Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Empatpuluh Sembilan


__ADS_3

Warga kompleks ini tak sadar bahwa jari-jemari kegelapan sudah meraba-raba alam gaib di sekitar mereka. Mereka merogoh dan menyentak keluar mahluk-mahluk tak kasat mata yang terikat dengan sejarah untuk menunjukkan diri dengan gamblang.


Perlahan-lahan, beragam entitas dipaksa muncul, meneror manusia, membawa mereka ke sebuah keadaan absurd lagi menakutkan. Membuat mereka meragukan kewarasan jiwa mereka sendiri. Sedangkan, di sisi lain, para pemuda yang bangkit dari kematian yang sekarang memiliki kuasa kegelapan atas gerbang neraka dan pintu dunia, perlahan berjalan kaki menyeret parang panjang mereka menuju ke kompleks warga. Tujuan mereka sesuai dengan yang diperintahkan, yaitu ingin memanen jiwa-jiwa manusia untuk dijadikan budak kekuasaan gelap. Sama seperti mereka.


Kuasa akan mahluk-mahluk adikodrati dan tak suci itu diatur dari balik gapura Kampung Pendekar, mengiris tirai halus antar dua dunia sehingga mahluk-mahluk di seberang sana dapat mengintip bahkan masuk keluar ke dua dunia dengan bayan.


Sudah terbukti beberapa warga kompleks terdampak oleh kengerian tersebut. Tak bisa dibayangkan bila Yudi dan rekan-rekannya sampai. Bukan saja ancaman jiwa oleh rasa takut, melainkan juga lengkap dengan ancaman akan kehilangan nyawa.


Inilah yang terjadi di kompleks perumahan mewah yang jarang dihuni pemiliknya. Kompleks elit ini adalah kompleks perumahan pertama paling dekat dengan Kampung Pendekar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Rudi Suwarno, yang bekerja sebagai petugas keamanan kompleks mewah yang dikelilingi tembok itu baru saja hendak menyelesaikan shift jaganya bersama dua orang rekannya yang lain, yaitu Juwanto dan Nurdin, ketika ledakan besar itu terdengar.


Penghuni perumahan yang tak begitu banyak karena mayoritas tak ada di tempat itu, keluar dari rumah bertingkat tiga dan berpilar selebar dua pelukan laki-laki dewasa itu.


Tanda tanya masih terbersit di hati para petugas keamanan yang terdiri atas Pak Rudi Suwarno, Juwanto dan Nurdin. Kabut tebal menutup langit tak lama setelah ledakan. Pengganti shift mereka belum datang, dan komunikasi terputus sama sekali.


Tak ada sinyal, termasuk koneksi Internet.


Sebagai petugas keamanan, tentu Pak Rudi Suwarno dan rekan-rekannya segera menyambut kemunculan para penghuni rumah. Sayangnya, mereka tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi tuan-tuan mereka tersebut.


Namun, Pak Rudi Suwarno meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia akan meneruskan menjaga perumahan ini meski tidak ada kabar dari petugas yang harus menggantikan shift jaganya. Bagaimanapun, berjaga adalah tugasnya. Kewajiban membuat para pemilik rumah merasa aman dan nyaman sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Pak Rudi Suwarno bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya ini. Tidak heran bila ia adalah seorang warga negara yang diijinkan memiliki senjata api selain anggota militer dan Polisi. Ia telah lulus segala jenis syarat kepemilikan senjata api untuk pembelaan diri. Setiap bekerja, ia membekali diri dengan sebuah revolver alias pistol mini, dengan kaliber 22.

__ADS_1


Pistol ini cukup membuat seorang manusia normal rubuh bila terpaksa harus dilumpuhkan dengan sekali tembakan yang tepat.


"Aku sudah curiga orang-orang kampung sebelah yang punya kerjaan," ujarnya yakin pada kedua rekannya.


"Tawuran antar kampung palingan, Mas. Itu memang sudah aktifitas mereka sehari-hari. Kalau tidak mencari rusuh sehari saja, mungkin kehidupan mereka tak tenang. Tapi, aku bisa mengerti itu. Cuma saja, kenapa orang-orang kaya ini malah memutuskan untuk membeli rumah dan tinggal di daerah penjahat ini, itu yang aku masih belum paham," ujar Nurdin yang memang lebih muda dari Pak Rudi Suwarno.


