Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Satu


__ADS_3

Satria Piningit berhenti di kota kecil itu.


Ada sebuah warung kopi sekaligus rumah makan dan penginapan yang lumayan besar di dekat pasar dan pertokoan. Masih ada tiga desa yang harus dilewati sebelum sampai ke desa Obong, dan itu membutuhkan waktu yang tak sebentar mengingat perjalanan jauhnya dari ibu kota daerah ini dengan mobil sewaannya.


Ia perlu rehat barang sejenak dan bila perlu menginap. Toh, ia sudah terlanjur mengambil cuti sampai seminggu lamanya, jadi tak perlu terlalu tergesa-gesa.


Ia kemudian duduk di satu meja dan memesan makanan dan minuman untuk memenuhi perutnya yang sudah mulai kosong.


Sebenarnya ia sudah pasti tak akan melihat kedua kali ke arah sekelompok pria dan wanita di meja seberang bila tak beradu pandang dengan sepasang mata bulat lebar berpendaran dengan sinar antara penuh semangat membara dan kesedihan yang ia kenal dengan baik itu.


"Wong Ayu?!" ucap Satria Piningit agak terlalu keras. Tidak sedikit orang di warung makan itu yang memutar kepala mencari sumber suara.


Wong Ayu hanya sedikit lebih terlambat memanggil nama Satria Piningit, juga dengan sedikit lebih keras.


Keduanya berdiri, menghambur dari kursi meja mereka. Dua sosok itu berdiri di tengah, namun berhenti. Tak tahu yang harus dilakukan. Ada rasa rindu kangen yang membuncah seakan ingin keluar dari dalam dada mereka namun tak mampu diekspresikan dengan tindakan. Mata keduanya bertatapan, berbinar, saling memberi percikan rasa yang terpendam terlalu lama.


Tak disangka-sangka oleh Wong Ayu bahwa Satria Piningit sudah menjadi laki-laki dewasa. Sedangkan menurut Satria Piningit, Wong Ayu tak pernah memudarkan kecantikannya. Kali ini malah berlipat-lipat karena kedewasaannya.


Soemantri Soekrasana membalikkan tubuhnya melihat kejadian ini, kemudian kembali ke posisi duduknya semula, menghisap rokok lintingannya kemudian berkata kepada Anggalarang dan Sarti, "Akhirnya ada orang yang benar-benar saling kenal."


Anggalarang tersenyum dan menyeruput kopinya. Sarti mengangkat kedua alisnya, kemudian menyenderkan tubuhnya di kursi plastik, menutup mata sembari berkata, "Kenapa? Kau cemburu?"

__ADS_1


Anggalarang tersedak kopi, batuk-batuk kecil dan tertawa.


Soemantri Soekrasana jelas ingin sekali bereaksi untuk menolak tuduhan Sarti itu. Tapi percuma pikirnya, Sarti masih menutup mata dan melipat kedua tangannya di depan dadanya yang kecil itu. Lagipula, mungkin Sarti ada benarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi, kau melihat Priyam, tapi tak mengatakan apa-apa padanya? Dia juga tidak berbicara denganmu?" tanya Satria Piningit kepada Wong Ayu.


Satria Piningit sekarang duduk di satu meja dengan tiga orang teman Wong Ayu yang cukup unik - atau aneh - menurut pandangan Satria Piningit. Laki-laki muda yang bernama Sumantri Su ..., ia lupa nama panjangnya, tidak pernah lepas dari tas selempangnya. Satu laki-laki lain lain bernama Angga, mengenakan pakaian yang luar biasa menarik perhatian: pakaian kantor yang celananya sobek sampai di lutut dan kemejanya sobek di berbagai tempat. Ia telanjang kaki. Satu perempuan muda, menurut Satria Piningit gadis ini lebih muda dari Wong Ayu, cantik namun pesonanya tertutup perilaku dan gaya bicaranya yang agak kurang sopan. Kadang-kadang terkesan menggoda, kadang menjadi menua, kadang malah blak-blakan dan kurang ajar.


Tapi Wong Ayu menceritakan semua yang berhubungan dengan tiga orang rekannya ini sesingkat mungkin, dan Satria Piningit menerima semuanya tanpa protes. Memang sejenak ia menarik nafas dan menenangkan diri, namun setelah itu pertanyaan demi pertanyaan berhamburan dari mulutnya.


