
Dua orang asing lainnya dari total empat pemuda bersenjatakan parang panjang itu kini telah masuk sama sekali ke dalam kompleks. Mereka telah berhasil melewati pagar tinggi yang dibukan oleh kedua rekannya yang lain.
Empat orang pemuda menggenggam parang panjang, dengan wajah dingin tanpa menunjukkan perasaan, tanpa luka, dan kemungkinan besar tanpa rasa iba.
Sedangkan, di dalam sana, Nurdin memukuli setiap pagar rumah orang-orang kaya di dalam kompleks perumahan elit tersebut dengan panik. Sosok raksasa jangkung yang menakutinya bukan khayalan dan imajinasi belaka. Demi setan apapun, ia yakin apa yang membayang di pelupuk matanya pagi ini adalah nyata adanya.
Sebagai seorang penjaga keamanan kompleks perumahan seperti ini, menghadapi masalah harusnya bukan merupakan hal yang tak biasa. Menyelesaikan dan menghadapi kekacauan, tindak pidana semacam pencurian dan perampokan, atau perihal serupa adalah bagian utama dari pekerjaannya.
Namun, menghadapi mahluk semacam itu, tidak ada dalam definisi profesi dan deskripsi kerjanya. Pak Rudi Suwarno dan Juwanto jelas akan mengetawainya habis-habisan bila ia ceritakan hal ini.
Maunya sih ia tak berlari macam tikus got melihat manusia seperti ini, tapi mahluk itu benar-benar menggetarkan seluruh sanubarinya. Ada semacam tombol di dalam dirinya yang terklik secara otomatis sehingga ia bereaksi yang berlebihan bagi beberapa orang. Padahal ia tahu, kemungkinan besar hanya dirinya yang melihat sang raksasa mengerikan itu.
Lalu, mengapa pula ia menggedor, menggoyang dan menggetarkan pagar besi para penghuni yang sebagian besar tak ada di tempat ini? Bila, anggap saja, salah satu tuan rumah membukakan pagar, apa yang mau ia katakan, selagi keringat dingin sebesar biji-biji jagung bergulir dari keningnya?
Sampai pada rumah keempat yang ia coba goyangkan pagarnya, terdengar bunyi letusan senjata api. Ledakan pertama dan ledakan selanjutnya berjeda, namun bunyi tembakan itu dilepaskan berkali-kali setelahnya. Nurdin tak meragukannya lagi, itu pistol milik Pak Rudi Suwarno!
Para penghuni yang ada mulai bermunculan satu persatu akibat bunyi nyaring tersebut.
Melihat sang satpam kompleks berdiri di jalan kompleks mereka dengan wajah pucat dan mimik yang mempertontonkan kekhawatiran, para warga jelas merasakan sesuatu yang gawat sedang terjadi.
"Ada apa, Pak Nurdin? Perampok? Pagi-pagi seperti ini?" ujar Pak Julianus yang baru saja menyesap kopi. Bahkan kemeja kerjanya belum dimasukkan ke dalam celana panjang kantornya.
Begitu pula beberapa warga lain yang mulai keluar dari rumah.
__ADS_1
"Bangsat!" pikir Nurdin. Tadi ia panik setengah mati namun tak ada seorangpun mendengarnya. Sekarang para warga muncul ke permukaan macam keramak alias kepiting kecil yang keluar dari lubang lumpur dipancing dengan karet gelang.
"Saya kurang paham bapak-bapak sekalian. Teman-teman yang berjaga di depan sedang mengurus masalah ini. Ada baiknya bapak-bapak masuk ke rumah agar berjaga-jaga," ujarnya.
"Pak Nurdin dengar ‘kan ada suara ledakan subuh tadi? Sekarang sinyal Internet atau telepon juga hilang. Kabut gelap juga menutupi langit, belum lagi ada suara tembakan beberapa kali barusan. Saya harus pergi mengecek apa yang sebenarnya terjadi di luar sana," ujar Pak Marsianus yang sedari pagi sudah siap dengan baju kantornya dan hendak berangkat kerja.
