Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empatpuluh Enam


__ADS_3

Kuntilanak merah merasuk ke dalam tubuh salah satu pemuda kebal dari desa Obong. Tak lama pemuda itu langsung mengangkat pedangnya tinggi-tinggi serta membabat rekan-rekannya yang lain dengan membabibuta.


Si pemuda yang dirasuki kuntilanak merah ini berubah menjadi lebih gesit dan cepat, padahal musuh-musuhnya yang adalah merupakan rekan-rekannya juga berilmu silat tinggi. Namun, si pemuda dapat membuat kesemuanya menjadi keteteran.


Serangannya menyasar ke semua wilayah berbahaya di tubuh musuh-musuhnya, hanya saja dilakukan dengan lebih cepat. Selain itu, gerakan sang pemuda cenderung susah untuk ditebak karena ada sosok kuntilanak merah yang merasukinya.


Bunyi benturan pedang ke pedang serta pedang ke tubuh terdengar begitu nyaring. Pertempuran ini bagai anak-anak yang saling pukul dengan bantal, seru tetapi tak berhasil saling melukai.


Tapi tentu saja kuntilanak merah tahu baik yang harus ia lakukan dalam tubuh pemuda kebal itu untuk mengalahkan yang lain. Tubuh yang ia rasuki membuang pedangnya, meloncat-loncat tinggi nan cepat bak terbang sembari membawa serta satu dua pemuda, kemudian melepaskan mereka di atas kobaran api di bangunan-bangunan yang terbakar. Ada lebih dari lima orang yang terjebak di dalam api.


Kuntilanak merah terjun ikut masuk di dalam bangunan terbakar itu untuk menahan siapapun yang ingin keluar.


Teriakan kesakitan terdengar ketika asap masuk ke rongga hidung mereka dan menutup saluran pernafasan. Ketika mereka berontak mencari oksigen, api menjilati lobang mata mereka, membakar biji mata mereka sampai gosong dan mencelat keluar.


Satu dua yang mencoba keluar dari api didorong, ditendang, dibanting oleh pemuda kebal yang dimasuki kuntilanak merah. Ia bahkan memiting mereka sampai benar-benar tak bernyawa karena dilahap oleh api. Itu berarti termasuk tubuhnya sendiri.


Kuntilanak merah keluar dari tubuh tak bernyawa si pemuda kebal itu yang mulai terbakar habis karena ilmu kebalnya tak lagi terpakai oleh orang yang sudah tewas.


Ketika tubuh mereka mulai berderak bangkit hendak menjadi mayat hidup, api sudah menghabiskan lebih dari separuh bagian tubuh mereka. Mayat-mayat hidup itu hanya dapat bergerak kurang dari lima langkah dari dalam api karena kepala mereka sudah hancur menjadi debu akibat terbakar habis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu menyemburkan api dari mulutnya. Marsudi menahan dengan kedua lengannya.

__ADS_1


"Iblis laknat! Kau terlalu berani keluar dari duniamu. Kau tak akan mendapatkan apa-apa di sini. Sudah menjadi takdirmu hanya bisa menjadi budak angkara murka dan nafsu manusia. Kau tak akan mendapatkan pengikut!" teriak Wong Ayu sambil menembakkan energi panas berupa bola-bola api ke arah Marsudi.


Marsudi melompat-lompat lincah, bahkan sesekali terbang mengambang.


"Maksudmu, seperti kau, anakku? Meminjam kekuatan gelap untuk memenuhi nafsumu? Sadarkah kau kita berdua adalah budak? Bedanya, aku tidak memerlukan pengikut," kata sang iblis betina di dalam tubuh Marsudi.


Marsudi meluncur turun, menggenggam tengkuk dua orang preman kerasukan yang merupakan anak buah Affandi. Dengan sekali sentak, ia mematahkan leher kedua preman itu yang langsung tewas seketika.


Dua roh halus berbentuk buto ijo dan pocong meluncur keluar tubuh yang telah mati itu untuk menuju ke sosok Lutfi dan Fadlan yang baru sampai menuruni jalan dari perumahan desa Prajuritan di bawah bukit sana.


