Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh


__ADS_3

Wong Ayu hampir saja lepas kendali. Tubuhnya sudah melayang sejengkal di atas tanah ketika Soemantri Soekrasana memegang lengannya. Soemantri Soekrasana menahan sosok penyihir perempuan itu untuk terbang, tetapi laki-laki mud aitu melakukannya dengan lembut.


"Sebentar dulu, Yu. Mau kah Yu mendengarkanku sejenak kali ini?"


Wong Ayu memandang wajah Soemantri Soekrasana yang mengirimkan sinyal kehangatan dan rasa percaya kepadanya. Wong Ayu mendadak merasa sedikit malu karena rupa-rupanya ia masih digerogoti hawa nafsu untuk menyelesaikan masalah dengan cara bertarung serta menumpahkan darah.


Bahkan Anggalarang dan Sarti berdiri terdiam di samping Soemantri Soekrasana. Mereka sudah kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya mengambang di atas buih di dalam dunia lain, serta masuk jauh ke dalam masa lalu, dibawa menyelip ke surai-surai waktu bersama Putri Junjung Buih.


Keempat anggota Catur Angkara itu kini sudah mendapatkan informasi yang paling lengkap tentang apa yang mereka hadapi tersebut. Paling tidak untuk sementara waktu. Maka dari itu, ketika sekarang mereka ada di sebuah titik hanya beberapa langkah saja ke gapura Kampung Pendekar, Wong Ayu sudah ingin menghambur, menyeruak benteng sihir daerah itu untuk menyerang musuh.


Namun, tentu, tindakannya bukankah sebuah keputusan yang bijak bula dipikir kembali dengan cermat. Mereka sekarang adalah empat orang yang bersama-sama bertanggungjawab dan berkepentingan. Rencana, sudah barang tentu, adalah sebuah keniscayaan. Egoisme bukanlah pilihan lagi. Bukan karena masing-masing dari mereka tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, sebaliknya, karena dengan kemampuan seperti itu, tanpa rencana dan kebijaksanaan, tindakan mereka malah akan membuat keadaan semakin runyam. Lebih parah, kecerobohan akan dapat digunakan musuh dan bisa-bisa korban orang-orang tak bersalah akan menjadi daftar buruk mereka. Kesalahpahaman karena tindakan yang terburu-buru juga akan sangat sulit untuk dihindarkan.


Setelah mendapatkan perhatian dari Wong Ayu dan yang lainnya, Soemantri Soekrasana menutup mata. Kemudian mulutnya merapal sebuah mantra dalam bahasa Jawa, " ... dat gumilang tanpa sangkan, ... gumilang tanpa enggon, liyep ilang salin raga, ..."


Wong Ayu turun dari sikap melayangnya. Ia cukup mengenal jampi-jampi yang diucapkan dukun muda itu. Namun, Wong Ayu paham bahwa Soemantri Soekrasana adalah orang yang paling berbakat dalam menguasainya.


"... sir luput sir ora katon ...," Soemantri Soekrasana masih merapalkan mantra itu. Sampai tak lama kemudian, tubuh keempatnya menghilang dari pandangan mata manusia. Bahkan dedemit serta mahluk-mahluk astral lainnya hilang pandangan atas mereka.


Ini adalah ilmu Halimun atau Aji Panglimunan yang dapat membuat tubuh orang yang menguasai ilmu tersebut tak terlihat oleh siapapun atau apapun.


"Aku perlu berbicara dengan kalian semua," ujar Soemantri Soekrasana terlihat begitu serius dan bersungguh-sungguh. "Kali ini aku benar-benar memohon kepada kalian. Kita tidak bisa main serang ke sarang iblis disana. Seharusnya setelah mendapatkan segala pencerahan dari Putri Junjung Buih, kita dapat melakukan tindakan yang lebih terukur, tidak terbawa hawa nafsu."

__ADS_1


Semua kali ini diam seribu bahasa, bahkan Sarti yang berusia ratusan tahun menjadi begitu manut kali ini di depan seorang Soemantri Soekrasana yang masih begitu hijau dibanding usianya.


Meski tak ada yang protes dengan permintaannya kali ini, Soemantri Soekrasana tetap menginginkan mereka untuk lebih memercayai dan mendengarkannya. Maka ia kembali merapal sebuah mantra, "Niat ingsun arep turu kasurku segara, kemulku mega, bantalku baya, ngisorku macan putih, kiw tengenku ... samangsane ana wong gawe piala, ingsun gugahen."


Sebuah mantra yang lazim digunakan untuk mengusir, menghalau dan mencegah seorang pencuri masuk ke dalam rumah seseorang, namun dengan kemampuan kanuragannya, Soemantri Soekrasana menggubahnya menjadi sebuah mantra untuk menyadarkan mata batin, melihat sesuatu yang disumpal keterbatasan ruang dan waktu.


