Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duabelas


__ADS_3

Kejadian di atas kapal itu terjadi beberapa tahun lalu. pada masa ketika seorang Bandi belum menjadi sosok pimpinan preman besar di Kalimantan. Pertemuan dengan Satria Piningit muda terjadi sebelum ia menjadi orang penting kepercayaan pejabat-pejabat disana dalam melaksanakan segala kegiatan penipuan, perampasan, pengancaman bahkan pembunuhan.


Takdir bekerja dengan cara yang seperti tanpa sistematika, tetapi unggul dalam algoritma. Dua tokoh itu bersinggungan dalam kisah Babad Angkara Murka ini tanpa tahu bahwa keduanya hanyala bidak-bidak nasib yang dijalankan oleh kekuatan tangan-tangan takdir tak kasat mata, untuk memainkan sebuah permainan kehidupan semesta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob bangun berdiri dengan tubuh ditutupi lumpur hampir seluruhnya, kecuali kedua matanya yang seluruhnya putih. Ini membuat biji alat penglihatannya itu bagai bersinar menyala dalam gelap. Bahkan sebenarnya, tubuh Yakobus Yakob terlihat seperti lumpur itu sendiri yang diberi nyawa dan kehidupan oleh para dewa.


Bandi berdiri mencurahkan sinar dari senter panjang logamnya seratus persen ke wajah Yakobus Yakob. Tangannya meraba sebatang pistol. Keistimewaan posisi dan kekuasaannya, Bandi tidak memegang pistol rakitan seperti beberapa orang lain bersamanya. Senjata api itu adalah sebuah pistol asli hasil selundupan, terselip di pinggang bagian belakangnya.


Tak lama kelima anak buahnya berdatangan. Sepatu boot dan sneaker mereka berkecipak di tanah berawa. Dua orang sudah menggenggam pistol rakitan, dengan percaya diri. Seakan mereka bangga dan bersemangat untuk segera menggunakannya. Sisanya membawa parang panjang yang tadi sempat digunakan untuk menebasi rerumputan dan ranting pepohonan untuk mencari Yakobus Yakob.


"Bagus sekali Om bisa menemukan bangsat itu," ujar laki-laki muda yang kegirangan dan gemas terlihat sekali ingin menggunakan pistol rakitan yang bentuknya buruk itu.


Lumpur di tubuh Yakobus Yakob mengalir turun bersamaan dengan lelehan air. Namun anehnya, ada banyak lapisan lumpur yang menempel tipis membentuk gambar dan motif tertentu di tubuh Yakobus Yakob.


Sosok Yakobus Yakob mendengus bagai seekor binatang hutan yang liar dan sedang dalam keadaan terhimpit para pemburu.


Sebilah mandau berkarat yang tadi ia genggam, kini tenggelam di dalam rawa. Praktis Yakobus Yakob berdiri tanpa senjata apapun, melainkan sepasang mata menerawang liar, menolak takluk di hadapan sorong senter Bandi, dan sepasang tangan dengan jari-jarinya yang mengepal.


Laki-laki muda yang petantang-petenteng dengan pistol rakitannya terlihat begitu geram. Ia menodongkan pistolnya ke arah Yakobus Yakob, tanpa mengindahkan posisi Bandi yang ia panggil 'Om' itu. Bandi jelas merupakan pimpinan kelompok begundal ini. Namun, layaknya kumpulan penjahat, pasti ada satu dua yang bertingkah.

__ADS_1


Bandi sendiri urung mengambil pistolnya. Ia melirik laki-laki dengan pistol rakitan tersebut akan tetapi tak melakukan apapun.


Yakobus Yakob baru saja membunuh salah satu teman mereka, yaitu anak buah Bandi yang lain. Ini dilakukan Yakobus Yakob dengan dendam yang menyalak-nyalak dalam jiwanya bagai seekor anjing hutan. Ini membuat serangan dan bacokan pemuda itu begitu membabibuta.


Bandi tak peduli permasalahan yang terjadi diantara mereka. Ia kehilangan satu anak buah. Ini berarti ia juga kehilangan harga diri. Mana boleh seorang laki-laki muda datang ke sarang penyamun membunuh anak buahnya dengan gaya penjahat. Ia dan orang-orangnya lah yang berhak melakukan ini kepada orang lain, laki-laki muda ini terutama. Karena mereka lah para penjahatnya.