"Tunggu, Pak Marsianus. Kami masih mencoba menghubungi teman-teman di luar sana, lagipula kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, ada baiknya bapak-bapak bersabar sejenak demi keamanan bersama. Saya akan coba lihat dan periksa ke depan."
Saat itulah letusan senjata api terdengar lagi.
Semua orang mendengar lebih jelas di luar sini. Seakan suara nyaring senjata api itu membentak melalui lapisan udara. Mengoyak kasar lembaran angin dan menggonggong langsung di depan gendang telinga mereka.
Tubuh-tubuh manusia yang kesemuanya laki-laki itu tersentak bagai tertembak secara langsung.
"Cepat, bapak-bapak. Masuk dan kunci semua pagar, pintu dan jendela!" serunya memberikan perintah.
Tanpa pikir panjang lagi, semua penguni yang tak banyak itu menghambur masuk. Namun, tak lama, Pak Julianus mendadak kembali keluar dari rumahnya dengan menenteng sebatang senapan laras panjang.
"Senjata rakitan, Pak Nurdin, buat berburu babi kalau saya ke kampung. Saya punya tiga, Pak Nurdin bawa satu. Saya akan berjaga-jaga dari lantai tiga," ujarnya sembari memberikan senjata api itu kepada Nurdin yang langsung menerimanya.
"Tolong hati-hati, Pak. Dari awal saya curiga ini kerjaan orang-orang dari Kampung sebelah, tahu ‘kan maksud saya?" ujar Pak Julianus sembari kembali berjalan masuk ke rumahnya.
***
__ADS_1
Rasa karat darah begitu kuat di bibir Juwanto. Tubuhnya menubruk pos jaga, memecah kaca sehingga melukainya di berbagai tempat, termasuk wajah dan bibirnya.
Ia mencoba merangkak, namun pecahan beling menancap di kulit dan dagingnya. Rasa sakit menyeruak ke segala penjuru, menerobos pertahanannya dan meretas syaraf-syarafnya.
Tak lama tubuhnya terangkat dan melayang dengan gampangnya, menghujam ke aspal jalan masuk kompleks. Salah satu pemuda melemparkan badan Juwanto begitu mudahnya seakan tanpa tenaga dan usaha sama sekali.
Sebelum parang menebas tubuh dan mengambil nyawanya, Juwanto sempat melihat Pak Rudi Suwarno menembakkan pistolnya beberapa kali ke arah pemuda-pemuda yang sama sekali tak terpengaruh dengan itu, sebelum kemudian tewas dibacok berkali-kali.
***
Yakobus Yakob melayang mengambang dalam lipatan kabut. Tubuhnya yang gelap terselimuti rajah kelam itu bagai asap hitam dibalik asap putih.
Tak lama tubuhnya turun menukik dan menempel di atas atap sebuah rumah dalam kompleks perumahan orang-orang kaya tersebut.
Mata elangnya memancarkan pandangan ke seluruh arah. Telinganya menerima suara-suara sampai ke yang terkecil. Bunyi ledakan besar jembatan dan letusan tembakan merayap ke kulitnya.
Setelah mengetahui bahwa jembatan tol ini putus, Yakobus Yakob menghilang dari pertempuran anehnya dengan empat orang dan sosok sakti di seberang sana. Ia kemudian muncul tak jauh dari gapura masuk jalan ke Kampung Pendekar.
Ia baru saja hendak masuk dan membantai para biang kerok permasalahan ketika ia melihat mahluk-mahluk kotor muncul dari segala penjuru.
Mata batinnya terbuka terlalu lebar. Mahluk-mahluk adikodrati itu ditarik dan diatur oleh kekuatan yang luar biasa besar, ada tali dan rantai gaib yang mengkerangkeng mereka dan cambuk ajaib yang memecut mereka.
Sosok hantu anak laki-laki bertubuh gosong habis terbakar di seluruh tubuhnya dan salah satu mata yang mencuat hendak melompat keluar tiba-tiba muncul dari balik pepohonan, menyisip di kepingan serat kabut.
__ADS_1
"Kau pada dasarnya yakin bahwa kau sendiri tak akan dapat mengalahkan mereka," ujar sang sosok hantu anak laki-laki tersebut.