
Jembatan tol terlambat meledak karena ada kesalahan pengaturan. Intinya, ledakan tidak akan terjadi sampai malam menjelang, tidak sesuai perkiraan sebelumnya.
Bandi merasa bahwa pemuda-pemuda tersebut bisa saja bangkit dari kematian dengan membawa kekuatan dan semangat baru, namun otak mereka tak dapat tertolong, mungkin tertinggal sebagian di alam kematian.
Namun keagungan yang sebentar lagi akan dimulai prosesnya tak bisa diganggu dengan hal-hal seremeh ini. Bandi akan membiarkan semuanya terjadi dengan sendirinya. Hujan semalam tak kunjung turun. Menunjukkan bahwa kadang sesuatu tak selalu sesuai keinginan. Bahkan walau mendung masih menggantung, udara gerah sudah meraja. Ini juga tanda bahwa kejadian kecil yang tak sesuai rencananya hanyalah pertanda bahwa segalanya akan tetap membakar.
Sepuluh kerangka dari mayat para pembesar kampung ini di masa lalu berdiri tegap kaku, kembali mati, bagai boneka yang menunggu pertunjukan, dan Bandi adalah dalang yang mengatur dan memerintahkan mereka.
Di sekitar makam tetua Kampung Pendekar di atas bukit itu, semua warga berkumpul bersiap melakukan titah raja kecil ini.
Mahluk-mahluk adikodrati memunculkan kepala mereka di berbagai sudut tanpa terlihat. Mereka merasa kikuk karena baru kali ini dikumpulkan oleh kekuatan seorang manusia dan dihadapkan pada banyak manusia lain.
Bandi merasakan tubuhnya penuh energi dan kejayaan. Kekuasaan mengalir dalam nadinya, menggelegak, menderu, menggelinjang. Tonjolan sebesar kepala bayi menyunduli kulit perut dan dadanya seakan ingin keluar. Namun bukan perasaan geli atau sakit yang ada, Bandi mendapatkan dirinya sebagai sang penakluk dengan senjata yang kuat menjadi bagian dalam tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yakobus Yakob memoleskan darah ayam jantan yang baru ia potong tadi lurus menyamping tepat di kedua belah kelopak matanya. Rajah beragam simbol dan motif muncul di seluruh tubuhnya saling timpa dalam gradasi warna hitam.
Baju lengan pendek yang ia rancang dibuat untuk menutupi ketiaknya dengan bahan tertentu yang lentur namun cukup kuat untuk menahan beberapa kali tusukan senjata tajam. Begitu pula celana pendeknya yang serupa cawat, juga dikenakan agar melindungi bagian vital di bawah perut dan paha bagian dalam. Kesemuanya berwarna hitam.
Untuk menutupi kepala dan identitas serta ajang intimidasi musuh, Yakobus Yakob mengenakan tutup kepala dari kepala enggang gading asli yang diawetkan, dengan erat.
Sentuhan terakhir adalah garis merah di kelopak mata dari darah untuk meyakinkan musuhnya mendapatkan kengerian atas kedatangannya.
__ADS_1
Matahari sudah tenggelam. Nampaknya ia tak bisa menunggu terlalu lama. Biarkan orang-orang melihat sepak terjangnya, mungkin ia dapat menjadi sarana pertobatan muda-mudi yang tak sadar akan masuk ke dalam pusaran kejahatan itu, sebelum nantinya mereka akan menjadi sasarannya sendiri.
Ia akan masuk dan mencari pentolan kelompok penjual narkoba itu dan menghabisi nyawa mereka. Ia yakin bahwa ia tak akan dapat dicegah, ia merasa tak terkalahkan.
Yakobus Yakob memandang bangunan di seberang yang di satu bagiannya dirambati tanaman.
Ia membuka jendela kamar hotelnya. Tubuhnya seratus persen hitam dengan satu garis kuasan merah memanjang di ke kelopak matanya.
Tubuhnya melayang lalu meloncat tinggi ke puncak bangunan bertingkat tiga tersebut seringan kapas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maung bergetar di dalam tubuh Anggalarang sepulangnya ia dari luar hotel untuk membeli minuman. Kini kedua mata Anggalarang dapat melihat sosok hantu perempuan yang bajunya bernoda darah dan lumpur menatap dinding di ujung lorong dekat tangga sana.
Anggalarang masuk ke dalam kamar hotel dimana rekan-rekannya berada. "Maung ingin keluar. Pasti ada sesuatu di sekitar sini. Kita harus segera bersiap-siap!" seru Anggalarang. Namun tak lama ia terdiam, baru sadar bahwa Wong Ayu sudah mengenakan jubah penyihir hitam coklatnya, berdiri di samping Soemantri Soekrasana yang merogoh-rogoh tas selempangnya untuk mengecek segala jenis bunga, kertas mantra dan peralatan tempur supranatural lainnya. Sarti sedang mengikat baju silat merah dan mengambil topeng kayu Panji dari tasnya.
