Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tujuhpuluh


__ADS_3

Hanya saja, para pemuda juga harus menjaga agar para mahluk halus tidak sampai terusir pergi. Mereka harus bersama-sama pergi menjalankan misi ini, membunuh dan membangkitkan sebanyak mungkin orang untuk dijadikan pengikut nirwana dan taman Firdaus mereka. Hantu-hantu menjaga aliran kekuatan dari alam sana untuk tetap mengalir bagai sungai dari pegunungan. Bila mahluk-mahluk gaib itu pergi, gapura akan tertutup bagai bendungan, membuat para pemuda yang tewas tak akan kembali hidup. Yudi tentu tak mau itu terjadi.


Walau, sebenarnya Yudi tak terlalu paham secara mendetil alasan di belakang misi mereka, dan bagaimana mungkin para hantu dapat terusir, ia tak ambil pusing. Ia hanya peduli dengan penglihatan agung nan akbar yang membuka di depan matanya seperti meledak di cakrawala. Sebuah kebenaran dan kenyataan mutlak yang seakan adalah satu-satunya kebenaran dan tujuan dalam kehidupan di semesta ini.


Sampai pada akhirnya, ia baru merasakan ada kumpulan musuh yang datang tiba-tiba memberikan perlawanan dalam rupa ilmu kanuragan dan sihir yang secara mengejutkan berhasil menghalang-halangi tujuan mereka.


Maka, Yudi merasa sudah saatnya mengambil pasokan kekuatan yang sudah dibekalkan di dunia sana, dibalik tirai tipis dimensi.


Yudi menggenggam gagang parang panjangnya yang sebagian berkilat samar oleh sinar yang berpendar lemah menyisip di rongga kabut.


Ia menjulurkan lidahnya kemudian menetak putus benda bagian dari tubuhnya itu. Darah menyembur keluar dengan deras dari bekas tetakan tersebut.


Dengan potongan ujung lidahnya yang berdarah-darah itu, Yudi menuliskan semacam simbol atau lambang kuno di permukaan jalan beraspal kompleks perumahan tersebut yang masih juga dihiasi bekas darahnya serta rekan-rekannya tadi.


Ada larik-larik mantra yang dalam hati digaungkan oleh Yudi sembari tangannya terus menggambar.


Setelah selesai, Yudi menyambungkan kembali potongan lidah itu ke tempatnya sampai menempel secara sempurna.


Lidahnya kembali utuh seperti sedia kala.


***


"Kau yakin ini cara yang benar, Wong Ayu?" ujar Sarti melalui pikiran yang disampaikan menubruki getaran udara. "Aku sudah mencoba melipatgandakan kecepatanku, tapi mereka malah seakan semakin lihai. Sekali dua tebas tak pernah telak membunuh mereka. Mereka hanya terluka parah dan kembali seperti semula sebelum aku berhasil menyerang kembali. Aku butuh bantuan," ujar Sarti.


Ia sendiri sembari berkomunikasi batin dengan Wong Ayu, masih terus berkelebat menyerang para pemuda Kampung Pendekar yang malah semakin memberikan perlawanan sengit tersebut.

__ADS_1


"Harusnya seperti itu, Sarti. Aku juga sedang membantu Soemantri. Hantu-hantu dan mahluk-mahluk astral lainnya ternyata cukup kuat. Tidak hanya kau yang butuh bantuan, tapi tiga hantu yang dibawa serta Soemantri merasakan kegelisahan yang sama. Aku harap Satria akan segera datang. Ia adalah salah satu kunci utama masalah ini. Sementara, kau harus bertahan seorang diri, Sarti. Jangan mati dulu, kami membutuhkanmu dan tak tahu pada zaman apa kau akan hidup kembali," jawab Wong Ayu.


"Satria? Satria Piningit?" ujar Sarti bertanya-tanya, sedikit terkejut dengan kehadiran nama itu di dalam peperangan yang sedang terjadi disini.


Wong Ayu tidak sempat menjawab apapun ketika tubuh Sarti terhempas ke pagar bangunan dari besi yang berkelentang nyaring. Seorang pemuda pendekar berhasil menubruk tubuhnya keras. Belum sempat memberdirikan tubuhnya, dua orang pemuda melesat ke arah Sarti dengan sabetan parang yang ganas secara bersamaan.


Sarti berkelit, melompat, meloncat, menangkis serangan-serangan kalap itu dengan celuritnya. Pijar-pijar api menyala dari benturan logam senjata tajam mereka.


Sarti mendadak merasakan bahunya sobek. Darah mengucur senada warna dengan pakaiannya.


Parang Yudi masih menempel di sana.


Sarti membacok sang lawan yang muncul tiba-tiba itu sembari tangannya yang satu menahan bilah parang itu agar tak lebih masih ke dalam daging bahunya, atau ditarik membelah.


Celurit Sarti kurang cepat, atau Yudi yang semakin gesit. Bilah tajam dan lancip yang melengkung milik Sarti itu digenggam oleh Yudi. Darah merembes dari telapak tangan sang pemuda, mengalir melewati bilah celurit Sarti. Tapi Yudi tak menunjukkan wajah selayaknya orang yang meringis kesakitan. Bilah celurit perlahan namun pasti membengkok bagai kawat timah, dengan entengnya oleh remasan tangan Yudi yang masih mengalirkan darah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setiap warga seperti sedang dalam keadaan high, seperti dirinya. Entah apa yang mereka tadi lihat, entah apa yang sudah mereka alami. Bahkan William Tanata tak yakin apakah para warga masih melihat hal-hal gaib seperti dirinya sekarang.