Yang lain? Sama, mereka tak peduli rekan mereka tewas dibunuh dengan mengenaskan. Mereka bekerja secara profesional, atau lebih cenderung acuh tak acuh. Tidak ada hubungan khusus atau ikatan persaudaraan diantara mereka. Berbeda dengan gerombolan mafia yang memiliki prinsip brotherhood atau family.


Namun, seperti pimpinan mereka, Bandi, tindakan ini tak bisa dibiarkan. Mereka merasa harus membalas, memberikan pelajaran bagi siapapun yang melakukan perlawanan terhadap kelompok kriminal mereka. Serangan oleh seorang pemuda asing sungguh menyerang kewibawaan mereka pula.


Tiap penjahat di kelompok ini seakan berlomba menjadi beringas, galak dan sesadis mungkin.


"Kau tak mau menanyakan dulu alasan dia bunuh Ferdi?" respon Bandi dengan dingin. Pertanyaan ini sebenarnya bentuk sarkasme yang keras. Aslinya, itu adalah sebuah perintah untuk tidak dengan lancang melakukan tindakan apapun tanpa perintahnya.


Namun sial bagi Bandi, beberapa bawahan baru di tempat 'kerja' nya yang juga baru ini terlalu banyak gaya dan kerap bertindak sendirian tanpa perintah. Mungkin mereka berpikir ini adalah sebuah bentuk kreatifitas dan cara bekerja yang efektif ketimbang harus apa-apa lapor bos atau kenapa-kenapa tunggu komando pimpinan. Padahal menurut Bandi, jangankan kreatif, tidak dungu saja sudah bagus.


Letupan terdengar!


Asap dari moncong pistol rakitan membumbung tinggi bergumpal-gumpal berlebihan bagai bakaran sampah rumput kering.


Bandi malah yang meledak. Ia mencabut pistol aslinya, meraih kerah kemeja bermotif dedaunan berwarna jingga si penembak dan menempelkan pistolnya di kepala si dungu itu. "Bangsat kau! Aku sudah bilang tanyakan dulu siapa dia dan apa alasannya, kau malah main tembak! Aku bisa tembak juga kepalamu sekarang!" ujar Bandi dengan semburan amarah.

__ADS_1


"Sori, Om, sori, Om ...,” rintih sang pelaku.


“Sori, sori kepalamu itu!” hardik Bandi.


“Aku sudah gemas mau bunuh dia, Om. Orang itu kurang ajar sekali," ujar si malang. Ia sekarang menciut bagai selembar kanebo kering. Ia bahkan hampir melepaskan pistol rakitannya sendiri karena baru ini merasakan kematian sudah di ujung kepala, keluar dari lubang yang bisa saja sebentar lagi terbentuk dari pistol sang bos yang asli. Pistol tersebut juga memang terlihat lebih besar besar dan jauh lebih menakutkan.


Bandi semakin menempelkan moncong pistolnya ke kepala anak buahnya yang kurang ajar itu.


Namun tiba-tiba, semua orang terpaku. Bukan karena tindakan sang pemimpin, melainkan oleh hal lain. Sisa keempat anak buah Bandi yang tercengang melihat kawan mereka ditodong bos mereka sendiri, kini melihat ke arah Yakobus Yakob secara bersamaan.


"Om, ... Om Bandi ...," ujar salah satu di antara mereka tertahan.


Bandi memandang mereka dengan wajah penuh kekesalan, "Apa lagi kau? Mau kulobangi kepalamu setelah aku tembak teman kalian yang goblok ini?"


Orang itu tak menjawab, sebaliknya menunjuk ke arah Yakobus Yakob dengan parangnya.


Yakobus Yakob tadinya tersentak, tapi cuma lebih karena terkejut.


Mimis timah panas yang meluncur ke arah Yakobus Yakob hanya menembus lapisan tipis lumpur di badannya, setelah itu jatuh ke rawa dan tenggelam. Namun, tubuhnya tak terluka sama sekali apalagi tertembus tembakan itu. Ia masih berdiri dengan sempurna. Ada sedikit kepulan asap tipis di tempat mimis panas bersarang tadi.


Yakobus Yakob tersenyum lebar nan mengerikan. Mata dan giginya terlihat paling jelas dibalik lumpur, menunjukkan hawa membunuh yang mengerikan. Ia memandangi satu-persatu wajah-wajah orang yang sedang bernafsu membunuhnya itu. Mungkin segalanya kini terbalik. Binatang liar ini yang akan memangsa para pemburu.

__ADS_1


__ADS_2