Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Empatpuluh Enam


__ADS_3

Kota ini memiliki semua unusr yang diperlukan dalam menghadapi masalah genting. Ada pasukan khusus anti terrorisme, bahkan tentara juga turun tangan. Dua helikopter sedang disiapkan bersama belasan speed boat dan kapal, termasuk tentunya personil dari berbagai kesatuan.


Suasana yang marak di pagi ini lebih nyaring sampai-sampai menelan bunyi kokok ayam jantan. Semua orang bergegas, sibuk merencanakan, sibuk bergerak, sibuk mencari tahu, sisanya sibuk memberitakan kabar burung yang tidak jelas juntrungannya, alias menyemai dan memanen hoaks.


Ledakan sebuah jembatan tol bukan jenis berita harian yang bisa didapatkan setiap saat. Akibatnya, tak pelak berita nasional menggasak informasi ini dengan rakus. Sebentar saja sudah diberitakan sejarah Kampung Pendekar beserta citra daerah itu sebagai area yang dijauhi polisi dan menjadi kampung pencetak para kriminal berbakat.


Kota ini jelas meradang dengan berita jenis begitu. Sang pejabat Walikota dicecar pertanyaan oleh pak Gubernur. Ia sendiri kemudian menusuki semua pantat para aparat dan jajaran terkait, seperti anak kecil yang memarahi kucingnya karena orangtuanya memarahi dirinya sebelumnya. Intinya, kota ini mendadak menjadi gumpalan kekacauan yang masih berputar-putar pada dugaan dan pertanyaan.


Bagaimana tidak, di seberang sana, kabut tebal bergelung bergulung menutupi hampir seluruh daerah. Perumahan di belakang Kampung Pendekar adalah pusat perhatian para penegak hukum, karena satu-satunya alasan yang paling masuk akal adalah bahwa entah bagaimana, kampung jaha*nam itu adalah sumber nestapa yang terjadi. Ini membuat beberapa perumahan dan warganya sedang menjadi potensi besae terancam keselamatan dan keamanannya. Semua sedang berusaha bergerak secepat mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soemantri Soekrasana merasakan kulitnya menggeliat kecil tergelitik oleh sentuhan energi tipis. Pepohonan kelapa sawit yang rimbun membayang semerawang kemudian meruap hilang.


Kini dukun muda itu berdiri di tengah sebuah danau antah berantah. Langit tertutup selembar kubah yang berbentuk cembung nan tinggi.


Ketika ia perhatikan kemudian, ternyata ia tak sedang berdiri di atas permukaan tanah. Sebaliknya sekumpulan gelembung di kakinya menjadi dataran yang memikul beban tubuhnya.

__ADS_1


Tak lama, beberapa langkah di depannya, permukaan air muncul buih-buih mirip dengan gelembung yang menjadi pijakannya.


Dari dalam buih itu Soemantri Soekrasana dapat melihat jelas ketika ujung kepala muncul, rambut, wajah, badan sampai akhirnya seluruh tubuh terlihat berdiri anggun juga di atas buih.


Sosok ini pernah muncul di dalam dunia Yakobus Yakob dimana Wong Ayu juga sempat mengintip ketika kemampuan mereka juga bersinggungan. Saat itu Wong Ayu melihat sang perempuan dalam tubuh yang ramping berbalut kemben hijau dengan jalinan sulaman benang emas. Jarit dan selendang di pinggangnya berkelim-kelim rumit, panjang, mewah dan megah. Rambut bergelombangnya bersaing panjang dengan jaritnya memenuhi lapisan permukaan air. Sebuah mahkota bertahta batu mutu manikam berkelap-kelip di atas kepalanya yang sempurna.


Wong Ayu juga menyaksikan untaian kalung, gelang lengan dan pergelangan tangan yang berpendar keemasan senada dengan warna kulitnya yang juga bercahaya, semarak, bermain-main dengan cahaya dari angkasa yang memantul.


Bedanya kali ini Soemantri Soekrasana melihat sang entitas tersebut dalam bentuk yang lebih bersahaja meski tak kurang lewah.


