
Di lengkung takdir yang lain. Di masa jauh sebelum nama Soemantri Soekrasana bahkan sempat terpikir untuk disematkan kepada seorang manusia, perempuan bernama Sarti itu melihat sendiri darah kentalnya mengalir deras dari lambungnya yang sobek karena percikan ledakan meriam. Asap mengepul dimana-mana disertai pekikan ketakutan dan rasa takut. Mayat bergelimpangan, muda tua, laki-laki, perempuan, bersenjata maupun tidak. Benteng keraton telah bobol, membawa masuk pasukan sepoy berkulit gelap, bercelana pendek dan menenteng senapan dengan sangkur di ujungnya. Lautan pasukan sepoy dikuntit pasukan bule Inggris menembus asap. Mereka menjarah apapun yang ada di dalam keraton dan apapun yang menempel di tubuh baik yang hidup maupun yang mati.
Saat itu adalah dini hari, tanggal duabelas bulan Juni tahun seribu delapan ratus dua belas.
Sarti meregang nyawa.
Pandangannya mengabur, namun lucunya ia tak merasa sakit sama sekali. Ia memang lemas tak berdaya. Bedilnya sudah terlempar jauh, meskipun tadi ia sempat menusuk satu orang sepoy dengan kerisnya walau luka di perutnya yang menganga terus-menerus mengucurkan darah bagai air terjun.
Dalam kesekaratannya, sebuah bayangan tipis menyelip dari asap yang entah berwarna putih atau hitam. Bayangan itu perlahan menunjukkan bentuknya dengan jelas di depan kedua mata sekarat Sarti. Ia adalah seorang perempuan yang terlalu anggun dan cantik untuk dijelaskan dengan kata-kata, bahkan saking cantiknya seperti tak mungkin berada di dunia fana ini, apalagi bertolak belakang dengan kehancuran yang sedang terjadi sebagai latar belakangnya. Ia berjalan dengan begitu megah, melangkahi mayat-mayat dengan kaki telanjangnya yang putih bersih. Selendang hijaunya seperti sayap. Kemben kainnya membantu menunjukkan bentuk lekuk tubuhnya.
Ia terus mendekat ke arah Sarti dengan gerakan yang begitu luwes sekaligus menakutkan. Bukan mengapa, dalam keadaan setengah mati seperti inipun, Sarti masih memikirkan nasib perempuan bangsawan keraton ini bila sampai terlihat sepoy atau serdadu bule, sudah pasti dengan pesonanya yang luar biasa ini ia akan diangkut sebagai rampasan perang.
"Kau ikut aku ya, Nduk?" suara sang perempuan bangsawan itu terdengar jelas di telinganya. Sarti tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi ia mengangguk. Seakan ada semacam kekuatan aneh dari kata-kata sang putri yang membuatnya nyaman dan ikut saja.
Sarti akhirnya tewas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sarti bangkit dari kuburan.
Tubuhnya tak membusuk, rambutnya tak gugur, ia juga tak bertambah tua, hampir tak ada bedanya dengan keadaannya sewaktu sebelum tewas dan dikuburkan. Ia tewas di umurnya yang keenambelas pada penyerangan oleh Inggris dan pasukan sepoy-nya di keraton kesultanan Yogyakarta. Ia adalah salah satu anggota pasukan Estri yang kesemuanya adalah perempuan.
Sang putri berselendang hijau berdiri anggun dan megah di atas kuburan, tepat di depan tubuh Sarti yang belepotan tanah.
"Nduk, bangunlah," ujar sang putri berselendang hijau itu. Wajahnya memancarkan pesona yang tak dapat dijelaskan. Sama seperti sebelumnya, kali ini Sarti juga seperti terbius. Walau masih begitu bingung dengan keadaannya, ia tetap mengikuti perintah sang putri.
Sarti melepaskan diri dari balutan pocongan kain kafan dan mendaki keluar dari liang kubur. Tubuh telanjangnya disinari bulan yang sedang bersinar sempurna. Sang ratu masih berdiri di depannya, tepat di bawah pohon kamboja yang berbunga putih bersih. Ia tersenyum dan berujar pendek, "Sudah saatnya kau kembali, Nduk."
