
Soemantri Soekrasana menatap lekat-lekat Wardhani. "Kakakmu, mbak Kinanti wafat bunuh diri, bukan?" tanya Soemantri Soekrasana.
Wardhani memandang ke arah kedua orangtuanya seakan ingin meminta ijin. Ia kembali memandang sang pemuda, "Iya, mas. Jadi apakah perempuan yang selalu muncul di sumur dekat kamar mandi di belakang rumah itu adalah mbak Kinanti? Aku tak pernah berhasil melihat wajahnya," ujar Wardhani.
Soemantri Soekrasana mengangguk. Melihat ini sang bapak mengusap wajahnya sedangkan sang ibu kembali sesegukan. Bukan perkara gampang kembali mengingat masa lalu yang menyakitkan itu. Apalagi menerima kenyataan bahwa sosok orang yang telah meninggal lama itu ternyata tak benar-benar hilang, malahan masih ada di sekitar mereka.
Wardhani mendadak membeliakkan kedua matanya kembali teringat sesuatu, "Tapi mas Soemantri, akhir-akhir ini, mahluk-mahluk gaib itu semakin jelas menampakkan diri mereka. Mereka kerap muncul dalam bentuk yang utuh, tidak lagi berupa bayangan."
Soemantri Soekrasana sadar dengan apa yang dipikirkan Wardhani. Maka ia kemudian menutup kedua matanya. "Jangan takut, Wardhani. Ia bersamaku," tiba-tiba ujarnya pelankepada Wardhani.
Wardhani kembali tersentak mundur. Wajahnya menegang. Mendadak ia melihat sosok kuntilanak merah itu lagi. Sosok hantu mengerikan itu sedangan melingkarkan kedua tangan pucatnya ke leher Soemantri Soekrasana. Sosok perempuan berkebaya merah itu membisikkan sesuatu ke telinga Soemantri Soekrasana sedangkan sepasang matanya terus meneteskan darah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soemantri Soekrasana memutuskan membeberkan segala yang pernah terjadi di dusun ini kepada keluarga kecil ini. Namun ia masih menyembunyikan kisah Kinanti dan kekasihnya secara mendetail, termasuk bahwa sang arwah menempel di tubuh si bapak, dan hanya menjelaskan bahwa ada pelanggaran yang besar terjadi di dusun ini dua puluh tahun yang lalu sehingga kekuatan pelindung dusun bobol.
__ADS_1
Semantri Soekrasana memutuskan agar menghormati kesedihan keluarga kecil tersebut dan tak mau mereka beranggapan bahwa sumber kekacauan ini memang berasal dari keluarga mereka sendiri, sama persis dengan apa yang telah digaungkan warga selama ini. Bagi sang dukun muda, cukuplah keluarga ini dijadikan bahan pergunjingan selama ini, tak perlu menambahkannya lagi.
Wardhani, menurut Soemantri Soekrasana adalah orang di dusun ini yang memiliki bakat dan kemampuan melihat kekuatan dan mahluk-mahluk adikodrati. Dusun ini semakin melemah kekuatannya karena tetua yang masih melaksanakan ritual pada empat tempat keramat itu hanya tinggal mereka yang dahulu selamat dari wabah, dua puluh tahun yang lalu.
Sang bapak, mengangguk-angguk mendengar penjelasan Soemantri Soekrasana. "Tepatnya hanya satu, nak Soemantri. Namanya mbah Darmo. Ia sudah sangat sepuh, mungkin lebih dari seratus tahun umurnya," ujar sang bapak kemudian.
Penjelasan ini muncul karena sudah jelas bahwa hanya satu sepuh yang masih tersisa di dusun ini. Dengan begitu, Mbah Darmo adalah sosok yang dituju.
Lucunya, sebagai respon ucapan sang bapak, Soemantri Soekrasana malah menatap kedua mata indah Wardhani. Yang ditatap membutuhkan waktu sepersekian detik untuk paham maknanya. Wardhani kemudian menggelengkan kepalanya keras. "Tidak, mas. Tidak mungkin aku," ujarnya.
