
Sarti melihat kesempatan ini mengambilnya untuk menerjang tepat ketika Chandranaya sudah terlibat secara penuh dalam pertempuran tersebut. Sarti dengan ganas dan brutal menusukkan tombak pusaka Baru Klinthing ke arah musuh, mengoyak lambung mereka, mengeluarkan isinya yang tumpah ruah jatuh ke atas atap bangunan yang terbuat dari seng. Dua orang pemuda langsung tewas. Arwah-arwah gentayangan serta beragam jenis siluman yang merasuki jiwa mereka meloncat beterbangan dan muncul menghilang. Hantu-hantu perempuan yang datang bersama Chandranaya menggulung tubuh astral hantu-hantu yang berloncatan keluar dari raga para inangnya itu dengan kekuatan gaib yang sulit digambarkan.
Sarti siap menyerang para pemuda lain ketika Satria Piningit dalam bentuk raksasa jin Obong turun entah dari mana memporak-porandakan para pemuda.
Lengannya yang panjang berputar-putar bagai kitiran dengan brutal membabat lawan. Cakar-cakar panjangnya menancap di tubuh musuh dan mencabik-cabiknya. Kakinya yang melangkah lebar-lebar menyepak, menendang dan menjejak lawan. Sosok raksasa ini juga menggigit tubuh seorang pemuda dan menyobeknya menjadi dua bagian.
Darah bertebaran ke seluruh penjuru.
Sarti menghela nafas, kemudian berdiri bertolak pinggang memandang takzim Satria Piningit yang berada dalam bentuk jin Obong. Sarti tak bisa menahan untuk tidak tersenyum ke arah orang yang ia kenal itu. "Kau nampaknya begitu menikmati ini, Satria!" serunya keras.
Satria Piningit dan jin Obong berdiri menjulang di depan Sarti. Darah menghiasi mulut dan wajah serta kedua tangannya. Satria Piningit tak membalas ejekan Sarti itu. Ia toh memang tak memiliki pilihan selain mengikuti rencana dan mau Yakobus Yakob. Sarti yang memiliki ilmu kanuragan dan pengetahuan batin juga mampu melihat ada Satria Piningit di dalam bentuk tubuh raksasa jin Obong tersebut.
Sedangkan, setelah dibantai oleh Satria Piningit dan jin Obong, tubuh para pemuda tak lagi kembali ke kehidupan. Arwah-arwahnya melayang, menguap dan meluncur keluar satu persatu dan masih harus menghadapi kekuatan Chandranaya dan hantu-hantu lainnya.
Namun, baru sebentar saja Sarti menikmati kekagumannya sendiri atas kemunculan Satria Piningit dalam bentuk berbedanya itu, ia kembali tersentak. "Satria Piningit!" seru Sarti ketika mendadak melihat rombongan hantu mariaban mencelat keluar dari balik kabut menyerang sosok jin Obong. Tubuh-tubuh mereka memang sedikit lebih kecil dibanding jin Obong, namun kesemuanya seakan seperti komplotan semut yang mengerubungi gula. Cakar dan taring mereka dibenamkan dalam-dalam ke tubuh berbulu jin Obong.
Teriakan sakit dan kegeraman menggema. Jin Obong meronta-ronta, memutarkan tangan, tubuh dan menggoyangkannya agar hantu-hantu mariaban terlepas. Yang terjadi, baik jin Obong maupun para hantu mariaban, kesemuanya jatuh berguling-guling ke bawah dan hilang oleh selimut kabut.
__ADS_1
Sarti mencelat meloncat turun menyusul mereka.
***
"Mana Anggalarang, Soemantri? Kita membutuhkan Maung," ujar Wong Ayu. Tubuhnya masih melayang di udara, menyebarkan senjata gaib berupa api dan ilmu sihir, namun ia berbicara dengan menggunakan komunikasi gaib melalui getaran sinyal otak kepada Soemantri Soekrasana.
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, Yu," jawabnya pendek.
"Apa maksudmu? Kita perlu Maung sekarang," seru Wong Ayu.
"Aku sudah disini. Kita saja dahulu yang menghadapi mereka," balas Soemantri Soekrasana. Ia meloncat-loncat dengan ilmu meringankan tubuh mendekati Wong Ayu. Kemudian ia merapal mantra, membuat para pemuda terpaksa hangus terbakar dan tewas Wong Ayu karena arwah tertarik dari dalam tubuh mereka. Tapi kebanyakan pemuda masih bisa kembali hidup karena begitu banyaknya mahluk halus yang bersemayam di tubuh mereka.
