Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Keris


__ADS_3

Soemantri Soekrasana berdiri dengan awas. Ia melihat sekeliling namun tak menemukan sosok sundel


bolong yang menyerangnya tadi selain Girinata yang berkacak pinggang dan tertawa puas.


"Ada apa, sih, dengan para orang jahat yang selalu ceria? Mereka selalu saja digambarkan dengan tertawa atau terkekeh senang melihat lawannya yang kesulitan," batin sang dukun muda kesal melihat tingkah lawannya tersebut.


Soemantri Soekrasana hendak merapal mantra untuk membuat sang sundel bolong muncul dan terbaca oleh radarnya ketika sebelum itu Marni sendiri sudah muncul mendadak dan melayang semeter di atas kepalanya, lalu menghujam turun.


Soemantri Soekrasana berguling sampai dua kali ke depan. Serangan musuh gaibnya tersebut kembali berhasil ia hindari. Namun, Soemantri Soekrasana merasa perih di punggungnya. Ada luka koyakan cukup lebar di sana akibat terkena cakaran sang sundel bolong.Rupa-rupanya, tidak seratus persen serangan lawan berhasil ia elakkan.


Marni kembali menghilang. Jubah putihnya sempat terlihat menyelip diantara tanaman istri Pak Guru Johan yang berbatang panjang-panjang.


"Mengapa hantu perempuan selalu terlihat berdaster putih panjang? Padahal mereka dikuburkan dengan dipocongi, atau dengan baju berbeda," gumamnya berbicara pada diri sendiri. "Itu karena hantu tak terpenjara bentuk fisik. Kemunculannya di dunia membawa bentuk-bentuk yang tercipta dari persepsi dan sudut pandang manusia. Ia akan berdaster putih panjang seperti ini untuk memuaskan keinginan visual manusia. Lalu, si kampret, kadal buntung Girinata menambahkan bumbu kejahatan dalam sosok itu. Mulai sekarang, pikir baik-baik, mana yang lebih mengerikan. Manusia atau hantu? Bahkan setan iblis laknat penghuni kerak neraka pun sebenarnya tak perlu banyak bekerja untuk membuat manusia saling benci dan saling bunuh. Hanya butuh dorongan seupil buat manusia terbakar angkaramurka," gumamnya masih pada diri sendiri seakan memberikan pengertian pada orang lain, bak menjelaskan kepada sekerumunan pendengar.


Soemantri Soekrasana melirik ke arah pecahan jambangan bunga dari tanah liat milik istri Pak Guru Johan. Ia kemudian dengan cepat memungut beberapa diantaranya. Pandangannya beredar ke segala penjuru. Marni masih belum terlihat. Tepat ketika rambut-rambut di lengan Soemantri Soekrasana berdiri sebagai tanda kehadiran mahluk gaib adikodrati, sang dukun muda melemparkan pecahan tajam dan lancip jambangan tanah liat ke arah Girinata.


Pecahan jambangan melaju di udara kemudian menghajar dada, leher dan wajah Girinata. Laki-laki tersebut tersentak serta berteriak keras penuh amarah dan kekesalan. Beberapa pecahan yang lancip menusuk di kulitnya dan menempel di sana. Darah langsung mengalir dari luka-lukanya ketika Girinata mencabuti benda-benda tajam tersebut.


Soemantri Soekrasana menggunakan kesempatan ketika lawan sedang lengah ini untuk melaju deras ke arah Girinata dan langsung memberikan satu bogem keras ke wajah laki-laki yang berubah menjadi muda itu. Pukulan keras dari seorang pemuda yang bukan hanya berprofesi sebagai dukun atau paranormal, tetapi juga seorang pesilat unggul nan mumpuni itu membuat Girinata terjengkang ke belakang. Kepalanya mendongak dan ia jatuh terduduk.

__ADS_1


Ada darah baru mengalir dari hidungnya yang patah.


"Bangsat!" rutuk Girinata tak sempat memegang hidungnya yang berdarah karena ia harus berguling mundur ketika Soemantri Soekrasana berusaha menjejak kepalanya dengan salah satu kakinya.


Ternyata, bukannya sekadar berkonsetrasi melawan musuh gaib, Soemantri Soekrasana memutuskan untuk menghajar si pemberi mantra, yaitu Girinata sendiri.


Girinata yang sudah terlanjur mundur, kembali berusaha sekalian menghindari serangan Soemantri Soekrasana itu dengan menciptakan jarak sejauh mungkin. Ia mundur dan bergulingan ke belakang. Ia harus dapat segera merapal mantra lagi untuk mengatur pergerakan Marni sang sundel bolong.