Tak berapa lama, di malam yang sama, hari Rabu Pon, jam sembilan malam, mbah Darmo berjalan terbungkuk-bungkuk membelah selimut kabut yang melayang di gelapnya malam Dusun Pon. Ia membawa bebungaan di sebuah tas anyaman bambu kecil serta sebuah kendi tanah berisi air yang berasal dari tujuh sumber air berbeda. Sedari petang tadi ia sudah berkeliling dusun membaca mantra dalam bahasa Jawa, menebarkan kembang tujuh rupa dan memercikkan air dari sumur di rumahnya yang juga telah dijampi-jampi.
Hari ini ia merasa sudah terlalu lelah. Tulang-tulangnya bertubrukan, enggan bekerjasama. Syaraf-syarafnya tak lagi mau mendengarkan dan melaksanakan perintah dari otaknya. Namun, dusun ini hanya memilikinya seorang diri. Andai ada orang yang masih mampu memiliki kemampuan melihat dan merasakan gerak-gerik siluman anjing di tegalan sawah di balik pohon kamboja itu, atau sosok hantu kakek-kakek di belakang dan samping warung Mak Romlah, atau tiga pocong yang kerap muncul di belakang rumah Pak Guru Johan. Maka orang itu mungkin sekali dapat menggantikan pekerjaannya.
Para mahluk iblis ini sedang menunggu ia gagal melaksanakan ritual setiap Rabu Pon agar mereka dapat lepas dari tirai tipis dimensi, seperti dua puluhtahun yang lalu, masuk ke dunia manusia, mereguk rasa takut, mencicipi jiwa-jiwa manusia dan menjebaknya di dunia mereka.
__ADS_1
Sang sepuh harus mampu menyelesaikan pekerjaannya, sekuat yang ia mampu, tidak peduli untuk sekali dua kali lagi sebelum ia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali. Sepanjang kakinya masih dapat ia seret, dan tubuhnya masih bisa ditopang sepasang kakinya yang menyeret tersebut.
Mbah Darmo hampir menyelesaikan ritualnya untuk menyiramkan air dan membaca mantra di tunggul kayu di samping sungai ketika ia dikejutkan kemunculan sosok hantu Kinanti telentang di tanah. Rambutnya berantakan, kasar seperti ijuk dan kemerahan karena terkena tanah yang memang merah. Tubuhnya dibalut baju putih kumal.
Sosok tersebut memandang Mbah Darmo dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, jelas ada beragam kekalutan dan kemelut di balik bola matanya matinya.
"Mengapa kau bisa sampai kesini, Kinanti? Apa yang membuatmu ada disini?" ujar mbah Darmo terbata-bata. Sungguh Mbah Darmo begitu terkejut. Keterkejutannya ini ternyata terlalu besar untuk jantung tuanya. Bukan sepasang kakinya yang mengkhianati Mbah Darmo, tetapi keadaan mengejutkan ini yang membuat jantungnya akhirnya menyerah dan berhenti berdetak.
Mbah Darmo, penjaga empat situs keramat Dusun Pon yang terakhir, wafat di malam Rabu Pon sebelum menyelesaikan tugasnya. Inipun menjadi pertanyaan besar bagi Mbah Darmo sendiri andaikata ia masih bernafas. Bagaimana mungkin Kinanti, sang sosok hantu yang harusnya membayang di sela-sela alam gaib dan perbatasan dengan dunia nyata, bisa hadir di tempat ini dengan bentuknya yang paling sempurna? Tidak hanya itu, Kinanti secara khusus muncul di hadapan sang sepuh di wilayah keramat yang harusnya menjadi tempat terakhir yang
diselesaikan ritualnya. Seakan-akan Kinanti dengan sengaja hadir disana untuk mengganggu dan membatalkan ritual Mbah Darmo.
Entah kekuatan misterius yang membantu roh-roh dan entitas gaib tersebut menguat, atau ada fenomena lain yang menggerakkan mereka sehingga sudah begitu lancang muncul ke dunia dengan sesuka hati seakan tak ada aral yang melintang.
__ADS_1
Saat itu pula, hantu, siluman, jin, dan mahluk-mahluk adikodrati lainnya menyobek lapisan antar dunia, membobol pertahanan terakhir Dusun Pon di malam lakuning rembulan itu, masuk dengan leluasa ke dunia manusia. Mereka melayang-layang di udara, merayap di tanah, menyelip diantara butiran padi di sawah atau mengapung di atas permukaan air sungai.