Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tigapuluh Satu


__ADS_3

"Belajar bagaimana cara membunuh. Kalau ada orang yang mencari masalah denganmu, jangan cuma berani mengancam, niatkan untuk membunuh orang itu. Di dunia nyata, bahkan di penjara, kau akan dihormati karena keberanianmu itu," ujar si badan gempal terhadap si lulusan SMA.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob dibawa ke masa lalu. Ia melihat sebuah sejarah bagai sebuah rol film. Lapisan kesadarannya menggulung ke memori si gempal pada saat laki-laki itu membunuh satu keluarga yang terdiri dari suami istri, dan dua anak mereka, termasuk satu orang anak kecil ... dengan sadis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Si remaja lulusan SMA menjatuhkan beberapa bungkusan paket narkoba dari sakunya. Ia melihat sosok itu berdiri di pojokan yang tak tersinari lampu dengan baik.


Sosok itu sepenuhnya hitam, legam, gelap, jelaga. Ada semacam paruh burung mencuat di bagian kepalanya.


Padahal sebelumnya, jelas selama beberapa menit di toilet ini mengobrol bersama seniornya, ia yakin tak melihat ada orang lain di situ.


Si gempal memukul kepala si lulusan SMA, "Bodoh sekali kau! Jangan membuang-buang benda yang bakal jadi duit itu sembarangan!" ujarnya, tanpa paham apa yang membuat juniornya itu terkejut sampai menjatuhkan barang dagangan mereka.


Si lulusan SMA menunjuk ke arah dimana sosok itu berdiri dengan horor. Si gempal juga akhirnya melihat ke arah yang ditunjukkan remaja itu dan hanya mendapati kekosongan. Sosok yang dilihat si lulusa SMA tak ada di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob menghilang dan muncul kembali di belakang tubuh si gempal yang aroma neraka begitu pekat menguar dari tubuhnya.


Perasaan luar biasa menggelegak dibawa darah ke otak Yakobus Yakob ketika sisi telapak tangannya dengan gampang memotong leher si gempal bagai pisau mengiris mentega.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Si remaja lulusan SMA tersebut berjalan tertatih-tatih berusaha masuk ke ruangan VIP tempat para bos dan pimpinan penjahat kelas kakap berkumpul, seakan kedua lututnya tak sanggup menopang tubuhnya. Di ruangan itu ada ketua preman, bandar narkoba terbesar di kota, pemilik bisnis prostitusi, serta pemimpin ormas yang berlindung di balik nama organisasi padahal menyediakan jasa pengerahan massa. Mereka sedang tertawa-tawa, menenggak bir, menghirup heroin, dan berbagi cerita-cerita cabul.


Anak laki-laki yang baru saja akan meninggalkan usia remajanya itu mendobrak masuk pintu yang haram untuk bahkan digedor dalam keadaan semacam ini.


Sewaktu para penjaga hendak memberikan pelajaran pada kekurangajaran remaja itu, mereka mengurungkannya demi melihatnya bermandikan darah.


Mulut remaja laki-laki itu kaku, kelu. Darah di wajah, kepala dan badannya adalah darah milik sang rekan seniornya yang baru saja kehilangan nyawa karena tak lagi berkepala. Ada iblis berkepala burung yang muncul di toilet dan membunuh sang rekan dengan cara yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Itu katanya dengan susah payah kepada kedua penjaga ruangan.


Dua orang penjaga langsung keluar, berusaha tak membuat panik para bos yang hanya beberapa berpaling ke arah mereka, kuping mereka tersumbat oleh dentuman musik.


Dua orang penjaga ini merasa bertanggungjawab atas keamanan ruangan. Apalagi ada salah satu 'orang' mereka yang masih hijau tiba-tiba datang dengan berlumuran darah dan terlihat begitu syok dan tak mampu menjaskan dengan baik, runut dan logis tentang apa yang terjadi pada dirinya. Mereka meminta remaja hijau itu untuk duduk di pojokan dan diam di sana sebelum membuka pintu ruangan yang berlapis kain beludru merah itu.


