Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limabelas


__ADS_3

Bandi melawan kekeluan lidah dan kekakuan rahangnya sekuat tenaga.


"Sa ... Sangat besar," akhirnya ia menjawab.


"Lalu, sebagai gantinya, apa yang mau kau berikan apa untuk mendapatkannya?" si perempuan kembali berbicara. Suaranya yang lembut dengan kesan keremajaan yang manja dan genit namun bercampur dengan kharisma yang tegas, sekaligus jahat, licik dan mengerikan itu menundukkan Bandi tanpa ampun.


"Aaa ... Aaku .. Akan berikan apa saja," ujar Bandi seperti tanpa berpikir lagi.


"Kau mau berikan jiwa dan rohmu itu sebagai budakku?"


Kulit Bandi meremang. Rambut-rambut di tubuhnya berdiri. Darahnya berdesir jauh lebih cepat dibanding ketika ia lari dari laki-laki muda kebal yang membunuh semua anak buahnya dengan brutal tadi.


Sang gadis terkikik, kemudian tertawa lepas, membuat Bandi semakin sudah bernafas karena jantungnya serasa ingin meledak memompa darah begitu cepatnya.


"Kau tidak akan hanya berkuasa atas orang-orang, Bandi. Tapi juga jiwa mereka. Banyak yang akan tunduk padamu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau dengan jauh lebih mudah. Uang seakan menjadi tak lagi terlalu berharga buatmu. Sebagai tambahan, kau tak akan merasa ketakutan lagi ... Pada apapun!"


Sang sosok mengangkat kedua lengannya, memamerkan sepasang ketiak yang mulus tak bercela. Ia menari-nari di depan Bandi.


"Kau mau tubuh ini? Kau bisa menggunakannya kapanpun kau mau?"


"Aaa...aaku bisa bercinta denganmu?" jawab Bandi terbata-bata.


"Selama aku bisa mendapatkan jiwa dan rohmu? Tentu saja!" sang sosok kembali meliuk-liukkan tubuhnya dengan gerakan paling erotis yang tak pernah Bandi pernah lihat dan bayangkan sebelumnya.


Otak Bandi benar-benar buntu. Tapi dalam sepersekian detik, pikirannya kembali jauh ke masa lalu: di masa ia masih kecil, remaja, dalam ketentaraan, pemecatannya, perjalanan karir kejahatannya sampai sekarang. Semuanya memerlukan pencapaian terbesar untuk membuat hidupnya paripurna.

__ADS_1


Sang sosok seperti berhasil membaca pikirannya. "Kau tak keberatan untuk bekerja sama dengan iblis sepertiku untuk mencapai tujuanmu, bukan? Kau hanya perlu mengatakan 'ya', maka kehidupanmu akan berubah. Kau akan menjadi yang terkuat di pulau ini, Bandi. Kalau kau cerdas dan mau mengikuti mauku, kau bahkan bisa menguasai negeri ini, negeri orang pula bila keserakahanmu dapat kau pelihara," sang gadis tertawa dengan penuh kepuasan.


Kedua tangan Bandi terangkat tanpa diperintah mendekati sepasang dada padat gadis itu dan menangkupkannya di sana.


Sang gadis berhenti bergoyang dan memandang tajam ke arah kedua mata Bandi, "Katakan 'ya', Bandi!"


Bandi merasakan dua gundukan hangat di kedua telapak tangannya secara nyata. Berahinya memuncak, menembus ubun-ubunnya, terus terbang ke angkasa.


"Ya! Ya! Aku mau menyerahkan jiwa dan rohku untukmu, gadisku!" ujar Bandi jelas dan lantang. Ia meremas kedua bongkahan daging di tangannya dengan keras.


Sang gadis merapatkan tubuhnya kepada Bandi. Lidahnya menjulur membelit lidah Bandi yang membalasnya dengan gairah tak terbendung.


Bandi merasa ia berguling-guling dengan sang gadis, meledakkan nafsunya dengan liar.


Namun sejatinya, bila ada orang lain yang melihatnya dengan kedua mata normal, tampak Bandi hanya bercinta dengan dirinya sendiri. Tak ada siapa-siapa di dalam gudang itu. Hanya Bandi yang menciumi udara dan menggosok bagian bawah tubuh di antara pangkal pahanya itu dengan kedua tangannya dengan begitu bersemangat.