"Baiklah. Jadi kalian sudah tahu?" ujar Anggalarang sedikit kecewa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggalarang telah mengganti bajunya dengan celana pendek kendor berkaret di pinggang, serta baju kaos oblong putih yang dibelinya dengan harga murah.
Sarti memandangnya dengan geli, paham bahwa mengenakan pakaian yang 'murah' membuat Anggalarang tidak nyaman. Kenyamanan berbusana didapatkan dari koleksi kemeja dan celana panjangnya yang bermerk. Ini jelas berkebalikan dengan perilaku Maung yang penuh nafsu membunuh dan berlepotan darah korbannya sehingga kata 'jorok' bukanlah kata yang sukup pantas dan tepat untuk melukiskannya.
__ADS_1
"Kalau bukan karena Maung menunjukkan tanda-tanda akan keluar dan karena tak ingin merusak pakaian nyamanku, mana mau aku berpakaian seperti ini," ujarnya pelan kepada Sarti yang paham dengan gerak-geriknya.
Sarti hanya tersenyum. Namun kemudian Anggalarang menambahkan, lebih ditujukan kepada semua anggota Catur Anglara di dalam ruangan hotel tersebut, "Kalian tahu, bahwa sejak bersama kalian, Maung lebih mau bekerjasama denganku."
"Maksudmu?" ujar Wong Ayu.
"Baru kali ini ia memberikan tanda-tanda, bukannya segera keluar tubuhku sesuai keinginannya. Bahkan kalian lihat sendiri, aku masih sempat berganti baju."
Wong Ayu tersenyum. Tindakannya serupa dengan Sarti, bahkan keduanya saling berpandangan dan berbagi sinyal persetujuan.
Anggalarang melihat ini. "Kalian tidak mau memberitahuku sebenarnya apa yang terjadi? Atau kalian masih berniat main-main dengan rahasia kecil kalian?" ujar Anggalarang sebal.
"Baik, baik, Anggalarang," ujar Wong Ayu. "Yang perlu kau ketahui saat ini adalah bahwa sosok harimau putih di dalam tubuhmu adalah mahluk purba. Kau bisa sebut ia roh, siluman atau apa saja. Intinya, setelah pengembaraan yang begitu lama, ia akhirnya nyaman menemukanmu. Nampaknya, ia bukan lagi bagian terpisah dari dirimu, Anggalarang," ujar Wong Ayu.
Anggalarang mengerenyitkan keningnya.
"Sebagai orang yang sudah lama hidup berjalan di dunia ini, aku paham sekali bahwa harimau putih yang kau sebut Maung itu tidak akan bertindak sesukanya lagi. Kau sudah menjadi bagian dari dirinya dan sebaliknya. Mungkin kejadian sebelumnya ketika kita bersama-sama menghadapi iblis perempuan itu membuatnya sadar bahwa kalian berdua adalah satu adanya," tambah Sarti.
Belum sempat Anggalarang ingin bertanya lebih jauh namun tiba-tiba Soemantri Soekrasana mengangkat tangannya. "Kalian merasakan itu?"
Anggalarang langsung merasakan mual kembali membuncah dari dalam perutnya. Sarti menjadi lebih awas. Wong Ayu menutup matanya dan berkata, "Kita disatukan oleh kekuatan yang sama-sama tidak terlalu kita pahami. Namun yang jelas, kita terhubung. Iblis perempuan yang muncul keluar bersamaan dengan ... dengan kekuatanku itu telah menyentuh seorang laki-laki yang memiliki latar belakang kehidupan yang kelam pula." Wong Ayu nampak masih merasa bersalah atas kemunculan sang perempuan iblis, sehingga membuatnya terbaik-bata ketika harus kembali menjelaskan tentang sosok perempuan itu.
"Kini kita sebenarnya sama-sama merasakan kehadirannya di sekitar tempat ini. Tapi energi yang kurasakan tidak sekuat dahulu. Mungkin sang iblis belum benar-benar bisa keluar dari dunianya dan hanya memainkan peran sentral di dalam drama lanjutan ini. Ia menggunakan manusia yang lemah jiwanya namun gelap dan menyakitkan," jelas Wong Ayu panjang lebar.
__ADS_1
Anggalarang dan Soemantri Soekrasana tersentak, bahkan Anggalarang hampir saja terjatuh. Ada sosok kepala muncul terbalik menembus langit-langit kamar hotel mereka.