Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Tujuhbelas


__ADS_3

Di sana akhirnya Sarti melihatnya. Nampak di balik pepohonan dengan semak belukar, hampir menyaru diantara kabut subuh. Sesosok manusia dengan pakaian compang-camping menunjukkan dirinya.


"Tolong, kau segera pergi. Aku tak akan ikut campur apapun urusanmu. Siapa kau, apa kepentinganmu, bukanlah urusanku," kata sosok yang ternyata seorang laki-laki itu. "Malam ini mahluk di dalam tubuhku sudah menguras tenagaku. Cukup sudah pertempuran yang aku alami. Sekarang karena melihatmu, ia kembali ingin memaksa keluar. Secara naluriah, ia paham sekali ketika berdekatan dengan seorang pendekar, seorang jagoan yang memiliki ilmu kanuragan. Kadang ia tak bisa membedakan mana kawan mana lawan. Jadi, anggap saja kita tidak pernah bertemu dan segera lah pergi," lanjut sang sosok panjang lebar.


Pengalaman selama ratusan tahun membuat Sarti gampang memahami beragam situasi. Walau awalnya bingung, ia kemudian mengendus aroma siluman di dalam tubuh laki-laki misterius ini.


"Aku mau saja yang memintamu pergi, dan bukan aku yang harus menghindarimu. Tapi tentu tak bisa kulakukan. Kau sudah terlanjur menghadang jalanku," ujar Sarti di balik topengnya dengan sinis.


Si laki-laki menggelengkan kepalanya frustasi, "Pendekar, tolong mengerti. Namaku Anggalarang. Di dalam tubuhku ada semacam mahluk berciri hewani yang selalu memaksa keluar ketika berharapan dengan kekuatan gaib dan ilmu kanuragan, terutama yang ia anggap berbahaya dan mengganggu. Aku pun sadar bahwa kau adalah salah seorang pendekar dengan kesaktian, yang aku ditemui di tengah hutan serta mengenakan topeng semcam ini dan yang aku tidak mau tahu. Terlalu banyak orang dan mahluk-mahluk gaib nan ajaib yang pernah aku temui sepanjang hidupku bersama mahluk siluman di dalam diriku ini. Jadi aku mohon, aku telah jujur menjelaskan siapa aku. Bisakah kita pergi ke tujuan masing-masing saja?"


Sarti tersenyum lebih lebar di balik topengnya, "Kalau begitu, mari kita lihat apa yang ada di dalam badanmu," ujarnya menantang. Saat itu pula Sarti bergerak cepat dan menghantam dada Anggalarang dengan kurang dari seperempat tenaganya.


Anggalarang terdorong mundur ke belakang dan jatuh di antara batang pepohonan kurus dan ilalang. Ia bangun terduduk dan memegang dadanya. Ia muntah darah. Bukan karena hasil dari pukulan Sarti yang cepat itu, tapi mahluk di dalam tubuhnya lah yang bereaksi atas serangan mendadak ini.

__ADS_1


 "Aku tahu kau siapa, Maung," gumam Sarti.


Anggalarang meregang dan menahan teriakan. Kulitnya serasa tersobek-sobek manakala bulu-bulu berwarna putih menerobos pori-pori kulitnya. Tulang belulangnya terasa remuk redam ketika tangannya memanjang dan otot-ototnya menguat dari tubuhnya. Jantungnya memompa darah ke otak dan seluruh tubuhnya dengan begitu cepat.


"Aing maung!" Anggalarang kembali berubah menjadi mahluk harimau putih jadi-jadian. Kuku-kuku hitam panjangnya serta taring yang mencuat dari mulutnya siap mengoyak tubuh musuh, seperti yang sebelumnya dilakukan pada warga Obong yang kebal, beberapa menit yang lalu.


Maka, pertempuran tak lagi dapat dihindari.


Sarti terluka di beberapa bagian karena cakar sang Maung, bagitu juga Anggalarang yang tersabet celurit Sarti.