Wong Ayu, Sarti dan Anggalarang merasakan seakan kepala mereka menjadi ringan dan memuai. Tiba-tiba raga mereka diseret lebih cepat dari cahaya, melewati jalan, pepohonan sawit, perkebunan, lahan kosong dan sampai ke atas kompleks perumahan demi kompleks perumahan di sekitar tempat itu.


Mereka melihat dan merasakan energi yang begitu kental akan api dari kerak neraka berbumbu kejahatan dan dendam kesumat meleleh ke arah perumahan tersebut. Hantu-hantu beragam bentuk, jin beragam jenis, iblis beragam gaya berloncatan bagai ikan pesut di sungai.


Mereka juga melihat belasan pemuda yang memiliki aroma bangkai yang Sarti kenal akrab selama berkali-kali bangkit mengorek tanah kuburan, sedang berjalan pelan namun pasti ke arah perumahan warga. Hawa jahat berpuntir di tubuh mereka.


Soemantri Soekrasana terbatuk-batuk. Ia mengambil botol air mineral dari dalam tas selempangnya, meminum dan menyemprotkannya sedikit. Butuh tenaga yang luar biasa dalam mengamalkan dua mantra sekaligus untuk menyembunyikan mereka dari pandangan mata manusia maupun mahluk astral, sekaligus memberikan informasi kilat.


Satu sosok gendruwo berjalan menyibak kabut yang melayang diantara ranting dan dedaunan. Bulu-bulu serupa keranya terbilang lebih kasar dibanding hewan primata manapun, itupun bila bulu mahluk itu dapat disentuh secara fisik.


Ketika sampai tepat di samping empat anggota Catur Angkara, sang gendruwo bermimik wajah cabul bertubuh besar dan bagian kulit yang tak tumbuh bulu berwarna kemerahan itu mengendus-endus, seakan merasa ada sesuatu di sekitarnya. Namun tak lama, sosoknya ditelan kabut dan menghilang.


Aji Panglipuran masih bekerja dengan baik.


Sarti memandang Anggalarang dan Wong Ayu bergantian, kemudian melihat Soemantri Soekrasana. "Seumur hidupku dan hidup sebelum hidupku yang telah berkali-kali itu, tak pernah kurasakan dan kusaksikan sebanyak ini segala jenis hantu dan mahluk gentayangan berbondong-bondong muncul dari lapisan masa, selip-menyelip, menumpuk dan hadir secara bersamaan. Terakhir aku mengalami kedahsyatan beragam ilmu sihir dan gaib di lepas di angkasa adalah saat ibuku dan murid-muridnya berperang melawan Empu Baradah," wajah Sarti menerawang jauh menembus batas kala.

__ADS_1


Wong Ayu kembali melihat sosok kuno Ratna Manggali membayang di balik wajah Sarti.


"Kau benar, Sarti. Nampaknya kita tidak bisa sekadar menyerang kampung yang diselimuti kekuatan sihir itu seperti saat terakhir kita berhadapan dengan iblis perempuan dan sekutu-sekutunya di tiga desa sebelumnya," kali ini Anggalarang yang berbicara.


Wong Ayu memandang Soemantri Soekrasana dan mengangguk. "Baiklah, kau benar, Soemantri. Apa yang harus kita lakukan?"


"Dalam kondisi normal aku bisa saja meminta informasi dari hantu-hantu yang berseliweran di sini, tapi mereka sedang dalam keadaan terpenjara dan diatur oleh kekuatan besar di dalam kampung itu," jelas Soemantri Soekrasana.


Anggalarang tiba-tiba tersentak sadar akan sesuatu, "Sial, Soemantri. Kuntilanak merah bagaimana?"


Soemantri Soekrasana ikut tersadar. Ia segera menutup mata, membuka mata batinnya. Tak lama kabut kembali tersibak.


Anggalarang, Wong Ayu dan Sarti melihat sosok perempuan dengan jarit membelit bagian bawah tubuhnya, serta kebaya merah terang mentereng. Semua tahu itu adalah sang Kuntilanak merah yang menempel pada Soemantri Soekrasana. Bedanya, sang sosok kali ini terlihat begitu normal.


Kedua kaki telanjangnya menjejak tanah, menyibak ilalang rendah. Tubuh rampingnya melenggok lembut, sedangkan sinar mentari lemah yang menerawang melalui kabut dan pepohonan menyenteri wajahnya samar, begitu cantik dan ... hidup.


Soemantri Soekrasana membuka matanya, sedikit terkesiap memandang sang sosok yang berjalan di samping mereka.


"Soemantri, dimanakah kau?" sang sosok jelita celingak celinguk mencari Soemantri Soekrasana. Sanggulnya yang rapi ikut bergoyang sesuai gelengan kepalanya.


"Chandranaya ...," gumam Sarti pelan.

__ADS_1


__ADS_2