Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keduapuluh Dua Kusuma Dewi


__ADS_3

Kusuma Dewi terbuai ketika setiap gesekan kulit mereka memercikkan neuron yang menyengat dan meledak-ledak. Atom, proton dan neutron menggelegak di jagad jiwanya ketika tubuh tak berbusana mereka saling tindih dan merapat erat.


Anggalarang tak pernah merasakan setiap gerakannya bermakna, begitu dalam. Dunianya terserap habis ke dalam tubuh indah Kusuma Dewi yang bersinar di bawah tubuhnya, bergoyang, bergoncang dengan ritma dan irama yang konstan bagai aransemen sebuah musik alami.


Anggalarang sama sekali tak paham bahwa kenikmatan syahwat yang selama ini berhasil membuatnya merasa senang, tenang dan berjaya, ternyata tak ada bandingannya dengan apa yang ia rasakan dengan Kusuma Dewi, seakan ini adalah pertama kalinya Anggalarang merasakan indahnya bercinta.


Laki-laki itu tak memerlukan sang harimau yang biasa mengintip dan menyumbangkan keliaran, keganasan, kejantanan dan kuasanya atas tubuh wanita. Anggalarang sebaliknya merasa menjadi utuh, menjadi dirinya sendiri, dengan segala kelemahannya. Nafas sengalnya ketika memompa tubuh merasuk masuk ke dalam indra kenikmatan Kusuma Dewi malah menjadi keindahan itu sendiri.


Di saat yang sama, Kusuma Dewi juga tak memerlukan sang perempuan ular untuk membuatnya mampu menggeliat liat atau sosok gadis berkulit gelap berujung dada merekah merah darah seerti miliknya untuk membuatnya mendesah terengah-engah. Ia terserap ke dalam kenikmatan sekaligus kedamaian tanpa batas.


Kusuma Dewi membalas dengan baik setiap bahasa tubuh Anggalarang. Keduanya menari dalam musik bernada indah, saling mengait kaki dan menelisik dalam lenguhan.

__ADS_1


Hanya ada asmara dan cinta yang direpresentasikan dengan ledakan berahi Anggalarang dengan menusuk masuk


sembari mengunyah mentah-mentah sepasang dada mengkalnya yang menggantung jatuh penuh. Kusuma Dewi melayang terbang tinggi menembus awan ketika ia mencapai puncak, berkali-kali. Ia bahkan baru tahu bagaimana rasanya kenikmatan teratas tersebut mendera jiwanya, mendesak meminta berkali-kali dengan paksa. Kusuma Dewi kecanduan dan menagih atas nikmat yang Anggalarang berikan.


Pak Guru Johan tak tahu bahwa di lantai tiga apartemen mewah itu, Kusuma Dewi dan Anggalarang sudah menyatu. "Belum sampai satu jam," ujarnya pada diri sendiri. Gerimis kecil membuatnya mengatupkan hoodie jaket ke kepalanya. "Kalau sudah lebih dari satu jam keduanya di kamar laki-laki itu, sudah dipastikan Kusuma Dewi berhasil membuat Anggalarang menidurinya," kembali ujar Pak Guru Johan kepada diri sendiri.


Pak Guru Johan sudah bukan seorang guru lagi. Ia merasa tak pantas memikul tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa sedangkan sifatnya bejat dan ia yang menjadi penyebab kematian sang istri. Anak-anak juga bukan lagi menjadi tugasnya, karena ia seorang ayah yang gagal. Biarkan anak-anaknyatumbuh di keluarga baik-baik. Pak Guru Johan bahkan telah menarik semua uang di tabungan yang rencananya akan digunakan untuk masa depan keluarga bersama istrinya. Kini uangnya dipakai untuk membiayai misinya, melumpuhkan Kusuma Dewi, iblis perempuan berwajah cantik itu.


"Andai Anggalarang paham bahwa aku berusaha untuk menolongnya pula," ujar Pak Guru Johan pelan pada dirinya sendiri.


Padahal, Anggalarang dan Kusuma Dewi bercinta dalam hujan cahaya gemerlap bukan dalam gelap. Tubuh putih pucat dengan urat biru terlihat di balik lapisan kulit lekukan ketiak Kusuma Dewi merupakan pemandangan berharga bagi Anggalarang. Tubuh polos sintal itu mengayun-ayun penuh ritma. Anggalarang semakin memacu sampai ledakan rasa menghujam dadanya dan meleler ke tubuh Kusuma Dewi.

