Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duapuluh


__ADS_3

Dua benda itu memiliki bentuk yang susah dipahami, karena tak mempunyai kewajaran benda terbang seperti, sebut saja sayap, yang bisa membuatnya melayang seperti layaknya burung atau kelelawar. Sebaliknya, Yudi melihat wajah manusia di sana, samar-samar tersinari lampu dari tiang-tiang gertak, melayang-layang di udara.


Tak sadar rahang Yudi jatuh dan lututnya lemas. Ia tidak mengacuhkan teman-temannya yang masih memukul-mukul, mendorong-dorongnya dalam usaha bercanda.


Yudi yang mulai sadar dengan apa yang baru saja mereka lihat ini kemudian menarik lengan Mardani. Keduanya sepakat berputar arah dan hendak berlari meninggalkan tempat itu, ketika tepat di depan mereka sudah ada dua mahluk aneh lain di atas gertak.


Kedua tubuh mahluk itu mewakili bentuk badan perempuan, apalagi terlihat rambut panjang jatuh lepek meneteskan air. Namun, walau keduanya tanpa busana, Yudi dan Mardani melihat bahwa mereka tak memiliki dada yang normal dipunyai perempuan dewasa.


Lebih aneh dan mengerikan lagi wajah mereka yang sama sekali tak memiliki hidung. Hanya ada sobekan kecil untuk kedua mata dan mulut, dimana benda serupa lidah bercabang menjulur keluar bagai seekor reptil.


Kedua sosok itu merangkak perlahan mendekati Yudi dan Mardani, berjalan pelan dengan air masih menetes dari rambut dan tubuh mereka.


Sedangkan keempat rekan Mardani dan Yudi baru saja sadar bahwa dua benda terbang yang semula tak mereka lihat sekarang juga melayang tepat di dekat mereka. Benda itu adalah dua buah kepala manusia, perempuan, yang membawa serta tulang tenggorokan dan isi perut yang berdarah-darah: kuyang!


Semuanya kini terkepung oleh empat mahluk mengerikan itu. Entah mimpi apa mereka kemarin sehingga ada kejadian yang luar biasa menakutkan dan aneh ini datang kepada mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mardani menancapkan matanya ke kayu berujung tajam yang merupakan patahan sebuah tanaman di sisi gertak. Kayu itu melesak masuk ke dalam otaknya. Mardani spontan tewas setelah tubuhnya kejang sedikit.


Empat temannya dengan gampang menggunakan pisau yang mereka pamerkan sebelumnya pada Yudi dan Mardani untuk memotong urat nadi, tenggorokan atau menusukkan dan merobek perut mereka sendiri.


Yudi tak menemukan apapun untuk mengakhiri nyawanya sehingga ia berlari secepat mungkin ke salah satu tembok bangunan rumah terdekat dan menubrukkan tubuh serta kepalanya.


Namun, ternyata cara ini kurang efektif. Yudi tak tahu bahwa kepalanya bisa sekeras ini. Tak heran emaknya di rumah selalu mengatakan bahwa ia adalah anak dengan kepala batu. Dulu sewaktu kecil ia mengira itu hanya kiasan belaka.


Maka, larilah ia pulang untuk bertemu emaknya sebentar dan menunjukkan berita akan kematiannya.

__ADS_1


***


Bandi berjalan bagai raja di jalan beraspal di Kampung Pendekar.


Teriakan demi teriakan histeris terdengar nyaring sahut-menyahut di kiri dan kanannya selagi ia menapakkan kakinya. Di sisi kiri adalah perumahan dan bangunan yang didirikan di tepi sungai, dihubungkan dengan titian papan sebagai jalan. Di sisi kanan ada bangunan-bangunan yang berdiri di bawah perbukitan yang menjulang dalam gelap.


Ia tersenyum ketika melihat satu pemuda melompat dari rumahnya yang berlantai dua di bawah bukit. Kepalanya hancur berantakan menghajar bangunan-bangunan di bawahnya. Dari balkon terlihat sang ibu berteriak-teriak histeris.


Teriakan-teriakan yang terus terjadi itu memang adalah milik para ibu atau sanak saudara para pemuda yang sedang melakukan tindakan aneh dan paling mengerikan di perumahan ini.


Kepanikan melanda kampung. Darah tergenang di mana-mana.


Baru saja seorang remaja laki-laki berumur enam belas tahun melihat mendiang bibinya berjongkok di atas tong air hujan ketika ia hendak kencing di belakang rumah.


Sosok almarhumah bibinya yang sangat ia kenal itu tertawa tanpa suara melihatnya.