"Kita kekurangan orang, Soemantri. Kita benar-benar butuh Maung. Aku tak bisa memantrai para hantu bila sekaligus sambil menyerang orang-orang itu. Lebih baik kau gunakan Mpu Gandring," ujar Wong Ayu melalui pikirannya di sela-sela pertempuran.
Soemantri Soekrasana mengaku sedang cukup lelah. Bila ia harus menggunakan keris pusaka itu, maka ia harus menerima konsekwensi bahwa ia akan terserap kekuatannya dan bisa-bisa ia celaka.
Namun, tak ada pilihan lain.
__ADS_1
"Fokus saja dengan mantra-mantra pengusir iblis dari tubuh pemuda itu. Aku akan membantu penyihir perempuan itu membasmi mereka," tiba-tiba terdengar suara Yakobus Yakob.
Tubuhnya menyatu dan memadat dengan cepat dari partikel-partikel kecil yang terpecah. Ia mengambang terbang di udara, kemudian tubuh gelapnya kembali pecah dan menghilang. Tak lama para pemuda yang menyerang dengan senjata api harus berhadapan dengan Yakobus Yakob yang dengan brutalnya mencabut kepala mereka, menyobek dada bahkan menghancurkan lawan bagai bubur berisi darah.
Soemantri Soekrasana batal mengambil kerisnya. Sebaliknya ia berkata kepada Wong Ayu, "Aku akan memusatkan diri untuk mengeluarkan para hantu seperti katamu. Bila tidak, seberapa kacaunya pun tubuh mereka, entah dicincang atau dibakar sekalipun mereka akan tetap kembali hidup," ujarnya.
***
Bandi menatap nanar peperangan di depannya dari bukit makam kuno dengan tembok batu bata merah. Pasukannya mendapatkan lawan yang mengejutkan. Tengkorak hitam yang membayang di sampingnya bergerak-gerak gelisah seirama dengan tonjolan sebesar kepala bayi yang muncul dan tenggelam di balik kulitnya. Kekuatan magis di dalam tubuhnya itu menuntut sebuah pertempuran.
Bandi sendiri juga sudah kesal karena dikalahkan Affandi. Sosok laki-laki yang sekonyong-konyong datang membuyarkan impian kekuasaannya itu benar-benar tak bisa diterima. Bandi sudah menggenggam kekuatan yang diberikan kepadanya. Ia memiliki pasukan, memiliki rencana, memiliki masa depan. Mengapa sekarang ia harus menjadi nomor dua hanya dalam hitungan jam semata semenjak terakhir ia mendapatkan kesaktian ini?
Sang perempuan iblis yang menjadi majikannya, yang menawarkan keabadian dan kenikmatan duniawi itu ternyata juga memiliki ketakutan terhadap sosok Nyi Blorong dan Affandi, yaitu budak dan bidak sang Nyi Blorong sendiri.
Sepuluh pendekar leluhur kampung ini yang ia andalkan juga ternyata telah musnah, kembali ke dunia mereka sebelumnya yang penuh dengan kegelapan dan kesengsaraan. Rombongan musuh yang memiliki kekuatan gaib dan kesaktian itu juga mendadak datang mencoba menghancurkan segala rencananya.
Ia tak bisa membiarkannya. Bukan masalah karena ia diperintahkan memimpin para pemuda untuk menghadapi satuan regu khusus Kepolisian yang datang berkunjung. Untuk saat ini anggap saja permasalahan dengan Affandi bisa perlahan ia selesaikan kelak. Namun, ia tak mungkin membiarkan para prajuritnya bergelimpangan kalah oleh kelompok pengganggu ini sekarang.
__ADS_1
Ia tak rela!
Mantra-mantra mengalun pelan dari mulutnya. Darahnya menggelegak, membuat tonjolan di balik kulitnya muncul tenggelam. Sosok tengkorak hitam membayang bagai asap. Tak lama dari selimut kabut, muncul sosok-sosok entitas gaib, mahluk halus yang sebelumnya terusir dari tubuh-tubuh pemuda yang mereka hinggapi. Bandi kembali membuka pintu gerbang kerak neraka demi mengembalikan para hantu, jin dan siluman ke dimensinya.