Juwanto yang lebih muda lagi nyeletuk, "Ah, kamu Mas. Tidak usah protes. Karena mereka lah kita bisa kerja disini. Gaji kita bahkan lumayan besar kalau dibandingkan dengan satpam atau petugas security di kompleks lain. Bahkan aku belum pernah tahu ada petugas keamanan yang duitnya segede ini," ujarnya sembari menciptakan simbol uang dengan menggesek-gesekkan ujung ibu jari dan telunjukkan.


Nurdin mengedikkan kedua bahunya, "Iya, iya. Kau benar Ju. Tapi boleh saja aku bertanya-tanya, bukan? Daerah ini bisa dikatakan masih halamannya Kampung Pendekar yang tak tersentuh itu. Bahkan gara-gara Kampung Pendekar, semua daerah ini menjadi sebuah tempat yang seakan jauh dari peradaban."


Juwandi tertawa mengejek namun dengan tujuan bercanda, "Tahu apa kau Mas soal peradaban segala."


Nurdin hendak kembali protes namun tiba-tiba dari dalam pos jaga, di belakang Juwandi, di kejauhan, dari balik kabut pekat di pagi hari ini, ia melihat sosok tak biasa.


Pak Rudi Suwarno kini terdengar ikut nimbrung ambil bagian dalam pembahasan mengenai perumahan elit ini. Namun, suaranya terdengar terpotong-potong oleh Nurdin.


" ... bahkan mereka merasa lebih aman karena notabene dibentengi oleh Kampung Pendekar ...,"


Nurdin mengucek-ucek kedua matanya. Apa mungkin pagi-pagi hantu bisa muncul segamblang dan sejelas itu?


" ... investasi juga cukup masuk akal ...,"


Nurdin sudah sama sekali tak memerhatikan ucapan Pak Rudi Suwarno. Fokusnya sudah terganggu dengan apa yang dilihatnya di depan sana.


Saat ini, ia sedang terpaku pada sosok manusia - atau bukan, ia tak yakin - yang berdiri sebesar dan setinggi jejeran pohon palem di depan kompleks perumahan mewah itu. Tubuhnya berbulu dan berdiri namun bergoyang kesana kemari.

__ADS_1


"Kalian lihat itu?" ujar Nurdin tak mengindahkan penjelasan Pak Rudi Suwarno.


Sontak Pak Rudi Suwarno dan Juwanto memandang ke arah yang ditunjukkan Nurdin.


"Pohon, maksudmu?" tanya Pak Rudi Suwarno.


"Tinggi, besar, berbulu ... Dia ... Dia sedang berjalan kemari!" ucap Nurdin mendadak belingsatan ketakutan.


Tentu Pak Rudi Suwarno dan Juwanto kebingungan mencari lihat arah yang ditunjukkan teman mereka itu. Mereka celingak-celinguk tak dapat menemukan satu apapun namun tetap cukup khawatir melihat perubahan yang terjadi pada sikap Nurdin.


"Dia berlari kemari!" teriak Nurdin tiba-tiba.


Dalam pandangannya, sosok raksasa yang muncul dari dalam kepulan kabut itu mengangkat kakinya, mendebumkan ke tanah dan menolakkan tubuhnya berlari ke arah mereka.


"Dia sudah dekaaatt!!!" teriak Nurdin makin keras dan panik.


Nurdin menarik-narik baju dua orang rekannya itu sebagai bentuk rasa panik sekaligus seperti hendak mengajak keduanya pergi.


Namun, karena tak ada reaksi seperti yang diinginkan, malah sebaliknya Pak Rudi Suwarno dan Juwanto yang kebingungan itu menahan tarikan Nurdin, ia membuka pintu kaca pos keamanan.


“Heh, kamu kenapa, Din?” Tanya Pak Rudi Suwarno keheranan.


Nurdin sudah meloncat keluar dari pos keamanan dan berlari secepatnya masuk ke dalam kompleks bagai orang tak waras. Tubuhnya jatuh beberapa kali saking terlihat panik, tetapi terus menyondongkan tubuhnya melarikan diri laksana dikejar seekor anjing.


"Nurdin, kemana kau? Ada apa sebenarnya?" ucapan Pak Rudi Suwarno tak digubris dan tak dibilang lagi oleh Nurdin. Sosok Nurdin hilang di dalam kompleks, menyisakan dua rekannya yang kebingungan setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2