"Bagus ... Bagus ... Aku butuh yang muda, yang kuat," ujar Bandi seperti pada diri sendiri, terutama bagi mata telanjang yang tak mampu melihat puluhan mahluk tak kasat mata berjalan, merangkak, dan beterbangan di belakangnya. Pocong, kuntilanak, sundel bolong, mahluk berbulu, laki-laki cebol bertaring, mahluk berbadan manusia berkepala babi hutan, atau ular besar berkepala manusia dan bertanduk menempel erat di bawah perintahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kali ini kita akan berangkat dengan cara senormal mungkin. Kita akan menggunakan pesawat," ujar Wong Ayu.


Awalnya Soemantri Soekrasana yang paling protes dengan rencana ini.


"Aku heran, kau ‘kan paling muda, tapi kau paling takut terbang. Jangan-jangan kau memang tak pernah naik pesawat?" canda Anggalarang kepada Soemantri Soekrasana.


Sarti malah yang terkikik geli.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana terluka harga dirinya. "Hei nenek. Bukan masalah naik pesawat. Tapi apa tak terlintas di pikiranmu, bagaimana membawa pusaka-pusaka kita? Keris Mpu Gandringku, tombak Baru Klinthingmu? Lalu bagaimana kau membawa koleksi celurit serta kelewang tercinta Yu Wong Ayu?" semprotnya kepada Sarti yang ia sengaja ia panggil dengan sebutan 'nenek.'


Sarti menahan tawanya. Ia sebenarnya tahu bahwa ini hanya pembenaran Soemantri Soekrasana yang memang kemungkinan besar belum pernah bepergian dengan pesawat. "Aku sudah hidup ratusan tahun. Aku sudah berkeliling negara ini jauh sebelum nenek moyangmu direncanakan keberadaannya. Jadi ... Ya, aku punya seabrek cara membawa pergi pusaka dan senjataku. Hanya saja, kali ini, aku ikut rencana Wong Ayu. Ia yang memutuskan bagaimana seharusnya dan aku percaya kepadanya," ujar Sarti sembari memandang Wong Ayu.


Soemantri Soekrasa semakin kesal. Sarti selalu berhasil berargumentasi dengan membawa-bawa umur dan pengalamannya. Mungkin memang itu sudah menjadi ciri khas orang-orang tua, pikir Soemantri Soekrasana.


"Bagaimana dengan peliharaanmu? Kau pikir dia bisa tetap menempel ke tubuhmu walau telah melalui samudra?" tiba-tiba kali ini Wong Ayu yang berbicara.


Soemantri Soekrasana menarik nafas panjang. Ia merasa sebagai korban rundungan teman-temannya. "Yu, kuntilanak merah itu bukan peliharaanku. Selain itu, aku tak tahu apakah ia bisa terus mengikutiku? Dia memang banyak membantuku dalam beragam pekerjaan. Tapi sekali lagi, bukan berarti dia adalah pembantuku."


"Aku bercanda, Soemantri," jawab Wong Ayu tersenyum.


Wong Ayu tak sadar bahwa senyumnya ini membuat hati Soemantri Soekrasana bergetar. Entah bagaimana, seketika itu rasa kesalnya reda bagai diguyur salju.


"Memang benar kata Sarti, aku yang jamin semuanya. Percayakan saja kepadaku. Kita tinggal berangkat seperti layaknya penumpang lain yang bepergian. Kau tahu sendiri bahwa jelas tak mungkin membawa kalian semua serta melompat menghilang ke Kalimantan, menyebrangi lautan. Bagaimanapun kekuatanku masih ada batasnya," jelas Wong Ayu.


Soemantri Soekrasana jelas paham bahwasanya ilmu teleportasi Wong Ayu tidak membuatnya menjadi sekuat dewa. Seberapa kurang berpengalamannya pun, Soemantri Soekrasana harus mengakui bahwa Catur Angkara tak punya pilihan.


Selama ini mereka menunggu atas sebuah tanda kecil saja untuk apa yang harus mereka lakukan. Wong Ayu adalah kunci dari semuanya. Ia telah mengatakan bahwa sang iblis betina kembali lagi melalui jalan berbeda, mungkin melalui pintu belakang bagai pencuri hina dan pengecut. Maka ia dan rekan-rekannya merasa memikul tanggung jawab melenyapkannya kembali.


Jadi, disanalah mereka, lebih seperti empat orang berbusana fashionable di bandara, yang mungkin hendak pergi berliburan.


Soemantri Soekrasana jelas telah terbantu oleh Anggalarang dan menjadikannya dukun laki-laki muda bergaya sesuai umurnya.


Ia terselamatkan.


Anggalarang sendiri mungkin yang paling banyak membawa pakaian di dalam ranselnya. Itu jelas sebagai cadangan ketika Maung ingin keluar semaunya dan merusak pakaian-pakaian bagusnya.

__ADS_1


__ADS_2