Rambut panjang sang sosok tergerai, menyapa permukaan air tetapi tak basah, sama seperti tubuhnya. Busananya berupa kemben kuning emas meletup-letupkan cahaya kecil-kecil, sedangkan kain yang mengitari bagian bawah tubuhnya hijau di atas betis. Ada gelang-gelang kaki emas mewarnai warna kulitnya yang putih cerah.


Soemantri Soekrasana langsung tahu bahwa sang sosok jelita tersebut tak lain dan tak bukan adalah Putri Junjung Buih.


Ia adalah kekuatan femininitas, lambang kehidupan dan kelahiran baru, peradaban, kecerdasan dan masa depan. Ia diceritakan dan dipercaya sebagai putri dari Lambung Mangkurat atau Dambung Mangkurap, raja kedua Kerajaan Negara Dipa orang Maanyan yang didapatkan keluar tercipta dari buih di sungai secara gaib pada saat ia sedang balampah atau bersemedi.


Ia menjadi perwakilan pola pikir dan kehidupan penduduk yang memenuhi pesisir. Layaknya Penguasa Laut Selatan di pulau Jawa, Putri Junjung Buih juga mewakili unsur air, sungai yang mengalir deras bercabang ke segala arah masuk ke pedalaman, seperti nadi tempat darah dipacu dari jantung.

__ADS_1


Putri Junjung Buih kemudian menikah dengan Pangeran Suryanata dari Kerajaan Majapahit, sebuah hubungan magis, politis dan budaya yang memperkuat jalannya kekuasaan dua negara yang mewakili dua perbedaan. Akibatnya, para raja dan beragam kesultanan di pulau ini mengaku sebagai keturunan dari sang Putri, sebagai bagian dari cabang terusan sungai kekuasaan. Kepercayaan yang diteruskan ketika kepercayaan dan agama baru masuk ke pulau ini.


Sedangkan orang-orang yang menolak kedatangan ajaran dan budaya yang anyar bagi kehidupan mereka ini memilih mengasingkan diri ke dalam hutan, menjaga filosofi dan kehidupan nenek moyang mereka. Maka, Pangkalima atau Panglima Burung menyertai mereka, menjadi simbol maskulinitas, lambang keberanian, kesetiaan, kemandirian dan kebebasan.


Namun, Soemantri Soekrasana melihat sosok Putri Junjung Buih ini bukan dalam bentuk legenda atau imajinasi. Putri Junjung Buih senyata adanya.


"Apakah engkau mewakili mereka, hai lelaki muda?" sang putri membuka mulutnya untuk berbicara. Riak air menggelombang halus di permukaan danau ketika suaranya menyapu.


Soemantri Soekrasana paham bahwa aura bergelora yang ia rasakan menyebar ke segala penjuru dari tubuh sang wanita ini adalah hawa agung seorang putri yang telah hidup ratusan tahun, tidak hanya dalam sebuah dimensi gaib, namun juga dalam sanubari setiap penghuni pulau ini.


Kenyataan ini membuatnya kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut, berhubung yang ia ajak bicara adalah wanita agung berdarah biru - itupun bila memang ia memiliki darah laiknya manusia biasa.


"Ampun ... Eh, maaf putri. Hamba ... Ah, maksudku ... aku ... Bukanlah perwakilan dari siapapun. Kebetulan aku berhasil masuk ke dalam dunia ini untuk mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa kami ditakdirkan dan terpanggil untuk terlibat di dalamnya?" jawab Soemantri Soekrasa terbata-bata.


Namun sebelum sang Putri menjawab, buih-buih kembali muncul ke permukaan di beberapa titik di permukaan air. "Maafkan aku, Putri. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bukan perwakilan siapapun, aku merupakan bagian dari empat orang yang terlibat dalam perkara semesta ini. Maka ikut kuhadirkan pula sahabat-sahabat dalam duniaku ini," ujar Soemantri Soekrasana. Kali ini lebih percaya diri dibanding beberapa detik sebelumnya.


Wong Ayu muncul pertama, diikuti Sarti dan Anggalarang dalam rupa manusianya.

__ADS_1


Putri Junjung Buih tersenyum.


"Sepertinya aku mengenal kalian semua," ujar Putri Junjung Buih mengedarkan pandangan ke arah ketiga anggota Catur Angkara yang muncul.


__ADS_2