Maryanto, sedikit lebih tua dibanding Febri. Rambutnya gondrong, memaksakan menumbuhkan kumis dan jenggot yang tak seberapa agar terkesan gahar, dan berperut sedikit buncit. Ia pernah sekali masuk penjara karena merampok, juga dengan pembunuhan. Baginya, merampok orang-orang lemah pasti memiliki hasil yang jelas dan tak perlu usaha yang terlalu keras. Maka ia merampok nenek-nenek atau perempuan, sekaligus membunuhnya. Pekerjaan selesai.


Pintu ruangan VIP ditutup, sosok si lulusan SMA yang berdarah-darah menghilang bersama dentuman musik di dalamnya.


Sekarang keduanya berada di sebuah lorong, tak ada yang terlihat.


Maryanto merogoh pisau lipatnya, sedangkan Febri sudah mencabut pistol rakitan yang sudah ia gunakan lama. Keduanya berjalan berbaris dengan Maryanto di depan memainkan pisau lipatnya, dan Febri mengarahkan moncong pistolnya ke depan, melewati bahu Maryanto.


Dua puluh delapan langkah, berbelok di ujung lorong, ada sosok gelap berdiri di tengah. Entah bagaimana, wajah dan tubuhnya secara keseluruhan tak tersinari lampu-lampu temaram yang menempel di dinding dan menggantung di langit-langit.

__ADS_1


Tiba-tiba sosok itu menghilang.


Febri dan Maryanto saling bertatapan, meyakinkan bahwa mereka sedang menyaksikan hal yang sama.


Belum sempat Febri membuka mulutnya untuk berkomunikasi dengan rekannya, ia melihat dari dalam perutnya sendiri ada sebuah tangan menembus, menyobek lapisan kulitnya.


Ia berteriak, darah, usus berhamburan keluar ketika sosok itu ternyata sudah di belakangnya dan membobol tubuhnya dengan mematahkan tulang punggung dan merogoh jeroannya.


Pistol rakitan milik Febri belum sempat digunakan, jatuh di karpet hijau kumal. Maryanto ternganga dan tak sempat berbuat apa-apa ketika sosok itu mencabut tangannya yang menembus tubuh Febri lalu dengan tangan yang sama digunakan mencekik leher Febri.


Maryanto megap-megap mencari udara saat tubuhnya terangkat dengan begitu mudahnya dan dihempaskan ke dinding setelah kepalanya sempat menyundul dan memecahkan lampu gantung.


Jari-jemari sekeras baja yang berleleran darah Febri, rekannya yang telah tewas terlebih dahulu itu, masih mencekik lehernya. Saat itulah ia menyaksikan iblis yang sesungguhnya datang langsung dari neraka.


Sosok yang mencekik dan mengangkatnya ke udara itu memiliki sepasang mata menyala merah darah di balik penutup kepala berparuh burung. Tubuhnya gelap jelaga.


Maryanto melirik Febri yang sudah tak bernyawa terus-menerus mengeluarkan darah dari perutnya yang hancur berantakan. Rasa takut mati kini semakin kuat menyergapnya. Pandangannya mengabur. Sosok itu seperti masuk ke dalam kepalanya dan turut menakutinya dari dalam.


"Ingat segala dosa-dosamu. Kau akan mati sekarang, tapi itu hanya permulaan. Ketika kau terbangun kedua kalinya nanti, siksaan sudah menantimu," ujar sosok itu di dalam otaknya.


Tak lama dalam kesekaratannya ia melihat semacam portal terbuka di udara. Ada sejenis dunia di balik portal itu. Sosok-sosok pucat terlihat berdiri berdampingan. Ada pula sosok kecil, bayi, merangkak dengan mulutnya terbuka lebar, mengoyak rahangnya.


Namun, yang menyita perhatiannya adalah sosok-sosok perempuan, tua dan muda, tanpa busana namun kulit semerah darah. Sosok perempuan tua dengan kulitnya yang bergelambir memandang Maryanto dengan wajah dingin namun penuh minat. Sosok itu kemudian tertawa.

__ADS_1


Maryanto tak bisa lari lagi. Ia meronta-ronta sekuatnya. Pisau lipatnya ia tusukkan ke lengan sekaku baja itu. Pisau lipat itu bengkok dan jatuh ke lantai tanpa menggores kulit tangan penyerangnya sedikitpun.


__ADS_2