Keduanya memiliki naluri pertarungan. Mereka sama-sama mampu mengenali orang yang memiliki ilmu kanuragan maupun ilmu gaib. Sarti ditempa kehidupannya, sedangkan Anggalarang dikabari oleh mahluk yang ada di dalam tubuhnya. Tapi perkelahian ini lebih karena jiwa petarung Sarti. Ia mendengar bahwa sosok siluman harimau putih yang diceritakan kerap muncul di bagian barat pulau Jawa ini akhirnya muncul di depannya. Maung dikenal akan kehausan membunuh dengan sadis banyak orang, dari pengusaha sampai kelompok mafia. Persis sama seperti apa yang ia lakukan. Rasa-rasanya perlu untuk menjajal kemampuan orang ini.


 Sedangkan mahluk hewani di tubuh Anggalarang bereaksi pada siapa saja yang hendak menyakiti indungnya, atau karena orang-orang tersebut memiliki ilmu kanuragan yang auranya tercium. Kadang Anggalarang berhasil meredakan sang monster, kadang ia tak bisa berbuat banyak, kadang jauh di dalam pikirannya sebenarnya keduanya sama-sama setuju untuk melakukan sebuah tindakan. Sama seperti kejadian sewaktu ia dan sang Maung membunuh rombongan Bajra Wisesa, Gugum, Enjang dan Dana dimana sang Maung bereaksi atas rasa pedih, trauma dan dendam kesumat Anggalarang. Maka, kejadian pembataian itu tidak sepenuhnya kebuasan Maung belaka.

__ADS_1


Sang Maung melompat dan berkelit dengan gesit. Tubuhnya yang separuh manusia dan separuh binatang itu ternyata membuatnya lima kali lebih pandai dan lima kali lebih gesit dibanding harimau dan manusia sekaligus. Sarti juga merasakan hal yang sama. Ia sendiri adalah sebuah mesin pembunuh yang mempelajari segala cara dan menyerap segala upaya untuk menghabisi lawan, tak peduli jenis apa musuhnya itu. Namun, menghadapi sang Maung ternyata membuatnya keteteran pula. Dalam hatinya, jauh di dalam sana, memancing emosi mahluk di dalam tubuh laki-laki muda itu adalah naluri kependekarannya. Dengan emosi yang meluap-luap, seseorang akan memperlihatkan jati dirinya yang sebenar-benarnya. Sarti sangat sering menggunakan ini untuk melihat jatidiri seseorang, dari sana lah penilaian dan penghakimannya dimulai.


Kedua mahluk ini saling serang dengan kecepatan yang sulit dinalar. Mereka seakan sama-sama memanipulasi gravitasi sehingga membuat tubuh mereka mantul mumbul tanpa tarikan berarti dari ibu Bumi.


Sarti dan Anggalarang sang Maung terdiam.


Mereka bertatapan serta hanya suara desah nafas manusia dan harimau putih yang terdengar. Naluri mereka beradu. Mereka tiba-tiba merasakan suatu hal yang sama, dan mereka tahu itu. Di dalam mimpi yang menghantui keduanya, mereka melihat cahaya kebiruan yang bersinar di antara puluhan bahkan ratusan iblis, siluman, hantu, jin, mahluk gaib dan mayat hidup. Sinar kebiruan itu berasal dari sebuah pusaka berbentuk keris yang bilah dan gagangnya ditempa dari bahan yang sama. Keris Mpu Gandring muncul ke bumi lagi setelah dinyatakan hilang beratus tahun yang lalu. Dan mereka ada di sini salah satunya karena dipandu oleh sinar biru keris Mpu Gandring itu.


Dan, saat ini, mereka berdua merasakan sinar kebiruan itu muncul.


"Aku tak tahu persis apa hubunganmu dengan hal ini, Maung. Untuk saat ini, aku rasa kita sama-sama harus pergi ke tempat itu," ujar Sarti. "Aku akan pergi sekarang, dan aku tak akan menunggumu," Sarti kembali merapal ajian saifi angin kemudian mencelat. Baju merah darahnya berkibar ketika tubuhnya melayang di sela-sela gelap.


Anggalarang mendengus dalam suara Maung, "Hari akan begitu panjang," pikirnya. Kaki belakang hewannya menolak tubuh silumannya melompat mengejar perempuan bertopeng panji itu.

__ADS_1


__ADS_2