Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Sembilanbelas


__ADS_3

"Kampung itu tidak melulu membawa kesan negatif, Pak. Buktinya dijadikan salah satu titik wisata karena merupakan tempat bersejarah, apalagi juga ada dua padepokan silat terkemuka di provinsi ini," lanjut Satria Piningit kepada si supir, mencoba membuatnya tenang.


"Eh, iya bang," jawab sang driver pendek.


Satria Piningit berhenti membahas Kampung Pendekar karena yakin bahwa upayanya tidak akan membuahkan hasil untuk membuat sang pengemudi menjadi tenang. Malah ia khawatir ucapannya akan menghasilkan kebalikannya.


Mobil melaju dengan kecepatan yang di atas normal di jalan yang tak terlalu ramai dan tak terlalu malam ini. Satria Piningit paham. Ia menarik nafas dan duduk dalam diam. Kampung Pendekar terlewati sudah. Sebentar lagi ia akan bertemu istri dan kedua anak kembarnya.


Di sisi lain, di dalam kampung, di satu sudut gertak yang panjang itu, enam orang penduduk pemuda sedang berkumpul. Dua orang bersungguh-sungguh berlatih ilmu silat. Mereka sedang mempraktekkan jurus-jurus silat yang mereka pelajari pagi tadi di perguruan silat terkemuka tidak hanya di kampung, tapi di seantero provinsi. Sisanya sibuk membahas hasil jualan narkoba mereka hari ini, masalah dan tantangan apa yang mereka hadapi dalam pekerjaan itu, atau sudah berapa orang yang mereka ancam atau teror.


Lampu-lampu yang bergantung di tiang memancarkan sinarnya yang memantul di arus air sungai yang bergelombang. Air berwarna keruh itu menyelip melalui tiang-tiang kayu penyangga gertak yang menancap dalam ke tanah berlumpur di dasar sungai, bersama dengan dua sosok aneh yang berenang seperti belut.


Dua mahluk serupa perempuan, berambut panjang yang surai-surainya mengambang di permukaan air. Tebih tubuh mereka tanpa penutup, licin bagai ikan namun tak bersisik.


Tubuh mereka terus bergoyang-goyang, meliuk-liuk di dalam air. Rambut panjang mereka muncul tenggelam, kadang membelit rerumputan dan tumbuhan air, kemudian lepas dan bergoyang kembali terkena air.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandi tersenyum. Ia berdiri di depan gapura raksasa jalan masuk ke Kampung Pendekar. Tubuhnya tegap berbalut celana dan jaket jins berwarna gelap. Sepatu boot membungkus sepasang kakinya.


Ia merasa menjadi manusia baru yang penuh dengan keberanian, semangat dan harapan.


Ia membaca tulisan di atas gapura yang berbunyi, 'Kampung Pendekar, Kampung Sejarah, Dimana Para Pemberani Pernah dan Akan Selalu Hidup.'


"Cih!" Ia meludah ke tanah. "Pendekar ... Pendekar apanya?! Sudah bertahun-tahun tempat bangsat ini tak tersentuh siapapun, tak penjahat tak aparat. Baiklah aku beri warga sombong ini pelajaran yang terlalu berarti di dalam hidup mereka," ujar Bandi kepada diri sendiri.

__ADS_1


Ia berjalan dengan langkah pasti. Sepasang matanya memandang jauh ke barisan perbukitan kecil yang menjulang di kegelapan, di balik rumah-rumah dan bangunan yang disinari lampu-lampu penduduk. Di salah satu bukit itu ada makam kesepuluh orang pendekar yang mendirikan kampung ini. Ke sanalah ia akan menuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nama gadisnya adalah Noeryati. Namun, setelah berusia hampir lima puluh tahun, dan memiliki anak pertama bernama Yudi, semua orang terutama tetangganya memanggilnya dengan nama anaknya, Mak Yudi.


Satu hal yang dipikirkan Mak Yudi ketika melihat anak laki-lakinya yang belum genap dua puluh tahun itu pulang lewat pintu dapur di malam hari dengan kepala berdarah adalah 'balas!'


Sebagai warga Kampung Pendekar, reaksi yang sama akan terjadi pada setiap ibu di kampung itu. Suami dan anak laki-laki mereka adalah harga diri dan kebanggaan keluarga. Mencari masalah di luar adalah biasa. Namun bila mereka pulang dalam keadaan terluka, maka sebagai ibu, Mak Yudi akan merasa marah dan berusaha membantu dan membela sang anak seperti seekor induk ayam.