Di saat itu pula, si sundel bolong Marni berkelebat dengan kedua tangan bercakar tajam terentang ke depan, ke arah Soemantri Soekrasana.


Laki-laki dukun muda itu mencelat ke samping, kemudian lagi berguling ke samping, menjauh. Marni kembali hilang.


Girinata yang berhasil lolos dari serangan, kini memandang tajam ke arah Soemantri Soekrasana selagi mulutnya masih komat-kamit membaca mantra memainkan peran Marni. Girinata kemudian meraba pinggang di bagian belakangnya dan mencabut kerisnya. Ia mengangkat kerisnya, lalu meleletkan bilah bergelombang itu ke arah luka-luka di dadanya.


Soemantri Soekrasana segera paham bahwa Girinata hendak melancarkan sebuah serangan brutal dengan ilmu sihirnya.


Benar saja, laki-laki yang berubah muda itu kembali mengangkat kerisnya tinggi-tinggi dan berteriak keras. Hawa menjadi makin beku, menyiutkan nyali semua manusia yang normal. Apalagi Marni si sundel bolong kembali muncul di antara Girinata dan Soemantri Soekrasana menghadap ke arah dukun muda itu.


Rambutnya yang menumpuk menggunung sekaligus panjang terburai kusut berpilin-pilin, mendadak memanjang dan mengembang di udara. Jubah putihnya berkelim-kelim juga ikut melebar. Marni melotot ke arah Soemantri Soekrasana. Kukunya semakin memanjang dan menghitam.

__ADS_1


Soemantri Soekrasana meraba tas selempangnya. "Sial ... Sial ...," ia bersumpah serapah. "Aku terpaksa harus menggunakannya!" gumamnya geram.


Dari dalam tas selempang butut dan lusuh itu, Soemantri Soekrasana mengambil sebuah benda pusaka: juga sebuah keris tetapitanpa sarung dan gagangnya ditempa oleh bahan yang sama menjadi satu dengan bilahnya sehingga terlihat seakan tak bergagang sama sekali. Keris itu sangat indah dan memancarkan cahaya kebiruan.


Kemunculan bilah keris pusaka itu mengakibatkan hal yang tidak diduga, yaitu teriakan keras Marni sang sundel bolong menyelimuti udara, tapi kali ini lebih karena rasa takut.


Nyala kebiruan dari keris Soemantri Soekrasana menyiutkan ruang dan waktu, menyempitkan sudut-sudut bumi dan memangkas tirai beragam dunia. Para mahluk halus dalam area getaran energi keris itu menggelepar. Tubuh astral mereka memadat dan kaku.


"Keris lawan keris. Tapi keris mana yang dengan lancang tak tunduk di depan Mpu Gandring?!" gumam Soemantri Soekrasana.


Tenaga keris pusaka itu ternyata juga menyerap tenaganya sendiri, mungkin itu yang membuat Soemantri Soekrasana enggan dan malas menggunakan keris tersebut. Ia pun tak mau lagi berlama-lama menggenggam sang keris yang begitu tersohor dalam catatan sejarah tersebut dan memutuskan langsung menghambur ke arah sundel bolong yang melotot dan membuka lebar mulutnyatanpa menyia-nyiakan waktunya lagi


"Marni ...!!!" seru Girinata terkejut. Ia sudah paham apa dan siapa yang ia hadapi. Keris Mpu Gandring, induk dari segala keris yang memiliki kekuatan gaib paling terkutuk, membuat tidak hanya jiwa manusia yang bergetar, tetapi juga roh-roh penasaran bahkan iblis sekalipun.


Maklum sekali Girinata mendadak cemas dan luar biasa panik dengan dihunusnya keris Mpu Gandring. Marni sang sundel bolong begitu ketakutan dan bisa terluka bila Girinata tidak melakukan apa-apa.


Yang ditakutkan terjadi. Keris Girinata terlepas dari tangannya dan jatuh menancap di tanah ketika melihat bilah keris Soemantri Soekrasana menusuk lambung hantu istrinya itu.


Marni sang sundel bolong bergetar. Tubuhnya berasap tebal seperti terbakar. Sundel bolong yang harusnya berbentuk arwah dan tak solid itu berhenti melayang dan jatuh bergulingan di tanah kesakitanseperti memiliki tubuh fisik saja.

__ADS_1


__ADS_2