Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Anak Perempuan


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Wong Ayu, Satria Piningit tersenyum. Itu juga baru pertama kali ia mendengar suara Wong Ayu yang berbicara langsung kepadanya. "Semua orang di desa tahu nama kamu. Aku Satria Piningit," jawab Satria Piningit cepat, sedikit khawatir Wong Ayu bakal curiga kalau selama ini ia memperhatikan gadis itu. "Dan dia Priyam," sambung Satria Piningit sembari menunjuk teman sebaya mereka itu.


Wong Ayu memandang Priyam kemudian kembali memandang Satria piningit. Ia terlihat bingung. Segera Satria Piningit paham perasaan Wong Ayu. Ia juga begitu ketika pertama bertemu Priyam. "Anaknya memang aneh. Tapi dia baik. Jangan khawatir dia tidak bakal kurang ajar. Di sini memang tempatnya nongkrong, dan ... Aku biasanya buang air besar di sini juga," kata Satria Piningit malu-malu. "Bukan begitu, Priyam?" jawabku tak ingin malu sendiri. "Tapi kalau kamu memang mau mandi atau apalah, biar aku yang pergi. Ayo, Priyam ...," lanjutnya sambil mengajak Priyam pergi.


"Tunggu, Satria. Aku sudah selesai mandi dan mau pulang," kata Wong Ayu sembari membereskan alat-alat mandi dan kain-kain yang ia bawa.


"Loh, aku sungguh-sungguh Wong Ayu, kamu tak perlu tergesa-gesa. Aku bisa mencari tempat lain bersama Priyam," kata Satria Piningit lagi. Tapi Wong Ayu sudah selesai membereskan semua barang-barangnya, meski tubuhnya masih basah dan meneteskan air.


Dengan gerakan yang cepat dan tak disangka-sangka, Wong Ayu kemudian mendekati Satria Piningit, membuat anak laki-laki itu sedikit tersentak. Kini Satria Piningit merasa gadis itu terlalu dekat rasanya sampai ia dapat mencium bau harum sabun Wong Ayu. Satria Piningit dapat melihat detil-detil di wajah Wong Ayu. Ada dua jerawat kecil memerah yang belum matang di kening dan di dekat pelipisnya yang sama sekali tak mengurangi paras ayunya. Ia juga ternyata memiliki beberapa tahi lalat kecil di bagian dagu dan leher. Yang ini malah menambah pesona di wajahnya.


Wong Ayu memandang Satria Piningit lekat-lekat. Kemudian setengah berbisik ia berkata, "Kau lihat perempuan berkebaya merah yang melayang di atas pohon pisang itu? Rambutnya kusut. Matanya merah dan ia sedang menangis."


__ADS_1


Sontak Satria Piningit memandang ke arah yang Wong Ayu sebutkan tadi dan tak melihat apa-apa, "Kamu sama dengan Priyam. Kalian pasti cocok. Ia juga bisa melihat perempuan yang kamu sebutkan tadi," kata Satria Piningit berlagak santai. Padahal jujur nyalinya sedikit menciut karena jelas bahwasanya cerita Priyam benar adanya. Wong Ayu buktinya juga bisa melihatnya.


"Kamu juga melihat anak laki-laki yang terbakar itu? Kulitnya merah melepuh di sekujur tubuh. Rambutnya hampir botak hangus terbakar. Mata kirinya seperti akan keluar dari lobangnya."



Satria Piningit menggeleng.


Sebagai akibatnya, sejenak Wong Ayu seperti sedang berpikir keras, "Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu. Sampai ketemu," ujarnya. Wong Ayu kemudian berpaling ke arah Priyam yang berdiri memaku. Ia mengangguk ke arah Priyam sebagai tanda sapaan atau ijin pamit.


Setelah Wong Ayu pergi, Satria Piningit tak bisa menghilangkan pertanyaan dan pikiran yang berkecamuk di dalam rongga kepalanya. Mengenai sosok perempuan berbaju merah di atas pohon pisang, Satria Piningit tahu itu dari Priyam. Wong Ayu kemudian menambahkan detilnya yang mengerikan. Itu membuatnya bagaimanapun merinding dan bergidik ngeri. Sedikit banyak Satria Piningit mengakui pastilah ada kebenaran dari apa yang kedua orang itu katakan. Kecuali keduanya bersekutu untuk menipu dan membohonginya. Dalam hal ini, rasa-rasanya alasan tersebut tak masuk akal sama sekali.