__ADS_1


Kurang dari satu jam percintaan mereka, namun merangkum segala kenikmatan yang tertahan dan tertunda selama bertahun-tahun. Dhenok, Livy Tjandrawati, Jenar Keswari sang Queenie, Nadya Moeloek yang molek, Jenni Tan sang gadis metropolitan atau entah berapa banyak gadis lain yang bercinta dengannya dengan beragam gaya serta menghabiskan waktu lama dengan liar dan brutal ternyata tak ada apa-apanya dibanding percumbuan singkatnya dengan Kusuma Dewi yang penuh, padat, berkwalitas dan berisi. Cinta yang luber-luber memenuhi segala relung-relung kosong di hati keduanya.


Bagitu pula dengan Kusuma Dewi yang merasa secara fisik, Pak Guru Johan dan Dani tak lebih seperti kudapan yang terlupakan belaka. Anggalarang adalah makanan utama sekaligus penutup. Mengenyangkan, lezat, nikmat, bergizi, lengkap dan memuaskan. Bila tak dapat menahannya, bisa-bisa sepasang manusia ini akan meledak berkeping-keping oleh rasa cinta dan asmara yang dituangkan deras melalui bejana hasrat dan syahwat.


Maka dari itu, Pak Guru Johan tak mungkin menyangka bahwa mereka sudah selesai bercinta ketika melihat sosok Anggalarang turun mengantar Kusuma Dewi ke depan taksi online. Pak Guru Johan yang nyata-nyata bejat - terbuka dengan hadirnya Kusuma Dewi di Dusun Pon - itu mengukur percumbuan dengan durasi. Kurang dari satu jam, tak mungkin kedua orang itu sudah melakukannya, pikirnya.


Memang sungguh tak diketahui Pak Guru Johan bahwa ini adalah ketiga kalinya Anggalarang dan Kusuma Dewi memadu kasih. Keduanya bercinta dengan hujan cahaya lampu terang kamar apartemen Anggalarang. Keduanya saling puji, saling puja dan menunjukkannya dengan gerakan dan respon fisik yang nyata. Kedua tubuh mereka saling berkomunikasi, berbicara dan tukar bahasa. Tidak ada penguasa dan yang ditundukkan, tidak ada tuan dan budak, tidak ada borjuis dan proletar. Setiap ******* adalah bahasa dan setiap lenguhan adalah tanda bahwa mereka saling mengerti dan memahami.


Tapi selang tiga hari, Pak Guru Johan sudah setengah yakin bahwa Anggalarang dan Kusuma Dewi telah bercumbu dan bersetubuh. Kusuma Dewi mungkin telah berhasil melaksanakan rencana busuknya untuk memikat Anggalarang dan kemudian membunuh semua orang yang penting dalam kehidupan laki-laki muda itu. Keduanya berada di dalam kamar Anggalarang dengan waktu yang sama, mungkin hanya satu jam.


Tepat seminggu, Pak Guru Johan tak tahan lagi. Ia menyeret tubuhnya cepat masuk ke lift apartemen untuk menyelesaikan misi agungnya. Laki-laki ini tak necis lagi. Celana kain kusam, kaos polo hitam dibungkus hoodie dengan warna yang sama. Wajahnya tak terawat dengan kumis dan jenggot tumbuh liar. Ketika meraba keris yang diselipkan di pinggang bagian belakangnya, sosok hantu Ratih sang Belibis muncul membayang berjongkok melalui refleksi pintu lift.

__ADS_1


"Tenang Dek, aku janji akan selesaikan hari ini agar kau bisa tenang," ujarnya kepada sosok Ratih yang sosoknya berbentuk aneh. Melebar dan tak proporsional. Wajah hantu itu seakan tertarik ke segala arah, sepasang matanya


gelap besar, dan rambutnya tercitrakan merambat bagai akar tanaman. Tiada senyum yang tergambar di wajah aneh itu, pun tidak sebuah seringai. Hanya wajah dingin kaku mati. Seutas kalimat tercoret di gendang telinga Pak Guru Johan dengan lirih, "Bunuuhh!"


__ADS_2