"Sayang, kamu cantik sekali. Aku tak bisa menggambarkan seberapa rindunya aku dengan sayang," ujar William Tanata kepada sosok yang muncul dalam pandangannya tersebut. Padahal, sosok mahluk halus yang ia tatap sekarang itu sedang dalam bentuk yang paling mengerikan, yaitu bermandi darah, kepala bocor dan tubuh yang berdiri dalam keadaan setengah bungkuk terpatah.


Wajah Jessica Wu yang tertutupi cairan kental darah itu memandangnya dengan dingin.


"Bisakah sayang membantu orang-orang itu? Bisakah membantu warga kompleks ini? Mereka adalah tetangga-tetangga kita yang kebanyakan pernah sayang kenal dengan baik sewaktu hidup. Lakukan sesuatu, sayang," pinta William Tanata.

__ADS_1


Ia tak tahu mengapa ia meminta tolong kepada arwah istrinya yang tewas mengenaskan itu. Sewaktu hidup, Jessica Wu, dan dirinya, bukanlah jenis orang yang peka terhadap lingkungan. Mereka bukan suami istri derwaman, atau ramah. Mereka tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan sekitar, walau tak berarti pula keduanya selalu cuek.


Entah mengapa, keadaan yang luar biasa aneh, ganjil dan menakutkan ini memberikan kesempatan dalam hidupnya untuk bisa melakukan sesuatu untuk membantu orang lain. Jangan tanya mengapa, William Tanata benar-benar tak tahu.


Sepasang mata Jessica Wu dibalik kucuran darah memandang William Tanata dalam-dalam. Tidak ada reaksi dan jawaban dari hantu itu. Namun, tak lama tubuhnya melayang, mengambang bungkuk di udara, berpendar, kemudian menghilang bagai ditelan kabut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuh Anggalarang serasa luruh. Bahkan Maung tak mampu menahan perubahan pada tubuh Anggalarang yang memaksa mengambil alih rupa, menjadi sosok manusia. Bulu-bulu putih kasarnya tersedot masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Begitu juga cakar, gigi dan taring yang melesak masuk kembali ke dalam tubuh Anggalarang.


Dari balik kabut, muncul sosok yang sangat akrab bagi Anggalarang. Bukan sekedar familiar, namun menggetarkan sanubarinya. Perempuan itulah yang pernah membuat Anggalarang merasa aman, nyaman, bahkan menjadi dirinya sendiri.


Badan sintal Kusuma Dewi menyobek lembaran kabut. Anggalarang hapal benar setiap sudut, kelokan dan lekukan tubuh gadis itu.


Soemantri Soekrasana malah sama sekali tidak memerhatikan bahwa Anggalarang telah berubah, mengembalikan sang Maung jauh ke dalam kerangkengnya kembali. Padahal ini bisa saja menjadi sangat berbahaya. Anggalarang rawan diserang, dan mereka sedang dalam formasi pertempuran. Dukun muda itu masih bersibuk menyusun mantra dan rencana untuk menunjukkan musuh sembari menyaksikan jalannya pertempuran.


Ada apa dengan Anggalarang? Mengapa Kusuma Dewi mendadak muncul di tempat ini?


"Benarkah itu kau, Dewi?" tanya Anggalarang tak percaya. Sudah lebih dari dua tahun semenjak ia merasakan kehangatan tubuh kekasihnya itu. Sudah dua tahun pula ia tak bisa melupakan kejadian yang menimpa mereka berdua terakhir kali mereka bertemu.


Sosok indah Kusuma Dewi, berbaju terusan sampai sedikit di atas lutut dan mencetak pas lekukan tubuhnya, terlihat begitu akrab sekaligus membuat Anggalarang diboyong jutaan rasa rindu.


Rambut kemerahan Kusuma Dewi berkibar memukuli sobekan kabut yang menipis. Titik-titik hitam di pangkal hidung menyebar sampai ke kulit tulang pipi yang putih puat berkelap-kelip bagai gugusan bintang di langit. Pesona gadis itu masih tak luntur, tak lekang oleh waktu yang terlewati, tak berkerak tak berkarat. Paling tidak itulah yang ada dalam benak Anggalarang. Tubuh dan jiwanya serasa melayang-layang terbang tinggi menembus dimensi logika manusia.


"Akang Anggalarang. Berhentilah bertarung. Kembali bersamaku," ujar sosok Kusuma Dewi pelan. Suaranya menyelip di antara udara dengan cepat dan kuat meluluhkan penjagaan diri Anggalarang.

__ADS_1


Anggalarang menghela nafas. "Bukan begini kejadiannya, Dewi. Aku melihat kau mati dalam pelukanku," balas Anggalarang tak kalah pelan.


Kumpulan kabut yang berarak menaungi keduanya. Soemantri Soekrasana bahkan tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, selain memang ia masih sibuk berkutat dengan pikiran dan mantra-mantranya. Kabut yang mendadak memekat itu seperti sengaja menelan Anggalarang dan sosok Kusuma Dewi dalam dunia mereka sendiri.


__ADS_2