Hanya saja mengenai ucapan Wong Ayu perihal sosok orang yang terbakar, Satria Piningit tak tahu itu. Priyam belum pernah memberitahunya mengenai jenis hantu yang satu ini dalam kesempatan apapun. Ada apa dengan dua orang anak yang ia kenal ini? Batin Satria Piningit. Entah memang hantu dedemit yang tersebar di seluruh penjuru desa ini atau kedua orang itu yang dikerubuti hantu?

__ADS_1


"Anak perempuan itu cantik, ya?" kata Priyam demi melihat mata Satria Piningit tak lekang menatap kepergian Wong Ayu.


Seakan tersadar bahwa ia masih belum lepas melihat ke arah kepergian Wong Ayu, Satria Piningit tertawa kencang, "Ah, kau tahu saja, Priyam. Wajarlah, namanya juga anak laki-laki melihat anak perempuan yang cantik begitu."


Wajah Priyam sebenarnya tak menunjukkan emosi tertentu ketika ia mengatakan hal tersebut, sama seperti biasanya. Jadi sulit sekali memahami apa yang sebenarnya ada dalam pikiran anak laki-laki itu. Satria Piningit sempat berpikir apa jangan-jangan Priyam juga naksir Wong Ayu, atau merasa sebal karena merasa tersaingi oleh Wong Ayu sebagai teman dekat Satria Piningit? Wajar saja bila ia pikir-pikir. Apalagi melihat Priyam yang aneh nan unik ini tak pernah terlihat memiliki teman selain Satria Piningit.


Pada dasarnya Satria Piningit memang bukan anak yang pilih-pilih teman. Bila anak-anak sebaya dan remaja yang lebih tua senang sekali berteman dengannya karena ia berasal dari keluarga terhormat di desa ini, dengan Priyam hubungan persahabatan mereka yang masih baru ini menjadi terasa berbeda sekali. Persahabatan mereka seakan lebih tulus dan tanpa basa-basi serta apa adanya. Oleh sebab itu, dibanding alasan yang pertama, kemungkinan besar alasan kedualah yang membuat Priyam berperilaku seperti ini. Ia merasa tersaingi oleh ketertarikan Satria Piningit pada sosok Wong Ayu.


Satria Piningit memperhatikan wajah Priyam yang masih tak menunjukkan emosi tersebut, "Ah, tapi kau tak perlu khawatir, sobat," kata Satria Piningit sembari melepas gelang kayu bahar dari lengan kirinya.


Satria Piningit kemudian meraih tangan kirinya yang kurus dan memasukkan gelang itu dengan mudah ke lengannya, "Ini untukmu. Namanya gelang kayu bahar asli dari Kalimantan. Gelang ini sudah kupakai sejak masih di rumahku sana. Itu tanda kita akan berteman selamanya," kata Satria Piningit. Gelang itu menggantung kedodoran di lengan Priyam.


Priyam menyentuh gelang itu perlahan penuh khidmat. Ia berkata lirih, "Kau anak yang baik, Satria Piningit."

__ADS_1


Satria Piningit kembali tertawa, "Sudah gih, sana pergi. Aku mau berak," ujarnya lugas. Sepintas Satria Piningit merasa melihat senyuman mengambang di wajah tanpa emosi sang kawan. Priyam berbalik arah dan menghilang seperti biasa di balik rerimbunan batang-batang tebu tepat ketika matahari sudah benar-benar tenggelam. Satria piningit tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian hari ini dimana ia telah berhasil bercakap-cakap dengan Wong Ayu walau sebentar dan dalam kondisi yang ganjil, menatap wajahnya dari dekat dan mencium aroma sabun yang menguar dari tubuhnya.


Bukankah hal ini perlu dirayakan dengan tersenyum-senyum sendiri sembari nangkring buang air besar? Seperti orang gila saja, bukan? Tak apalah, pikir Satria Piningit. Ia memiliki seorang teman laki-laki yang super aneh dan sosok anak perempuan yang ia taksir serta tak kalah anehnya. Kalau pun ternyata ia ikut gila, pas sudahlah jadinya.


__ADS_2