Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Lima


__ADS_3

Soemantri Soekrasana kemudian mengangguk-angguk. "Kita memerlukan bala tentara untuk melawan dan mencegah para iblis berkeliaran di dunia ini. Bukan aku meragukan kemampuan mbak, tapi aku sendiri yang ragu akan kemampuanku sendiri. Entah sampai seberapa kuat aku bisa melawan ilmu hitam yang benar-benar tebal dan pekat itu," lanjut Soemantri Soekrasana.


Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, membuat rambut tebal dan sedikit gondrongnya acak-acakan. Wong Ayu tersenyum sendiri tanpa terlihat Soemantri Soekrasana. Baru dalam kesempatan ini ia dapat melihat lebih jelas wajah dan penampilan pria muda itu. Kulitnya sawo matang, cenderung gelap, namun ada kesan 'kuat' dan 'manly' dari warna itu. Kulit wajahnya yang terbakar matahari itu berbentuk oval namun tajam di bagian dagunya. Kumis, jambang dan jenggot tipis menghiasai wajahnya yang kini mengkerut menandakan ia sedang berpikir keras.


Wong Ayu mengakui pria muda ini sebenarnya cukup tampan, walau mungkin bukan jenis pria yang bisa membuatnya jatuh hati.


"Jadi, mbak. Kita harus bagaimana?" pertanyaan Soemantri Soekrasana membuyarkan lamunan Wong Ayu.


Perempuan itu sendiri tiba-tiba merasa konyol telah memikirkan hal yang tidak-tidak. Untuk menutupi kegugupannya ia kembali mengurut keningnya sebentar, kemudian meminum teh hangat yang sebenarnya sudah menjadi dingin.


"Kau punya Mpu Gandring, bukan? Keris bertuah itu bisa melukai siapapun, termasuk orang-orang dengan ilmu jenis apa saja serta mahluk-mahluk manapun. Tidak peduli mahluk itu jin, gendruwo, kuntilanak atau sundel bolong, apalagi manusia dengan kesaktian seperti rawarontek atau pancasona. Dengan kerismu, kita bisa langsung membunuh si perempuan jahanam itu. Lagipula, kuntilanak merah piaraanmu itu kan bisa kita karyakan. Kulihat dia semalam membantumu melarikan diri dari serangan si perempuan gaib itu," jawab Wong Ayu.


Soemantri Soekrasana terkekeh pelan, "Pertama, aku tidak memelihara si kunti merah itu. Ia ikut denganku dengan beberapa alasan yang tak bisa, tak mau dan tak akan kuceritakan. Kedua, mungkin kerisku bisa melukai bahkan membunuh semua jenis mahluk, namun aku cuma manusia yang bisa lelah, terluka dan terbunuh. Ilmu silat dan kepandaianku berolah kanuragan jelas tak setinggi dirimu, mbak. Jadi, sebelum aku bisa mendekati sang mahluk itu, aku pasti sudah menjadi mayat."


Soemantri Soekrasana membuka tas selempangnya, mengambil kertas rokok selembar, menaruhnya di meja. Ia kemudian merogoh tasnya lagi untuk mengambil sejumput tembakau. Ia melintingnya perlahan, meletakkannya di bibir dan mulai membakarnya. Ia bukan perokok aktif. Merokok hanya perbuatan isengnya saja.


"Kau keberatan untuk membuatkannya satu untukku?" ujar Wong Ayu.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana menghisap rokok lintingnya, menghembuskan asapnya ke udara, kemudian menutup matanya, "Aku akan jujur, mbak," katanya kepada Wong Ayu tanpa membuka mata. "Aku benar-benar penasaran dengan dirimu. Tapi aku akan mencoba menjadi orang yang tidak gampang menilai dan menghakimi seseorang dari luarnya saja. Aku juga menghargai rahasia mbak, sama seperti aku juga tidak ingin membuka lebar-lebar pintu rahasia tentang diriku," ia kemudian membuka mata dan memandang lekat-lekat ke arah mata bulat dan buku mata lentik di depannya, "Aku akan buatkan satu batang rokok untukmu, mbak, sebagai tanda kerjasama kita. Tapi mbak harus janji untuk menceritakan kepadaku apa yang dirasa perlu untuk mengeyahkan mahluk itu beserta kroni-kroninya."


Wong Ayu mengambil tangan kanan Soemantri Soekrasana yang memegang rokok lintingan, memaksanya memindahkan rokok itu ke tangan kirinya. Wong Ayu menyalami tangan itu dengan mantap. Soemantri Soekrasana menggeleng-gelengkan kepalanya, namun kemudian meletakkan rokoknya ke tatakan gelas kopinya. Ia mengambil kertas dan tembakau dari dalam tasnya lagi. Sebatang rokok lintingan baru diberikan kepada Wong Ayu.