Sudah hampir seminggu setelah kepergian Satria Piningit pulang kembali ke Kalimantan, keempat anggota Catur Angkara masih berkumpul bersama. Mereka belum benar-benar bisa memutuskan langkah apa yang akan mereka lakukan sebab keempatnya merasakan bahwa kekuatan jahat itu masih membayangi jalan kehidupan mereka.


Masing-masing dari mereka mengalami berbagai macam kepingan misteri yang berteriak-teriak minta untuk diselesaikan. Masing-masing juga masih meraba-raba dan berkumpul dalam diam, walau percikan bahasa tetap mengalir sebagai bagian dari komunikasi non verbal mereka.


Sementara itu, Anggalarang menyediakan apartemennya sebagai basecamp temporer. Kerapian dan fasilitas di apartemennya yang berkualitas di atas rata-rata itu membuat semua tinggal dengan sangat nyaman.


Ia sendiri jelas sudah keluar, atau lebih tepatnya dikeluarkan, dari tempatnya bekerja. Namun, uang tabungannya yang tersimpan baik tak tergugat, masih sangat cukup untuk membiayai kehidupannya. Masalah kembali berpindah kerja atau tempat tinggal, itu perihal lain lagi.


Wong Ayu masih bekerja secara online. Sebagai jurnalis kawakan, apa dan bagaimanapun keadaannya, ia masih memainkan perannya sebagai kuli tinta itu dengan baik.

__ADS_1


Sarti, dengan kehidupan ratusan tahunnya, harta bukanlah barang berharga lagi baginya. Entah disimpan dimana uang yang mengalir bagai air itu setiap saat ia membutuhkannya. Bisa dikatakan, Sarti adalah yang terkaya diantara mereka. Lebih parah, bila mau dikulik dan dipaksa menjelaskan semua jenis hartanya yang didapatkan dan ditimbun selama hidupnya yang ratusan tahun itu, mungkin Sarti adalah orang terkaya di republik ini.


Akan tetapi, ia memandang rendah harta. Uang bukan menjadi kebutuhan utamanya. Ia hanya sekadar menggunakan uang untuk membantunya menjalankan segala misi-misinya.


"Sarti, apakah kau menyimpan semua uangmu di liang lahatmu? Bila iya, berarti pepatah orang-orang itu salah sebenarnya. Mereka mengatakan bahwa harta tak dibawa mati," ujar Soemantri Soekrasana.


Sarti memandang dukun muda itu, "Kau mau coba mati untuk melihat semua hartaku?"


Wong Ayu dan Anggalarang terkekeh.


Memang, Soemantri Soekrasana merasa dirinya adalah yang termiskin di antara mereka berempat. Saat ini, ia benar-benar hanya mengantongi beberapa lembar uang kertas.


Anggalarang tiba-tiba merangkul bahu Soemantri Soekrasana. "Kau ikut aku. Aku punya sesuatu yang perlu kau ketahui," ujarnya ramah dan bersahabat.


Sebenarnya memang ada perubahan drastis dalam drama kehidupan empat orang anak manusia ini dalam beberapa hari terakhir. Diam-diam ada semacam ikatan batin tertentu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya, tentu saja selain ikatan gaib yang membuat mereka tetap bersama.


Wong Ayu, seorang perempuan sakti yang memiliki latar belakang kehidupan yang misterius dan gelap, ternyata mendapatkan cermin pada diri Sarti. Perempuan yang harusnya ia anggap sebagai nenek moyang itu dapat berlaku sebagai seorang figur setara dan sebaya dengannya.


Tidak jarang keduanya bercakap-cakap mengenai sejarah dimana Sarti terlibat di dalamnya. Sedangkan sebagai jurnalis, Wong Ayu memiliki kualitas pola pikir dan intelektualitas yang diperlukan untuk menjalankan percakapan tersebut.


Sarti juga kerap memandang ketiga rekan barunya sebagai titik-titik yang bila disambungkan akan memiliki makna, bukan seperti manusia lain yang merupakan remah-remah tak berharga dalam hidupnya yang panjang itu.


"Jadi kau sungguh tak paham bahwa Soemantri punya rasa denganmu?" suatu hari Sarti bertanya.


Wong Ayu hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan tersebut. Ia sedang menyesap kopi di sebuah coffeeshop sembari mengerjakan laporan pekerjaan di notebooknya.

__ADS_1


"Aku tak tahu harus menjawab apa, Sarti," ujar Wong Ayu sembari tertawa. Saat itu Sarti sekadar mendengus, tak percaya perempuan yang umurnya sudah matang itu tak paham perihal percintaan dan asmara semacam ini.


__ADS_2