"Yudi, anak mana yang bikin kau seperti ini? Berani-beraninya cari masalah. Kau serang balik saja. Panggil kawan-kawan silatmu itu. Balas! Nanti Mak minta bapakmu panggil Om Nurdin atau adiknya di lanting ujung kampung sana," ujar Mak Yudi dengan meletup-letupkan emosinya.


Bisa dikatakan, sebenarnya, tujuh dari sepuluh ibu di Kampung Pendekar agak berharap anak atau suaminya mendapat masalah dengan orang dari daerah lain, sehingga mereka bisa menunjukkan taring dan mungkin mendapatkan lebih banyak keuntungan. Misalnya dari mengancam, atau menuntut ganti rugi. Setelah itu, mereka bisa saling bercerita kepada tetangga dan menyombongkan 'prestasi' laki-laki di keluarga mereka yang membanggakan tersebut.


Yudi malah tersenyum. Gigi putihnya bercampur dengan lelehan darah dari keningnya.


Yang pertama melintas di pikiran Mak Yudi atas perilaku anaknya ini adalah jijik. Ia hendak memarahi anaknya itu,. Namun, tiba-tiba ia merasakan sebuah perasaan takut menyergap.


"Kau kenapa, Yud? Jangan bilang Mak kau sedang makai ya. Kalau kau berani menyentuh benda itu, Mak akan minta bapakmu yang menghajarmu habis-habisan nanti," ujar sang emak.


Yudi meraih kedua bahu ibunya, menatap kedua matanya sembari terus tersenyum mengerikan, "Dia sudah datang, Mak! Sudah saatnya kita ikut dia," ujar Yudi.


Sang ibu terdiam kaku dan ngeri. Yudi melepaskan pegangannya pada bahu ibunya kemudian berjalan ke dapur. Ia mengambil sebuah pisau kecil yang bilahnya hitam dan tipis, tak berbentuk baik lagi karena tergerus setelah bertahun-tahun terus diasah.


Yudi berbalik menghadap ibunya, "Untuk mendapatkan, kita harus memberikan, Mak."

__ADS_1


Yudi menggorok lehernya dengan pisau itu. Sayang, sayatannya tak membuat ia langsung tewas. Berhubung pisau itu kecil dan tak terlalu tajam lagi, Yudi harus melakukannya berkali-kali sampai darah berkecipratan.


Mak Yudi berteriak sekeras-kerasnya sampai udara seakan terkuras habis dari dalam paru-parunya. Ia pun jatuh pingsan ketika akhirnya Yudi rubuh ke lantai dengan rongga besar di lehernya. Darah menggelegak meluncur keluar dari rongga itu.


Yudi tewas dengan wajah tersenyum dan mata melotot.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tadinya Yudi sedang berlatih silat dengan Mardani. Keduanya adalah kawan seperguruan. Bahkan sebenarnya keempat teman mereka yang juga sedang berkumpul di sini adalah sama-sama murid di padepokan silat yang sama.


"Kau tak perlu main adil ketika sedang berkelahi, Yud. Di lapangan, sedikit curang bukan masalah. Jadi kau bisa saja hajar barangnya di bawah sana, atau colok matanya," ujar Mardani sembari mempraktekkan gerakan-gerakannya.


Yudi tersenyum. Walau ia setuju dengan pendapat kawannya, tapi ia masih menghargai jurus-jurus pakem padepokan silat yang ia pelajari.


"Atau, kau bisa pakai ini, Yud," sela salah satu dari empat temannya yang lain sembari mengacungkan sebilah pisau. Ini diikuti dengan ketiga orang lainnya mengangkat tiga pisau milik mereka sendiri.


Yudi menggelengkan kepalanya dan tertawa, "Aku lebih senang pakai tangan kosong, lebih puas rasanya menghajar orang," seloroh Yudi.


Teman-temannya langsung geger, "Sombong sekali kau anak muda. Sini kuhajar," jawab rekan-rekannya bercanda. Mereka pura-pura mengeroyok Yudi dan memberikannya pukulan-pukulan main-main.


"Heh ... Teman-teman, kalian lihat itu?" Mardani tiba-tiba menghentikan candaan teman-temannya.


"Kalian lihat di atas tadi? Seperti ada yang terbang," ujar Mardani serius.


"Mau dihajar juga kau, Mar?!" respon yang lain. Sudah jelas ucapan Mardani dianggap sebuah jenis canda lain. "Maksudmu kau lihat hantu, gitu? Kuyang, kepala terbang?" sontak yang lain tertawa, termasuk Yudi, sebelum kemudian ia sendiri melihat dua benda melayang dua meter di atas kepala Mardani.

__ADS_1


__ADS_2