Sarti, Anggalarang dan Soemantri Soekrasana mendengar kata-kata Priyam dan desa Obong berkali-kali. Ketiganya kini yang kebingungan mendengar pembicaraan kedua orang ini dimana kalimat demi kalimat memantul bagai bola pingpong dari Satria Piningit ke Wong Ayu.


Satria Piningit hendak membuka mulutnya ketika Sarti yang nampaknya juga sudah mulai gusar memotongnya, "Apa sih yang kalian bicarakan sebenarnya? Apa kami boleh ikutan? Kalau begitu pribadi, lebih baik kalian menyewa kamar saja," ujar Sarti kenes.


Satria Piningit memerah wajahnya. Wong Ayu paham gaya Sarti, jadi ia tak bereaksi banyak. Anggalarang tertawa kecil, sedangkan Soemantri Soekrasana terlihat sebal dan terganggu, terutama pada frasa 'menyewa kamar saja.'


"Ah, maafkan. Ini kesalahanku. Harusnya aku ceritakan semua dari awal seperti halnya pula Wong Ayu yang menceritakan kisah kalian beberapa hari ini," Satria Piningit menarik nafas seperti tersadar.


"Aku jauh-jauh dari Kalimantan untuk mengunjungi desa Obong. Dulu sewaktu kecil aku tinggal di sana ... ," ucap Satria Piningit kemudian terhenti sejenak. Ia melirik ke arah Wong Ayu. " ... bersama Wong Ayu."

__ADS_1


Hampir semua orang di meja itu mengangguk-angguk, mulai menjalin cerita utuh dari lini masa yang ada.


"Sebulan terakhir ini aku tidak pernah melihat Priyam. Entah bagaimana aku menjadi sedikit khawatir dan bertanya-tanya, jadi kuputuskan untuk berangkat ke pulau Jawa, kembali ke desa Obong untuk mencari tahu keadaannya," lanjut Satria Piningit.


"Setelah mendengar cerita ini, kau masih ingin ke desa Obong? Seharusnya kau kembali ke Kalimantan, Satria Piningit. Sudah tak ada gunanya, dan paling tidak kau sudah tahu keadaan Priyam yang sebenarnya," ujar Wong Ayu.


"Entahlah, Wong Ayu. Apa kau yakin bahwa desa Obong adalah sarang iblis itu? Aku paham bahwa desa itu memuja segala hal yang gaib, banyak kejadian buruk yang menimpa desa itu diakibatkan para warganya. Tapi ...,"


Satria Piningit masih terus berbicara. Namun sayup-sayup Wong Ayu, Sarti dan Anggalarang mendengar Soemantri Soekrasana menggumamkan sesuatu, " ... gawe bumi pepitu lan langit sap pitu, ... kang tumurun ana ing tengah-tengah e jagat ..."


"Kau mau apa, Soemantri?" tanya Wong Ayu. Tapi terlambat, Soemantri Soekrasana memukul bahu Satria Piningit pelan. Satria Piningit langsung terdiam seperti linglung.


"Soemantri!" bentak Wong Ayu namun dengan menahan volume suaranya sehingga bentakan itu menjadi tertahan.


"Aku ingin tahu cerita lengkapnya, mbak. Nampaknya orang ini penting bukan hanya untuk mbak, tapi informasi yang ia bisa berikan akan berguna bagi kita semua. Dari tadi ia berbicara mengenai desa Obong, bukan?"


"Kau bisa langsung tanya saja tanpa menggendamnya bukan?" balas Wong Ayu.


"Aku ingin ia bercerita jujur sejujur-jujurnya. Lagipula biar kita tak kehabisan waktu untuk sesi tanya jawab. Dan dengan gendam ini, ia bisa bercerita sesuai urutan waktu, runut."


Wong Ayu menarik nafas kesal. Sarti dan Anggalarang diam seribu bahasa, namun bahkan Wong Ayu sadar bahwasanya keduanya setuju dengan hal ini.

__ADS_1


"Tapi aku tak ingin mbak salah paham. Aku paham seberapa besar pentingnya orang ini ... Satria Piningit maksudku, bagi mbak. Tapi aku juga ingin tahu cerita lengkapnya. Kita semua belum sempat tidur selama beberapa hari terakhir, tiba-tiba ada satu tambahan informasi dengan kedatangan Satria Piningit. Bukankah itu sebabnya mbak ajak Satria Piningit ke meja kita dan menceritakan semua yang sudah kita alami? Karena dia juga entah bagaimana berhubungan dengan kita ‘kan?"


__ADS_2