
Sang istri tak berani menanyakan hal apapun kepada Satria Piningit, suaminya. Bukan karena ia takut dengan sang suami, tetapi lebih karena takut dengan kenyataan yang harus ia dengar nantinya.
Sudah lama ia kenal dengan Satria Piningit, dan segala hal tentangnya selalu berada dalam kemisteriusan. Misalnya saja, andai sang istri tahu bahwa Satria Piningit melihat anak laki-laki bertubuh gosong terbakar dan salah satu bola matanya hampir meloncat keluar sedang duduk di samping dua anak kembar mereka yang tertidur di kursi belakang mobil, pastilah ini akan membuat sang istri merasa ngeri serta mungkin sedikit histeris.
Andai sang istri juga tahu bahwa Satria Piningit melihat sosok-sosok merangkak di balik rerimbunan permohonan sawit bermunculan di sepanjang jalan. Ada pula sosok perempuan berambut panjang, berjubah putih bernoda darah dan wajah sepucat kertas berdiri di tengah perempatan sepi yang lampu kuningnya berkedip-kedip tak berhenti.
"Kita harus pergi secepatnya melewati jembatan. Aku merasakan hal yang buruk sejak dari rumah kita," ujar Satria Piningit.
Sang istri bukan seorang penakut, tapi ia sendiri mengakui bahwa itu karena selama hidup ia belum pernah melihat hantu atau mahluk astral lain sejenisnya. Namun, bukan pula berarti ia tak percaya hal semacam itu.
Almarhumah ibunya mengaku pernah berkali-kali melihat sosok-sosok manusia berjalan di tengah malam di sekitaran rumah mereka. Waktu itu ia masih seorang gadis remaja, dan sang ibunda kerap bercerita.
Misalnya saja ibunya pernah berkata, "Ibu tadi liat Pak Sulaiman di belakang. Mau pergi sepertinya."
Ia tentu saja protes dengan pernyataan sang ibunda karena mengetahui fakta bahwa, "Pak Sulaiman ‘kan sudah dua tahun ini kena stroke, bu. Bagaimana bisa dia berjalan sampai ke belakang rumah kita? Malam-malam dan sendirian pula ‘kan?" ujarnya.
Sang ibu hanya mengangkat kedua bahunya. Besoknya, Pak Sulaiman ternyata meninggal dunia.
Hal semacam ini terjadi berkali-kali. "Ibu ketemu sama Wati tadi subuh sewaktu mau ambil air di sumur. Dia bilang mau pergi. Minta ibu untuk menyampaikan salam kepada keluarganya," ujarnya suatu saat.
Hal ini juga diprotes oleh anak gadisnya. "Mbak Wati dari perumahan kita, Bu? Dia sedang di Malaysia sekarang. Mbak Wati ‘kan sudah setahun lebih menjadi TKI di sana."
__ADS_1
Dua hari kemudian, sampai kabar ke kedua orangtuanya bahwa Wati meninggal di Malaysia karena sakit tiba-tiba. Banyak yang curiga bahwa Wati tewas dianiaya majikannya.
Sempat penasaran, ia pernah bertanya dengan sang ibu, "Benar begitu, Bu?"
Ibunya menyunggingkan senyum mengejek, "Orang-orang suka asal menuduh, asal curiga. Wati punya pacar di sana, sama-sama TKI, orang Indonesia."
Balasan jawaban yang aneh dan seperti tak ada hubungannya. Anak gadisnya tentu langsung melupakan perbincangan singkat ini, meski berbulan-bulan kemudian, ia tahu dari berita, bahwa Wati terbukti dibunuh oleh kekasihnya sendiri, seorang TKI asal Indonesia. Dan ia sudah lupa bahwa sang ibu sudah menjelaskannya terlebih dahulu.
Terakhir, sang ibunda sendiri yang berkata kepadanya bahwa ia bakal dijemput tiga minggu lagi. Tepatnya pukul satu siang lewat sepuluh menit. Ia sengaja mengatakan ini kepada anak gadisnya agar bersiap-siap untuk berpisah dengannya.
