Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Satu


__ADS_3

Laki-laki muda berumur di awal dua puluhan itu berjalan pelan dan hati-hati menembus gelapnya hutan di kaki gunung di sekitar pedesaan itu. Sepasang sepatu kanvas abu-abunya sudah kotor oleh perjalanan selama berjam-jam sebelumnya. Ia sudah mengendus hawa magis di sekitar desa ini beberapa hari lalu belasan kilometer jauhnya.


Kedua lengannya menyibak ranting pepohonan yang menggapai-gapai bagai jemari yang kurus kering. Tanah yang ia injak gelap pekat, namun sinar rembulan separuh mencoba masuk melewati dedaunan pohon yang tinggi dan lebat dengan sebuah usaha yang nampaknya sia-sia.


Jantung laki-laki muda itu semakin berdebar kencang.  Hawa jahat purba yang disokong kekuatan yang berumur jauh lebih tua dari manusia itu sendiri merayap ke kulit di balik kemeja yang ditutupi jaket berbahan jins berwarna gelapnya. Dari tas selempang yang menempel erat di badannya, ia mengambil sejumput bunga melati. Ia merapal mantra dalam bahasa Jawa dan membuang beberapa kelopak bunga itu ke tanah.


"Sang kala ireng sang kala lumagang, sang sarasa karasa sira apasang sira anut marang ingsun, ..." ujarnya lamat-lamat.


Mata kirinya berkedut. Ia meludah ke tanah dan kembali merogoh ke dalam tas selempangnya untuk mengambil sebuah botol air mineral. Ia menenggak airnya, namun tidak ia minum, sebaliknya ia semburkan air itu ke sekelilingnya.


"... zat maya putih, sira metuwa," ujarnya merapal mantra kembali.


Hawa dingin menusuk, suara jangkrik dan binatang malam terdengar perlahan. Biasanya di tempat yang normal, suara mahluk malam di sebuah wilayah yang sepi pasti lah terdengar ramai bersahutan, tapi tidak di malam jahanam ini. Ia bahkan tak bisa mendengar gemerisik daun atau rerumputan oleh angin yang berhembus. Walau dingin menusuk sampai ke tulang, tak ada angin yang bertiup.


Dengan sabar ia menunggu akan sesuatu yang terjadi. Ia yakin akan hal itu. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra sambil kesemua indranya ia tajamkan, "Ana kidung rumekso ing wengi ... Luput ing bilahi kabeh, ..."


Ada sosok perempuan mengambang di atas pohon tepat di samping kirinya. Perempuan itu berbaju kebaya merah terang. Rambutnya yang setengah disanggul, sebagian lain acak-acakan. Kedua matanya merah dan terlihat sedih, tapi bibirnya tak menunjukkan apa-apa. Ia terlihat cantik sekaligus mengerikan. Darah mengalir dari kedua matanya.

__ADS_1


Laki-laki muda itu menutup kedua matanya, membuat indra keenamnya terbuka. Saat segelap dan sepekat ini, ia membutuhkan indra keenamnya lebih daripada yang lain. "Jim setan datan purun ... tuju guna pan sirna."


Sosok perempuan berkebaya merah perlahan memudar, menghilang. Ia tiba-tiba muncul kembali melayang berada tepat di belakang sang laki-laki muda yang menutup mata namun awas tersebut.


"Ia di sini ...," ujar sosok perempuan astral itu. Suaranya datar namun memberikan kesan kesengsaraan yang sangat. Membuat siapa saja yang mendengarnya merinding sejadi-jadinya. Orang biasa pasti akan lari tunggang-langgang mendengarnya. Sosok perempuan berkebaya merah itu membuka sepasang bibirnya, menyeringai, kemudian suara tawa yang mengerikan keluar dari rongga mulutnya.


"Diam! Aku tahu," jawab sang laki-laki berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang sembari masih menutup sepasang matanya.