Wong Ayu menjepit batang rokok itu diantara bibirnya yang tebal dan berwarna merah terang, kemudian melihat sekeliling. Ketika didapatinya  tak seorangpun memperhatikannya, ia nyalakan rokoknya dengan menciptakan api kecil dari ujung jari telunjuknya. Wong Ayu menghisap rokok itu perlahan, penuh rasa kenikmatan, meninggalkan mimik Soemantri Soekrasana yang penuh dengan keterkejutan kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kardiman Setil sebenarnya sedang memperhatikan seorang perempuan berambut ikal, bermata lebar dan bertubuh sintal dengan baju berkerah berbelahan rendah yang duduk di bangku seberang sana sampai ia melihat seorang pemuda yang ada bersama si perempuan tersebut. Awalnya ia berpikir bahwa si laki-laki adalah suami atau paling tidak pacar si perempuan. Ia tidak ada niat sama sekali untuk main-main dengan istri atau pasangan orang lain. Bukannya tak bisa, namun buat apa? Lagipula di saat seperti sekarang ini, bermain perempuan mungkin bukan pilihan yang bijak. Namun begitu, bukan berarti ia tidak bisa memanjakan matanya dengan pemandangan indah itu.


Affandi duduk di sebelahnya, meminum secangkir kopi panas. Tadi ia yang memesan sebuah kamar di sebuah warung kopi, warung makan sekaligus losmen ini untuk sang abang, Marsudi, yang harus beristirahat atau mungkin bersemedi mencari petunjuk untuk langkah selanjutnya. Kalau sudah seperti ini, mungkin bisa beberapa jam saudara tua mereka itu akan tetap berada di posisinya, tanpa makan atau minum sama sekali. Makan juga bukan hal yang terlalu penting lagi buat Marsudi.


Kendaraan besar dan kecil berhenti di pusat desa, yang terdiri dari pasar tradisional, bangunan pertokoan dan gudang, warung makan dan warung kopi, bahkan ada sekitar tiga losmen didirikan di tempat ini.


Kalau sesuai rencana sebelumnya, harusnya mereka telah sampai di desa Obong pagi ini. Pengalaman semalam membuat mereka harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya. Di depan sana, masih ada sebuah desa lagi yang menurut informasi yang mereka dapatkan bernama Kaliabang, barulah mereka dapat mencapai desa Obong. Entah apa yang bakal mereka hadapi kemudian.


Kardiman Setil sudah merasa gerah. Ia belum mandi, belum berganti busana, belum berparfum. Semua itu adalah kebutuhan hidupnya, sama besarnya dengan makan minum, atau kebutuhan bersemedi Marsudi. Affandi sendiri hanya meringis memahami apa yang dirasakan saudara angkatnya itu, "Kau jelas-jelas perlu mandi, Kar. Aku malas lihat kau macam cacing di abu, kepanasan, goyang sana goyang sini merasa tak nyaman sekali."

__ADS_1


"Aku lebih baik tak makan dibanding tak mandi dan ganti baju, Af," balas Kardiman Setil terlihat risih dengan keadaannya sendiri.


Ia berdiri dan baru saja hendak melangkahkan kakinya ke parkiran untuk mengambil peralatan mandi dan ganti di vannya ketika ia iseng melirik ke bangku sang perempuan cantik di seberang sana. Bukan si perempuan yang menarik perhatiannya kali ini, tapi si laki-laki. Entah itu suami atau pacar, atau mungkin saudara sang perempuan, ia memang terlihat sedikit lebih muda. Perawakannya yang tidak begitu menarik perhatian itu, selain rambutnya yang sedikit acak-acakan, ternyata membuat Kardiman Setil terpaku sejenak. Pasangan, atau siapapun mereka, berdiri ingin beranjak pergi, ketika tanpa sengaja Kardiman Setil melihat sekilas, sebilah keris mencuat dari pinggang bagian belakang sang laki-laki. Kardiman Setil kembali duduk dan menatap Affandi. Ia berbisik, "Af, kau lihat laki-laki muda dengan perempuan itu?"


Affandi menoleh sedikit ke arah yang dituju Kardiman Setil. Affandimemandang Kardiman Setil lekat-lekat, "Kau tidak berniat mengganggu perempuan itu kan, Kar? Lupakan saja, aku tidak mau urus yang begituan," ujar Affandi sembari kembali menempelkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Brengsek kau, Af! Bukan itu. Aku juga pantang mengganggu istri orang, seperti tak bisa mencari perempuan lain saja yang masih lajang," protes Kardiman Setil. "Laki-laki muda itu membawa keris di pinggangnya."


"Lalu?" ujar Affandi singkat.


Kardiman Setil menutup kedua matanya dan merapatkan rahangnya dengan geram, "Kau bodoh sekali. Kita sampai kesini 'kan karena Marsudi mau memburu sebuah keris."


"Aku bodoh? Kau yang dungu. Hanya karena melihat keris kau simpulkan itu keris yang abang Marsudi cari?"


"Coba kau pikir sedikit. Kita sudah sampai disini, apa kebetulan saja aku melihat seseorang membawa keris?"


"Abang Marsudi belum menunjukkan tanda apa-apa soal keris pusaka yang ia cari itu. Kita harus percaya dengannya. Sudah terbukti perjalanan ini bukan perjalanan biasa," jawab Affandi santai.

__ADS_1


Kardiman Setil mengusap keningnya dengan frustasi, "Seberapa sering kau lihat orang menyelipkan sebilah keris di pingganggnya dan dibawa kemana-mana? Kau lihat ia mengenakan baju adat Jawa? Apa kau lihat ia berpakaian seperti seorang dalang atau pengantin Jawa? Tidak ‘kan?"


__ADS_2