Namun, ini merupakan hal yang anak gadisnya itu paling sesalkan selama hidupnya. Ibunya meninggal dalam damai tepat tiga minggu setelah ia mengatakan kepada sang anak, pukul satu lewat sepuluh menit siang. Dan sang anak gadis tidak paham dan tidak menganggap serius ucapan sang ibu.
Maka, istri Satria Piningit ini tidak mau menghabiskan waktu untuk meragukan sang suami, apalagi Satria Piningit pernah berkata bahwa ia pernah bertemu ibundanya itu, di belakang rumah.
Sang istri langsung berderai air mata. Ia yakin bahwa Satria Piningit jujur. Selama hidup ia tak pernah menceritakan ini kepada siapapun. Bagaimana mungkin Satria Piningit tahu kejadian tersebut? Bahkan tak ada seorangpun yang menjadi saksi bahwa sang ibu pernah berbicara seperti itu padanya dahulu.
Sang istri memandang wajah suaminya yang sibuk menyetir dari samping. Raut wajah ketegangan jelas terlukis di sana. Ia berkali-kali melihat kaca spion tengah, kiri dan kanan, atau melihat ke luar jendela.
Ia tak bisa membayangkan apa yang sang suami lihat dan saksikan. Ia hanya bisa melihat kedua anak kembar mereka yang masih tertidur di kursi belakang mobil mereka untuk membuat dirinya nyaman, merasa tenang kedua anak mereka.tidur pulas.
Ketegangan luar biasalah yang muncul dari wajah Satria Piningit ketika mereka melewati gapura Kampung Pendekar. Sang istri mencoba melihat keluar jendela, ke arah dimana Satria Piningit seakan menghindar atau menolak untuk melihat.
__ADS_1
Memang sang istri melihat ada asap membumbung dari perkampungan itu, tapi api sudah tak terlihat. Ada beberapa warga hilir mudik di dekat gapura, mungkin semacam ronda atau jaga malam dan membantu memedamkan api, pikir sang istri. Namun sisanya tak ada hal yang cukup mencurigakan untuk membuat sang suami begitu tegang. Butir-butir keringat bergulir berlomba-lomba turun dari kening Satria Piningit. Sang istri bahkan melihat samar-samar, bulu-bulu di lengan dan leher Satria Piningit meremang.
Bagaimana tidak, ini kali pertama Satria Piningit melihat segala jenis mahluk halus bermunculan dimana-mana. Kepala beterbangan di langit. Sosok berjalan kayang dengan kepala terpuntir patah sedang melata di dekat gerbang Kampung Pendekar. Di atap beberapa bangunan kampung itu, Satria Piningit juga melihat pocong menempel dan kuntilanak mengambang.
Dan, di sanalah ia melihatnya, Jin Obong.
Sosok raksasa bermata merah, bertubuh penuh bulu yang menjuntai, berdiri di puncak sebuah pohon besar yang berjejer bersandingan dengan pohon-pohon serupa di tepi jalan sebelum jembatan tol.
Dengan kuku-kukunya yang panjang dan hitam, sosok itu menunjuk ke arah jembatan tol, seakan meminta Satria Piningit segera pergi meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Satria Piningit masih belum merasa tenang ketika mobilnya adalah satu-satunya kendaraan di dini hari itu yang melewati jembatan tol. Ia masih sempat melihat beberapa laki-laki yang berjalan di tepi jembatan, entah siapa dan apa urusan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yakobus Yakob menembus dinding. Tubuhnya memecah menjadi partikel-partikel kecil yang menyelip ke sela-sela semen, pasir dan batu dan kemudian memadat lagi setelah berhasil melalui tembok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua orang laki-laki sedang berbincang-bincang di toilet pria. Mereka mencuci tangan di wastafel sembari memandangi pentulan wajah mereka di cermin.
Yang berbadan gempal dan berisi sedang menceramahi sang junior yang baru lulus SMA bagaimana bekerja yang benar menjadi seorang penjual narkoba yang profesional.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yakobus Yakob masih menembusi dinding di bangunan itu. Hidungnya mengendus dosa yang pekat dan dekat dari arah toilet pria. Ada gumpalan masa lalu kelam, berahi dan nafsu yang kental, serta kejahatan yang tebal menaungi udara.