Bau busuk yang menyengat menyeruak di udara. Perlahan sang laki-laki mendengar bunyi gemerisik daun mati di tanah, tiga ekor ular beludak melata entah dari mana menuju ke arahnya. Segerombolan tikus berbau bangkai mencicit saling tindih berjalan dengan keempat kaki mereka yang kecil nan menjijikkan disertai rombongan kalajengking berhenti kurang dari semeter saja di depan kaki sang laki-laki. Moncong seekor buaya muncul dari balik akar pepohonan, membuat binatang melata lainnya menyingkir. Binatang ini seakan menyibak dan memberikan jalan bagi sesuatu yang akan datang.


Wajah sosok perempuan melayang yang sebenarnya merupakan kuntilanak merah itu menyeringai semakin mengerikan. Urat-urat kebiruan menyembul dari kulit pipi dan dahinya. Ia mengikik menegakkan bulu roma. Sekali lagi ia berkata dengan suara datar yang menakutkan, "Ia di siniiii ...," suaranya menggema di dalam otak sang laki-laki.


Di depannya, ia merasa energi yang besar mengubah atmosfir tempat itu, seakan ada pintu gaib yang terbuka. Ia pun perlahan membuka kedua matanya. Saat itulah ia melihat sepuluh sampai lima belas bola api sebesar kepalan tangan muncul tersebar di sekelilingnya. Tapi api yang menyala tidak membakar, cenderung redup dan berkedap-kedip bagai lampu jalan yang rusak.


Ia melepaskan jaket berbahan jins-nya dan melemparkannya ke tanah. Udara yang semua dingin membekukan tiba-tiba berubah menjadi begitu panas dengan cepatnya seketika itu juga. Ia memutar otak, kemudian merapalkan sebuah mantra dengan bahasa Jawa yang lebih kuno, " ...singa barong hi rahiku, macan gembong hi gigirku, gajah hagung ri dha-dhaku, metu gelap hi panonku ..."


Ia merasakan sosok lain muncul di situ, saat itu juga, melayang turun dari antara pepohonan. Kikik sang kuntilanak merah terdengar semakin liar, seakan menyambut kedatangan sosok ini.

__ADS_1


Kini ia dapat melihat sesuatu yang datang itu, tertimpa bayangan pepohonan, ranting dan binatang-binatang melata yang datang secara gaib tadi. Sosok itu tertimpa cahaya lemah bola-bola api yang beterbangan setinggi kepala.


Sosok seorang perempuan lain.


Rambutnya panjang menggapai tanah, dengan hiasan bebungaan di kepalanya. Pinggang dan perutnya terbelit kain selendang yang sisanya berlapis-lapis tebal dan panjang menjuntai menutupi bagian bawah tubuhnya sampai menyapu tanah dan pepohonan, sedangkan bagian atas tubuhnya tak tertutup sama sekali, menunjukkan sepasang bongkahan dada yang panjang menggantung. Kalung dengan hiasan gigi dan pecahan tengkorak manusia membebat lehernya.


Sang laki-laki muda itu berusaha dengan keras mencoba melihat ke arah wajah perempuan gaib itu. Ia berhasil dan mendapatkan sang sosok perempuan itu sedang memandangnya tajam.


Kedua matanya lebar. Ada kobaran api membayang di sana. Ketika ia membuka mulutnya, dari semua deretan gigi hitamnya mengalir cairan merah kental. Darah!


"Ibuuu ... Ibuuu ....," kuntilanak merah mendesis.


Sang laki-laki muda merasakan kedua lututnya melemah. Ia jatuh berlutut dan bahunya terasa ikutan jatuh.


"Ratu ilmu leak. Ibu dari segala mahluk jahanam yang melata di lumpur, terbang di kegelapan malam, menyelam di air yang keruh, dan bernafas dalam darah. Kau adalah Ratu Calonarang," bisik sang laki-laki muda itu perlahan seperti membaca mantra.


Perempuan yang ia pikir adalah sosok kuno Ratu Calonarang itu mengangkat kedua tangannya dan perlahan melayang terbang mendekati sang laki-laki, "Soemantri Soekrasana ...," ujarnya menyebut nama sang laki-laki muda itu sembari terdengar suara gemeretak dari batang lehernya sebelum kepala dengan rambut sepanjang tanah itu lepas dari badannya dan menerkam sang pemuda.

__ADS_1



__ADS_2