap, mbak juga bisa berubah menjadi seorang perempuan yang penuh dendam dan amarah," ujar Soemantri Soekrasana masih memandang tak lepas Wong Ayu.

__ADS_1


Yang dipandangi merasa sedikit malu dan tak enak hati karena ternyata ia juga tadi menuduh dan menghakimi laki-laki muda ini.


Keduanya terdiam tanpa kata selamaa beberapa detik.


"Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengusir atau mengalahkan mahluk itu?" ujar Soemantri Soekrasana memecah keheningan.


Wong Ayu memijat keningnya perlahan, menunjukkan ia sedang berpikir keras. Soemantri Soekrasana menunggu Wong Ayu untuk menjawab pertanyaan ini. Namun tanpa sadar, sembari menunggu ia memperhatikan detil-detil di wajah sang perempuan itu. Ia masih tak habis pikir bahwa perempuan ini beberapa saat lalu adalah sosok yang ganas nan mengerikan. Padahal wajahnya terlihat lembut, putih cerah dan penuh keanggunan. Sepasang mata bulatnya seperti selalu bersinar, ditambah dengan bulu mata lentik dan alis hitam yang melengkung sempurna. Ada segaris keringat mengalir turun dari dahinya yang dihiasi anak rambut ke pipi dan leher. Soemantri Soekrasana segera memalingkan wajahnya ketika pandangannya tak sengaja turun ke bagian belahan dada rendah Wong Ayu. Ia merasa konyol dan kurang ajar.


 "Soemantri ...," panggil Wong Ayu ketika dilihatnya laki-laki itu memalingkan wajahnya. Dengan tergagap Soemantri Soekrasana menjawab, "Ya ... Ya, mbak. Gimana ... Gimana ...?"


"Semua berawal dari desa Obong di balik gunung itu," kata Wong Ayu menunjuk ke arah gunung kecil yang tertutup embun pagi. "Desa Obong sepertinya menjadi sarang ilmu hitam yang menjadi kekuatan mahluk angkara itu. Ada semacam portal disana yang didukung oleh kekuatan magis sehingga perempuan iblis itu bisa keluar ke dunia fisik dari dimensinya."


"Maksud mbak, warga desa yang membantunya?" tanya Soemantri Soekrasana.


 "Ya. Bukannya kau harusnya tahu bahwa desa Obong adalah basis dukun santet dan orang-orang dengan ilmu hitam?"

__ADS_1


Soemantri Soekrasana cuma mengangkat bahunya.


"Warga desa dengan beragam ilmu dan kemampuan yang mereka miliki mulai melakukan beragam praktik teluh dengan bantuan kekuatan gelap dari dunua lain itu sehingga menciptakan semacam wabah yang membunuh beberapa orang di tiga desa utama yang paling dekat dengan desa mereka. Desa pertama  yang bernama desa Prajuritan adalah lokasi terjauh dari desa Obong. Desa kedua, desa ini, bernama Pancasona. Desa ketiga dimana kita bertemu bernama Kaliabang. Desa itu aku pikir sudah dikuasai mahluk itu beserta pengikut-pengikutnya dari desa Obong."


 "Jadi, tujuan sebenarnya dari mahluk itu adalah untuk menguasai setiap desa?" tanya Soemantri Soekrasana.


Wong Ayu mengangguk. Ia memainkan helaian rambut ikalnya, membuat Soemantri Soekrasana gemas karena pesona perempuan yang lebih tua darinya ini.


"Pada dasarnya, ketiga desa memiliki sejarah yang sangat erat dengan desa Obong di masa lalu. Desa Prajuritan, seperti namanya, dahulu adalah tempat pelatihan para prajurit khusus kerajaan yang dipersiapkan untuk melawan dan menangani para dukun santet dan pesilat ilmu hitam yang meresahkan warga kerajaan. Desa Obong sebagai daerah tempat para rampok berilmu dan begundal-begundal sakti tentu memiliki konflik berkepanjangan dengan desa Keprajuritan. Desa Pancasona, seperti namanya juga, dulu merupakan tempat penghasil jagoan-jagoan berilmu pancasona. Warganya yang memiliki ilmu ini terpecah menjadi dua, yang mendukung para prajurit dan yang mengambil keuntungan dari kesaktian mereka dengan bekerja sama dengan warga desa Obong. Sedangkan desa terakhir ...."


"Desa Kaliabang, tempat pembuangan mayat-mayat dari desa Obong," potong Soemantri Soekrasana. "Konflik terjadi sepanjang sejarah. Dari pertempuran para prajurit dengan para rampok dan jawara, sampai masa modern, pembantaian orang-orang yang dituduh sebagai anggota partai politik terlarang. Mayat-mayat para korban mengikuti aliran sungai Pratama ke desa di bawahnya, Kaliabang," Wong Ayu mengangguk membenarkan.


"Lalu, setelah ketiga desa itu ia kuasai?" Soemantri Soekrasana masih berusaha menghubungkan titik-titik informasi yang ia dapat dan ia analisis sendiri menjadi sebuah kesatuan. Wong Ayu sendiri sebenarnya maklum dengan kebingungan pemuda itu walau ia juga menduga Soemantri Soekrasana tahu lebih banyak dari sekadar dugaan.


"Ia akan menyebarkan angkara murka tanpa henti, menguasai semua yang hidup dan bernafas. Kau tahu kan bahwa para hantu dan mahluk-mahluk gaib hanya bisa menakut-nakuti manusia. Mereka bahkan kadang hanya terlihat oleh orang-orang tertentu saja dan tak banyak yang dapat mereka lakukan. Ketika zaman mulai berubah, hantu mahluk astral dianggap hisapan jempol dari orang-orang yang percaya takhyul belaka. Bisa kau bayangkan bila mahluk-mahluk itu akhirnya bisa keluar dari dunia mereka, tidak hanya merasuk ke tubuh manusia dan meninggalkan secarik masalah di sana, tapi benar-benar keluar dalam bentuk fisik dan menguasai ...."

__ADS_1


"Dunia manusia," Soemantri Soekrasana kembali memotong Wong Ayu.


__ADS_2