Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Enam


__ADS_3

Kedua orang perantauan Sumatra itu masih berbicara dengan akrab. Namun, nampaknya Lamhot sudah terlanjur larut dalam percakapan ini dan pemikirannya sendiri, "Coba kau pikir sejenak lah, Bang. Kalau memang orang-orang di negara ini menguasai ilmu gaib dan sihir, sudah lah mereka pakai untuk mengusir penjajah!" ujar Lamhot bersemangat.


Parulian menjepit batang rokok diantara jari telunjuk dan tengahnya. "Nah, ini ... Inilah contoh orang sok pintar, menyembah logika, argumentasi dan fakta yang hanya bisa dirasa oleh panca indra. Pernyataan macam itu adalah andalan orang yang malas mencari tahu dan hanya bersandar pada apa yang mau ia tahu saja."


"Lah, kenapa memangnya, Bang? Dimana salahnya aku?" protes Lamhot.


"Si Pitung? Kau tahu dia? Diluar masalah sejarah bagaimana rupa jawara Betawi itu, di akhir cerita dia dapat ditangkap dan dilemahkan oleh Kompeni Belanda karena rahasia ilmu sihir, kesaktian dan kekebalannya yang berupa sebuah jimat dibocorkan oleh gurunya sendiri yang namanya Haji Naib. Ini karena ia ditekan Belanda. SI Pitung akhirnya juga tewas terkena mimis panas berbahan emas yang juga merupakan kelemahannya akibat keberadaannya dibocorkan oleh temannya sendiri, Somad namanya."


"Lalu, apa hubungannya, Bang?" ujar Lamhot penasaran.


"Kekalahan Sultan Hasanuddin bukan sepenuhnya karena serangan Belanda. Saat itu VOC hanya menyumbangkan sedikit pasukan, sisanya adalah dari serangan pasukan Bugis pimpinan Arung Palakka dan Kapiten Jonker dari Ambon yang memimpin kelompok prajurit Maluku yang mengabdi pada VOC."


"Ah, masih belum paham kemana arah bicaramu, Bang. Tadi ngomong soal si Pitung, sekarang soal Sultan Hasanuddin," protes Lamhot kebingungan.


"... dan, pahlawan dari pulau ini sendiri yang bernama Pang Suma, yang membunuh, memenggal kepala penjajah dengan senjata sebentuk pedang bernama Nyabur atau Naibor. Banyak tentara Jepang termasuk Komandan Pasukan Terlatih Jepang, Kaosu Nagatani, juga tewas di tangannya. Ia terkenal kebal dan sulit dibunuh sampai akhirnya dikhianati oleh teman seperguruannya. Serupa seperti si Pitung, sahabat seperilmuan Pang Suma ini membocorkan rahasia ilmu kekebalan dan kesaktian Pang Suma dengan ditembak menggunakan mimis dari buntat kuali, atau yang telah digosokkan ke bagian kehitaman di bawah kuali, ke arah pahanya. Maka Pang Suma pun gugur."


Lamhot menggeleng frustasi. Parulian ketawa mengejek, "Orang macam kau yang berseloroh seperti orang pintar dan sok-sokan merasa paling logis dan modern, tak mampu menyusun semua informasi yang baru saja aku ceritakan? Bah, macam mana pula kau ini?"


Lamhot menyipitkan kedua matanya mencoba menunjukkan bahwa ia hilang harapan sama sekali, tak paham dengan maksud sang senior.


"Kita memang menggunakan sihir, ilmu perdukunan dan ilmu kanuragan dalam melawan penjajah, sedangkan penjajah memainkan permainan mereka dengan mengadu domba. Dari sedikit contoh yang kuberikan tadi, yang mengalahkan ilmu sihir dan kanuragan para pahlawan dan jagoan kita, ya orang-orang kita sendiri. Penjajah mengalahkan bangsa ini dengan menggunakan sesama orang pribumi. Dari situ kau paham, bukan? Ilmu sihir dilawan dengan ilmu sihir atau penawarnya, Belanda cuma duduk-duduk melihat dan mengatur permainan di dalamnya," ujar Parulian.

__ADS_1


Lamhot sepertinya hendak protes, namun urung. Ia sadar bahwa percakapan mereka bukan sesuatu yang sepenting itu sampai harus berkutat di sana dan saling ngotot.