Saat itu adalah tahun seribu delapan ratus duapuluh lima, tiga belas tahun sejak kematiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***
Pada tahun seribu enam ratus empat puluh delapan, di suatu siang yang cerah di alun-alun keraton, Sarti berdiri di samping singgasana Sultan Amangkurat I bersama seratusan prajurit perempuan lainnya yang mengelilingi dan menjaga sang raja, ia menjadi saksi pembantaian enam ribu ulama dan anggota keluarga mereka.
__ADS_1
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, semua orang tewas. Terpancung, tertusuk tombak, dipanah, atau mati kehabisan darah. Lapangan berumput menjadi kental merah oleh cairan kehidupan yang menyembur dan mengalir tanpa berkesudahan. Teriakan rasa sakit dan lenguhan kepayahan menunda lepasnya nafas saling bersahutan menghiasai ladang pembantaian tersebut. Langit yang mencembung biru dan awan-awannya yang berarak bagai kumpulan anak domba itu menjadi saksinya. Sebuah hari nahas dan penuh penderitaan.
Sarti bersama anggota pasukan Trisat Kenya memperhatikan pembantaian ini tanpa menunjukkan perasaan apa-apa, karena untuk itulah mereka dilatih dan ditugaskan, yaitu menjaga sang Sultan dan menuruti segala perintahnya. Pasukan khusus dan istimewa yang berisi seluruhnya perempuan muda. Perempuan yang cerdas dalam menggunakan segala kemampuan yang dianugerahkan kepada mereka. Menggunakan senjata dan berkuda sama baiknya dengan menggoda. Para perempuan yang memaksakan hati mereka dingin dan tanpa perasaan, atau sebaliknya bersandiwara memainkan raut wajah untuk menunjukkan emosi yang dibuat-buat demi menipu lawan bicara.
Saat itu ia berusia enambelas tahun.
Seperti layaknya kehidupan seorang prajurit dan diakhiri dengan kematian dalam penghormatan perang, Sarti tewas terbunuh oleh tusukan tombak pasukan pimpinan Trunojoyo yang menyerang Mataram dua puluh sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun seribu enam ratus tujuh puluh tujuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama ratusan tahun Sarti harus mati dan hidup lagi dalam tubuh berusia enambelas tahun, tak peduli seperti apa akhir kehidupannya, apakah mati terbunuh, karena sakit atau menua dengan wajar. Ia pernah dibakar, dikremasi, dan ia kembali hidup dari sisa-sisa abu itu. Tak tahu seberapa banyak ia dikubur dan bangkit kembali.
Perempuan cantik nan rupawan itu yang selalu membangunkannya dari kematian. Ia selalu memberitahu tugas-tugas yang harus diemban dan dilaksanakan Sarti selanjutnya, meski Sarti tak selalu langsung berhadapan dengan pekerjaan yang harus ia selesaikan saat itu juga. Kerap kali ia harus menunggu sampai bertahun-tahun untuk sampai pada hal yang menjadi tanggung jawabnya.
Sama seperti saat ini, ia sudah menunggu selama lebih dari tujuh tahun sampai ia dapat membaca sinyal yang ditujukan padanya. Ia telah berusia dua puluh tiga dalam kehidupannya kali ini.
Sarti sebenarnya tak pernah berhenti berpikir mengenai tugas dan kehidupannya ini, bertanya-tanya tentang nasib dan jalan nafasnya. Namun, mungkin ia terlalu bosan, terlalu jenuh dan lelah dalam mempertanyakan bagaimana dunia berproses serta memperlakukan dirinya. Semesta terus-menerus memberikannya kesempatan untuk bernafas dan menyecap kehidupan. Namun, dibalik kejengahannya, usia ratusan tahun mendewasakannya. Tentu saja, hitungan kedewasaan disini jauh dibandingkan dengan rata-rata manusia. Ia tidak hanya melewati masa muda, remaja, dewasa dan tua, tetapi melewati jaman dan segenap permasalahannya. Dunia sangat berbeda di dalam pandangannya.
__ADS_1