"Kau lihat? Bagiku, manusia tak ubahnya seperti serangga, sama sekali tak berguna. Bukankah nyaman dan nikmat membunuh itu, wahai anakku, seperti yang kau lakukan pada para dukun santet? Kau menikmati pekerjaan ini dan melakukan pembenaran bahwa yang kau bunuh adalah orang-orang jahat. Tapi kita sama-sama tahu yang kau sejatinya rasakan, bukan?"


Wong Ayu menatap tajam sang lawan. Giginya bergemeretak karena geram. Dua mayat yang mati karena dipatahkan lehernya itu perlahan bangkit kembali, hidup sebagai mayat bernyawa.


"Kau bunuh anak buahku, bang. Kau bunuh saudara kita, Kardiman, bang. Mahluk apa kau ini sebenarnya?!" gumam Affandi dengan menahan ledakan emosi yang luar biasa.


Ia sungguh tak mampu menguasai diri yang telah habis-habisan dipukuli oleh kenyataan ini. Ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk menanamkan sepasang karambitnya di samping kepala Marsudi. Dua bilah tajam karambit melesak masuk menancap di kepala Marsudi melalui sepasang telinganya.


Sepasang karambit milik Affandi tersebut menancap masuk ke dalam kedua telinga Marsudi dalam. Darah tidak hanya mengalir keluar dari kedua sisi tersebut, melainkan menyembur deras bagai air terjun.


Marsudi berbalik arah dan melihat tajam ke arah Affandi. Bukannya terlihat kesakitan, ia malah tersenyum dengan begitu mengerikannya.


"Kau bahkan tak akan mendapatkan kesempatan sedikitpun untuk menjadi mayat hidup, Affandi. Kali ini kau merasakan kematian seperti yang kau inginkan," ujar Marsudi sebagai respon atas apa yang dilakukan Affandi kepada dirinya tersebut.

__ADS_1


"Bangsat kau, bang! Aku tak menyangka kau membuat dirimu diperbudak oleh iblis itu sehingga kau tega membunuh Kardiman yang sudah setia sampai mati demi dirimu. Sekarang kau ingin menghabisiku, cuih ...," Affandi meludah ke tanah. "Lakukan apa yang kau mau, aku tak sudi menjadi ...."


Kata-kata Affandi terpotong. Marsudi memecahkan kepala Affandi dengan menghimpitnya menggunakan kedua telapak tangan seperti menepuk seekor nyamuk. Kepala Affandi pecah berantakan bagai semangka. Otaknya keluar berhamburan dan darah tumpah ruah bagai dituang dari sebuah ember.


Tubuh itu jatuh ke bumi tanpa nyawa.


Tak sampai disitu, Marsudi menginjak kepala yang sudah hancur itu dengan tenaga yang luar biasa sehingga bagian tubuh yang sudah tak bisa dikenali itu lepas dari badannya.


Affandi mati tanpa pernah bangun kembali menjadi mayat hidup.


Melihat kesempatan ini, Wong Ayu menghambur maju menyerang. Ia menghilang, kemudian muncul di belakang Marsudi sembari menyemburkan api tidak hanya dari mulut, namun juga kedua mata serta telapak tangannya.


Marsudi berbalik dan mengibaskan kedua tangannya seperti menepis udara panas saja untuk menangkis api membara serangan Wong Ayu.


"Kau perlu lebih dari sekadar tekad dan dendam, anakku," ujar Marsudi.


Sosok wanita purba di dalam dirinya kini yang mengambil alih pembicaraan.


"Aku tahu setiap kekuatan dan kesaktianmu. Aku juga tahu setiap jengkal kelemahanmu," lanjut sang iblis sembari meluncur cepat ke arah Wong Ayu.


Wong Ayu, sang perempuan penyihir sakti itu sungguh berhadapan dengan musuh sejatinya. Kekuatannya yang sebenarnya juga diambil dari sumber yang sama harus melawan kesaktian yang sama. kecepatan Marsudi berkali lipat dibanding dirinya.


Maka, tak mungkin bagi Wong Ayu menerka arah serangan Marsuid yang mendadak telah mencengkram lehernya. Wong Ayu merasakan tulang lehernya hampir berderak patah. Ia memegang tangan kuat yang mencengkram erat di lehernya tersebut dan mencoba melepaskannya. Namun, Marsudi mengerakkan tangannya dan melemparkan tubuh Wong Ayu.

__ADS_1


Tubuh Wong Ayu meluncur jauh ke bawah sampai menggelosor di tanah beraspal.


__ADS_2