Melihat Lamhot terdiam, Parulian menyindirnya, "Aku tahu kau pengen sekali protes ‘kan? Sudahlah, orang-orang apatis dan skeptis tidak akan mendapatkan apa yang mereka mau. Setiap mendapatkan sebuah jawaban meyakinkan, mereka akan mencari pembenaran lain. Begitu seterusnya," ujarnya terkekeh.


Lamhot tersenyum hendak merespon ketika ia terbatuk. Rokoknya jatuh ke bawah, hilang diantara kabut. Namun ia tak berhenti batuk.


"Mampus! Nampaknya kau kena santet, Lamhot," gurau Parulian.


Lamhot berusaha tertawa mendengar ini, namun batuknya semakin membuat dan intens. Ia pun saat itu langsung berpikir untuk mungkin sudah saatnya berhenti merokok.


Namun sekarang, ia sedang batuk.


Lamhot jatuh berlutut. Batuknya begitu keras sampai ini memuntahkan ... Darah.


Lamhot memegang cairan kental yang keluar dari tenggorokannya dan melihat dua batang paku kecil berkarat terbenam cairan darah di atas telapak tangannya.


Lamhot memandang ke arah Parulian yang melotot menatapnya ngeri.


Lamhot kembali terbatuk keras. Muntahan selanjutnya berisi pecahan beling dan gulungan rambut. Sudah pasti di dalam proses keluarnya, benda-benda itu membeset jalan keluarnya, bagian dalam tubuh Lamhot.


Lamhot kali ini tak kuasa menahan lagi. Tubuhnya ambruk ke depan.

__ADS_1


Parulian segera mendekat ke arah temannya yang tengkurap dan mandi darah muntahannya sendiri.


Ada sosok sundel bolong juga ikut tengkurap di samping Lamhot. Lubang di punggungnya menunjukkan puluhan ulat dan belatung. Wajah si sundel bolong memyamping, akan tetapi matanya yang dingin mengarah ke mata Parulian.


***


Parulian melompat keluar dari rumah itu dan lari bagai kesetanan. Ia melewati dua tiga anak tangga sekaligus demi menyaksikan apa yang terjadi di atas baru saja tadi. Ia memang takut setengah mati, ia memang kegelagapan macam kucing tersiram air. Tapi, ia melarikan diri bukan sekadar didorong rasa paling mendasar manusia itu; bertahan hidup, tetapi lebih karena ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lamhot, rekannya. Anak muda itu tertelungkup di lantai atas dengan genangan darahnya sendiri.


Apapun bentuknya, segala kengerian yang ia lihat, sebentuk sundel bolong ikut tengkurap di samping tubuh tak sadarkan diri itu, Parulian harus mencari bantuan. Ia tak bisa membiarkan sang rekan sekampung dan seperjuangan dalam kondisi yang meski tak bisa ia jabarkan, jelas sangat buruk.


Yang disaksikan Parulian kemudian adalah bahwa bagian depan rumah di kompleks ini ternyata sudah ramai dengan para penghuni yang berduyun-duyun keluar. Semuanya memberikan warna wajah dan emosi yang sama: ketakutan. Kulit muka mereka sepucat kertas dan selusuh kertas yang dironyok.


Semua saling pandang, saling menebarkan informasi berupa cerminan telaga bola mata. Rupa-rupanya, bukan hanya Parulian yang mengalami kejadian aneh ini. Entah apa saja yang sudah para penghuni temui di dalam rumah mereka masing-masing.


Sebelum semua orang saling membuka mulut, secara seragam mereka melihat punggung tubuh Nurdin sang satpam yang kaku.


Mereka tak sadar bahwa beberapa detik yang lalu, Nurdin baru saja menarik pelatuk senapan rakitan pinjaman Julianus. Empat orang asing yang berdiri di depan mereka, beberapa langkah di muka Nurdin, bergeming. Jelas satu dari mereka harusnya tertembak. Tapi, ini tak ada sesuatu hal yang mencirikannya seperti itu.


Semua masih diam. Suasana yang ganjil ini semakin aneh ketika tak berapa lama, sosok dua orang yang sama-sama mereka kenal sebagai rekan Nurdin penjaga keamanan kompleks, Pak Rudi Suwarno dan Juwanto, muncul. Baju seragam mereka sobek-sobek dan penuh lelehan darah.


Namun, kedua satpam itu terlihat sehat walafiat. Satu-satunya yang berbeda dari gambaran fisik keduanya adalah pandangan mata mereka yang terlihat liar, terlalu bersemangat dan praktis sangat berbeda dari dua orang yang biasa mereka ketahui.

__ADS_1


__ADS_2